Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

16 October 2012

Idul Adha #6; Mensyukuri Nikmat

Kegiatan 'tebar hewan kurban' yang menjadi program tetap di sekolah kami setiap tahunnya, dengan cara pelaksanaan pemotongan kurban yang disalurkan peserta didik kami di lokasi yang berbeda-beda pada setiap tahunnya, memungkinkan kami untuk bertemu dan bercengkerama dengan beragam kondisi masyarakat yang kekurangan atau kurang beruntung. Dan dalam menyaksikan kegiatan ini, kami tidak sekedar bertemu dengan saudara-saudara di tempat yang dekat Jakarta atau yang lebih jauh, dengan kekurangberuntungannya, tetapi juga merasakan nafas mereka meski hanya dalam kurun waktu yang tidak leih dari 24 jam. Karena biasanya kami akan datang sore hari sebelum pelaksanaan pemotongan kurban yang berlangsung esok paginya. Maka di sela waktu itulah kami saling bertemu dan bertatap muka.


Misalnya ketika tahun lalu 'tebar hewan kurban' sekolah kami berlangsung di wilayah Bogor, dimana saya menjadi bagian dari panitia yang berkesempatan menyaksikan bagaimana masyarakat bertahan atau mempertahankan hidup. Padahal lokasi yang kami kunjungi itu tidak lebih dari empat kilometer dari pintu tol kota Bogor dari Jagorawi. Atau lebih kurang tiga setengah kilometer dari terminal Baranangsiang.

Menuju ke lokasi itu, kami harus melewati jalan aspal di depan  sebuah sekolah  swasta bertaraf internasional untuk kemudian masuk ke sebuah perumahan. Di salah satu ruas jalan perumahan itulah saya dan rombongan keluar komplek perumahan dari sebuah jalan tikus yang tampaknya akan digembok bila malam datang. Kami turun untuk masuk menuju ke daerah yang dimaksudkan.

Tidak semua warga tidak beruntung di daerah itu. Seperti rumah sahabat saya yang kebetulan adalah pengasuh Madrasah yang lumayan maju di daerah itu.  Demikian juga tetangga yang lain. Sebagai ukuran mampu, kami melihat bahwa sebagian mereka tampaknya akan membuat bilik-bilik rumahnya sebagai tempat kos. Dan inilah yang menjadikannya mungkin untuk lebih dari bertahan. Namun ketika kami berjalan lebih ke dalam, menuju ke arah sebuah bukit. Di lokasi inilah kami masih banyak  bertemu dengan warga yang memasak makanan dengan kayu bakar. Dengan, tentunya, bangunan rumah yang sudah terlihat rapuh dan tidak kokoh lagi. Kami yakini kalau mereka inilah yang sunggu kesulitan meski hanya untuk sekedar bertahan. Mata pencaharian yang dulunya sebagai petani sudah tidak memungkinkan lagi. Sedang berdagang? Ada saya temukan diantara rumah-rumah itu kios warung menuman atau gerobak es yang tidak tampak sumringah. Kuyu!

Demikian pula ditempat lain yang pernah saya hadiri. Seperti di sebuah desa yang ada di kecamatan Muara Gembong, Bekasi. Tampak sekali sebagian masyarakat yang tinggal di rumah dengan pondasi yang rendah dan hampir sejajar dengan permukaan halaman. Yang menyebabkan kondisi ubin di dalam rumah selalu akan dirayapi rebesan air yang sudah tidak lagi bersih. Ini karena sebagian dari sawah-sawah atau empang-empang yang sebelumnya menjadi lahan pencaharian sudah tidak menyediakan air bersih lagi. Sebagian besar airnya seperti tercemar oleh limbah.

Maka cara bertahan yang mereka lakukan adalah juga dengan berdagang plus memelihara bebek yang jumlahnya tidak seberapa. Yang lebih kreatif adalah menebar ikan di empang belakang rumahnya dan menjadikannya tempat pemancingan.

Atau tempat-temapat lain yang hampir-hampir satu irama dan nada. Wajah yang terlihat dari semua yang kami kunjungi adalah wajah-wajah yang menerbitkan rasa syukur bagi kami para rombongan panitia 'tebar hewan kurban' yang menjadi kegiatan tahunan di sekolah kami. Alhamdulillah.

Jakarta, 15-16 Oktober 2012.

15 October 2012

Idul Adha #5; Ide Menjual Hewan Kurban


Pagi itu seusai menemui DKM, kami kembali ke rumah dimana salah seorang teman kami mengakomodas. Bergiliran kami mengantri untuk mandi atau keperluan lainnya di kamar mandi. Setelah ini, perjalanan berikutnya yang kami rencanakan adalah untuk pergi ke lokasi dimana tempat peternak kambing berada. Disampaikan oleh nara sumber dari orang setempat bahwa, lokasi dimana kami dapat bertemu dan bertransaksi dengan peternak sekaligus penjual kambing, lebih kurang jaraknya memakan waktu perjalanan setengah jam dari lokasi yang kami pilih sebagai tempat kegiatan 'tebar hewan kurban' sekolah kami pada tahun ini.

Di sela menunggu giliran untuk mandi itulah, seorang bapak warga desa datang dan bermaksud menyampaikan aspirasi kepada kami berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan 'tebar hewan kurban' nanti. Sebagai perwakilan dari teman-teman, maka saya  menyambut warga itu. Dia datang seorang diri. Saya mengira akan ada sesuatu yang barang kali dapat menjadi rujukan atau masukan atau mungkin juga pertimbangan terhadap pelaksanaan 'tebar hewan kurban' yang insyaallah akan berlangsung pada Jumat, 26 Oktober 2012. Untuk itulah saya menyiapkan diri untuk mendengar apa yang menjadi aspirasinya.

Namun sebelum Bapak tersebut itu menyampaikan sesuatu kepada saya, dua teman saya yang semula ada di luar rumah masuk dan duduk disebelah saya untuk menemani. Kami bersiap menyimak.

Lalu disampaikanlah apa yang menjadi aspirasi yang diakuinya sebagai pendapat pribadinya. Kata-kata sebagai pendapat pribadinya, ia ulang hingga lebih kurang tiga kali. Juga permohonan maafnya bahwa ia merasa lancang untuk menemui kami dan menyampaikan sesuatu. Dikatakannya bahwa Ia bersyukur karena masjidnya pada tahun ini  akan menjadi salah satu tempat pemotongan hewan kurban dari anak-anak yang ada di Jakarta. Ini adalah peristiwa yang menyenangkannya dan pasti juga warga lainnya.

 
Namun dia mengusulkan bagaimana jika hewan kurban nanti tidak dipotong semua. Tetapi ada yang disisihkan untuk kemudian diuangkan, dan uangnya nanti dapat dibelikan material bangunan guna meneruskan atau melanjutkan proyek pembangunan masjid yang belum kelar? Aspirasi yang disampaikannya itu terasa lancar dan tidak ada sesuatu beban yang menghalanginya. Sebuah aspirasi yang lahir dan muncul mengalir begitu saja secara lugu.

Kami semua kaget dengan aspirasi yang disampaikan itu. Ta[i agar kami semua tidak terjebak kepada situasi mengagetkan itu, Akhirnya saya mengajak Bapak itu untuk menyerahkan kepada kami proposal pembangunan masjid. Dari proposal itu  saya berjanji untuk meminta teman di Jakarta dapat membantu atas pembangunan masjidnya itu. Tapi saya juga menekankan agar semua hewan kurban harus dipotong sesuai amanah yang diberikan kapada panitia tanpa terkecuali.

Pengalaman itu selain mengagetkan juga menyadarkan kepada kami bahwa; beragama harus dengan Ilmu.

Jakarta, 15 Oktober 2012.

14 October 2012

SMS Bontot dari Beda Benua

Inilah rangkaian SMS Bontotku ketika sedang menjadi bagian dari rombongan seni GCN ke Swiss dan Jerman pada 22 Agustus hingga 03 September 2012.

Kamis, 23/08/2012; 12.32;
Dua jam yang lalu @wildahfaza:
Ka bilang ibu aku lagi di dubai, 6 jam lagi baru di swiss. Bandaranya gedeeeeeeEeEeE bgt.

Send@19.41;

Assalamu'alaikum Wildah. Bagaimana perjalanannya. Ini sdh sampai mana? Bagaimana dengan Doha? Seru ya? Sempat foto2 ngak? Wildah sehat selalu ya? Sepatunya nyaman kan? Salam ya dari Ayah Ibu dan kakak2 di Jakarta. Wassalamu'alaikum.

Wildah-21.31;

Yah aku baru aja sampe di swiss, mmm panas sih disini kaya jakarta. Udah 5 kali makan tp belum pup... Saat ini blm foto2,  nnti mungkin yah. Sepatunya tooop

wildahfaza @ di hotel ibis.... Hahahaha lucu ya yah :3


Jumat, 24 Agustus 2012; 07.50:


Ayah disini masih jam 2pagi. Ayah lagi apa? Hari ini jadwal kita jalan2. Tadi begitu sampe hotel langsung ketiduran pules bgt. Ayah mungkin aku beli jamn[Receiving Text).


19.10;

Hari ini kan tur yah, kita ke tittlis tp di depan aja gak naik, trs kita makan di taman. Zurich itu bersih yah, trs mandiri banget. Kalo makan di restoran, kita taro piring kotor sendiri. Hm terus semua cowok harus ikut militer. Tadi aku ngelewatin kawasan pertanian gt yah hehe bagus deh. Alhamdulillah

22.19;

Mama... Kalo harga jam tangannya mahal bgt, aapa masih harus dibeli? Soalnya tadi ada tapi mahal bgt 1nya 300 swissfranc

Send@ 22.22;

Wildah, kalau beli oleh2 jangan yg mahal, yg akan menyita uang saku kamu. Beli secukupnya Dan semampu yg tersedia uang saku adek. Jadi kalau jam tangannya mahal, tdk usah beli ya. Terimakasih sebelumnya ya adek pintar.

Sabtu, 25 Agustus 2012; 00.38;

I miss you mom & daad

03.02;

Dad we just performed a very good performance! Alhamdulillahirabbil'alamin. Harus bersyukur jadi orang indonesia ya yah, bu, mas, mba. Mereka seneng bgt trs kita diminta kesini lagi tahun dpn (mungkin orangnya beda) bulan feb. & baju fashion shownya laku alhamdulillah ya Allah. Tinggal perform hamburg

Minggu, 26 Agustus 2012;
13.26;
 
Alhamdulillah. Terimakasih infonya ya. Bagaimana minggu ini? Swis kamu tinggalkan dan beranjak ke Paris ya dek? Wuih seneng bngt. Nanti dari jendela kerta foto2 ya. Kalau bisa. Semalat menikmati perjalanan ya...

Send @ 15.21;

Iya ayah ini udah di prancis. Kita naik bis gak naik keretaa. Doakan ya yahhh

Send@ 19.34;

Dad! Kita masuk detik.com! Checkkkkk gatau judulnya apaan. Ini di kampungnya prancis, hari minggu sepiii bgt

Senin, 27 Agustus 2012;

Send@18.37;
Baru ke menara eifeel yaaah beautipuuul pulpul. Belom beli parhum. Hehehe iya yah maaf ya, I love you so......

Selasa, 28 Agustus 2012;

Send @ 00.17
Ayah aku khilaf hari ini. Tapi semua oleh2 udah dibeli. Yaaa mungkin tinggal sedikit. InsyaAllah duitnya sisa banyak. I love you

Send @ 02.56

Dad where are youuuu I miss you soooo selamat kembali bekerja!!! I miss you all soo much. Bsk ke disney :3

Send @ 05.23

DAD MASIWAN SAKIT? CEPET SEMBUH YAAAA..

Ayah aku gamau belanja lagi aku takut :( takut kalap :( seru yah disneynyaaa


Rabu, 29 Agustus 2012;

Send @ 11.31;
Iya pa siap siap. Folder apa maksudnya yah? Hari ini semalam di amsterdam. Tripku hampir berakhirrrr. Semangat kerjanya ayah \:D/

Send @ 12.40;

Oke ayahkuuuu<3 br="br">
Jumat, 31 Agustus 2012

Send @ 19.27;
Alhamdulillah ayah terimakasih ya. Ayah faza mohon doannya utk besok tampil. Aku ngerasa failed yah tadi pas gladiresik, aku salah terus. Semuanya dirombak aku bingung pengen nangis aku ga enak sama yang lain aku pengen latihan lagi :'( kita tampil di museum gede dan mewah

Send @ 19.27;

Ayah tolong doain aku ya, terimakasih ayah

Sabtu, 01 September 2012

Send @ 01.52;
Ayah kabarnya besok kita diliput metro tv dan tv one. Tapi faza masih kurang tau ditayanginnya kapann. Doain aku sehat ya yah, krn drtd aku kedinginan.

Minggu, 01 September 2012

Send @ 04.10;
Alhamdulillah pa hari ini selesai, sedih harus ninggalin eropa. Alhamdulillah ya yah bisa kesini. Makasih banyak ya yah, insyaAllah besok pulang.

Idul Adha#4; Bertemu Peternak Kambing

Los-los kambing milik H Bunyamin dari Bogor.
Kegiatan perayaan Idul Kurban di sekolah kami yang diramu dengan konsep 'tebar hewan kurban' di daerah yang jauh dari pedagang kambing musiman, rupanya telah menghantarkan saya berhubungan dan berkenalan dengan para peternak hewan kurban. Mereka ini adalah para peternak, wirausahawan ternak, yang sebagian besar pendapatannya atau ternaknya adalah penggemukan untuk stok berkurban. Terutama dan utamanya adalah kambing atau domba.

Berbagai model yang mereka usahakan itu, alhamdulillah saya teah bertemu dan bertatap muka. Sedikit berdiskusi. Karena memang saya awam sekali dengan masalah per-kambingan. Peternak dengan skala ternak yang  berkisar 50an ekor, saya temui di Purworejo, Jawa Tengah, Bongas, Indramayu, dan Binong, Subang di Jawa Barat. Sedang peternak dengan skala besar, dengan jumlah hewan ternak tidak kurang dari 500 ekor kambing dan domba, saya jumpai di Talang Dua,  Cimande, Bogor.

Dari pertemuan-pertemuan itu menerbitkan inspirasi saya untuk ikut melatih diri dalam bekerja keras, yaitu untuk dapat mencoba. Tentu ini sebuah jalan pencarian nafkah yang dapat dikatakan bersih dari wilayah abu-abu. Semuanya terlihat jelas.

Di Peternakan Pak Bunyamin

Pertama kali berkebalan sekitar awal tahun 2012 ini. Hubungannya dengan rencana kerja sama antara teman dengan beliau dalam menggemukan kambing dan domba untuk stok kebutuhan hewan kurban di masjid teman kami itu. Disepakati 250 ekor kambing yang akan digunakan untuk suplai hewan kurban tahun ini juga. Lokasi kandangnya tidak jauh dari Talang Dua, Cimande, Kabupaten Bogor.

Pertemuan dan diskusi kami berlangsung di sebuah pendopo yang difungsikan juga sebagai mushala dan juga tempat pertemuan. Pendopo dibuat satu deret dengan rumah-rumah para pekerjanya yang bertugas mengurusi ternak-ternaknya. Di depan deretan bangunan itu ada terdapat empat los besar, yang berfungsi sebagai kandang kambing. Setiap losnya, saya perkirakan dapat menampung lebih kurang 500 ekor kambing.

Apa yang diupayakan oleh Pak Bunyamin tersebut sudah menjadi bagian integral bagi para mahasiswa peternakan yang ada di wilayahnya. Ini mungkin karena skalanya yang tidak kecil lagi, dan sosok Pak Bunyamin yang pekerja keras serta ulet. Pada tahun 2012 ini, peternakan Pak Bunyamin menjadi wakil kabupaten Bogor untuk maju di tingkat provinsi Jawa Barat dalam dunia usaha peternakan.

Selain skalanya yang tidak kecil lagi, kebersihan kandang di peternakan Pak Bunyamin sungguh menakjubkan. Saat berkunjung ke kandang, tidak saya lihat kotoran rumput yang merupakan sisa makanan hewan ternak. Baik di kandangnya, atau juga di bawah kandang. Bersih.

Di Peternakan Pak Roto 

Berkunjung di peternakan Pak Roto yang ada lebih kurang 5 kilometer dari kota Purworejo, juga mdnerbitkan aura optimesme seorang peternak. Pak Roto menunjukkan di depan kami sebagai pekerja yang ulet dan tiada henti. Juga termasuk orang yang tidak terlalu pelit dalam hal menentukan harga.
Hal ini kebetulan saya lihat sendiri saat H -1 pada Idul Fitri 1432H/ 2011 yang lalu. Dari beliau, sekolah kami membeli 1 ekor sapi dan 23 ekor kambing. Dan ketika jumlah kambing yang ada di kandang telah habis terjual, Baliau dengan sigap mengambil kambing-kambing yang ada di kandan yang lain. Luar biasa. Dan yang lebih menakjubkan lagi, pada hari itu beliau bertransaksi dengan banyak orang dengan menggunakan uang cash!

Selain skala jumlah ternak yang dipelihara antara peternakan Pak Bunyamin yang di Bogor dengan Pak Roto di Purworejo adalah soal kebersihan. Peternakan Pak Roto masih jauh tertinggal dalam hal mengelolaan limbah pakan ternaknya dengan Pak Bunyamin. Dan dari sisi ini pula saya sungguh dapat belajar.

Jakarta, 14 Oktober 2012

Idul Adha#3; Mengingap di Lokasi Berkurban

Dalam sebuah kagiatan 'tebar hewan kurban' yang menjadi agenda tahunan, dalam setiap kegiatan peringatan Idul Adha di sekolah kami, salah satu pengalaman menarik bagi kami, atau khususnya saya, adalah pengalaman untuk dapat menginap di lokasi pemotongan hewan kurban. Dan karena lokasi berkurban setiap tahunnya berbeda-beda dan tentunya dengan anggota panitia yang berbeda-beda pula, maka apa yang menjadi catatan bagi saya dalam mengikuti kegiatan yang dapat daya catat tersebut juga tentunya tidak dapat menyeluruh. 

Artinya, tidak setiap tahun dalam pelaksanaan kegiatan 'tebar hewan kurban' menjadi bahan catatan saya. Karena saya sendiri juga tidak setiap tahunnya berada di setiap lokasi kegiatan. Namun pengalaman yang pernah saya alami sendiri ini setidaknya dapat menjadi gambaran bagaimana kehidupan masyarakat desa yang yang kami kunjungi dan menjadi lokasi kegiatan kami ini dalam kehidupan kesehariannya.

Di Pesantren
Ada beberapa kali kami memilih lokasi pesantren sebagai sasaran kegiatan. Tentu pesantren yang dapat dikatakan pesantren kecil. Bukan karena jumlah santrinya yang sedikit sehingga kami katakan pesantren kecil itu adalah pesantren kecil. Tetapi mungkin karena penampilannya. Walau demikian, ada salah satu pengasuh pesantren yang kami kunjungi itu adalah seorang tokoh Majelis Ulama Indonedia, MUI di Kabupaten Bekasi. Juga di sebuah pesantren yang lainnya lagi, yaitu sebuah pesantren yang berada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Ketika kami menginap di pesantren yang ada di Bekasi tersebut, menunggu kegiatan pemotongan hewan kurban yang kami laksanakan di hari Tashryk pertama, setelah Shalat Isyak,  Pak Kiai, yang mengasuh pesantren itu memberikan briefing kepada seluruh jamaah, yang ternyata adalah para panitia pelaksana pemotongan kurban, tentang pelaksanaan pemotongan hewan kurban esok hari. Briefing todak berjalan terlalu lama. Para jamaah yang juga adalah panitia tersebut, adalah mereka yang berasal dan tinggal dari kampung-kampung yang berada diseputar pesantren. Kampung-kampung mereka satu sama lainnya hanya dipisahkan oleh area persawahan,  yang alhamdulillah masih terhanpar luas. 

Acara briefing selesai, dilanjutkan dengan diskusi tentang berbagai hal dengan nara sumber pak Kiai dan peserta diskusi kami yang menjadi perwakilan dari sekolah di Jakarta. Namun dari obrolan itu, akhirnya mengerucut kepada pembacaan beberapa kalimat yang ada dalam sebuah kitab yang diambil Kiai dari rak buku yang ada di ruang tamunya. Kami semua menikmati kajian informal yang mengenyangkan rohani dan akal itu. Luar biasa.

Setelah acara berakhir, barulah kami menuju ke tanpat tidur masing-masing. Teman-teman anggota tim mengambil tempat tidur di salah satu ruang belajar para santri yang untuk sementara di sulat sebagai kamar. Sedang saya bersama anak tidur di kendaraan.

Di Masjid Aliran Sesat
Lain bermalam di pesantren lain pula ketika kami menginap di dalam masjid yang ada di sebuah tempat yang lebih kurang berjarak 150-an kilometer dari kampus atau sekolah kami berada. Sebuah masjid dengan aliran air wudu yang bersih, jernih, dan mengalir tiada henti. Masjid yang bagian belakangnya justru menghadap jalan raya, yang hanya dibatasi oleh bebarapa dapuran pohon bambu. Sedang halaman depannya berbagi bersama halaman salah seorang pengurusnya. Sungguh membuat suasana masjid yang khas pedesaan.

Tebar hewan kurban di tempat itu membawa kesan tersendiri kepada kami semua bahwa bekerja sama dengan aparat resmi desa atau DKM sebuah tempat ibadah, menjadi hal yang penting. Ini karena tiga atau empat tahun sesudah kegiatan kami tersebut, dari berita di surat kabar dan media telivisi kami baru mngetahui bahwa masjid dimana kami pernah menginap itu adalah sebuah masjid yang beraliran sesat.

Di Kampungnya Para TKI

Berbeda pengalaman menginap di Pesantren atau di sebuah masjid yang ternyata dimiliki oleh sebuah aliran sesat, adalah pengalamanmenginap di sebuah desa yang hampir setiap anggota keluarganya ada yang menjadi TKI. Ini kami alami di sebuah lokasi tebar hewan kurban di daerah Subang.

Semula kami sedikit kaget dengan cukup banyaknya rumah-rumah tembok warga. Namun setelah siang harinya, yaitu ketika kami memulai bercengkerama dengan warga dan DKMnya, kesan rumah tembok yang mengisyaratkan bahwa penghuninya mampu itu sirna. Karena hampir semua warga yang tinggal di rumah-rumah tembok itu adalah para pekerja buruh tani. Rumah temboknya itu adalah 'hasil' dari kerja keras para perantau yang ada di keluarganya. Maka keseharian mereka tetap dari bekerja sebagai buruh tani tersebut.

Kami menginap di sebuah rumah tembok dengan ubin marmer. Kami sampai di desa itu lebih kurang pukul sebelas malam. Kami berangkat dari Jakarta pukul lima sore, tetapi terhambat macet sejak dari halaman sekolah hingga ruas tol Cikampek.

Menjelang subuh, salah seorang dari kami dibangunkan alarm HP. Ini kehebohan kecil yang yang pada akhirnya membuat kami semua disibukkan dengan mencari stop kontak mesin air. Ini karena kebutuhan air pagi itu tidak dapat terpenuhi oleh karena stok dalam bak habis. Seluruh dinding tembok ruangan kami telusuri, namun tanpa hasil. Mesin air tidak dapat kami temukan dan nyalakan. Alhasil, kami sepakat untuk segera menuju ke masjid. Mesin air itu baru kami ketahui kebradaanya pada saat kami usai menunaikan shalat subuh. Si empunya rumah menunjukkan bahwa mesin air dan stop kontaknya berada di salah satu kamar!

Kenyataan tentang mesin air itu hanya salah satu pengalaman bagus yang kami dapatkan. Dan kami juga melihat bahwa rumah-rumah tembok yang ada di lokasi itu adalah bentuk investasi warganya yang bekerja di luar daerah. Sehingga ada kesenjangan antara rumah tembok dengan budaya bagi para penghubinya.

Jakarta, 14 Oktober 2012.

Idul Adha #2; Survey ke Daerah Berkurban

Salah satu kegiatan survey adalah bertemu peternak di kandang.
Sebagaimana yang kami sampaikan pada catatan terdahulu, bahwa untuk menetapkan daerah yang akan menjadi lokasi berkurban bagi kegiatan Tebar Kurban sekolah kami, kami melakukan kunjungan ke daerah yang sebelumnya telah kami ketahui dari sahabat kami yang mengenal benar daerah tersebut. Sahabat kami itulah yang merekomendasikan daerah tujuan atau daerah yang akan menjadi lokasi berkurban. Selain dari cerita narasi, teman kami akan memperlihatkan dalam bentuk foto. Foto bisa dari kamera yang ada di hand phone nya atau di cetak.

Dengan demikian, maka kunjungan kami di lokasi tersebut adalah melakukan silaturahim awal. Kami akan bertemu dengan sesepuh desa yang ada di daerah tersebut. Bisa dengan ketua atau anggota DKM Masjid yang akan menjadi lokasi kurban. Atau mungkin aparat desa, atau kadang juga pemimpin Pondok Pesantren yang ada. Kepada mereka kami mengutarakan maksud kedatangan dan juga berdialog bagaimana nanti teknis pelaksanaan kegiatan kurbannya. Karena alasan biaya ioerasional, maka kami datang dengan anggota yang terbatas. Dan kadang maraton. 

Seperti untuk kegiatan tebar hewan kurban pada tahun 1433 H/2012 ini, maka rombongan akan menyaksikan pemotongan hewan kurban di sebuah desa yang ada di Kabupaten Subang pada hari Idul Adha, dan akan meninggalkan lokasi sekitar pukul 10.00, tepat ketika pemotongan hewan kurban telah selesai dilaksanakan, untuk kemudian berangkat menuju ke daerah lain yang ada di Kabupaten Indramayu. Dimana di daerah Indramayu tersebut pemotongan kurban akan berlangsung setelah usai Shalat Jumat.

Selain bertemu dengan para sesepuh desa, maka agenda kami yang berikutnya adalah bertemu dengan peternak yang lokasinya berada di daerah yang tidak terlalu berjauhan dari lokasi tebar hewan kurban. Biasanya, setiap daerah selalu saja ada peternak yang memang khusus menjadi sentra penggemukan hewan kurban.

Sebagaimana tahun lalu (2011), ketika kami melaksanakan tebar hewan kurban di daerah Purworejo, kami bertemu dengan Bapak Roto yang memang peternak kambing dan sapi yang dapat diperuntukkan berkurban. Kepada beliau kami mengambil lebih kurang 23 ekor kambing yang menjadi titipan dari pekurban yang ada di sekolah kami. Tentu harganya lebih miring di banding dengan harga hewan kurban yang ada di lapak-lapak di Jakarta. Maka dengan harga Rp. 1.500.000, di daerah tersebut kita masih mungkin untuk mendapatkan hewan kurban yang lebih baik dibanding ketika kami menyetok dari Jakarta. Demikian juga dengan yang ada di Subang dan Indramayu. Kami telah bertemu dan membuat janji kepada masing-masing peternak yang ada di daerah tersebut.

Dan dari kegiatan seperti ini, kami, khususnya saya, memperoleh banyak hal baru yang penting tentang kehidupan. Saya bersyukur telah bertemu dengan aktivitas semacam ini. Sebuah kegiatan yang dapat memperkaya batin saya. Dan saya kira juga teman-teman saya...

Jakarta, 14 Oktober 2012.

Idul Adha #1; Tebar Hewan Kurban

Salah satu hewan kurban yang ada di sebuah perternak.
Dalam setiap tahun pelaksanaan peringatan Idul Adha di sekolah kami, kami selalu mengadakannya dengan konsep tebar hewan kurban. KOnsep ini senama dengan apa yang diakukan oleh lembaga non profit itu, namun kami telah melaksanakannya sejak tahun 1999 yang lalu. Selain itu, jumlah hewan yang kami tebarpun tak sebanding dengan lembaga nasional tersebut. Tapi setidaknya, kami telah berusaha menyasar saudara-saudara yang mungkin kurang beruntung di saat kerabatnya yang berada di kota-kota sedang melaksanakan pemotongan hewan kurban.

Sebagaimana yang dilakukan oleh lembaga amal yang ada itu, dimana hewan kurban yang diserahkankan oleh anak-anak peserta didik kami, atau guru, teman sejawat kami,  akan kimi kirim ke daerah-daerah yang kami nilai cocok. Untuk itu, maka pemotongan hewan kurban yang merupakan amanah dari siswa dan atau guru itu akan mengambil lokasi di lebih dari 2 (dua) tempat pada setiap tahunnya. Satu tempat yang oasti berlokasi di sekolahan dengan sasaran mustahik yang ada di sekitarnya. Hewan-hewan kurban yang akan kami potong di sekolah adalah kurban dari para siswa atau Yayasan yang dikirim ke sekolah dalam bentuk hewan kurban. Karena selain para pekurban itu mengirim hewan kurban, ada banyak justru memberikannya dalam bentuk uang tunai.

Sedang tempat pemotingan lainnya,  jauh hari sebelumnya telah kami persiapkan. Biasanya dua atau minimal satu bulan sebelum pelaksanaan kurban itu berlangsung, proses persiapan itu kami jalani. Mereka adalah para pelaksana pada hari H nanti, dan bergantian personelnya di setiap tahunnya.

Salah satu ikhtiar yang menjadi bagian dari persiapan itu, adalah kunjungan ke lokasi tebar hewan kurban. Tidak saja melihat secara langsung kondisi masyarakat yang akan menjadi sasaran saja, tetapi juga bertemu dengan DKM atau aparat desa yang akan menjadi mitra kami dalam penyelenggaraan kurban tersebut. Kepada mereka kami utarakan apa yang menjadi tujuan kami. Juga bagaimana teknis kagiatan itu nantinya. Termasuk juga bagaimana kami harus bertemu dengan peternak hewan kurban, yang relatif dekat dengan tempat pelaksanaan kurban, yang pada hari H nanti dapat menjadi penyedia dari hewan kurban yang diperlukan.


Sesungguhnya, peran  yang kami lakukan dalam kegiatan  itu tidak lebih adalah sebagai fasilitator bagi peserta didik kami, dalam penyaluran hewan kurban. Dan dari kumpulan hewan kurban yang dititipkan para sswa itu untuk disalurkan melalui sekolah, maka kami lakukan dengan cara 'menebar'nya. Dimana untuk Idul Adha tahun 1433 H atau tahun 2012 ini kami pilihkan di empat lokasi.


Lokasi pertama adalah sekolah. Dengan sasaran mustahik yang Ada di lingkungan sekolah serta para penjual kaki lima.  Yang kedua akan ada tim yang berangkat menuju ke sebuah daerah di Subang, dan di Indramayu, Jawa Barat. Serta yang keempat akan ada di sebuah pesantren  di daerah Tuban. Untuk mengurangi biaya operasional, maka kami meminta kepada tean yang kampung halamannya berada di tempat kurban tersebut untuk menjadi operator. Sehingga kepada mereka diwajibkan pulang kampung ke desanya.

Jakarta, 14 Oktober 2012.

11 October 2012

Pengangon Bebek

Bebek masih dikurung di dalam rombonggannya.


Pagi itu, saya jumpai pengangon bebek di sebidang tanah sawah yang ada di pinggiran sebuah desa di wilayah yang lebih kurang berjarak sekitar 6 kilometer ke arah selatan dari jembatan layang Pamanukan, Subang, Jawa Barat. Sebelum bebek-bebek yang berada di lima kandang di-umbar atau diangon.

Seorang bapak-bapak dengan lebih kurang berusia 35 tahun. Berkaos lengan panjang warna hijau yang sudah pudar warnanya karena mungkin terpanggang cahaya matahari,  bercelana panjang warna krem, dan bertopi laken. Sederhana dan ramah menerima obrolan saya yang pagi itu 'mengganggu' kesehariannya mempersiapkan perjalanan bebek-bebeknya menyusuri hamparan sawah yang telah atau baru saja dipanen padinya. Sebuah lahan yang ideal bagi bebek-bebeknya untuk memperoleh makanan.


 
Pagi itu memang menjadi pagi pertama saya dan romobongan berdiam sejenak di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari hiruk pikuk Jakarta. Dan karena agenda yang harus kami lakukan kali pertamanya adalah sekitar pukul delapan, maa kami isi waktu kami dengan 'eksplorasi' lingungan dimana kami tinggal di hari itu. 

Pekerja Ulet

Inilah kumpulan jerih payah Pengangon bebek.
 Apa yang dilakukan oleh para pengangon bebek di pagi itu, adalah rutinitas pagi yang harus mereka jalani. Memunguti telur bebek yang ada di kandang, memberikan 'sarapan' kepada bebek-bebeknya dengan sedikit mkanan tambahan, mengobrol sesama pengangon, dan melepas bebek-bebeknya itu. Sore, selepas waktu ashar, mereka akan menggiring bebek-bebeknya untuk kembali ke kandang. Begitulah rutinitas mereka.

Bersyukur saya berkenalan dengan mereka pada pagi itu. Yang ternyata adalah para pekerja sekaligus pengusaha yang bekerja dengan keras, ulet dan tahan banting. Karena mereka harus bergerak dan bermigrasi dari satu tempat ketampat yang lain dalam rangka 'mengejar' ketersediaan pakan bagi  ternaknya. Meski asli mereka adalah Patrol, Indramayu, tetapi mereka merantau hingga di Babelan, Bekasi. Dan itu semua adalah rangkaian perjuangan hidupnya.

Jakarta, 8.11.2012.

08 October 2012

Kubangan Sampah di Desa, Banyak Plastik!

Merinding manakala saya bertemu dengan tumbukan plastik bekas pembungkus barang belanjaan atau mungkin juga bungkus makanan di sebuah kubangan sampah yang ada di belakang sebuah rumah penduduk yang berada di sebuah kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat, pada suatu pagi pada Sabtu tanggal 6 Oktober 2012. Bukan saja karena keberadaannya, tetapi saya sudah memiliki asumsi bahwa desa ini telah diserbu oleh pembungkus plastik. Mengerikan. Ini adalah bentuk agresi platik yang benar-benar menunjukkan keberhasilannya yang gilang gemilang. Apalagi jika plastik-plastik itu adalah plastik-plastik bekas pembungkus makanan. Bukankah di desa-desa kita  ada pembungkus oraganik yang justru lebih eksotik dari pada plastik?

Plastik dalam sebuah 'kubangan' sampah di sebuah desa.
Atau mungkinkan mata saya saja yang genit sehingga hanya melihat begitu tumpukan plastik berada di pekarangan belakakng rumah seorang penduduk yang dekat dengan empang kolam ikannya dipenuhi plastik, sehingga membuat terenyuh? Karena bukankan di tempat tinggal saya di Jakarta hampir semua jenis makanan di bungkus dengan plastik? Mulai dari yang seharga Rp. 500 hingga yag berharga mahal? Jadi, lumrah bukan?

Secara logika keyataan itu lumrah saja. Bahkan untuk menampung sampah rumah tangga di rumah pun bukankah kita gunakan kantong-kantong plastik sebelum tukang sampang menyambangirumah kita untuk mengumpulkannya? Jadi, dimana sebenarnya yang menjadi masalah untuk sebuah barang yang bernama plastik itu?

Bagi saya, sehinga harus mencatat pndangan yang saya dapat terhadap kenyataan plastik yang ada di sebuah kubangan itu tidak lain adalah karena lokasinya. Saya hampir belum pernah melihat sebuah kubangan sampah yang isinya penuh dengan beraneka ragam plastik, kecuali di tempat itu! Dan yang lebih membuat saya merindig adalah, karena tempat itu berada di sebuah desa. Desa yang  seharusnya juga  menjadi sasaran edukasi bagi LSM atau perangkat yang ada tentang bagaimana berbuat arif terhadap lingkungannya.  

Dan kalau pun itu tidak terjadi, setidaknya saya menitipkan pesan kepada para mahasiswa yag universitasnya masih menggunakan jalur KKN, kuliah kerja nyata, sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat desa. Semoga.

Jakarta, 8 Oktober 2012.

30 September 2012

Perjalanan si Bontot

Salah satu foto yang dimuat di http://www.indonesia-bern.org
Bersama rombongan dari sanggar tari GCN, Gema Citra Nusantara, yang bermarkas di Cipete, Jakarta Selatan, si Bontot saya menjadi bagian dari rombongan tersebut untuk ikut serta dan tampil di Swiss. Rombongan berangkat untuk dua event yang mengharuskan mereka menampilkan indahnya Indonesia.

Penampilan pertama adalah penampilan di Swiss, yang berita saya dapatkan dapat dibaca di laman KBRI Swiss; http://www.indonesia-bern.org/indonesia-bern/index.php?option=com_content&task=view&id=626&Itemid=1. Penampilan ini berlangsung pada Minggu tanggal 26 Agustus 2012 di kota Zurich, Swiss.

Sedang penampilan kedua di kota Hamburg, Jerman pada Jumat, 31 Agustus 2012. Dua penampilan itu  sukses dam dengan sambutan yang meriah dari penonton yang terdiri dari masyarakat setempat.

Jalan-Jalan

Inilah acara jalan-jalan Bontot dalam perjalanan tersebut bersama rombongan keseniannya.

Di sebuah taman di Swiss.
















Di depan menara Eiffel.























Bersama teman rombongan di Volendam.

Jakarta, 27 Agustus 2012.

22 September 2012

Mudik #14; Mudiklah di Musim Buah

Mencicip durian di depan Pasar Baledono, Purworejo.


Ada yang berbeda ketika perjalanan mudik atau wisata yang kita rencanakan terjadi pada musim buah sedang melimpah. Dimanapun tujuan wisata atau tujuan mudik Anda. Setidaknya ini akan menjadi selingan kuliner yang juga akan menambah lebih beragam lagi. Selain buah akan menjadi pemandangan yang berbeda di setiap tepi jalan yang akan kita lalui, jenis dan harganya pun akan juga berbeda jika kita pergi ke pasar serba ada di kota kita. 

Dan jenis buah yang paling dapat  dengan mudah kita temukan jika sudah musimnya adalah jeruk, manggis, mangga, dan durian. Karena memang diantaranya itulah buah musiman. Sedang salak, hampir setiap waktu kita bisa dapatkan.

Melalui perjalanan darat, bersama kawan-kawan ke Jawa Tengah, dua kali saya  mengalami dengan musik buah itu. Dan karena stok yang melimpah, meski dihinggapi kelelahan, kami sempatkan menyusuri depan Pasar yang ada di kota Purworejo untuk mencicipi duren lokal yang ada. Meski waktu hampir menjelang malam.

Demikian pula pada perjalanan berikutnya, pada saat kembali ke Jakarta, dan musim mangga kueni yang baunya menyengat, tidak kalah menyengatnya dengan durian, berbuah lebat, satu cething (wadah yang terbuat dari anyaman bambu) besar, menemani kami sepanjang perjalanan. Tentu Anda akan berpikir bahwa itu akan menjadi perjalanan yang menyiksa. Tetapi ternyata, karena seluruh anggota perjalanan adalah penggila kueni, maka buah dengan bau yang menyengat itu menjadi hiburan tersendiri bagi kami ketika kami berhenti rehat sejenak dengan mengupasnya bergantian untuk disantap.

Cukup banyak sentra buah yang dapat kita temui sepanjang perjalanan Jakarta- Jawa Tengah. Dan pemandangan seperti itu akan menambah perbendaharaan 'kenikmatan' perjalanan. Itulah sisi-sisi 'kebermaknaan' yang saya dapatkan ketika perjalanan wisata atau mudik berada pada musim buah tiba.

Jakarta, 22 September 2012.

Mudik #13; Memilih Jalur Alternatif dan Wisata

Kabupaten Kuningan dan sekitarnya
Kalau kita melihat legenda dalam peta, hampir selalu saya menggunakan peta Jalur Lebaran, yang setiap tahunnya selalu dibagikan dengan cara gratis di toko buku yang sengaja saya kunjungi menjelang Lebaran tiba atau sekitar pertengahan bulan Ramadhan, terdapat empat (4) klasifikasi atau jenis jalan. Yaitu Jalan Tol, Jalur Utama, Jalur Alternatif, dan Jalur Wisata/Biasa. Tentu jalan untuk kendaraan pribadi yang saya maksudkan.

Dari keempat jenis jalan yang ada, bagi saya sebagai orang yang suka mudik, masing-masingnya memiliki  'kenikmatan' yang berbeda-beda. Tentu ini masing-masingnya saya persepsikan sebagai jalan dalam kondisi lancar dan mulus. Saya tidak sedang membayangkan bagaimana kalau jalan-jalan itu berlubang, rusak, atau bahkan macet. Dan umumnya, ketika Lebaran tiba, dan musik mudik datang, jalan-jalan yang ada memang relatif dalam kondisi baik. Bahkan diantara ruas di provinsi tertentu benar-benar dalam kondisi yang mulus. Dan sebagiannya meski tidak berlubang, tetapi karena efek dari tambalan, maka jalan terasa bergelombang. Kondisi ini pun hanya di provinsi tertentu. Bagi pemudik yang berada di Pulau Jawa, hafal benar provinsi mana yang jalannya selalu dalam kondisi sempurna, baik, dan bahkan jelek.

Jalur Alternatif dan Wisata

Memilih jalur ini ketika melakukan perjalanan seperti mudik, sungguh menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Karena pilihan ini akan menjadi pilihan minoritas pemudik. Pemudik pada umumnya, akan mengambil jalur utama. Ini tidak dipungkiri karena para pemudik tersebut dibatasi waktu ketika melakukan perjalanan mudiknya. Belum lagi dari waktu yang tersedia telah diambil oleh macet yang berjam-jam di perjalanan. 

Jawa Tengah, www.geocities.ws/kerajinan_jateng/
Oleh karena itu, mudik menjadi bagian perjalanan yang telah saya angan-angankan jauh hari sebeumnya. Terutama waktu yang saya akan gunakan. Kapan saya akan merencanakan berangkat dan pulang. Juga jalur mana saja yang ingin saya eksplorasi untuk mudik yang akan saya lakukan. Angan-angan dan rencana ini menjadi panduan saya untuk menemukan apa yang khas dari daerah-daerah itu. Dan sebagai bagian dari persiapan itu adalah kesiapan fisik dan kendaraan saya.

Apa yang saya temukan di jalur alternatif dan jalur wisata yang pernah saya lalui ketika saya mudik ke Jawa Tengah? Selain jalanan yang relatif  sepi, baik dalam hal fasilitasnya atau juga penggunanya, jalur ini menawarkan berbagai hal yang memang benar-benar lebih murah dibanding di jalur utama. Juga, yang tidak kalah pentingnya, adalah lebih hijau. Pohon pinggir jalan dan rumah penduduk menjadi penghias utama. Dan hal yang paling saya dapatkan adalah 'kenikmatan' batin yang menjadikan daya tarik eksplorasi.

Cobalah suatu kali dalam perjalanan Anda nanti...

Jakarta, 22 September 2012.

16 September 2012

Mudik #12; Kapan Bapak Mengajak Saya Keliling Yogyakarta?

Di penginapan Pantai Glagah, Kokap, DI Yogyakarta.
Inilah ungkapan pasangan hidup dari seorang teman yang kebetulan kalau mudik ke Yogyakarta. Sedang pasangannya, sebagaimana teman saya yang mengajar di TK yang saya ungkapkan dalam artikel saya sebelumnya, adalah seorang istri yang memang bukan asli dari udik. Karena lahir dan besar justru di Sumatera Utara. Ungakapannya itu ia sampaikan ketika kami sedang berbincang desninasi mana saja yang bagus yang dapat ia kunjungi di Yogyakarta selain Kraton, Jalan Malioboro, Pantai Parangtritis, dan dua Candi besar yang relatif tidak jauh dari Yogyakarta.

Dan atas pertanyaan itu, saya kemukakan beberapa tempat yang mungkin dapat menjadi altermatif kunjungan. Tempat-tempat itu memang tidak terlalu wah, sebagaimana lima tempat populer tersebut. Diantaranya yang saya sebutkan adalah makan makanan serba jamur di Jejamuran, beli tas Dowa di Godean, membeli oleh-oleh coklat Monggo di Kota Gede, membeli kerajinan dari kulit di Manding, Bantul, atau sekedar cuci mata melihat hasil kerajinan gerabah di Kasongan, atau mengintip proyek wah yang kurang berhasi di Pasar Seni Gabusan, atau juga sederet pantai yang sungguh eksotik di Wonosari seperti Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, dan Pantai Krakal. Atau tempat makan yang jumlahnya cukup sebagai pilihan sepanjang kita berada di Yogyakarta. 

Tempat-tempat  tersebut masih menyisakan beberapa destinasi yang belum saya sebutkan. Tetapi yang paling penting yang menjadi rekomendasi saya kepada teman saat itu adalah bahwa, Yogyakarta tidak sekedar Pasar Bringharjo atau Jalan Malioboro.  Untuk itulah maka jangan lewatkan waktu Anda jika berkunjung atau mudik ke Yogyakarta dan hanya menghabiskan waktu untuk berdiam diri di rumah. Karena tempat-tempat tersebut dapat dijangkau dengan mudah dan murah manakala Anda berkendaraan sendiri.

Untuk itulah maka ungkapan pasangan hidup kawan saya itu menjadi pas untuk disampaikan kepada suaminya sebagai tuntutan; Kapan Bapak ingin mengajak saya 'berkeliling' Jogja pada saat mudik lebaran nanti?
Jakarta, 15 September 2012.

15 September 2012

Mudik #11; Tahun Depan Saya Harus Mudik

"Tahun depan saya harus ajak suami saya mudik Pak Agus."  Demikian ungkap seorang teman yang mengajar di TK ketika saya menyampaikan indahnya alam Indonesia pada saat pertemuan rutin dengan mereka di hari pertama masuk sekolah setelah libur Idul Fitri, yang antara lain bercerita tentang perjalanan mudik saya beberapa waktu lalu. 

"Mengapa harus demikian? Bukankah tahun ini Ibu juga bisa mudik?" Tanya saya kepadanya. Karena toh, anak-anak ibu tersebut, sepanjang saya tahu sudah besar-besar, yang tidak lagi membuatnya repot dalam mempersiapkan perjalanan darat yang panjang. Selain juga tentunya kendaraan.Dan, bukankah suami itu itu berasal dari sebuah kampung yang ada di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang tidak jauh bila ditempuh dengan kendaraan darat sekalipun?

"Benar Pak. Sebelum-sebelumnya, sejujurnya, saya tidak suka mudik di saat Idul Fitri bila diajak suami. Tetapi setelah mendengar cerita Pak Agus tentang serunya mudik, saya benar-benar ingin mencobanya." Paparnya dengan penuh antusias. Dan pada saat saya bertanya kepadanya mengapa ia tidak terlalu antusias untuk melakukan perjalanan mudik, ibu itu buka kartu bahwa pada setiap mudik, suaminya selalu melakukan ritual perjalanan yang selalu serupa. Jalan yang dilalui baik saat berangkat dari Jakarta menuju kampung halaman yang berada di Tasikmalaya, dan mengisi waktu ketika di kampung, hanya semacam rutinitas.

Karenanya, sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta, yang selalu berada dalam keramaian akan hiruk pikuknya kota di siang hari dan panorama lampu pijar dan lampu neon di malam hari, akan menjadi terasing ketika berada di tempat sepi ketika di kampung, atau bahkan di malam yang hitam menjadikan perasaannya dihuni oleh rasa ketidakbetahan. Dengan begitu, maka perjalanan dan keberadaan di kampung sebagaimana yang ia jalani selama ini, tidak lebih adalah untuk bakti kepada suami.

Dan ketika mendengar bagaimana saya menikmati perjalanan mudik, yang kemudian saya maknai juga sebagai perjalanan wisata, ia berbinar-binar ketika mengutarakan niatannya untuk mudik di musim lebaran tahun depan. Ada mimpi yang akan ditawarkan kepada suaminya agar mudik tahun depan lebih ditingkatkan kebermaknaannya. Ia akan menawar agar rute jalan yang dilaluinya tidak selalu Jakarta - Purbalenyi - Nagreg - Limbangan- dan seterusnya serta sebaliknya. Ia akan sekali waktu meminta melalui Garut, atau mungkin berputar melalui Purwakarta - Sumedang? Atau mungkin setelah melalui Garut akan meminta suaminya untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga Pamengpeuk?

Jakarta, 15 September 2012.

Mudik #10; Bagaimana Menikmati Jalan?

Sebagai catatan caya pada perjalanan mudik pada Idul Fitri tahun ini (1433 H/2012), ada satu hal yang mungkin baik untuk saya tuliskan disini, yaitu berkenaan dengan usaha saya mempromosikan enak, nikmat, dan senangnya perjalanan yang akan kami jalani selama berjam-jam dengan berkendaraan darat, tentunya, agar anak-anak dan istri saya tidak menjadikan lamanya perjalanan darat sebagai sebuah hambatan atau bahkan pengalaman jelek sehingga tidak ada celah untuk dapat menikmati. Usaha ini perlu saya lakukan agar ketika mudik di masa berikutnya bukan sebuah peristiwa keterpaksaan bagi mereka. Tetapi sebaliknya, ketika mudik, mereka akan menyongsong dan melakukannya dengan penuh antusiasme.

Mengapa demikian? Karena dari seluruh anggota keluarga saya, yang benar-benar memaknai mudik sebagai perjalanan menyenangkan adalah saya sendiri. Ini karena saya punya ikatan batin dan emosi terhadap daerah tujuan mudik. Sementara istri dan anak-anak saya, adalah mereka yang tidak mengenal budaya mudik. Yang meraka bayangkan ketika saya mengajaknya mudik adalah perjalanan berwisata. Untuk itulah saya mencoba sekuat tenaga agar setiap perjalanan mudik adalah bagian hidup kami yang menggairahkan bagi seluruh keluarga. 

Usaha Saya

Apa usaha saya untuk mewujudkan setiap perjalanan mudik sebagai bagian hidup yang menyenangkan bagi kami sekeluarga? Mungkin inilah ikhtiar yang selama ini saya lakukan, yang setidaknya membuahkan hasil.  Apa indikator hasil itu? Sederhana saya, yaitu ketika kita rencanakan untuk mudik, maka tidak ada resisten dari anggota keluarga. Bahkan kami antusias untuk merenacanaka destinasi sebagai pengisi perjalanan mudik itu. Juga membuat keputusan rute perjalanan dari yang saya ajukan.

Usaha itu adalah; Pertama, Menguasai daerah dan perjalanan dari asal ke tujuan hingga kembali ke asal dimana kami berangkat. Yaitu Jakarta, sebagai awal perjalanan kami, menuju Purworejo, sebagai daerah tujuan kami. Pemahaman ini kebutulan saya peroleh dari proses berulang kali saya melakukan mudik. Baik mudik dengan berkendara dengan kendaraan sendiri atau dengan naik kendaraan umum. Selain juga kegemaran saya untuk mengumpulkan peta mudik yang secara gratis saya dapatkan di toko buka yang saya kunjungi setiap menjelang akhir bulan Ramadhan.


Bersama teman di Congot, Kokap, 2009.
Selain rute jalan utama, saya juga mencoba mencicipi jalan-jalan alternatif dan jalur wisata, serta destinasi. juga dibeberapa tempat, adalah tempat makan yang menyajikan sesuatu yang berbeda.

Kedua, Berani melakukan eksplorasi perjalanan dengan cara tidak selalu memilih jalur mudik yang sama 100 %. Baik barangkat dan pulang, atau mudik tahun ini dengan tahun sebelumnya atau tahun berikutnya. Pada awalnya, saya mempunyai perasaan bahwa dalam setiap mencoba sesuatu yang baru, dalam hal ini melalui jalur mudik yang baru, ada sedikit ketidakyakinan dalam diri, atau serang dalam bentuk kekawatiran. Namun dalam perjalanan berikutnya, dengan keyakinan kepada kondisi tubuh dan kendaraan, maka peristiwa melalui jalan yang sebelumnya belum pernah saya pilih, justru menjadi sesuatu yang penuh antusiasme. Dan ini justru memberikan kesan menantang.

Ketika, mempromosikan daerah-daerah yang kami lewati, sebagaimana pemandu wisata ketika sedang memandu para touris. Ini juga membawa suasana di dalam kendaraan yang tidak menoton dengan musik. Dan obrolan ini, juga membawa kehangatan yang menggairahkan.

Jakarta, 9-15 September 2012