Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

22 July 2009

Sesudah Jam Sekolah


Seperti biasanya sesudah jam pulang sekolah, saya menyempatkan diri untuk menengok lapangan basket dan melihat siapa saja yang masih barada di sana, sebelum saya kemudian meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah. Hampir selalu di lokasi tersebut beberapa anak yang belum pulang berkumpul. Rata-rata mereka adalah siswa SMP (Sekedar info saja bahwa kami adalah sekolah satu atap yang terdiri dari TK, SD dan SMP).
Ada yang memang diantara mereka yang menunggu jemputan, meski jam telah menunjuk angka 16.30. Atau ada pula yang memang menunda pulang mengingat begitu sampai di rumah mereka akan berteman dengan tv atau komputer atau hp saja. Mereka tidak banyak, berkisar 5-10 anak.
Pada saat seperti itu, sering saya menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan siswa-siswa saya. Tidak banyak yang saya lakukan dengan mereka selain menemaninya. Mereka remaja yang akan menjaga jarak manakala saya banyak-banyak memberinya tausiah. Saya berusaha tahu diri. Mungkin saya bertanya kepada mereka: apa kabar? Belum pulang? Bagaimana hari ini dengan teman dan guru? Atau kadang juga saya request lagu kepada mereka jika mereka sedang asyik bermain gitar.

Bagi saya, inilah interaksi utama saya dengan siswa yang ada di sekolah, karena saya tidak memiliki jam pelajaran untuk mengajar secara formal. Dan momentum seperti ini, meski informal, saya jadikan sebagai wahana bagi membangun persahabatan dengan siswa. Itu membahagiakan diri saya. Banyak cerita saya cecap dari interaksi seperti itu. Juga banyak pelajaran yang saya dapat dari waktu setelah jam sekolah seperti itu. Banyak juga saya dapat inspirasi dari mereka untuk kemudian saya lakukan kepada remaja saya di rumah.

Misalnya saja tentang bagaimana mereka mampu bermain gitar. Selain keterampilan itu didapatnya dari kursus, banyak dari mereka yang belajar secara otodidak. Melihat bagaimana teman bermain lalu berlatih sendiri di rumah. Dan itu hampir menyebar terutama di kalangan siswa. Maka tidak heran kalau banyak diantara mereka yang baru membentuk group band saat menginjak semester dua di kelas satu SMP.

Yang pada akhirnya, band itu, jika eksis hingga kelas akhir SMP, akan tumbuh menjadi band yang memiliki harmonisasi alat musik ketika tampil di panggung. Seperti siswa kami kelas 9 tahun pelajaran 2008/2009 lalu yang memiliki 3 band top. Luar biasa.

Sempat salah satu orangtua siswa kami yang menyatakan rasa kagumnya terhadap penampilan seluruh siswa SMP di Pergelaran Akhir Tahun yang diselenggarakan di Teater Pewayangan TMII Jakarta Ahad, 21 Juni 2009. Bahkan ia membuat pernyataan: Bisa-bisa SMP kita nanti menjadi SMP jurusan musik Pak.

Ungkapan itu memang sudah menjadi prediksi saya jauh hari sebelum UN digelar. Dimana saat itu saya masuk ke kelas 9 untuk memberikan inspirasi tentang pemilihan sekolah berikut yang dapat meeka pilih selulus SMP. Saya menyampaikan selain berkenaan dengan passing grade di SMAN yang ada di sekitar kami dan juga sekolah kejuruan. Salah satunya adalah sekolah musik yang ada di Jakarta atau di Kasihan Bantul Yogyakarta. Hal ini saya sampaikan juga selain demi pengetahuan juga karena saya melihat bahwa siswa kami hingga detik-detik UN menjelang sekalipun, masih tetap menenteng gitar ketika datang ke sekolah...

Dan saya mensyukuri pertemuan kami itu. Tidak saja bahwa seluruh siswa SMP kami lulus, tetapi juga ada satu siswa kami yang akhirnya melanjutkan di sekolah musik. Namun lebih dari itu bahwa pertemuan-pertemuan tersebut membahagiakan saya. Sehingga semakin hari, saya menginginkan situasi seperti itu untuk lebih dan lebih…

Jakarta, 22 Juli 2009.

21 July 2009

Menjadi Representasi

Yang saya maksudkan dengan menjadi representasi adalah menjadi wakil dari teman-teman dalam sebuah kelompok untuk mengambil suatu keputusan di sebuah organisasi. Representasi karena saya menjadi wakil teman-teman, maka suara dan aspirasi teman-teman yang saya wakili menjadi tenggung jawab dan amanah saya. Mengapa saya menjadi represntasi dari teman-teman, mungkin karena saya dianggap komunikatif. Paling tidak pada saat pemilihan sedang berlangsung kala itu. Selebihnya saya sendiri tidak begitu tahu.

Representasi diperlukan karena sebagai bagian dari efektivitas lembaga. Maka jika sebuah sekolah yang terdiri dari 80-an guru dan karyawan, maka tidak diperlukan lagi pengambilan keputusan di sekolah itu dengan menyertakan seluruh guru dan karyawan yang ada.

Dan itulah yang terjadi pada sebuah pengambilan keputusan dalam sebuah institusi atau lembaga atau organisasi, yang antaralain saya menjadi bagian dari representasi teman-teman. Dan tugas berikut sebagai representasi adalah mengkomunikasikan hasil keputusan tersebut kepada teman yang saya wakili.

Namun tidak semua keputusan kolektif tersebut, dapat dipahami secara holistik oleh teman-teman ketika saya mengkomunikasikannya. Meski berbagai argumentasi dan laporan pandangan mata dari proses pengambilan keputusan tersebut telah saya kemukakan. Memang tidak semua teman melihat setiap keputusan yang kami ambil dengan kacamata sepeti itu. Tetapi kadang masih sering saya mengalaminya.

Dan ketika ketidakpahaman itu yang muncul, dan usaha saya untuk terus memberikan memahamkan apa yang harus dijalankan belum juga mendapatkan hasil, saya menjadi teringat teman saya yang lain. Katanya pada saya: Tugas kamu tidak untuk memuaskan atau membuat mereka selalu sepaham denganmu. Jadi jangan pernah patah hati untuk menjadi representasi mereka. Suatu saat nanti mereka akan belajar tentang ini...(?).

Jakarta, 21 Juli 2009.

19 July 2009

Menjadi Protester


Protester atau tukang protes, adalah sebuah sikap disandang karena kebiasaan untuk melakukan ketidakpuasan atau masukan dalam bentuk protes.

Secara positif antara lain memiliki fungsi sebagai check and balance. Sebagai penyeimbang sehingga organisasi dapat selalu berjalan maju dan tumbuh sehat dengan adanya kontrol. Dapat juga dikatakan sebagai cara pemberian masukan atas sebuah kekurangan, seperti apa yang dirasakan seseorang, sehingga ia merasa perlu adanya penguatan atau bahan koreksi.

Namun kebiasaan ini dapat menjadikan pelakunya sebagai individu yang tidak populis bagi yang ada di sekitarnya. Baik yang berada di atasnya secara struktural atau disampingnya.

Secara riil, sikap protes memiliki konotasi buruk. Berbeda dengan masukan yang jauh memiliki cita rasa positif.

Dalam suatu pertemuan dengan guru, saya merumuskan bahwa hal positif tentang sesuatu yang ada di lingkungan kita atau di dalam organisasi kita, yang dalam kaca mata kita masih membutuhkan perbaikan, dan itu menjadi konsen kita, jika kita sampaikan kepada atasan dan sebelah kita dengan bahasa yang positif, maka kemungkinakan berimplikasi positif lebih besar dibanding implikasi negatif. Tetapi jika hal positif tersebut kita sampaikan dengan cara dan alat atau bahasa negatif, maka kemungkinan implikasi negatifnya jauh lebih besar dibanding implikasi positifnya.

Itulah sebabnya mengapa ketika sebuah hal baik dalam kaca mata saya namun dalam realitasnya tidak berjalan sebagaimanan yang saya impikan, dan hal itu disampaikan kepada atasan saya, kepada teman-teman di kantor dengan bahasa protes yang penuh nafsu menyalahkan, menjadikan ketidakberuntungan bagi saya dimasa berikutnya. Saya dikucilkan secara sosial. Meski beberapa teman mengakui bahwa apa yang saya sampaikan adalah benar adanya.

Dan pada tahapan ini saya mencoba untuk menemukan sebuah tesis bahwa hal yang baik jika disampaikan dengan kurang baik, misalnya dengan menantang, menghakimi, atau bentuk penyampaian yang kurang baik lainnya yang menyebabkan orang lain sakit atau terluka hati, maka maklumilah bahwa kita sedang merancang ketidakberhasilan. Ini adalah bentuk buruk dari cara berkomunikasi.

Dan pada tahapan berikutnya saya meyakini bahwa menyampaikan sebuah perbaikan atau sebuah koreksi atau sebuah langkah pengembangan sesungguhnya adalah sebuah langkah dakwah. Harus melibatkan dan dilakukan secara egaliter. Baik dalam ranah jiwa maupun raga.

Dan saat melihat ada teman yang menyampaikan keinginannya dengan cara protes, saya menjadi teringat bagaimana argumentasi yang dulu pernah saya gunakan. Saya mencoba untuk memahami pola pikir yang membingkai sikap protester itu…

Jakarta, 20 Juli 2009.

16 July 2009

Penjaga Gawang


Tiba-tiba saja saya mengucapkan kata ini ketika teman saya bertanya: sibuk terus? Lalu saya secara berkelakar, dan saya baru menyadari kalau saya sendiri juga tidak terlalu berpikir ketika memberikan jawaban; Penjaga gawang kan harus sibuk.

Namun setelah beberapa menit kemudian, dan ketika pesan yang saya kirim gagal karena teman saya ini secara sepihak memutus bincang-bincang kami, saya baru menyadari makna tersirat dari jawaban saya tersebut. Terutama yang berkenaan dengan tugas saya sebagai penjaga gawang di sekolah yang menjadi amanah bagi saya ini.

Dalam permaian sepak bola, penjaga gawang memiliki tugas yang lumayan berat. Meski tidak selalu dalam posisi lari saat membawa atau mengejar bola, tetapi tetap sama beratnya dengan posisi pemain sepak bola yang lain. Namun dengan spesifikasi komptensi yang tentunya berbeda. Tugas menjaga gawang menjadi jauh lebih sibuk manakala para pemain lain yang yang memiliki tugas di lini belakang, tengah dan depan tidak dapat berfungsi dengan maksimal. Atau juga bisa, para pemain tersebut tidak memiliki kompetensi yang sebanding dengan para pemain lawan.

Bagaimana dengan di sekolah? Penjaga gawang di sekolah adalah kita semua. Jika berbicara sebagai guru, maka guru mata pelajaran adalah penjaga gawang bagi kualitas interaksi pembelajaran di dalam kelas. Guru atau Wali Kelas adalah penjaga gawang bagi terjadinya keharmonisan kondisi belajar di kelas yang diamanahkan kepadanya. Kepala sekolah adalah penjaga gawang terhadap roda perjalanan di sekolah yang dipimpinnya. Dan seterusnya. Masing-masing memiliki peran sebagai pejaga gawang.

Walau demikian, penjaga gawang juga dapat memiliki fungsi sebagai penyerang dan juga pastinya pengumpan. Itu semua bergantung kepada individu kita masing-masing dan juga kepentingan lapangan. Bahkan, dalam permaianan sepak bola sungguhan di lapangan rumput, ada penjaga gawang yang mampu memasukkan bola ke gawang lawan.

Dan jika penjaga gawang juga sebagai kapten kesebelasan, inilah posisi kita sebagai kepala sekolah dan atau sebagai kepala di sebuah lembaga. Dan karenanya menjadi tanggungjawab kita agar seluruh komponen yang ada di setiap lini di lapangan permainan dapat melakukan permainan yang cantik dan efektif. Dan dengan bantuan manajer atau juga pemilik klub, efektivitas dan kualitas tersebut dapat kita kejar serta kita raih. Dan semakin efektif anggota tim, mungkin semakin ringan tugas penjaga gawang untuk melindungi gawangnya dari bola serangan lawan.

Jadi, betapa miripnya tugas kita dengan tugas penjaga gawang itu...

Jakarta, 16 Juli 2009.

10 July 2009

Nanti Ya Pak?

Nanti ya Pak? Mungkin kalimat ini pernah saya ucapkan sendiri. Tentunya ketika seseorang yang meminta sesuatu kepada saya, yang kebetulan juga bahwa saya sedang melakukan sesuatu. Katakanlah, sebagai contoh konkritnya, ketika teman tersebut meminta perhatian saya untuk melihat bagaimana membuat tampilan blog saya lebih cantik.

Maka ungkapan yang, menurut saya kala itu, baik dan halus adalah kalimat: Nanti ya Pak? Ya sebenarnya kakaknya atau adiknya, atau pastilah satu keluarga dengan ungkapan: Maaf Pak, Saya masih sibuk.

Nanti kapan? Maksud saya kala itu adalah nanti kalau ada waktu yang lowong, yang memungkinkan saya memenuhi apa yang dimintanya. Tetapi setelah sekian lama, atau setelah yang meminta tersebut lupa mengingatkan saya, saya sendiri kemudian di hinggapi kealfaan. Alfa dan lupa itulah yang tidak memungkinkan lagi bagi saya untuk memenuhi apa yang sebelumnya telah menjadi komitmen saya memenuhinya.

Penyakit Nanti ya Pak ini, setelah saya pikir, adalah penyakit egois. Juga ada juga di dalamnya tersembnyi penyakit kurang empati.

Egois. Karena pada waktu tersebut saya kurang melihat apa yang menjadi permintaan teman tersebut. Dan karena kurang melihat atau memperhatikan apa yang sesungguhnya sedang teman minta, maka pada saat yang sama saya hanya melihat ke dalam diri saya sendiri. Tentunya dalam situasi dan kondisi yang demikian, tidak akan mungkin menjadikan orang lain sebagai pengganti apa yang sedang menjadi angan-angan saya saat itu.

Tidak empati? Karena saya tidak sedang memperdulikannya, saya beranggapan bahwa apa yang sedang dimintanya adalah sesuatu yang kurang menjadi perhatian saya. Saya tidak melihat sesuatu dari apa yang apa sebenarnya dibutuhkan rekan saya tersebut.

Apa implikasi dari penyakit Nanti ya Pak ini?

Pertama, saya berpikir bahwa saya telah membuang momen. Momen untuk memperoleh nilai positif dari kawan saya. Momen untuk membuat teman saya berbesar hatinya karena terpenuhinya apa yang diinginkan. Momen untuk melakukan kenaikan kelas atas hubungan sosial antara saya dengan teman saya. Dengan demikian sesungguhnya saya juga sedang menunda kemenangan atau kenaikan tersebut.

Kedua, Saya tidak melihat teman saya sebagai partner kerja yang seimbang. Karena dengan demikian saya telah berhasil menolak apa yang menjadi keinginannya. Ketiga, Saya telah diracuni oleh pola berpikir waktu dan sibuk yang mengikat fleksibilatas aktivitas saya.

Jakarta, 10 Juli 2009.

07 July 2009

Jalan Raya Merefleksikan Pemimpin

Menelusuri jalan-jalan yang ada dari Jakarta menuju Yogyakarta melalui wjalur Cikampek, Palimanan, Losari, Ketanggungan, Prupuk, Bumiayu, Wangon, Jatilawang, Buntu, Banyumas, Gombong, Kebumen, Kotowinangun, Prembun, Kutoarjo hingga memasuki DIY pergi dan pulang, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut menikmati atas hasil kerja Bapak/Ibu yang kebetulan sedang menjadi Pemimpin yang ada disetiap wilayah tersebut. Juga infrastruktur lain termasuk jelasnya petunjuk jalan menuju tujuan yang ingin saya tuju.

Diantaranya adalah jalanan yang lebar dan mulus dengan rambu yang jelas, yang membantu kami sekeluarga ketika perjalanan di malam hari yang gelap, atau pohon yang rindang di kiri dan kanan jalan yang membuat suasana menyejukkan di hati. Atau keadaan sebaliknya, dimana jalanan masih saja sempit ukurannya dengan kiri kanan jalan yang terus saja dibiarkan melompong tanpa ada tanda-tanda tanaman yang ditanam. Bahkan kalau pun ada jembatan yang dibuat baru tetap saja dengan ukuran yang tidak dibuat lebih lega dan lebar.

Semua memang bergantung dari anggaran. Tergantung dengan APBD. Atau bentuk prosedur yang lainnya. Tetapi apakah saya, sebagai pemudik dan pengguna jalan yang harus membuat perencanaan atau melakukan semua hal yang berkaitan dengan hal itu?

Situasi semacam itu, dari tahun ke tahun sejak saya menjadi perantau di Jakarta, dan karena selalu mudik hingga dua atau empat kali dalam satu tahunnya, yang tetap nyaris sama. Ditambah perlintasan kereta api di wilayah tersebut, yang diantaranya pasti menjadi timbulnya kemacetan ketika musim Idul Fitri, yang juga hampir tidak memiliki perkembangan penyelesaian dari tahun ke tahun, membuat saya memiliki kesimpulan bahwa, kondisi jalan raya adalah bentuk implikasi dari model kepemimpinan.

Saya membayangkan bagaimana pemimpin saya tersebut duduk di bangku belakang kendaraan yang kemudian merasakan betapa ada yang kurang ketika melintasi jalan raya di wilayahnya. Lalu pemimpin saya ini membuka buku budgetnya (mungkin namanya APBD?) ketika sampai di ruang kantornya, atau melakukan pengecekan terhadap laporan pertanggungjawaban terhadap jalur jalan raya yang baru saja dilaluinya kemudian menemukan sesuatu yang membutuhlan klarifikasi bawahannya. Lalu dimintanya bawahannya memberikan penjelasan tambahan terhadap proyek yang baru saja selesai dikerjakannya. Untuk kemudian pemimpin saya ini memberikan instruksi agar proyek direvisi karena ditemukan ketidakbenaran.

Dan karena pola kerja yang semacam itu maka pada tahapan berikutnya seluruh pembangunan infrastruktur atau proyek apapun yang ada di bawah kendali pemimpin saya tersebut menjadi sesuatu yang linier kualitasnya dengan harganya.

Saya juga membayangkan pemimpin saya ini melakukan gerakan hijau bersama warganya untuk menanam di setiap jengkal tanah yang ada di pinggir jalan raya. Termasuk juga memberikan rambu keselamatan di setiap tikungan dan belokan yang ada di pinggir jalan raya. Dan tidak ketinggalan memberikan spot light yang menyala cemerlang ketika para pengendara melewati jalur yang ada.

Alangkah bahagia saya. Meski saya hanya seorang pemudik. Saya merindukan pemimpin yang memahami bagaimana teriknya perjalanan di siang hari atau betapa pekatnya berkendara di malam hari. Saya merindukan...

Purworejo, 2 Juli 2009.

23 June 2009

Peringkat Sekolah

-->
Pelaksanaan UN atau Ujian Nasional telah memasuki babak akhir. Bagi yang akan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, para mantan siswa SMA dan sederajat saat ini masih terbagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang telah beres melakukan regestrasi, kelompok kedua adalah mereka yang sedang menunggu hasil Ujian Masuk Bersama, atau sedang giat-giatnya mempersipkan diri untuk pelaksanaan tes masuk. Baik yang SNMPTN atau tes masuk di tempat lainnya.

Sedang bagi lulusan SMP dan SD, sekarang hingga pertengahan Juli nanti masih harus disibukkan memilih dan melakukan pendaftaran di jenjang SMP atau SMA jika sekolah negeri sebagai pilihannya.

Dan bagi sekolah, waktu sekarang ini adalah waktu sibuknya menyiapkan dokumen kelulusan serta waktunya melakukan refleksi dan evaluasi terhadap hasil UN.
Termasuk juga apa yang terjadi di sekolah kami. Hasil UN yang menempatkan sekolah kita berada pada posisi berapa, hinga hari ini masih terus menjadi bahan diskusi. Hal ini sebagai bagian dari refleksi dan evaluasi. Masing-masing dengan argumentasinya.

Mengapa posisi kita turun? Kata seorang teman.
Karena rata-rata nilai komulatif UAN turun. Jelas teman yang lain.
Ada panjelasannya? Desak teman yang lain.
Karena rata-rata UAN adalah hasil komulatif dari hasil individu, maka turunnya nilai komulatif UAN adalah kontribusi dari turunnya nilai rata-rata siswa. Jelas teman yang lain.
Kalau begitu, mulai tahun depan PSB hanya menyaring anak-anak yang pandai saja. Begitu pandapat salah satu teman mengakhiri diskusinya.
Sekolah Anak Pandai

Begitulah konklusi dari diskusi peringkat sekolah berdasarkan hasil UAN yang posisinya menjadi turun dibanding peringkat sekolah tahun lalu. Sekolah untuk anak pandai? Sebelum saya setuju, akan lebih baik jika kita merenung.

Bila itu yang menjadi pilihan sebagai solusinya, berapa sekolah yang berkeinginan mendapatkan siswa yang pandai saja? Juga seberapa besar minat calon siswa untuk masuk dalam selesksi itu? Dan kalau terdapat beberapa sekolah yang punya keinginan seperti ini lalu dimanakah anak bangsa yang tergolong tidak pandai untuk melanjutkan sekolah? Siapa yang akan memberikan wahana pengembangan bagi potensi mereka?

Apakah kita segabai guru dalah generasi yang masuk dalam kategori pandai? Apakah anak-anak kita di rumah juga masuk dalam katagori itu? Apakah famili kita juga adalah berasal dari kalangan seperti itu? Apa motivasi kita hanya menerima siswa pandai saja di sekolah? Jika jawabannya adalah agar peringkat sekolah yang berdasarkan UAN naik, dan hanya ada 4 mata pelajaran UAN yang diujikan di SMP, dan hanya aspek kognitif saja yang masuk dalam soal UAN tersebut, maka sesungguhnya kita sedang berdebat tentang peringkat kompetensi kognitif siswa. Bukan peringkat sekolah!

Lalu, karena peringkat yang kita ributkan adalah peringkat kognitif, maka proses pengajaran saja yang sedang kita gundahkan. Sementara proses pendidikan tidak tersentuh. Interaksi hangat antara guru-siswa, tidak menjadi bagian dari pemeringkatan tersebut.

Artinya, bukan kualitas sekolah yang semestinya menjadi fokus kita ke depan. Tetapi kualitas proses. Oleh karenanya, jika sekolah telah memilki kompetensi mengembangkan siswa dengan model apapun dan siswa tersebut mampu melampaui target normalnya, baik dalam aspek kognitif maupun budi pekerti, itulah sekolah unggul.

Pertanyaan saya berikutnya adalah: Sudah seberapa ungulkah kita, sehingga kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan generasi unggul?
Allahu a'lam bishawab,
Jakarta, 22 Juni 2009.

16 June 2009

Yang Berselendang Warna Apa?


Mau pilih yang pakai selendang warna apa? Yang berselendang hijau atau selendang Oranye? Begitulah pertanyaan seorang siswa saya kepada teman yang duduk disebelahnya, di depannya, dan juga kepada saya sendiri yang ada di belakangnya. Namun karena saya tidak mengenakan kaca mata (Harap maklum, saya berkacamata minus sekaligus silinder). Maka saya tidak berani menjatuhkan pilihan sama sekali. Berbeda dengan para siswa saya ini. Mereka terus kasak kusuk dalam menentukan pilihan mereka masing-masing. Tentu dengan segepok argumentasi.

Dan setelah diskusi diantara mereka berlangsung beberapa saat. Saya melihat ada kesepakatan diantara mereka untuk memilih salah satu dari dua perempuan penari yang mengenakan selendang tersebut. Dua perempuan yang berperan sebagai Dewi Shinta, istri Arjuna Raja dari kerajaan Astina. Dan yang satunya lagi adalah Prijata, pengawal Dewi Shinta.

Dewi Shinta dan Prijata tersebut adalah tokoh yang siswa kelas IX SMP bersama orangtua dan guru dari Sekolah Islam TUGASKU tonton dalam Sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 11 Juni 2009 pukul 20.00. Pentas berdurasi lebih kurang 2 jam ini ditonton tidak lebih dari 500 orang yang duduk melingkar mengelilingi panggung terbuka yang megah. Dengan cahaya lampu panggung yang apik, juga temaramnya cahaya bulan purnama. Serta apresiasi penonton yang selalu membahana manakala adegan yang satu berganti dengan adegan berikutnya.

Cerita Ramayana ini antara lain mengisahkan tentang petualangan Rahmana, Raja dari Kerajaan Alengka untuk mempersunting Dewi Shinta, wanita yang telah bersuamikan Arjuna. Juga bagaimana heroiknya tokoh Hanoman yang tertangkap oleh Indrajit dan Kumbakarna, adik dari Rahmana, ketika memata-mati kerajaan Alengka guna membebaskan Dewi Shinta dari cengkeraman Rahmana. Dimana ketika ia harus menerima hukuman dibakar, namun justru dengan pintarannya, Hanoman menggunakan api tersebut sebagai bahan bakar untuk membumihanguskan Alengka.

Sebuah pengalaman yang unik untuk saya sendiri. Karena ini adalah kesempatan saya kali pertama untuk menonton sendratari tersebut.

Demikian juga dengan beberapa siswa saya. Namun tak kurang ada beberapa diantara siswa kami yang sulit memahami alur cerita dari drama kolosal tersebut sehingga menyebabkan menjadi bosan.

Jakarta, 16 Juni 2009.

Jangan Pernah Merasa Lelah


Jangan pernah merasa lelah. Demikian saya mengirimkan SMS untuk teman-teman yang kebetulan sedang mendampingi siswa yang sedang trip ke luar kota. Dengan SMS ini saya ingin mengajak teman saya untuk tidak pernah mengeluh atas tugas yang diterima. Tidak menghitung berapa ongkos yang telah diikhtiarkannya dalam menemani siswa atau membimbing siswa. Dan jangan sampai menjadi pelit atas kontribusi pengembangan generasi.

SMS ini saya tulis setelah saya sendiri ikut serta dalam rombongan itu meski setengah jalan. Dan sekaligus mengikuti dan hanyut dalam kegiatan tersebut. Menemani remaja melakukan perjalanan wisata. Yang melelahkan fisik bagi kita, tetapi tidak bagi remaja-remaja itu. Dan disinilah saya merasakan kekalahan.

Kekalahan karena ketika saya sudah benar-benar letih fisik saat harus berjaga di dalam gerbong kereta dan sesekali lelap dalam tidur ayam, dan ketika saya tersadar mendapati remaja yang menjadi tanggung jawab saya tersebut masih tampak sehat wal 'afiat untuk bertukar tempat duduk atau pergi ke restorasi yang dipenuhi asap rokok pengunjung dan bisingnya irama dangdut. Dan kekalahan masih terus berlanjut pada malam-malam berikutnya, ketika perjalanan masih berlangsung.

Tekad untuk terus menerus menemani mereka adalah sebuah komitmen tanggungjawab kami ketika perjlanan tersebut masih berbingkai edukasi. Dan tekad itu harus mewujud dalam bentuk kekuatan fisik dan kesejukan hati.

Kekuatan fisik, karena kita dituntut untuk selalu berada disamping mereka. Keberadaan kami ini tentunya tidak berarti atau bermaksud sebagai kekang untuk semua apa yang menjadi impian remaja kami itu. Tetapi untuk memberikan kapastian bahwa remaja kami selalu berjalan dalam fitrah hanifnya.

Namun karena kekuatan fisik yang kadang kurang prima, menjadikan keberadaan kami tertinggal dibanding remaja kami. Misalnya, ketika larut sudah datang, dan kamipun harus memastikan bahwa seluruh remaja kami menggunakannya untuk istirahat, kami masih dikejutkan adanya satu kelompok remaja kami yang lolos dari pengawasan kami. Mereka ternyata masih memilki tenaga penuh untuk mengecoh kami. Dan kami mengaku kalah satu kosong.

Kesejukan hati, karena saya selalu berpikir bahwa apa yang mereka perbuat bukan sesuatu yang menjadi delik pelanggaran. Mereka adalah tunas yang sedang mencari hangatnya sinar matahari. Karenanya perlu keluasan kesabaran yang tiada berbatas.

Mengingat itu semuanya, ketika saya pribadi harus meninggalkan teman kami yang masih melanjutkan perjalanan wisata bersama siswa kami yang remaja untuk kembali kepada tugas kami di kantor, saya menuliskan SMS untuk menyemangati teman-teman yang tengah berjuang. SMS yang berisi semangat agar teman-teman saya itu tidak menjadi pengeluh saat mendapati siswanya yang kurang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Saya ingin menyampaikan bahwa apa yang kita lekukan itu sepenuhnya untuk pelayanan kepada investasi masa depan. Oleh karenanya: jangan pernah merasa lelah!

Jakarta, 16 Juni 2009.

02 June 2009

Sibuk

Dalam sebuah kesempatan berdialog dengan teman-teman diantara kesibukan pekerjaan, saya mengusulkan agar kita mengisi waktu kita yang masih ada dengan aktivitas membaca dan atau menulis. Alih-alih mendapatkan tanggapan positif terhadap apa yang saya sampaikan, namun sebaliknya, justru ada menyampaikan pernyataan tidak terduga; Maaf Pak, saya sibuk.

Sibuk? Ya itu memang sebagai kenyataan bahwa kita sebagai guru, disibukkan oleh tugas keguruan di sekolah. Hingga kita tak sempat lagi atau mungkin lebih tepatnya tidak sanggup lagi jika mengisi kegiatan lain yang tidak berkorelasi langsung dengan aktivitas mengajar. Seperti membaca buku (saya tentu tidak katakan membeli buku), mengunjungi tempat diskusi keguruan dan kependidikan gratis yang sekarang banyak diselenggarakan oleh badan nirlaba, belajar membuat akun email, menjadi bagian dari jejaring sosial berbasis internet atau membuat blog, atau kegiatan keorganisasian.

Dengan merasakan diri sebagai orang yang terbelit kesibukan dari tugas keguruan di dalam kelas, maka kita akan menganggap diri telah menjadi pribadi paripurna. Dan atas keyakinan menjadi pribadi paripurna itu berarti kita telah memaknai diri sebagai pribadi yang telah cukup dan tidak membutuhkan lagi penambahan wawasan dan keterampilan. Dan karena itu hanya terlihat dari dalam dan bukan dari luar, maka dapat berarti pula bahwa kita sedang memasuki pintu gerbang kemandegan.

Harus diakui pula bahwa, mengemban tugas dan kewajiban di bidang apapun dimana kita berada, pastilah menuntut komitmen dan waktu yang akan menjadikan kita sibuk. Namun terlalu meyakini bahwa hidup kita hanya sebatas itu dan kita telah menakwilkan diri sebagai pribadi cukup, itulah awal dari kemandegan itu.

Betapa tidak, karena jika saja kita meluangkan waktu untuk bertemu teman sejawat dalam suatu forum diskusi, maka kita sesungguhnya sedang menemukan koordinat ‘harga diri’ kita diantara konstelasi koordinat sosial yang ada. Karena interaksi yang terjadi di dalam dan selama forum tersebut berlangsung, kita pastilah menemukan posisi dan koordinat teman. Dan dari situ pula kita bisa mengukur diri. Dan forum itu telah menjadi benchmark bagi kita. Demikian pula halnya jika kita mencoba untuk menjadi bagian sebuah organisasi apapun itu yang tentunya diluar kesibukan pokok kita.

Oleh karenanya menempatkan diri kita cukup dengan kegiatan utama kita saja dan menganggap itu sebagai puncak kesibukan hingga menyeret kita untuk tidak ambil bagian dalam arus pengembangan diri, maka pernyataan sibuk kita itu sama artinya dengan mengurung potensi diri dibawah tempurung.

Sebaliknya, bilamana dengan waktu yang ada dan tugas yang harus ditunaikan secara penuh komitmen namun masih menjadikan kegiatan yang tidak berkorelasi langsung terhadap tugas sebagai ranah yang harus ‘dimilikinya’, maka kita sebenarnya sedang membuka lembaran optimalisasi potensi kita sendiri dalam menuju anak tangga yang lebih tinggi.

Allahu A’lam bishawab,

Jakarta, 1 Juni 2009.

01 June 2009

Tamu dari Makasar


Jumat, akhir Mei 2009 lalu kami memiliki tamu dari Makasar. Dari lembaga pendidikan Sekolah Islam Terpadi Al Biruni. Terdiri dari Bidang pendidikan, Kepala Sekolah, Calon Kepala Sekolah, Administrasi dan tentunya guru.

Selaku tamu yang datang dari jauh, Sekolah saya bukanlah tujuan satu-satunya. Ya pasti. Karena beaya operasionalnya saja tentu tidak akan sebanding jika mereka datang ke Pulau Jawa hanya mengunjungi sekolah kami yang kecil, dan berada di Pulomas itu. Benar saja, sekolah kami hanyalah satu dari lima sekolah yang telah mereka kunjungi.

Surabaya adalah kota yang [ertama menjadi sasaran pembelajaran bagi mereka. Disana mereka mengunjungi sekolah fenomental dahsyatnya dalam mengembangkan karakter keIslaman yang kuat. Dan seolah tanpa merasa lelah, rombongan pemburu ilmu itu meluncur dengan kereta api menuju kota Bandung. Ada satu sekolah di kota ini yang menjadi persinggahannya yang kedua dihari berikutnya.

Dan esok harinya, pukul 02.00 , tentunya dini hari, mereka telah meluncur menuju sekolah hebat berikutnya di kota Bogor. Sekolah hebat karena berisi guru-guru yang hebat. Guru-guru hebat karena memiliki landasan kerja yang hebat juga. Dan seterusnya. Perjalanan berikutnya adalah ke Kalibata. Dimana terdapat sekolah dakwah yang pengelolanya dipenuhi rasa ikhlas tiada batas. Dan Jumat lalu itu rombongan Pemburu ilmu itu hadir di sekolah saya.

Kami di sekolah berdiskusi setelah tamu kita itu pulang. "Luar biasa daya dan upaya yang mereka kerjakan untuk sebuah kemajuan". Dan kami semakin takjub mengingat kepulangan mereka tidak memerlukan surat keterangan dari kami atau surat apapun seperti tamu-tamu yang lain yang datang kepada kita. Luar biasa!

Jakarta, 1 Juni 2009

Forum Pengembangan Diri

Dalam Taklim rutinnya di Al Ikhlas, Bang Debby mengutif pernyataan Ali bin Abu Thalib tentang kemuliaan ilmu dari pada harta dari kitab Al Ihya Ulumuddin Juz I halaman 16. Arti dari pernytaan itu: Ilmu itu lebih baik dari pada harta. Karena ilmu dapat menjagamu, sedangkan engkau menjaga harta. Dan ilmu adalah hakim sedangkan harta akan menerima hukuman. Dan harta akan berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah bila dibelanjakan atau di ajarkan.

Pernyataan itu selain menjelaskan secara esensi betapa mulianya kedudukan ilmu dari pada harta juga mengingatkan kita agar kita tidak menyimpan ilmu yang kita miliki. Tidak menyimpan tersebut dapat dimaknai sebagai membelanjakannya. Yaitu dengan cara menyampaikan kembali kepada teman atau orang yang ada disekeliling kita.

Dalam konstelasi sosial yang lebih spesifik, dimana saya berada, yaitu lembaga sekolah, maka saya mengartikannya sebagai saling membagi pengalaman keberhasilan dan kekurangan kita di dalam kelas kepada anggota komunitas sekolah.

Kesempatan saling berbagi tersebut kami sepakati secara rutin pada setiap hari Jumat seusai Shalat Jumat hingga saat Shalat Ashar. Dan forum itu kami sebut Pengembangan Diri.

Pengalaman keberhasilan, akan memberikan inspirasi kepada yang lain tentang bagaimana cerita itu kita adopsi, kita modifikasi, atau bahkan kita tiru dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas kita. Demikian pula halnya dengan pengalaman kekurangan yang diceriterakan teman, kita mencoba dan berusaha untuk menjadikan bahan diskusi guna menemukan benang merah solusi. Dan dari solusi tersebut, kita cobakan untuk pembelajaran kita. Mungkinkah kekurangan dapat menjadi keberhasilan?

Dan dengan berjalannya waktu, forum Pengembangan diri ini sudah menjadi bagian dari budaya teman-teman yang lain dalam mencari atau menambah atau juga bisa dikatakan sebagai lahan penemuan ide. Forum akan semakin berkualitas manakala pemilik pengalaman (baca: pemilik ilmu) ikhlas dalam membagi atau mengajarkan kepada kita.

Dan jika mengacu kepada pernyataan Imam Ali bin Abu Thalib, sang pembagi tersebut akan menambah perbukitan illmu dan amalnya…

Jakarta Barat, 31 Mei 2009.

26 May 2009

Prosedural


Dalam sebuah lembaga sekolah yang terdiri dari guru, karyawan dan kepala sekolah, meski tidak semua model interaksi dan pola komunikasi sesama mereka yang ada di dalamnya dibuat tertulis atau dibuat SOP, selalu ada patokan yang esensial, yang harus dan wajib dilakukan oleh komunitas di dalamnya. Ini tentunya juga yang berkaitan dengan sopan santun atau tata krama yang menjadi wewenang dan kewajiban para personalnya.

Tulisan ini akan mengemukakan satu perilaku yang mudah-mudahan kita dapat jadikan sebagai pelajaran untuk menjadi dewasa dalam menjalani hidup harmoni dalam keluarga yang bernama sekolah. Yaitu tentang prosedural. Prosedural dalam berkomunikasi dengan pihak luar sekolah.

Begini ceritanya: Seorang teman kepala sekolah yang terkaget-kaget menerima pertanyaan dari salah satu orangtua siswa yang ingin menyampaikan alat sekolah putrinya yang tertinggal. Orangtua itu bertanya: Bu, dimana lokasi diselenggarakan tes bakat? Pertanyaan yang sederhana yang berkenaan dengan kegiatan siswa namun rupanya dia tidak memiliki informasinya. Lalu sebagai kepala sekolah, kawan saya ini mencoba menyembunyikan bingungnya di hadapan orangtua. Dia mengajak orangtua ini masuk ke ruang admission, lalu menanyakan ruangan yang digunakan untuk tes.

Dan setelah masalah selesai dengan pertanyaan orangtua tersebut, Ibu kepala sekolah ini lalu melakukan investigasi atas ketidaktahuannya itu. Akhirul kata, bahwa ada satu dari guru koordinatornya, selaku penanggungjawab tes bakat tersebut, yang mengadakan kegiatan dengan melibatkan orang luar tanpa sepengatahuannya. Itulah penyebab ia menjadi linglung dihadapan orangtua. Surat keluar tidak mencantumkan dirinya selaku penanggungjawab sekolah.

Dan untuk memperbaiki keadaan tersebut, dilakukannya pertemuan klarifikasi. Klarifikasi adalah penyadaran bersama bahwa arus informasi dalam sebuah lembaga haruslah menganut prinsip kerucut. Dan hal inilah yang mereka sebut sebagai prosedural. Meski kecil informasi itu, tapi memiliki implikasi besar jika dilihat dari prinsip sistem dan sinergi di dalam sebuah lembaga. Inilah esensi sebuah bentuk komunikasi prosedural dalam sebuah lembaga.

Tetapi ketika cerita ini disampaikan kepada saya, saya memberikan 2 kemungkinan mengapa hal ini terjadi. Pertama, saya beranggapan bahwa koordinator tes bakat ini merupakan guru baru atau guru yang masih perlu belajar menjadi bagian dari organisasi. Kedua, Guru koordinator tes bakat ini adalah guru yang memang tidak lagi memandang anda sebagai kepala sekolahnya?

Saya tentunya mengembalikan ini kepada teman saya. Model mana yang akan dipilihnya. Atau bahkan bukan model yang mana-mana?

Jakarta Timur, 26 Mei 2009.

21 May 2009

Pendidikan Moral, Nilai Tambah atau Nilai Inti?

Dapatkah kita memperoleh hasil yang relatif berarti tentang pembelajaran moral dari sebuah interaksi pendidikan di sekolah kita dewasa ini? Dimana selain hasil Ujian Nasional yang setiap tahun pelajarannya selalu menunjukkan grafik peningkatan, maka juga demikiankah hasil pembalajaran moral putra-putri kita? Apakah kita cukup memiliki parameter untuk mengukurnya sebagaimana kita memiliki alat ukur untuk keberhasilan akademik mereka? Atau mungkinkah kita tidak begitu perduli dengan kompetensi perilaku siswa kita karena hasil belajar akedemik adalah satu-satunya hasil belajar yang akan dicapai oleh sistem pendidikan di sekolah kita?

Rasulullah SAW pernah menuturkan dalam haditsnya bahwa; Aku diutus ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak. Ungkapan ini mengandung arti bahwa misi utama bagi sebuah proses pendidikan adalah lahirnya sebuah akhlak atau perilaku. Tentunya akhlak baik atau perilaku luhur. Disini kita juga dapat menilik bagaimana sebuah generasi yang hidup bersama Nabi Muhammad SAW sukses mengawal kemakmuran dunia hingga beberapa generasi sesudahnya. Sebuah konsep dan aplikasi pendidikan yang secara riil dan nyata ada dalam sejarah manusia.

Dalam rumusan lain, Nel Nodding, guru besar Emeritus di Universitas Stanford mengemukakan: the main of education should be to produce competent, caring, loving, and lovable people (Alfie Kohn, 2000:115).

Lalu apakah dewasa ini di dalam kelas-kelas di sekolah kita putra-putri kita belajar secara mendalam dan bagaimana aplikasi tentang apa, bagaimana, seperti apa ranah moral itu harus menjadi milik mereka selain juga belajar dan mengejar SKL (standar kompetensi lulusan) dalam aspek akademik yang harus didimiliki oleh siswa di akhir pada Ujian Nasional?

Belakangan ini pendidikan dengan pembiasaan moral yang baik marak dikembangkan oleh sekolah. Ini adalah perkembangan yang baik bagi Indonesia di masa depan. Namun saya melihat ini dalam dua kategori dalam mengembangkan pendidikan moral tersebut.

Pertama; adalah sekolah yang memiliki konsepsi, yang menjadikan pendidikan moral sebagai nilai tambah bagi proses belajar di suatu sekolah. Sedang konsepsi yang kedua; adalah sekolah yang menjadikan pendidikan moral sebagai nilai inti.

Pendidikan moral sebagai nilai tambah karena sekolah masih dibombardir oleh tuntutan bahwa sekolah tersebut harus tetap menghasilkan lulusan yang dapat bersaing di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dan untuk mengejar indikator tersebut, sangat dimungkinkan melahirkan pola berpikir dari pelaku pendidikan di sekolah itu; untuk apa belajar non akademik bila hasil akhirnya hanya dilihat dari hasil ujian nasional yang menjadi modal bagi lulusan untuk masuk jenjang pendidikan berikut? Tahapan berikut dari pola berpikir ini adalah terjadinya pemisahan antara pendidikan moral dengan pendidikan akademik. lahirnya dokotomi. Sehingga ketika di depan kelas, guru tidak menjadikan pendidikan moral sebagai bagian yang inheren ketika sedang membelajarkan materi siklus hidup dalam mata pelajaran IPA, misalnya.

Pendidikan moral sebagai nilai inti bilamana seluruh aktivitas belajar yang ada di dalam kelas hanyalah sebagai sarana bagi terbentuknya moral yang diinginkan? Apapun materi yang ada dalam semua mata pelajaran di sekolah. Konsep ini tidak ada dikotomi antara moral dan materi pelajaran apapun. Karena materi pelajaran, sekali lagi adalah wahana bagi terbentuknya moralitas yang luhur yang menjadi impian kita. Inilah konsepsi yang menurut saya sebagai aplikasi pada tataran pendidikan di sekolah dari Hadits Nabi kita.

Dimana tantangan terbesar untuk menjadi agar pendidikan moral sebagai nilai inti di sekolah? Pendapat saya adalah memahamkan agar komunitas sekolah sepakat tentang konsepsi agar pendidikan moral sebagai nilai inti di sekolah. Terutama adalah mempersiapkan guru sebagai pelaku di dalam kelas.

Cipete Cilandak Jakarta Selatan, 21 Mei 2009.

19 May 2009

Jujur dan Terhormat

Bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupannya 80 % ditentukan oleh faktor kecerdasan sosial, sedang kecerdasan intelektual hanya berkontribusi 20 % dalam kesuksesan hidup seseorang. Demikian kesimpulan Goleman.

Apa yang disampaikan Goleman tersebut, sejalan dengan apa yang digagas oleh pendiri Sekolah Islam Tugasku, Ibu Rukmini Zaenal Abidin untuk menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis budi pekerti. Dan dipilihlah antara lain kata JUJUR dan TERHORMAT sebagai moto sekolah. Moto ini juga adalah bentuk aplikasi dari apa yang telah Rasulullah SAW sampaikan dalam haditsnya: Aku diutus di dunia ini tidak lain adalah untuk memperbaiki akhlak.

Artinya Sekolah Islam Tugasku, yang berdiri pada 29 Agustus 1984 lalu melihat bahwa hasil belajar tidak hanya berupa hasil akademik semata tetapi juga karakter yang mampu membentuk siswa menjadi pribadi yang cerdas akademik dan memiliki integritas emosi dan sosial perilaku yang tinggi.

Dalam perkembangan berikutnya, pada Juli 2004 manajemen dan Guru bersama-sama membangun infrastruktur untuk merealisasikan budi pekerti JUJUR dan TERHORMAT yang terdapat pada moto sekolah itu dalam bentuk intra kurikuler. Daya dan upaya itu telah menelorkan sebuah konsep pembelajaran budi pekerti atau Student Attitude dengan 10 karakter dasar.

Untuk menemukan kesepuluh karakter yang ada dalam Student Attitude tersebut kami berkumpul dan mecoba merumuskan sikap dasar apa saja yang harus dimiliki oleh siswa kami setelah mereka menyelesaikan pembelajaran? Maka hasil curah gagasan dan diskusi serta voting tersebut, kami menentukan 10 karakter. Yaitu :

1. Tanggung jawab/Responsibility,
2. Disiplin/ Discipline,
3. Jujur/ Honest,
4. Percaya diri/ Confidence,
5. Mandiri/ Independence,
6. Kerja sama/ Cooperation,
7. Peduli/ Compassion,
8. Sopan/ Courtesy,
9. Hormat/ Respect dan
10. Sabar/ Patience.

Tataran berikutnya setelah infrastruktur terbangun adalah membuat tahapan realisasi. Kita berharap jangan sampai konsep Student Attitude tersebut hanya menjadi ilmu. Tetapi harus menjadi keyakinan dan amal saleh. Secara sederhana, tataran itu kita uraikan dalam bentuk bagaimana kemudian ke-10 budi pekerti atau karakter tersebut melekat pada ingatan, pemahaman, aplikasi dan paradigma.

Pertama; aspek ingatan siswa; bahwa siswa dituntut untuk ingat 10 karakter yang ada. Solusinya adalah senam karakter yang dilakukan siswa setiap pagi saat ikrar bersama.

Kedua; aspek pemahaman; bahwa siswa harus memamahi apa yang dimaksud dengan 10 karakter yang ada memalui pembelajaran di dalam kelas.

Ketiga; aspek aplikasi dalam hidup; bahwa siswa sebelum mengapliklasi tentu harus tahu bagaimana bentuk aplikasi 10 karakter yang ada dalam hidup mereka dengan cara berdiskusi. Dan,

Keempat; Berpikir kritis berbasis karakter yang ada; dimana siswa melihat semua fenomena yang ada disekitarnya adalah bentuk aplikasi dari 10 karakter . hal ini antara lain dilakukan melalui diskusi kelas dan analisa dalam setiap laporan kerja siswa.

Dan kita sepakati bahwa, amanah membelajarkan Student Attitude itu adalah amanah bersama untuk semua guru serta komunitas sekolah dan keluarga dalam membina generasi jujur dan terhormat. Ya Allah bimbing kami untuk menjadi orang jujur dan terhormat. Amin.

Sekolah Islam TUGASKU
Direktur Pendidikan,
Agus Listiyono

17 May 2009

Keterbukaan dan Harga Diri

Ini adalah pengalaman lama. Menjadi salah satu dari lima anggota tim kecil yang merupakan wakil guru/karyawan, yang dipilih oleh teman-teman kami, dengan tugas menyusun pokok-pokok ketentuan sebuah lambaga kesejahteraan. Sebuah lembaga bersama yang dilahirkan dengan maksud untuk kesejahteraan guru/karyawan.

Kami, para wakil berkumpul dan menginap di suatu tempat guna menyelesaikan draf ketentuan. Dan untuk memudahkan serta mengefektifkan waktu yang kami miliki, satu dari kami telah membuat draf tersebut dalam bentuk soft copy. Sehingga sepanjang pertemuan yang kami rancang, adalah mendiskusikan pasal per pasal hingga ketentuan tersebut dapat dijadikan panduan. Dan tahap terakhir dari perjalanan draf itu adalah menyajikannya kepada para wakil unit-unit yang ada di lembaga kami, mendiskusikan kembali sekaligus membuat draf itu menjadi sebuah keputusan.

Dan pada tahap terakhir inilah pengalaman berharga yang mungkin dapat kita jadikan catatan perenungan. Dimana kata per kata yang terdapat dalam draf yang kami hasilkan saya sajikan kepada para wakil unit lembaga tersebut. Dan dalam forum ini para peserta masih dimungkinkan untuk andil dalam penyempurnaan dokumen. Bagian-bagian dari ketentuan itu yang menurut kami sebagai tim awal telah sempurna, dalam forum diskusi mendapat masukan, tambahan argumentasi dan koreksi. Saya sebagai moderator forum mengakomodasi apa yang terjadi dalam forum secara proporsional.

Namun apa yang saya peragakan sebagai ketua tim kecil dan sekaligus moderator sepanjang diskusi, tidak mendapat dukungan tulus dan penuh oleh salah satu teman saya yang juga anggota dari tim kecil. Pada sesi isoma, teman saya itu datang pada saya dan berkata: Pak Agus, Bapak jangan terlalu mengakomodir masukan mereka. Karena itu memperlihatkan bahwa seolah-oleh kita tidak bekerja maksimal. Terlihat bahwa kita tidak pintar (?). Jaga harga diri Pak. Jadi di sesi nanti Bapak jangan teralu akomodatif.

Saya kaget dengan masukannya itu. Saya terdiam. Tidak mengangguk dan juga tidak menggelang. Kaget saya terutama adalah pada pernyataannya bahwa jika kita sebagai tim kecil terlalu mengakomodir pendapat orang diluar tim menunjukkan bahwa kita tidak pintar. Dan itu berarti pula bahwa kita tidak memiliki harga diri.

Saya justru berpikir bahwa, dengan cara inilah kita melakukan sosialisasi hasil kerja kita dan sekaligus menyempurnakannya sebelum akhirnya menjadikan hasil kerja tersebut sebagai ketentuan yang mengikat.

Dan jika ketentuan tersebut hanya merupakan hasil dari tim kecil ini yang menjadi panduan, tanpa menghiraukan masukan dan koreksi dari tim yang lebih besar, karena gengsi dari tim kecil tersebut, bukankah itu berarti bahwa kita otoriter, one way, tertutup? Dan bukankah ini juga akan menjadikan harga diri kita rendah?

Saya menduga bahwa kita semua benci dengan sikap-sikap feodal itu, tetapi lupa bagaimanakah bentuk aplikasi dari sikap buruk itu ketika kita memegang kewenangan. Sekecil apapun wewenang yang diamanahkan kepada kita?

Jakarta Barat, 17 Mei 2009.

Model Pintu dan Gaya Kepemimpinan

Adakah hubungan antara model pintu ruangan anda dengan gaya kepemimpinan anda di sekolah, atau mungkin di manapun anda berada, jika anda adalah pemimpin, sekecil apapun kepemimpinan anda? Nah berikut ini saya akan menyampaikan anekdot berkenaan dengan pintu ruang kepala sekolah, karena kebetulan saya bekerja di sekolah.

Sejak tahun-tahun awal saya menjadi guru hingga sekarang, saya punya beberapa kepala sekolah dengan berbagai model atau gayanya dalam memberdayakan kami sebagai guru, dan juga model pintu ruangannya.

Nah khusus berkenaan dengan pintu ruangannya, meskipun sangat mungkin pintunya itu bukan didesain atas permintaannya, tetapi saya melihatnya bagaimana beliau ini memperlakukan pintunya.

Pertama; Pernah saya melihat ada ruangan kepala sekolah yang disampingnya tertulis kata ADA atau TIDAK ADA. Dua kata itu bisa berganti. Administratur sekolah atau TU akan memasang kata ADA atau TIDAK ADA sesuai dengan posisi kepala sekolah. Jika kepala sekolah sedang ada rapat dinas di kecamatan, maka administratur sekolah akan menempelkan kata TIDAK ADA. Mengapa harus ada kata-kata itu? Karena kita tidak dapat mengakses apakah kepala sekolah sedang berada di ruangan atau tidak. Mengingat pintu ruang kepala sekolah selalu tertutup rapat. Dan mengapa tertutup rapat? Ya mungkin agar udara ruangan yang berpendingin supaya tetap dingin.

Kedua; Pernah juga saya melihat pintu ruang kepala sekolah tetap tertutup meski tidak dengan model keterangan ADA atau TIDAK ADA. Dan kebetulan saya sendiri pernah mencoba membukanya karena suatu kepentingan, dan ternyata ruangan dikunci dari dalam. Mengganggu? Tanya saya. Tidak, saya hanya sedang mempersiapkan lomba nasional. Jawabnya. Rupanya Bapak kepala sekolah sedang mengikuti lomba nasional yang harus dipersiapkan. Dan agar tidak terganggu dikuncinya pintu ruangannya.

Ketiga; Dan pada tataran terakhir saya menjadi guru, saya juga melihat ada kepala sekolah yang selalu membuka pintu kerjanya. Juga kisi-kisi gordinnya yang selalu terbuka. Hingga kita semua dapat melihat apa yang dilakukan kepala sekolah itu di dalam ruangannya ketika di depan pintunya atau di samping jendela ruangannya.

Dari anekdot model pintu jika dihubungkan denga gaya kepemimpinan, saya memiliki pendapat sebagai berikut: Pintu tertutup; memberikan pesan bahwa anda adalah pemimpin yang penguasa. Sulit ditemui atau tidak mudah diakses, memiliki strata atasan bawahan yang berbeda, sulit menerima masukan, tertutup. Dan jangan sekali-kali memberikan kritik.

Sedang jika pintu terbuka atau ruangan yang mudah dilihat dari luar; memberikan pesan bahwa anda memiliki model kepemimpinan terbuka, egaliter, kontributif, transparan.

Allahua’lam bishawab.

Mind Map, 1 Desember 2006.
Jakarta Barat, 17 Mei 2009.

13 May 2009

Evaluasi Diri


Malam itu pukul 23.00 hari Senin tanggal 17 Maret 2008 di Bumi Perkemahan Cibubur, penanggungjawabkegiatan perkemahan dan juga panitia menyelenggarakan rapat koordinasi untuk kegiatan jurit malam yang akan berlangsung pada diniharinya pada pukul 04.00, serta persiapan wide game pada pukul 08.00. namun selain merupakan rapat koordinasi, rapat ini juga sebagai evaluasi diri.

Rapat berlangsung di tenda untuk pembina yang berada di paling ujung lapangan. Sementara suara guru yang lain melalui pengeras suara meminta seluruh peserta Pramuka untuk benar-benar memejamkan mata dan beristirahat, Saya ada diantara peserta rapat itu.

Sebagai peserta rapat, saya mensyukuri atas kegiatan evaluasi yang mereka lakukan. Evaluasi banyak mengupas hal-hal yang menjadi kekurangan sebelum pelaksanaan kegiatan itu dan juga dalam pelaksanaan nya. Ini dilakukan karena ada keluhan dari sebagain Pembina yang mengaku kecapaian karena harus menurunkan perabotan berkemah dari lantai 3 sekolah sebelum diangkut oleh kendaraan ke lokasi perkemahan. Ada yang komplain karena ada guru atau Pembina yang menjadi tim edvance (tim yang mempersiapkan segala sesuatu sebelum kegiatan berlangsung) tetapi hadir di sekolah persis jam keberangkatan ke lokasi perkemahan. Padahal sebelum jam keberangkatan tersebut banyak hal yang perlu dipersiapkan. Pos wide game Siaga yang ternyata belum terpasang bahkan sampai peserta wide game sendiri sampai di pos tersebut. Dan lain-lain.

Pendek kata, rapat koordinasi dan evaluasi tengah malam itu saya dapat sebutkan sebagai pertemuan pembelajaran. Karena seluruh guru dapat melihat dimana mereka berada dalam sebuah kegiatan besar itu. Dan itulah yang saya sampaikan di pertengahan acara (karena ketika saya berkeliling arena perkemahan ternyata rapat masih berjalan).

Sebagai sebuah komunitas, saya meminta dan mengharapkan kepada semua untuk membangun sebuah komunitas pembelajar. Dan wahana membangunnya adalah melalui pertemuan sebagaimana yang telah mereka lakukan. Mereka secara bersama melihat rekam jejak yang telah mereka tinggalkan dan bersama-sama memberi makna dari jejak tersebut.

Dan proses pemberian makna tersebut adalah proses menelanjangi diri. Maka barang siapa yang dalam pertemuan tengah malam tersebut mampu melepaskan topeng untuk tulus melihat ke dalam diri mereka masing-masing secara jujur, maka dialah yang sesungguhnya sedang membuat atau menciptakan dunia baru di masa mendatang.

Pulomas, 30 Maret 2008; Jakarta Barat, 13 Mei 2009.

Selesai Kontrak

Pemerintah dikabarkan sedang menggodok sebuah peraturan yang berkenaan dengan upah minimun guru kontrak, baik yang ada di lembaga pendidikan swasta atau negeri. Mudah-mudahan peraturan ini nantinya dapat menjadi paying hokum bagi teman guru yang masih memiliki status belum tetap tersebut.

Sebagai guru yang hingga kini berstatus pegawai swasta, saya pun memiliki pengalaman yang mungkin serupa dengan teman-teman yang berstatus kontrak. Status ini saya alami ketika mengawali masa kerja di suatu lembaga pendidikan yang baru saja saya bergabung. Dan hingga kini saya pernah memutasikan diri di empat lembaga pendidikan, sejak saya berkarir sebagai guru pada akhir tahun 1984 selepas lulus dari bangku SPG. Yang alhamdulillah semua mutasi itu saya lakukan tersebut demi mimpi saya untuk terus peningkatan karir dan harga diri.

Dan ada masa ketika kontrak kerja saya telah memasuki semester kedua, dimana saat itu saya memiliki satu tahun pelajaran masa kontrak , saya mencoba melayangkan beberapa surat lamaran kerja sebagai persiapan jika sewaktu-waktu kinerja saya kurang memenuhi standar lembaga. Hal ini saya lakukan murni sebagai antisipasi jika terjadi keadaan yang kurang baik bagi kelanjutan kontrak kerja saya.

Namun tanpa sepengetahuan saya, rupanya pemimpin lembaga dimana saya melayangkan surat lamaran tersebut mengenal dengan baik kepala sekolah dimana saya sedang menjalani kontrak sebagai guru. Dan ini saya ketahui manakala kepala sekolah saya memanggil saya.

Pak Agus melamar kerja di sekolah anu? Kata kepala sekolah saya membuka dialog. Benar bu. Darimana Ibu tahu saya melamar? Kata saya. Apakah ada yang salah dengan apa yang telah saya lakukan ini bu? Lanjut saya. Tidak ada yang salah Pak Agus. Pertanyaan saya justru: Apakah Pak Agus serius mau pergi dari sekolah ini? Kapala sekolah saya menanggapi.

Singkat cerita, kahirnya saya diberitahu oleh kepala sekolah bahwa kontrak kerja saya di tahun pelajaran berikutnya akan lanjut dengan status sebagai pegawai tetap. Saya gembira dan menyatakan tidak akan mengambil kesempatan interview di lembaga pendidikan yang lain. Kejadian ini berlangsung sekitar bulan Maret. Atau lebih kurang 3 bulan sebelum pemberitahuan resmi kepada saya tentang masa selesai kontrak.

Namun beda dengan aoa yang saya alami dengan apa yang dialami oleh teman saya yang sekarang sebagai kepala sekolah. Ketika ada masa kontrak gurunya akan berakhir, dan dari seluruh appraisal yang dilakukannya ada beberapa requirement atau ketentuan sebagai guru kurang memenuhi syarat dan ia menyampaikannya kepada yang bersangkutan, ini malah menjadi hambatan tersendiri. Dimana guru tersebut justru balik menyerang kepala sekolah dan lembaganya dengan berbagai trik. Termasuk misalnya, menyampaikan hasil kinerjanya tersebut kepada siswanya.

Dengan peristiwa ini saya menjadi berpikir bahwa, sebagai guru yang ada di lembaga swasta, masa depan kita sangat bergantung kepada kinerja kita. Dan inilah yang selalu saya sampaikan kepada teman-teman di sekeliling saya. Meski ide ini ada juga yang menentangnya.

Tetapi dari pengalaman dan berita yang saya dapatkan, asumsi saya ini menjadi kayakinan saya tentag masa depan saya sendiri…

Jakarta Barat, 12 Mei 2009.

12 May 2009

Memahami dan Dipahami

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: …man layarhamu layurham (...barangsiapa yang tidak mengasihi maka tidak akan dikasihi-oleh Allah). Dari hadits ini kita dapat pahami bersama bahwa sesuatu akan datang pada kita menakala kita telah melakukan sesuatu.

Sesuatu dalam hadits ini adalah tentang kasih sayang atau cinta. Dimana seseorang akan dicintai oleh orang yang dikenalnya, dihormati oleh orang disekitarnya, dipahami oleh sekelilingnya , tentunya setelah orang tersebut mencintai atau menyayangi, menghormati atau memahami orang lain yang dikenalnya.

Inilah dialektika yang digunakan juga oleh Stephen R Covey dalam salah satu kebiasaan bagi orang-orang sukses dalam hidupnya. Yaitu kebiasaan untuk 'mampu' memahami orang lain untuk kemudian dipahami oranglain. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang kadang masih sering dipraktekkan di lapangan sosial. Dimana orang hanya mau dipamahi atau dihormati atau dikasihi atau dipedulikan oleh orang tanpa mau belajar bagaimana untuk memahami orang yang ada di sekelilingnya.

Seperti kawan sekerja saya yang tidak mau mengerti apa yang terjadi pada orang lain. Tetapi selalu menuntut orang lain untuk paham siapa dan apa keperluan dirinya. Sampai-sampai pernah mengatakan bahwa; saya ya seperti ini. Jadi tolong dimengerti… Atau kadang dengan kata lain; usia saya sudah 35 tahun. Tidak mungkin saya merubah perilaku saya yang seperti ini. Anda harus tahu itu...

Saya pribadi kadang berpikir mengapa orang bisa begitu amat percaya dirinya bersikap seperti ini. Apakah tidak pernah ia bertanya pada diri sendiri bagaimana orang sekelilingnya melihat dia? Dan saya menjadi kasihan pada dirinya yang semestinya, dengan potensi dan kompetensinya mampu untuk menjadi jauh lebih baik dari apa yang ada pada dirinya sekarang. Namun karena sikap perilaku yang tidak mau memahami orang, maka sangat boleh jadi jika pada tahun-tahun mendatang orang lain belum berani memberikan amanah yang lebih besar atau lebih menantang yang semestinya dari atasannya.

Untuk itu, marilah kita mencoba memahami orang yang ada di sekeliling kita terlebih dahulu. Sebagai kapital kita untuk kemudian nantinya mereka memahami kita. Semoga. Amien.

Jakarta Barat, 11 Mei 2009.