Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 January 2016

Antara Citra dan Fakta

Saya dalam kondisi yang harus merenung ketika ada teman-teman yang sibuk bukan main di organisasi profesi, yang merupakan organisasi nir-laba, yang oleh karenanya posisinya di organisasi itu seharusnya juga tidak ada pendapatan tetap bulanan. Sementara pada waktu yang sama, teman-teman itu bergelantung kepada profesinya sebagai guru! Dan dengan profesinya itu maka ia mendapatkan pendapatan tetap bulanan yang akan selalu masuk dalam rekeningnya. Tetapi jika melihat betapa jadwal hariannya yang padat, maka keberadaannya justru banyak di media sosial dengan aktivitas organisasinya daripada di lokasi dimana ia menyandang profesi sebagai guru. Inilah renungan saya, yang membuat dan mendorong saya, untuk mencatatnya di halaman ini. Inilah pula yang saya sebut sebagai kontradiksi antara citra dan fakta.

Mengapa Citra?

"Wah hebat sekali dengan Pak itu ya. Hebat. Membuat saya kagum. Kalau berbicara di depan umum dengan audiens sebanyak aula ini kok percaya diri dan terlihat pintar. Bahagia sekali lembaga atau sekolah yang menjadi tempat mengabdinya sehari-hari. Pasti jadi guru hebat di kelasnya. Juga pasti ia seorang Kepala Sekolah yang menginspirasi teman-teman kerjanya di sekolahnya." Beginilah lebih kurang deskripsi kalimat yang disampaikan oleh peserta seminar ataui peserta sosialisasi atau kegiatan publik lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dimana ia menjadi motor penggeraknya. Sebuah komentar yang dahsyat dan membanggakan.

Sebuah pernyataan yang merupakan asumsi tentang sebuah citra diri. Dan alangkah positifnya brand image yang terbangun dari sebuah kinerja panggung. Inilah gambaran dimana teman saya mendapatkan pujian dari lingkunganya di suatu acara.

Juga ada lagi seorang peserta seminar yang ketika selesai sesi menemui teman saya dan mengajaknya bercengkerama; "Pak, bagus dengan apa yang Bapak sampaikan. Saya setuju sekali. Pak apakah bisa saya disuatu saat nanti mengajak teman-teman guru di sekolah saya untuk berkunjung ke sekolah dimana Bapak sehari-hari mengejawantahkan profesi Bapak? Apakah persyaratan yang harus kami penuhi untuk itu?" 

Bagaimana Faktanya?

"Bu Kepala Sekolah, Pak itu hari ini kemana ya Bu? Kami di kelas tidak ada yang mengajar." Lapor seorang siswa di ruang Kepala Sekolah. Ia mewakili teman-temannya mengkonfirmasi sekaligus memberikan informasi bahwa ada guru yang tidak ada di dalam kelasnya ketika harus mengajar.

Jakarta, 29 Januari 2016.

28 January 2016

Jangan Rebut Guru Kami

Catatan saya ini ingin mengabadikan tentang kisah yang dialami oleh seorang kepala sekolah yang harus 'dimarahin' atau lebih tepatnya 'diceramahi' oleh teman kepala sekolah dari sekolah tetangganya karena harus menerima guru yang melamar di sekolahnya. Menjadi menarik buat saya karena temannya teman saya ini mempersalahkannya. 

"Apakah sejak awal Ibu tidak tahu kalau kandidat guru yang sedang Ibu proses itu adalah guru yang sedang mengajar dari sekolah tetangga Ibu?" Tanya saya mencoba melihat dari sisi yang berbeda.

"Saya memang membaca kalau kandidat itu masih sebagai staf pengajar di sekolah lain dari CV yang dikirim via pos. Tapi justru karena itu saya menjadi ingin tahu mengapa kandidat itu masih mau mengirimkan lamaran kepada kami?" Jelas teman saya.

"Terus apa informasi yang didapat setelah wawancara pertama dengan kandidat tersebut? Apakah Ibu dapat sesuatu yang dapat memberikan masukan sehingga Ibu berani mengambil dia sebagai guru Ibu?"

"Ya benar Pak. Setelah saya mendapat informasi dari dia maka saya mencoba memberikan penawaran untuk memberikannya sebagai guru di tahun yang akan datang."

"Lalu apakah selama proses berlangsung berarti kandidat itu harus meminta izin tidak mengajar di sekolah tetangga Ibu?"

"Karena itulah mungkin yang membuat teman saya menjadi gerah."

"Lalu dari mana kepala sekolah teman Ibu itu tahu kalau salah satu gurunya melamar di sekolah Ibu?"

"Kandidat itu sendiri yang menyampaikan kepada kepala sekolah teman saya."

Itulah yang menjadi kegalauan teman sesama kepala sekolah teman saya. Ia begitu menjadi sangat tidak dihargai oleh gurunya yang mengirim lamaran kepada sekolah tetangga dan sekaligus berlanjut mengajukan pengunduran diri. Dan wajar saja jika keluguan kandidat itu membuat atasannya uring-uringan.

Dan saya kira wajar juga jika kepala sekolah teman saya merasa bahwa gurunya direbut oleh temannya. Meski si gurunya tetap memiliki hak untuk menentukan pilihan lembaga yang diyakini membuatnya lebih baik di masa berikutnya.

Jakarta, 28 Januari 2016.

Bapak Main Saja, Bapakkan dari Kampung

"Bapak ikut main saja sama mereka, Bapak kan bisa. Bapak dan dari kampung." Demikian kalimat pernyataan dari seorang siswa saya yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, ketika bersama saya menonton teman-temannya yang sedang bermain congklak di halaman sekolah kami sebelum anak-anak itu masuk ke kelas setelah istirahat pagi.


Saya tersenyum senang dengan penuh ketulusan atas apa yang dia nyatakan. Kalimat yang dibuatnya itu benar-benar langsung dan benar-benar orisinil. Membuat saya justru tersenyum sekaligus kagum. Tersenyum karena sedikit kaget dengan kalimat yang dia sampaikan. Dan kagum karena saya tidak menduga sama sekali bahwa ada siswa kami di Jakarta memiliki kosa kata kampung. 

"Tidak. Pak Agus hanya ingin melihat teman-temanmu itu bergantian dalam bermain congklak. Kalau Pak Agus ikut main maka mereka akan antri lebih panjang lagi untuk dapat giliran." Begitu lebih kurang kalimat balasan saya.

"Dari mana kamu tahu kalau Pak Agus dari kampung?" Saya bertanya.

"Kan Bapak guru. Jadi dari kampung. Aku kalau pulang ke rumah nenek di Bandung juga bermain congklak sama teman di sana." 

Jakarta, 28 Januari 2016.

22 January 2016

Jangan Rebut Peserta Didik

Saya mendapat cerita dari seorang Kepala SD swasta di Jakarta atas keluhan teman sejawatnya, yaitu Kepala SD swasta juga,  yang menjadi tetangga sekolah perihal kepindahan siswa atau peserta didiknya. Ini terjadi manakala ada salah seorang peserta didiknya dari sekolah tetangganya yang mencoba untuk masuk atau pindah ke sekolahnya. Namun mengingat daya tampung sekolah yang sudah maksimal, maka ia meminta calon orangtua tersebut untuk menunggu hngga ada peserta didiknya yang pindah mengikuti orangtuanya. Dan ini kadang terjadi manakala ayah atau ibu anak-anak itu harus mendapat mutasi.

Akan tetapi, nampaknya informasi bahwa ada salah seorang peserta didiknya sedang berusaha masuk ke sekolah yang ada di tetangganya, maka Ibu Kepala Sekolah yang bersangkutan mengkonfirmasi kepada teman saya.

"Mengapa sebagai tetangga dekat Ibu menerima siswa kami yang akan pindah? Semestinya sebagai tetangga, dan sekaligus sebagai sama-sama sekolah swasta, Ibu tidak perlu menerima siswa pindahan dari sekolah kami." Begitu kira-kira kalimat aduan dan komplain dari teman sejawatnya kepada teman saya yang Kepala Sekolah.

Dan ketika selesai bercerita, saya mencoba bertanya kepada teman saya yang Kepala Sekolah itu;

"Berapa usia Kepala Sekolah yang siswanya akan pindah itu Bu?" Tanya saya untuk membuka percakapan.

"Sudah seperti kita Pak. Di atas lima puluh." Jawab teman saya.

"Mengapa orangtua tersebut ingin memindahkan putranya ke sekolah Ibu padahal sekolah itu berdekatan? Pasti bukan karena lokasi kan?" Tanya saya lagi.

"Bukan Pak. Menurut orangtua itu, motivasi ingin memindahkan putranya ke sekolah kami karena ia melihat dan mengalami sesuatu yang kurang pas terhadap guru-guru yang ada di sekolahnya sekarang. Dia sudah menahan diri. Juga sudah pernah menyampaikan apa yang menjadi konsernnya kepada Ibu Kepala Sekolah, tetapi seperti angin yang berlalu." Jelas teman saya itu.

"Lalu apakah Ibu Kepala Sekolah tetangga Ibu itu tahu persis terhadap isu-isu seperti itu dari pihak orangtua siswanya?" kata saya mencoba ingin tahu lebih detil.

"Tahu Pak." Jawabnya.

"Lalu mengapa Ibu Kepala Sekolah teman Ibu itu justru 'menyerang' Ibu sebagai sekolah pilihan barunya?" tanya saya lagi.

"Ya sebagai upaya agar siswanya tidak pindah berbondong-bondong Pak." Jelas teman saya.

Saya bersyukur bahwa saya hari itu mendapat cerita teman seperti itu. Bersyukur karena sebelum ceritanya saya tulis dalam catatan saya disini, saya sudah sampaikan kepada teman-teman saya yang ada di lembaga dimana saya berada, untuk tanggap terhadap 'perubahan' lingkungan. Agar teman-teman saya selalu mampu memberikan respon terhadap informasi dari sisi positif. Agar semua masukan dilihat dari kacamata kekurangan yang ada pada diri kita sendiri sehingga tidak bersikap bertahan serta menyalahkan persoalan ke[pada orang lain. Semoga.

Jakarta, 22 Januari 2016.

21 January 2016

Ini untuk Program KS Selanjutnya

Ini memang komentar yang sungguh saya tidak berharap keluar dari seorang Kepala Sekolah ketika saya menyampaikan sebuah paparan program yang kalau dijalankan dengan konsekuen dan berkelanjutan bisa menjadi salah satu daya saing sekolah. Dan ini membutuhkan semangat transformasi dari semua warga sekolah. Namun Kepala Sekolah-lah yang akan menjadi komandan bagi keberhasilan program yang di pilih untuk menjadi bagian dari keunggulan sekolahnya.

Maka tidak mengherankanlah jika dalam forum dimana saya sedang menyampaikan paparan di hadapan beliau beserta seluruh anggota yang ada di komponen sekolah, beiau menyampaikan komentar yang membuat saya kaget. "Saya perlu tegaskan yang Bapak dan Ibu Guru kalau hari ini kita akan belajar sesuatu yang baru buat kita. Ini menyikapi atas jumlah siswa baru kita yang dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Dan ini nantinya menjadi program bagi Kepala Sekolah yang akan menggantikan saya, yang kasa tugas saya akan berakhir pada Juni 2016."

Dan sebagai keheranan yang tidak terkirakan atas statmen Kepala Sekolah itu, saya menjadi salah tingkah dan sulit menemukan kata atau kalimat berikutnya dalam melanjutkan paparan program yang seharusnya saya uraikan dan jelaskan. Saya tiba-tiba menjadi mati akal.

Saya merasakan kehambaran yang luar biasa dalam menghabiskan waktu paparan saya yang syukurnya hanya setengah hari. Ini  menjadi pengalaman terbaru buat saya dalam sebuah presentasi di pelatihan.

Karena pada umumnya, dalam setiap presentasi atau pelatihan, mayoritas peserta akan begitu antusias dalam menyikapi dan memberikan pernyataan atas apa yang saya sampaikan. Mereka begitu bersemangat untuk memberikan persoalannya dan harapan solusinya kepada saya. Tetapi dengan Kepala Sekolah itu, saya menemukan sebuah sosok yang berbeda sama sekali.

Jakarta, 21 Januari 2016.

18 January 2016

Guru Sertifikasi #13; Hanya Mengingatkan

Apa yang sering saya kemukakan berkenaan dengan guru sertifikasi dan tunjangan yang dapatnya adalah bagian dari tugas saya untuk mengingatkan. Mengingatkan agar teman-teman tidak melupakan hakekat dari sertifikasi itu sendiri dan jangan hanya fokus kepada tunjangan yang akan keluar. Karena perilaku teman-teman di sekeliling saya beberapa diantara teman hanya berpusat kepada tunjangan sertifikasinya hingga melupakan apa sesungguhnya tanggungjawabnya di lapangan ketika berinteraksi dengan siswa dan persiapan administrasinya yang baik.

Terlebih bila teman itu adalah bagian internal dari lembaga pendidikan yang menjadi tanggungjawab saya. Maka disharmoni sering menjadi masukan guru lain atau bahkan Kepala Sekolahnya kepada saya. Maka dalam beberapa pertemuan saya mencoba untuk mengingatkan mereka. 

Dan karena mungkin terlalu telatennya saya mengajak Kepala Sekolah untuk disiplin dan tertib dalam verifikasi berkas guru sertifikasi yang akan dikumpulkan, maka sering juga saya mendapat suara beda yang nadanya meminta saya agar tidak perlu cawe-cawe dengan hak orang lain.

Atau sebaliknya, tiba-tiba saya mendapat hadiah yang datangnya tidak disangka.

"Ini dari teman-teman guru yang sertifikasi Pak Agus." Begitu kalimat house keeping di sekolahan sembari menenteng satu bungkus plastik cukup besar berisi makanan enak. 

"Waduh, kok begitu Mbak. Itu buat saya semua Mbak? Apa ngak salah? Apakah untuk Mbak sendiri dapat kiriman yang sama?" Tanya saya sekaligus ingin mengorek informasi apa saja yang dia dapat dari teman-teman pengirim. 

"Kali ini hanya untuk Bapak Pak pesannya. Buat saya sudah beberapa waktu lalu. Dibeliin es Pak." 

"O... begitu ya Mbak. Okey kalau begitu Mbak. Tolong sekaligus dibagikan beberapa yang ada di dalam plastik itu untuk Mbak dan teman-teman di ruang itu." Begitu kata saya meminta Mbak di ruangan agar membagi-bagikan roti tersebut kepada kami semua.

Jakarta, 18.01.2016.

15 January 2016

Belajar dari Teman, Sebuah Catatan Subyektif

Bertemu, berdiskusi tentang suatu hal hingga juga suatu saat harus bersama-sama memutuskan suatu hal, bersama-sama juga menjalankan serta memantau, memonitoring tentang suatu hal yang telah kita sepakati, hingga menemukan titik temu untuk melakukan hal yang lainnya, menjadikan saya memiliki wawasan yang mendalam tentang karakter teman. Setidaknya setelah 10 tahun ini saya bersama-sama dengan teman untuk menjalankan banyak hal. Dan ini membuat saya belajar tentang hal baik yang akhirnya dapat saya jadikan sebuah ukuran.

Ukuran dengan mempertimbangkan bagaimana teman menilai sesuatu  menambah perbendaharaan bagi saya. Selain itu juga karena setelah sekian lamanya saya berteman, maka ketika akan mendapat even yang baru, bagus juga buat saya untuk mempertimbangkan apakah saya tetap akan bersama teman itu atau memilih teman yang lain?

Sebagai gambaran saja ketika kami sama-sama harus membuat suatu keputusan yang berdampak kepada orang banyak yang ada disekitar kami, maka ada teman-teman yang selalu berpikir prediktif dan hati-hati. Dan karena teman-teman dengan kaca mata ini yang lebih dominan dibandingkan saya, maka dengan berat hati dan penuh kegeraman, saya yang ada di pihak minor, harus mengalah untuk bilang setuju. Meski saya juga tidak ketinggalan menyampaikan sebagaimana yang sering saya sampaikan kepada mereka bahwa prinsip saya adalah "Aku adalah bagaimana hambaKu berprasangka kepadaKU."

Meskipun ada diantara teman saya yang langsung kena terhadap apa yang saya maksudkan. Tetapi atas dorongan nafsunya, ia tetap mengatakan kepada saya, sebagai argumentasi atas pilihan keputusannya; "Tidak bisa begitu Mas, bagaimana manapun kita harus melihat kapital yang kita ada. Dan sikap ini bukan bertentangan terhadap apa yang Mas Agus sampaikan."

Atau dalam hal lain, misalnya, saat kami harus menyampaikan perpisahan kepada teman kami yang telah bertahun-tahun berada dalam barusan yang sama, maka saya mengusulkan agar kiranya kita menganut saja azaz yang berlaku dan lazim. Azaz yang memang memiliki legal dan formalnya di hadapan aturan.

Namun sekali lagi, teman-teman saya mengusulkan cara pandang yang berbeda untuk membuat keputusan tersebut? Bentuknya? Merumuskan aturan sendiri, yang kemudian dijadikan sebagai ukuran dan standar. Tentunya dengan menisbikan apa yang selama ini berlaku di masyarakat luas.

Pada saat itu saya langsung memberikan komentar pedas kepada dua iorang yang mewakili kami dalam membuat keputusan, yaitu komentar "Medit!". Dan saya sama sekali tidak ambil peduli dengan reaksi teman-teman yang lain. Ujungnya?

Ketika suatu saat ada ketidakpuasan dari teman kita yang lain dan ketidakpuasannya itu ia bawa ke ranah pemerintah, maka apa yang menjadi rujukan dalam pembuatan keputusan, yang dibuat teman-temannya itu sama sekali dimentahkan. Apa komentar saya ketika itu? Lebih pedas lagi. Dalam sebuah forum kecil, saya menyampaikan bahwa; "Buat aturan atas aturan yang telah pemerintah buat untuk mengambil sebuah keputusan menjadi sia-sia. Apakah kita menganggap bahwa apa yang telah ada itu tidak sempurna sehingga kita harus membuat aturan yang berbeda? Mengapa kita beranggapan bahwa seolah kita pintar?".

Mungkin itulah catatan saya pagi ini terhadap 10 tahun perjalanan saya bersama teman-teman. Sebuah catatan pribadi yang subyektif.

Jakarta, 15 Januari 2016.

13 January 2016

Sertifikasi Guru #12; Admin Nanti Juga Dapat Sertifikasi!

Saya kaget luar biasa ketika ada teman guru yang, mungkin ngak sadar atau mungkin justru dengan kesadaran penuhnya lalu mencoba memberikan alasan, pada saat saya menyampaikan dalam forum guru agar tunjangan sertifikasi itu memberi dampak positif tidak hanya kepada penerimanya, tetapi juga lingkungan kerjanya. Semacam celetukan. Dan karena dengan volume yang lumayan keras, maka suaranya dapat didengar oleh audien yang lain, termasuk saya yang sedang menyampaikan amanat.

"Tenaga Admin nanti juga dapat sertifikasi Pak." 

Berkaca dari situlah saya membuat catatan ini untuk saya jadikan pelajaran bagi diri sendiri. Semoga.

Celetukan yang memberikan informasi serta penegasan bahwa saya tidak tahu kalau pada akhirnya nanti tenaga administrasi yang sekarang di sekolah menjadi petugas portal web, sebagai tenaga kependidikan, juga akan masuk dalam rencana pemerintah sebagai tenaga yang tersertifikasi. Padahal meski saya tidak tersertifikasi sebagai tenaga kependidikan atau pendidik profesional juga tidak buta. Karena ini menjadi bagian inheren dalam tugas profesional saya.

Oleh karenanya, dengan mendengar komentar tersebut di tengah-tengah saya sedang menyampaikan masukan kepada yang telah menikmati dana APBN yang bernama sertifikasi menjadi arif untuk membelanjakan, tersengat pula. Maka saya memberikan tambahan masukan atas asumsi yang saya miliki berkenaan dengan tunjangan tersebut;

Pertama,  harus disadari bahwa sebagian besar teman yang tersertifikasi di sekolah sebagai pendidik profesional itu menempuh jalan dengan PLPG. Dimana kegiatan ini membutuhkan waktu relatif panjang, sekitar 6 hari kerja. Dimana dalam kurun waktu tersebut kami di sekolah harus mengatur guru pengganti selama yang bersangkutan tidak berada di sekolah.

Kedua, Bahwa dalam setiap perbaikan data yang kemudian disebut sebagai pemberkasan, teman-teman pendidik profesional tersebut juga harus mengumpulkan berkas-berkas yang tidak semuanya merupakan usahanya sendiri, ada teman di kiri dan kanan yang terlibat dan berkontribusi.

Ketiga, tidak jarang pula bahwa ketika pemberkasan tersebut teman-teman pendidik profesional itu meninggalkan jam belajarnya di sekolah, yang berarti juga membutuhkan jadwl pengganti guru. 

Kelima, Berkenaan dengan data dan fakta mengajar teman-teman pendidik yang tersertifikasi itu harus masuk dalam web yang dirujuk, maka membutuhkan tenaga up loader. Dan karena web tersebut di akses oleh puluhan ribu admin sekolah dalam waktu yang nyaris bersamaan, maka kelancaran jaringan harus menggunakan kesabaran.

Berkaca dari lima hal yang saya kemukakan itu, maka semua bentuk komentar atau pendapat atau argumen yang ujung-ujungnya hanya karena uang sertifikasinya tidak rela berkurang, menurut pendapat saya adalah karena pelit. Seperti komentar atau celetukan teman guru di atas, pada saat saya memberikan pengarahan di forum.

Jakarta, 13 Januari 2016.

11 January 2016

Sertifikasi Guru #11; Pengurangan Persyaratan Guru Tersertifikasi

Beberapa kali saya mendapatkan whats app atau sms atau bahkan juga dibarengi dengan telepon dari seorang Kepala Sekolah yang meminta dukungan moril atas apa yang sedang membuatnya gundah manakala menentukan atau memutuskan sesuatu yang berkenaan dengan temannya yang sedang mengejar tunjangan sertifikasi guru. Teman saya ini butuh sekali penegasan dari saya. Tidak hanya lisan atau kiriman balasan whats app, tetapi juga meminta sebuah surat, seperti surat keputusan.

Mengapa harus galau? Tidak lain karena ada teman-temannya, yang juga adalah guru-gurunya, yang kebedaannya lebih dari satu orang guru, yang benar-benar tidak pada lokasinya untuk mendapatkan tunjangan. Bukan karena jumlah jam mengajarnya kurang, tetapi lebih dari ketidak beradaannya di dalam kelas sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah ditentukan.

Kalau harus masuk kelas pukul 08.00, maka sering didapati kelas yang menjadi tanggungjawabnya itu dibiarkan kosong. Dan atas kenyataan itu, menjadikan informasi yang tidak sehat dan bagus untuk sekolah. Selain juga harus ada teman yang lain untuk menemani siswa di kelas. 

Atas keyataan itu, maka kami membuat kebijakan baru untuk semester berikutnya, yaitu mengurangi jam mengajarnya di kelas. Implikasinya adalah pengurangan persyarat jam mengajar bila harus melakuan pemberkasan di sertifikasi. Lalu disinilah muncul kegalauan itu. Guru masih belum menyadari mengapa jam pelajarannya diurangi, sementara tetap kekeh untuk mengejar dana sertifikasi yang menjadi 'hak'nya.

Maka dengan menunjuk kepada surat yang kami pesan itulah teman saya yang Kepala Sekolah itu dengan berat hati tidak menandatangani surat pernyataan sebagai Kepala Sekolah. Akibatnya, pemberkasan gagal dilakukan. Dan pada posisi ini saya selalu meneguhkan kepada teman Kepala Sekolah untuk tidak merasa bersalah.

Karena menurut saya, teman-teman tersertifikasi sebagai guru profesional itulah yang menjadi tolok ukur bagi etos guru di sekolahnya. Dan manakala ada diantara mereka dengan tidak menunjukkan unjuk kerja sebagai guru profesional, dan ketika hembusan ketidakpuasan dari siswa lebih-lebih hingga orangtua, maka terlalu berat beban sebagai Kepala Sekolah untuk menopang sisi buruk itu.

Maka salah satu upayanya adalah megurangi beban kerjanya meski akibatnya kepada pengurangan pemenuhan syarat sebagai guru tersertifikasi...

Jakarta, 11 Januari 2016.

07 January 2016

Sertifikasi Guru #10; Tunjangan dan Disharmoni Warga Sekolah

Satu lagi kisah tidak positif dari Sertifikasi Guru. Setidaknya ini apa yang saya dapatkan dari teman Kepala Sekolah. Bahwa orang kepercayaannya yang kemudian akan meninggalkannya dan lembaganya karena memilih lembaga yang baru yang menjadi tumpuannya. Ini tidak lain karena sang orang kepercayaan adalah juga administratur sekolah yang tersakiti hatinya oleh sikap dan perilaku beberapa oknum guru tersertifikasi di sekolahnya.

Administratur sekolah ini sekarang menjadi lumayan fital keberadaannya karena semua data harus masuk dalam sistem komputerisasi yang terpusat. Dan ini juga menjadi 'bahan' yang bersinggungan dalam konstelasi sosial. Karena para adminitratur ini tidak mendapatkan 'tambahan' apresiasi dengan beban yang lumayan berat. 

Berat? Karena data yang terpusat, maka membutuhkan waktu dan kesabaran bagi mereka untuk meng-up load data yang telah dia perbaiki ke dalam sistem komputer yang terpusat tersebut. Dapat di bayangkan kalau dalam waktu yang bersamaan ada 7500 adimintratur sedang meng-up load secara bersamaan?

Anehnya, karena ketika tugas admin telah kelar dan pada akhir  triwulan dan merasa bahwa tunjangan sertifikasi itu menjadi hak sepenuhnya dari guru yang telah mendapatkannya, mereka yang ada di dalam sekolah itu sepakat diam-diam dengan tidak memberikan kabar bahwa tunjangan telah cair. Meski kabar itu tidak harus dalam bentuk maklumat, tetapi, misalnya, ada makanan kecil yang tiba-tiba tersedia di ruang guru.]

Dan sebaliknya, ketika tugas admin dalam meng-up date data telah usai dan ternyata di akhir triwulan ada beberapa guru tersertifikasi belum memperoleh kiriman dari APBN ke dalam rekeningnya, maka guru-guru itu pasti akan bisik-bisik dan bahwa bicara terbuka atas nasibnya. Dan tidak juga jarang mereka akan memiliki perasaan dan pikiran buruk bahwa kiriman belum diterima karena sistem administrasi ada yang tidak beres. Dan ini pasti berkait  langsung kepada pihak admin sekolah yang barangkali ada keteledoran. 

Inilah salah satu dari titik disharmoni yang ada di sekolah akibat dengan tunjangan sertifikasi. Jadi karena salah satu saja, maka masih ada beberapa titik simpul yang menyebabkan lahirnya disharmoni. Namun saya akan mencobanya untuk mencatatnya dalam lembar catatan yang lain. 

Jakarta, 7 Januari 2016.

06 January 2016

Piknik Sekolah #2

Meski waktu itu hampir semuanya mendadak, mulai dari rencana keberangkatan, destinasi yang semula akan dituju kemudian berubah pada detik-detik terakhir, saya sendiri masalah dengan paspor yang harus membuat baru, piknik sekolah tetap berjalan. Mungkin karena rombongan kami tidak terlalu banyak dan peserta juga terdiri dari manajemen sekolah, jadi semua serba cepat dan kilat.


Saya sendiri mensyukuri bahwa menjadi bagian dari trip yang diselenggarakan sekolah itu. Selain karena ini merupakan bentuk hadiah atau bonus, kegiatan ini juga dapat menjado pembanding buat saya tentang yang orang-orang sering perbincangkan.



Jakarta, 6 Januari 2016.

31 December 2015

Oleh-Oleh Tempe dari Pacitan

Ada yang unik buat saya sendiri. Yaitu membawa oleh-oleh tempe mentah alias tempe yang belum jadi ketika kembali ke Jakarta sepulangnya dari Pacitan. Unik, karena tempe yang menjadi oleh-oleh itu adalah tempe benguk yang akan sulit setengah mati di dapat keculai di kampung halaman di Jawa Tengah. Itupun saya daatkan dalam bentuk olahan sudah siap santap, yang oleh anak bungsu saya disebutnya sebagai tempe rasa opor.
Beginilah penampakan dari tempe benguk dalam kemasan daun pohon jati.

Saya dapatkan ketika berada di Goa Gong yang ada di daerah Donorejo, Pacitan. Banyak pedagang menjajakan tempe itu dalam bentuk gorengan. Dan selain yang telah masak, pedagang juga menawarkan tempe benguk dalam bungkusan daun jati yang masih mentah. Mentah dalam arti bahwa tempe itu masih untuk dalam bentuk kacang benguk dan belum tumbuh jamurnya.
Wujud tempenya. Dengan kacang yang relatif besar dibandingkan dengan tempe pada umumnya yang terbuat dari kacang kedelai. Tempe benguk pasti original lokal. Tidak ada bahan impor dalam pembuatannya.

"Tiga hari lagi siap masak Mas." Begitu penjelsan pedagangnya kepada saya. Da karena ingin sekali, jadilah tempe benguk mentah dalam bungkusan daun jati tersebut menjadi buah tangan saya ketika kembali ke Jakarta.
Digoreng sebagai salah satu bentuk masakannya.

Jakarta, 31 Desember 2015.

Pergi ke Pacitan

Mungkin inilah yang dinamakan keberuntungan. Tentunya keberuntungan bagi saya. Karena sudah beberapa tahun sebelum ini saya berminat sekali untuk menyusur ke arah timur ketika waktu itu sudah berada di Pantai Kukup, Wonosari, DI Jogjakarta. Namun waktu jugalah yang harus membuat saya segera kembali ke Jakarta. Maka niatan untuk menyusuri arah timur dari Kukup menuju ke wilayah Wonogiri dan Pacitan harus tertunda.
Pagi hari, setelah sarapan nasi urap, saya segera menuju ke pantai Telengria yang lokasinya dekat dengan penginapan. Tidak lupa membeli wader goreng kegemaran saya.

Dan ini merupakan keberuntungan bahwa kesempatan itu akhirnya datang juga. Selain juga saya menjadi lebih dulu mendatangi Pacitan dibanding tetangga saya yang ayah serta ibunya merupakan asli Pacitan. Setidaknya inilah yang menjadi catatan saya kali ini.
Salah satu aktivitas menarik di hamparan pantai Telengria.

"Saya ingin sekali Pak, jalan ke Pacitan via darat. Tapi terus terang tidak percaya diri dengan mengendari kendaraan sendiri." begitu kira-kira tetangga saya mengomentari cerita saya tentang perjalanan kekampung halaman ketika bertemu di halaman rumah.

"Istri saya kan asal Pacitan Pak. Beberapa waktu lalu orangtuanya pulang kampung bertemu sanak saudaranya di Pacitan. Jalannya bagus ya Pak Agus?" lanjutnya masih dengan ketidak yakinannya untuk melakukan perjalanan ke kampung asal sang istri. Saya sampaikan bahwa perjalanan yang saya lakukan santai saja. Karena saya memang orang yang gemar untuk merasakan dan menikmati setiap sisi jalan yang kami lalui. Dan persiapan untuk itu adalah waktu yang longgar dan sehat.

Hamparan batu-batu keren di Pantai Pidaan.
Kesempatan berawal dari undangan pengantinan dari teman. Dari sinilah niat untuk pergi ke Pacitan menjadi terlaksana. Mesti telah berjalan dengan terjebak macet dimana, setelah magrib dan mengandalkan perangkat Waze, saya menyusuri tanjakan Pathuk, pintu masuk kabupaten Gunung Kidul, hingga jalan tembus menuju Pringkuku.

Dan karena perjalan malam, maka pemandangan yang terlihat setelah keluar dari Wonosari dan masuk jalan tembus yang berkelok memberikan gambaran laksana masuk ke hutan belantara. Namun karena kondisi jalan yang relatif mulus, maka kepenatan menjadi tantangan yang lain untuk segera masuk ke penginapan.
Lanskap yang berbeda dari Pantai Pidaan.

Keindahan alam baru benar-benar kami nikmati ketika kembali ke Jakarta melalui jalur yang sama. Subhanallah. Luar biasa. Alam dan situasi masyarakat serta makanan, menjadikan motivasi tersendiri untuk kembali ke Pacitan suatu hari nanti.

Jakarta, 31 Desember 2015.

30 December 2015

Terjebak Kemacetan

Kamis, 24 Desember 2015 pukul 07.00, saya dan rombongan berada di wilayah Cipete, Jakarta Selatan. Ini adalah titik awal perjalanan menuju Pacitan Jawa Timur. Sejak satu hari sebelumnya, karena saya sendiri bepergian ke Bandung, maka kepadatan lalu lintas di sepanjang jalan TOL, dan juga jalan arteri yang dekat dengan pintu gerbang jalan TOL telah saya rasakan. Namun perjalanan pagi itu harus kami lakukan. Mengingat kecocokan jadwal teman-teman untuk sebuah perjalanan yang panjang, mengharuskan kami berkumpul dan berangkat pada waktu itu.
Salah satu kondisi rest area di jalur TOL Jakarta Cikampek. Penuh dan kotor sampah sisa bungkus makanan atau minuman.

Pada waktu bersamaan, laporan dari radio dan twitter menyampaikan bahwa kemacetan di jalan TOL Lingkar Luar yang menuju arah Cikampek dari Pondok Indah sudah sampai daerah Lebak Bulus. Demikian juga TOL dalam kota menuju Cawang telah antri padat nyaris tidak bergerak sudah sampai di Slipi.

Bagaimana selanjutnya? Atas arahan Waze, rombongan kami mengambil rute Cipete-Semanggi-Casablanka, terus lanjut hingga masuk Gerbang Pintu TOL Bekasi Barat. Pukul -8.00 rombongan masuk Bekasi Barat. Dari dari sinilah kami harus mengalami macet berat di banyak skali titik. Bahkan untuk ke toilet pun tidak mungkin. Dua rest area yang kami lewati menolak kehadiran kami. Dijaga dan ditutup dengan ketat.

Juga di Ketanggungan, Brebes pada saat kami telah memasuki hari Jumat, 25 Desember 2015 dini hari. Kemacetan masih membuat kami tabah dan bertahan. Demikian pula ketika kami memasuki Bumiayu. Baik lingkar luar ataupun jalan dalam kota telah macet. 

Kemacetan ini memberikan bekas kepada saya; 
1. Tidak mengandalkan aparat berkompeten ketika macet. Maka kuat dan tabahlah.
2. Nikmatilah jalan yang kita lalui. Jangan berpikir lurus-lurus untuk memilih rute.
3. Tidak berharap kecepatan transaksi di pintu TOL. 
4. Jangan keluar TOL di gerbang TOL paling akhir.
5. Ajarkan anak-anak kita tentang kepintaran memprediksi. Supaya pintar ketika jadi aparat.
6. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Jakarta, 30 Desember 2015.

Menanam Cabe

Mungkin anak-anak sedang belajar tentang tumbuhan atau persemaian. Tetapi, saya menemukan pot-pot baru yang beraneka ragam, rupa, dan bentuk telah berisi tanah berjejer di halaman belakang sekolah kami. Benar saja, bahwa satu pekan kemuadian, dan pekan-pekan selanjutnya menjadi kegiatan rutin siswa bertandang ke halaman belakang sekolah. Baik bersama gurunya atau ketika satu atau tiga dari anak-anak itu datang ke sekolah di pagi hari.
Tanaman berbagai macam cabe yang disemai anak-anak di halaman belakang sekolah
Pada pekan-pekan berikutnya, terutama ketika tanaman itu telah mulai bertunas, tingkat kerajinan atau kunjungan anak-anak ke halaman belakang sekolah menjadi bertambah-tambah. Akibatnya, rumput yang menjadi perlintasan mereka semakin hari semakin habis karena tidak sempat tumbuh.

Dan setelah menjelang akhir semester, pot-pot yang berisi tumpukan tanaman cabe itu tetap saja tumbuh menumpuk dalam satu pot. Saya memberikan usul kepada gurunya untuk membuat atau memisahkan tunas-tunas itu dalam pot yang berbeda-beda. Tujuannya agar 'proyek' tanaman cabe itu benar-benar tuntas. Artinya tumbuh dari tunas hingga nantinya dapat berbuah.

Namun usulan itu tidak juga terlaksana. Mungkin karena batasan proyek menanamnya hingga sampai menyemai saja. Dan karena itulah maka saya pesan kepasa teman-teman pramubakti untuk mengumpulkan botol plastik dan gelas plastik besar yang mereka temui. Alhamdulillah meski tidak terlalu banyak, botol-botol itu dapat pula menjadi media saya untuk menanam cabe.
Cabe-cabe itu telah menunjukkan profil utuhnya. Harapan saya adalah mereka berbuah ketika anak-anak kembali ke sekolah setelah usai liburan mendatang. Semoga.

Motivasi saya melakukan itu adalah untuk memberikan bukti kepada masyarakat sekolah tentang ketuntasan belajar. Agar sebuah proyek dilakukan dari awal hingga benar-benar akhir. Karena itu adalah bentuk belajar yang memberikan bekas. Semoga.

Jakarta, 30 Desember 2015.

Pelajaran Menyontek

Sebelum semester ganjil ini berakhir, ada yang bercerita kepada saya berkenaan dengan ulah peserta didiknya yang memang dari sananya tidak dapat dipercaya punya niatan untuk melakukan perbuatan yang sangat tidak terhormat, yaitu mencontek. Dan karena kedapatan bahwasi peserta didik benar-benar melakukan hal itu, maka Pak Guru itu bercerita kepada saya betapa herannya mereka dengan berita yang mencengangkan terjadi pada peserta didik model begitu.

Karena sehari-hari anak itu benar-benar mandiri untuk semua hal di sekolah. Tidak akan pernah sedikitpun kepada teman atau guru meminta bantuan akan kekurangan keperluannya. Demikian pula ketika bermain bersama, maka tidak akan menjadi beban bagi yang lain. Juga berkenaan dengan tugas sekolah atau ulangan sehari-hari. Bahkan dia adalah anak satu-satunya di sekolah yang tahu kepanjangan dari AMS, sekolah di zaman Belanda setingkat SMA atau THS. Demikian dalam hal pelajaran yang lain. Pendek kata, sulit dipercaya jika di suatu hari anak itu menjadi berbeda hanya untuk urusan penguasaan materi pelajaran di sekolah pada saat ulangan.

Dengan contoh tersebut, maka saya bermaksud untuk menyampaikan bahwa anak kami itu berada di atas rata-rata kemampuan teman satu kelasnya. Dan itu dapat menjadi jaminan bahwa apa yang dikerjakannya disaat mengerjakan ulangan tidak akan menjadi persoalan serius.

Namun kenyataan harus kami alami ketika disuatu hari ada yang sangat berbeda dengan dirinya. Dan karena itulah saya menuliskan dalam catatan harian saya ini. Untuk mengingatkan kepada kita semua, saya dan Anda, khususnya sebagai orangtua dari anak-anak kita di rumah.

Ini ketika kami mendapat sang anak keluar kelas di waktu ujian akhir semester sedang berlangsung.Bahwa anak itu meminta izin untuk ke toilet. Dan guru pun menjadi beftanya ketika ia ke toilet dengan membawa serta tas sekolahnya. Selain juga karena waktu yang ia gunakan lebih panjang ketika orang lain pergi ke toilet.

"Apa yang sedang kamu lakukan di kamar mandi?" tanya guru yang menyusul anak itu ke toilet. Didapati bahwa anak itu sedang ada di koridor toilet dengan membuka buku pelajaran yang dibawanya dari rumah.

Pertanyaan guru itu benar-benar membangunkan anak polos itu dari konsentrasi dan keasyikannya membaca lembaran buku pelajaran yang sedang diujikan. Dan itu tentu melahirkan kekagetan yang luar biasa. 

"Mengapa harus kamu lakukan itu?" lanjut guru lagi yang membuat anak itu enar-benar mati kutu. Tidak bergerak apalagi berucap.

"Maaf Pak. Saya takut nilai saya jelek Pak. Maaf Pak. Ibu saya meminta supaya nilainya 9 Pak. Maafkan saya Pak. Jangan dihukum saya Pak." rengek anak itu dengan kepolosannya.

Guru, teman saya itu juga tidak mampu berkata apa-apa selain memberikan masukan dan nasehat, serta memintanya untuk segera kembali ke dalam kelas guna melanjutkan mengerjakan soal ulangan. Guru teman saya itu terpukul sedih!

Jakarta, 21-30 Desember 2015.

15 December 2015

Piknik Sekolah

Beberapa waktu lalu, tepatnya persis di akhir Nopember 2015, saya bersama semua teman lainnya yang berada di posisi manajemen, diberi anugerah untuk melakukan perjalanan wisata ke sebuah ibu kota negara tetangga. Nikmat luar biasa bagi saya. Karena bersamaan dengan momen tersebut, saya mendapat anugerah berupa memperpanjang masa berlakunya paspor saya yang sudah kedaluwarsa. Selain juga mendapat pengalaman baru pergi bersama teman-teman.

Namun bukan kepergiannya yang menjadi bahan catatan saya kali ini, tetapi bagaimana diantara kita, para anggota yang mendapat kesempatan untuk bertamasya itu. Ada beberapa hal yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman menempuh perjalanan itu. Dan karena sayang untuk saya lupakan, maka saya mencobanya untuk membuat catatan dengan harapan agar menjadi bagian masa lalu yang tidak mudah untuk terlupakan.

Kepergian

Berawal ketika dalam persiapan kepergian kami. Dimana kami semua seperti sport jantung. Bukan karena kekurangan dana yang menjadi penyebabnya sehingga harus memutar otak dalam memilih penerbangan yang lebih miring harganya. Jujur ini bukan sombong. Tapi murni karena sedikit ada prosedur yang memang tidak seharusnya terjadi. Penyebabnya adalah karena destinasi awal tiba-tiba harus berubah hanya pada H-3 keberangkatan. Inilah yang menjadikan kami semua sport jantung.

Alhamdulillah bahwa akhirnya semua kelengkapan perjalanan kelar dalam tempo tersebut. Seperti ketika harus membutuhkan nomor paspor anggota perjalanan, karena paspor saya baru bisa diberikan kepada saya pada H-1 sebelum keberangkatan, maka hanya nomor paspornya saja yang bisa saya kirim.

Demikian pula ketika malam sebelum berangkat, pada saat packing. Saya bertanya kepada salah satu anggota wisata yang saya menganggapnya paling dekat. Dan ukuran dekatnya adalah ketika saya nyaman bicara blak-blakan dengan dia. Pertanyaan saya adalah apakah tamasya kita menggunakan gaya Sy**r**i  atau gaya back packer? Pertanyaan itu untuk memastika kalau saya di perjalanan tidak menjadi anggota rombongan wisata yang salah kostum.

Meski begitu, saya kaget juga ketika keberangkatan ternyata masih ada anggota yang justru mengenakan kostum perjalanan dengan gaya seleb. Alhasil, diantara kami, ia menjadi anggota yang paling beda. Paling aneh. Sesuatu yang saya sendiri mencoba dengan kuat untuk tidak berkeinginan menempati posisi seperti itu atau setidaknya saya  menghindarinya.

Kehilangan Jejak

Dan rupanya, kisah perjalanan tidak berhenti disitu. Ketika kami mengunjungi suatu tepat di lokasi wisata, harus kehilangan jejak dari anggota rombongan yang lainnya. Ini berawal ketika kami berada di lokasi wisata yang lumayan luas. Sebagai wisatawan, wajar bila kami masing-masing mengabadikan momen keberadaan kami. Yaitu dengan berfoto-foto.

Nah karena kami termasuk yang tidak terlalu narsis diantara anggota rombongan, maka kami tidak sabar untuk menjelajah tempat-tempat yang ada di obyek wisata itu, meninggalkan teman-teman lain yang sibuknya bukan main dalam mengambil foto. Bahkan ada teman dilokasi yang saya harus diambil fotonya dari sudut yang berbeda-beda dan dengan gaya yang lain pula. 

Akibatnya kami selesai lebih dulu dalam melakukan blusukan di lokasi itu. Dan itu berarti kami meninggalkan obyek wisata itu lebih cepat dibanding dengan anggota piknik yang lain. Repotnya, diantara kami tidak ada yang berani mangambil ekskusi untuk makan siang karena memang dana kami adalah dana pribadi yang terbatas...

Jakarta, 15.12.15.

14 December 2015

Nikmati Saja Komentar Komentator

Ya benar. Saya menikmati saja komentar komentator. Pengamat. Kritikus. Atas apa yang kami telah lakukan dalam tahap operasional di sekolah. Karena sesungguhnya para komentator, pengamat atau kritikus yang menyampaikan masukan buat saya adalah bagian dari sekolah yang saya berada di dalamnya juga. Maksudnya, mereka yang mengemukakan komentar itu adalah para sahabat dan karib sendiri, yang sebenarnya yang dibutuhkan dari dia adalah informasi ide, koordinasi dalam pelaksanaan, dan ekskusi. Jadi tidak lagi pada tataran komentar.

Tapi apa mau dikata? Bahwa komentar, kritik, dan pernyataan hasil pengamatannya telah terlontar dan tertera dalam area umum? Seperti pagi ini, ketika saya membuka chat dalam grup Whattaps? Maka seluruh anggota grup telah mengetahui apa yang menjadi gagasan teman saya itu. Dan itu tidak menjadi persoalan buat saya yang setelah membaca apa yang mereka tuliskan dan mencernanya menjadi bertambah tugas dan amanat yang harus saya lakukan. Tapi setidaknya saya manikmati saja apa yang menjadi perilaku para komentator itu.

Walau, sering sekali setelah itu saya memegang jidad, dan berguman; o... jadi selama ini saya sendirian ya yang harus mengerjakan semua operasional di sekolah? Okey, jawab batin saya. Saya tidak perdulikan lagi sikap apa yang harus saya ambil setelah ini. Apakah masih mau mendengar atau tidak tentang apa yang dikomentarinya?

Jadi semacam ketidakpuasan hati. Karena bukankah amanat itu harus menjadi bagian kita semua untuk mengerjakannya sepanjang memang kita berada dalam satu wadah atau lembaga yang bernama sekolah?

Aneh bukan? Tetapi karena hal ini berlangsung dan terjadi secara berturut-turut, maka saya dengan rendah hati juga harus mengatakan kepada batin saya agar itu semua menjadi hal yang harus dapat saya nikmati.

Dan karenanya, maka saya sendiri mulai menghitung agar setelah masa kontrak habis, segera setelah itu mencari lahan baru yang lebih kondusif bagi pengembangan diri ke masa yang akan datang, yang lebih baik lagi. Semoga.

Jakarta, 14 Desember 2015.

10 December 2015

Berjalanlah, Nanti Mereka Mengikuti

Pernahkah dalam sebuah lembaga Anda dan beberapa teman melakukan sebuah gerakan yang berbeda dengan pola sebelumnya? Jika gerakan atau kebiasaan yang berbeda itu saya namakan sebagai perubahan, maka pasti ada diantara teman-teman Anda yang melihatnya dengan sebelah mata? Melihat apa yang Anda sedang lakukan sebagai gerakan hangat-hangat tahi ayam atau perubahan sporadis semata? Dan mereka yang ada di seberang Anda itu pasti semangat mengajak teman yang lain untuk berada dalam barisannya? Tidak peduli bahwa gerakan perubahan yang sedang Anda usung sebenarnya adalah gerakan kesadaran. Kesadaran atas apa yang telah lembaga alami beberapa tahun belakangan ini. Yaitu kondisi bahwa sekolah Anda sedang secara bertahap mengalami penurunan jumlah siswanya? Padahal lembaga sekolah Anda adalah sekolah swasta?

Dan jika kondisi dan situasinya sama sebagaimana yang saya utarakan di atas, maka ada baiknya jika pengalaman teman saya ini menjadi bahan diskusi yang lumayan nendang. Ini karena teman saya merasakan ketidak nyamanan yang sungguh-gungguh ketika lembaga yang dipimpinnya sedang mengalami penurunan siswa tetapi kenyataan ini tidak dapat dilihat sebagai 'pesan bahaya' bagi sebagaian teman-teman gurunya. Dan tipikalnya adalah teman-teman guru yang memang telah memiliki jam terbang tinggi.

Mengajak dan Jalan Terus

Dua hal inilah yang dilakukan oleh teman saya yang inspiratif bagi saya ini. Ia melihat ada sebuah konsep yang dapat menjadi jawaban bagi sekolahnya, dan jawaban itu ia rumuskan bersama teman-teman yang 'tahu' bahwa kekurangan siswa adalah sinyal bahaya bagi keberlangsungan lembaganya. Dan dari rumusan itu, ia mengajak teman-temannya untuk melakukan dan merealisasikan konsep dalam kegiatan belajar sehari-hari dengan tidak peduli atas masukan dan dorongan negatif para teman yang berada di seberang.

Dan meski jalan terus dengan apa yang menjadi ajakannya, teman saya juga mengajak teman sejalannya untuk tetap tidak merespon negatif atas masukan dan motivasi negatif. Pelaksanaan konsep berubah mengajak dan jalan terus ini teman saya lakukan dengan penuh konsisten. Hingga di ujung semester ganjil tahun 2015/2016 ini, telah masuk di pekan ke-6.

"Jangan pernah berhenti Bu. Jalan terus dan tetap semangat. Lakukan dengan penuh motivasi apa yang telah Ibu serta teman-teman kecil Ibu yakini untuk perubahan sekolah Ibu. Dan saya yang berada di luar Ibu merasakan aroma sukses di masa mendatang. Yakin saya!" Begitu kalimat yang saya tulis ketika vedio pelaksanaan program dia dia kirim via wa kepada saya ketika program baru berjalan 2 pekan. 

Dan komentar saya ini bukan karena saya sedang menghibur teman yang pada posisi itu sedang galau dan tidak bersemangat penuh, tetapi memang itulah esensi perubahan. Saya mencium firasat keberhasilan itu dengan sangat yakin.

"Terimakasih banyak Pak semangat dan dorongan Bapak." Begitu balasan teman saya.

Mereka Mengikuti

Dan ketika program telah berjalan lebih kurang enam pekan, maka tampaklah indikator keberhasilannya itu. Misalnya; Para peserta didik sangat kondusif ketika program ini berjalan. Dan karena itu maka anak-anak jauh lebih siap menyelesaikan masalah pembelajaran akademik yang sedang mereka jalani. Ini tidak saja pada mereka yang sudah duduk di kelas akhir dan akan menghadapi ujian, tetapi juga mereka yang menghadapi ujian akhir semester.

Bagaimana dengan guru-guru yang di awal program akan dilaksanakan berada di seberang jalan? Mereka secara berangsur tidak lagi pernah mengeluarkan kata atau bahkan kalimat beraroma negatif dan pesimis. Nampaknya teman-teman itu sedang melihat akan buah dari apa yang di awal mereka dulu tentang. Dan kenyataan ini membuat mereka untuk bersikap moderat.

Dan sikapnya yang moderat ini, yang mereka tunjuk dan tampilkan dalam perilaku mengajar di kelas atau diskusi di ruang rapat guru, memberi sinyal bahwa mereka siap untuk menjadi bagian dalam barisan perubahan. Semoga.

Jakarta, 10 Desember 2015.

07 December 2015

Belajar Menginap #17; Enak di Sini

Hari terakhir dalam kegiatan menginap di desa Pulosari, Pengalengan tahun 2015 nyaris usai. Dan agenda kegiatan dalam hari penutup itu antara lain adalah melakukan kegiatan bersama dengan warga desa di halaman masjid kampung. Kegiatannya dalam bentuk bakti sosial. Dimana seluruh peserta menginap yang telah siap meninggalkan kampung Pulosari menuju kembali ke Jakarta, akan memberikan beberapa hal yang mereka siapkan kepada penduduk setempat.

Oleh karenanya, maka seluruh siswa dan para guru telah bersiap di halaman masjid. Bahkan tas-tas anak-anak telah masuk ke dalam bus yang terparkir di halaman-halaman rumah penduduk yang ada di sepanjang jalan kampung. Demikian pula perangkat desa dan para pejabat kampung di RW 1, serta seluruh warga yang menjadi orang tua asuh, sudah lengkap bersiap mlakukan kegiatan bersama. 

Namun dalam pemeriksaan anggota kelompok oleh Bapak dan Ibu Guru, masih terdapat satu keluarga orangtua asuh bersama dua anak asuhnya, yang belum berada di lokasi kegiatan. Untunglah bahwa liokasi dimana kegiatan yang akan dilaksanakan dengan lokasi rumah tinggal orangtua asuh tersebut tidak terlampau jauh. Maka untuk mencarinya tidak membutuhkan usaha yang terlalu sulit.

"Mengapa kalian tetap berada di kebun untuk melakukan pekerjaan? Bukankah kalian tahu kalau hari ini jadwal kegiatan kita di halaman masjid untuk kegiatan bakti sosial?" Demikian kata seorang guru yang kebetulan sebagai panitia kegiatan kepada anak yang tadi di cari-cari. Tentunya setelah anak tersebut ditunggu kedatangannya di lokasi kegiatan selama satu jam lebih. Dan sementara waktu menunggu itu, maka kegiatan terus dan tetap berlanjut.

"Ya pasti tahu Pak. Tadi orangtua asuhku juga mengingatkan agar hari ini tidak pergi ke kebun untuk bekerja." Jawab anak itu. 

"Terus, apa yang menjadi motivasi kalian tetap pergi ke kebun dan memaksa orangtua asuhmu menemani?" Desak guru dengan penuh penasaran. Karena dari sekian anak yang menjadi peserta menginap, hanya ada dua anak yang berpikirnya berbeda. Sementara anak yang lan telah siap menyambut kepulangan mereka ke Jakarta, justru masih ada dua anak yang tidak menghiraukan jadwal penutupan kegiatan? Mengherankan. 

Kedua anak yang ditanya itu diam saja. Mungkin mereka berdua sedang berpikir menyusun kalimat yang tepat untuk pertanyaan guru yang ada di depannya. Sementara teman-teman lainnya di halaman masjid terus sibuk melakukan kegiatan baksosnya.

"Saya hanya merasa betah tinggal di sini dengan kegaiatan di kebun bersama orangtua asuh kami Pak. Saya pikir saya akan tetap di sini. Saya merasa bosan sekali tinggal di Jakarta. Yang untuk saya kegiatannya selain ke mall hanya main game. Di sini? Saya selalu dapat membantu orangtua asuh bekerja di kebun." Jawaban anak itu membuat guru yang ada di depannya kehabisan kalimat untuk menimpalinya. Ia hanya terdiam sebelum akhirnya berkata singkat kepada kedua anak yang ada di depannya; "Ya sudah, sekarang kalian bergabung dengan kelompok kalian." Dan percakapan itu pun selesai.

Jakarta, 7 Desember 2015.