Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

30 January 2011

Penjual Jeruk di AKAP, Gamping-Wojo

Naik Bus AKAP rute dari Yogyakarta yang menuju ke Purwokerto, yang biasanya saya hanya ikut untuk penggalan Gamping menuju Wojo atau sebaliknya, hampir saya lakukan manakala saya berkunjung ke kampung halaman naik umum. Biasanya saya naik bus AKAP dengan rute tersebut saat akan atau pulang darí kota Yogyakarta. Sebagaimana yang saya lakukan Pada saat selepas magrib di hari Sabtu tanggal 1 Januari 2011 itu.

Namun bukan tentang bus umum itu yang hendak saya sampaikan disini. Tetapi lebih dari kebiasaan yang, menurut saya unik dan baik untuk saya sampaikan di sini, yaitu tentang penjual buah. Yang secara kebetulan dari beberapa kali saya menumpangi bus jurusan ini selalu penjual itu yang berjualan di dalam bus. Apa yang dijualnya? Buah. Ya hanya buah. Bahkan lebih khusus lagi, buah jeruk. Suatu kali penjual buah itu menjual jeruk Pontianak, lalu pada kesempatan yang lain menjual jeruk Mandarin, lalu jeruk lainnya. Yang jelas, seingat saya semuanya adalah buah jeruk.

Penjual itu akan naik bus yang kami tumpangi persis ketika bus ngetem di Gamping, daerah Ambar Ketawang, Yogyakarta. Ia baru akan masuk bus pada saat bus benar-benar akan berangkat. Ketika bus masih ngetem, ia tidak bakalan naik ke dalam bus. Buah jeruk yang dibawanya hampir penuh satu katong zak semen. Dan plastik kresek warna kuning akan di kemas dan disimpannya di kantong celananya. Di lehernya, selalu tergantung handuk kecil. Hampir selalu seperti itu gayanya berjualan, makanya saya dapat mendeskripsikan di sini.

Yang khas dari penjual jeruk di dalam bus itu selain apa yang telah saya sampaikan di atas adalah cara dia mempromosikan kepada seluruh penumpang yang nampaknya tidak begitu antusias atau bahkan cenderung terganggu. Namun ia sampaikan seperti orang sedang berorasi. Bukan tentang jeruknya yang dia jual, namun tentang hal lain.

Dan dalam orasi-orasinya itulah ia menarik perhatian kami yang sebenarnya bete, untuk sekedar mesem-mesem atau menganguk-angguk sebagai tanda bahwa kami menyimak. Kadang ia berorasi tentang bencana dan hikmah yang dapat kita mabil darinya, seperti apa yang kami dengan sore itu. Kadang tentang beratnya menjadi kepala rumah tangga di zaman kini. Pernah pula saya dengar ia berorasi tentang riuh rendahnya politisi berargumentasi di tv. Pendek kata, apa yang diorasikan adalah olahan dari informasi yang dia punya, diramu dengan logika dan keterampilannya dalam merebut perhatian dan sedikit juga rasa iba kita. Pada titik inilah saya berpendapat bahwa ia memang penjual yang pantas untuk saya tulis disini.

Lalu bagaimana dan kapan ia menjual jeruk-jeruknya itu? Ya, sesudah orasinya dia rasakan telah 'merasuk' dan sedikit menyita perhatian kami. Pertama-tama, dia kan meminta kami untuk mencoba jeruk jualannya. Tidak hanya kepada saya seorang, tetapi kepada mereka yang mau mencobanya. Mungkin ada dua atau empat buah jeruknya dia ikhlaskan untuk menjadi percobaan. Langkah berikutnya adalah menawarkan bahwa jeruknya yang manis itu berharga Rp 10,000 untuk delapan buah. Memang ada beberapa dari kami yang berminat membeli.

Berikutnya lagi, setelah bus telah memasuki daerah Kulon Progo, persisnya di pertigaan patung Pensil, penjula itu membanting harga. Yaitu Rp. 10,000 untuk 10 buah jeruk. Alasannya untuk menghabiskan persediaan. Dan memang jeruknya hampir saja tandas. Dan ketika bus sampai di Wates, dijualnya 12 buah jeruknya dengan harga tetap Rp. 10,000!

Dulu, saat kali pertama saya naik bus, tergiur juga untuk membeli jeruknya ketika dia menawarkan 10 buah untuk harga Rp. 10,000. Namun pada waktu yang kesekian kalinya, saya cukup paham untuk tidak cepat-cepat membeli. Setidaknya hingga menjelang akhir!

Jakarta, 3-30 Januari 2011

26 January 2011

Makan Growol


Dalam sebuah berita di liputan6.com yang saya baca beberapa waktu yang lalu, tetangga satu desa dengan saya telah mengkonsumsi growol sebagai pengganti nasi sebagai makanan pokok.
Liputan6 :: Warga Purworejo Mulai Makan Growol.

Mungkin perlu saya ceritakan sedikit dimana lokasi kampung Pletuk yang disebutkan dalam berita tersebut. Ia adalah kampung yang berada di bagian utara desa. Wilayah selatannya adalah kampung Jambu, wilayah tengahnya adalah Wojo, dimana orangtua saya tinggal, dan bagian timur adalah Jurangkah. Keempat kampung itu adalah bagian dari desa Dadirejo, kecamatan Bagelen, kabupaten Purworejo.

Kampung Pletuk merupakan wilayah yang berada di daerah perbukitan dan pegunungan. Wilayah ini sejak masa saya kanak-kanak hampir selalu penduduknya menanami hampir seluruh ladangnya dengan tanaman singkong. Namun pada liburan Idul Fitri tahun 2007 yang lalu, ketika saya pulang kampung dan saya berkesempatan untuk mengajak istri, adik, dan anak-anak mengunjungi Pletuk untuk sekedar melihat peninggalan Jepang dalam bentuk benteng pertahanan, daerah Pletuk sudah dirimbuni oleh tanaman keras yang laku jual. Seperti pohon mahoni, pohon jati, jambu mete yang buahnya jatuh berhamburan, pohon duwet juga dengan buah yang berhamburan di tanah, pohon sengon, dan beberapa perdu. Saya kagum dibuatnya. Tumbuhan yang tumbuh subur menjulang tersebut menghalangi pandangan kami untuk bebas melihat lurus ke arah laut selatan, Samadera Hindia. Sebuah hal yang dulu sangat mudah kami lakukan meski posisi kami masih berada di perbatasan kampung antara Jambu, Wojo, dan Pletuk. Atau bahkan saat kami berada di seberang stasiun Wojo.

Dan kembali pada pokok yang ingin saya sampaikan disini, tentang growol. Makanan apakah growol itu? Saya mencoba menjelaskannya sebagai berikut; bahwa ia sejenis makanan yang diolah dari singkong. Berbeda dengan gatot atau tiwul yang juga berasal dari singkong, growol diolah ketika singkong masih mentah dan direndam selama lebih kurang tiga hari sehingga singkong nyaris menjadi busuk dan bercita rasa bacin. Sedang tiwul dan gatot berasal dari singkong mentah yang telah di jemur hingga kering. yang kemudian kita sebut sebagai gaplek. Untuk menjadi tiwul, singkong kering atau gaplek tersebut akan ditumbuk menjadi tepung terlebih dahulu sebelum dikukus. Dan gatot, setelah gaplek tersebut di cuci, maka ketika dikukus telah siap disajikan sebagai jajanan pasar.

Tiwul dan growol, pada masa tertentu dan atau daerah tertentu, menjadi makanan pokok pengganti nasi. Hal itu saya alami ketika keluarga kami tinggal di desa Sritejikencono, kecamatan Punggur, kabupaten (dulu) Metro, Lampung pada sekitar tahun 1977. Tiwuk masih menjadi makanan pokok daerah itu. Petani yang panen padi akan menjual padinya untuk kemudian dibelikan gaplek. Dan selisih harga akan menjadi keuntungan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Nasi, mereka menyebutnya sebagai sego putih atau nasi putih. Karena tiwul relatif berwarna hitam ketika telah masak.

Sedang growol, menjadi 2/3 makanan pokok kami sekeluarga di Wojo sekitar tahun 1979. Saya katakan 2/3, karena 1/3nya kami masih menyantap nasi. Growol lebih sering tersaji saat makan pagi dan sore. Sebagai pengganti nasi, maka kamipun lengkapi dengan lauk sebagaimana kita makan.

Namun berkenaan dengan berita tentang tetangga kami yang makan growol sebagai cermin dari beratnya beban hidup, sayapun turut merakan prihatin. Prihatin tentang keadaan yang kurang menguntungkan tersebut. Juga prihatin bahwa ternyata jenis makanan pokokpun telah menjadi tolok ukur bagi pengklasifikasian harkat hidup.

Oleh karenanya saya berharap semoga masa sulit ini lekas berlalu. Dan tetangga saya di kampung itu segera menenikmati masa baik. Amin.

Jakarta, 26-30 Januari 2011.

Bersiap Untuk Sukses UN/UAS-BN


Dalam setiap pertemuan dengan orangtua siswa yang kami undang dalam sosialisasi pelaksanaan UN bagi SMP atau UAS-BN untuk SD, saya selalu menangkap beberapa orangtua siswa yang dalam kondisi Khawatir. Namun juga ada sebagian lainnya yang dalam kondisi biasa-biasa saja. Atmosfer seperti itu selalu saja berulang setiap tahunnya. Sosialisasi itu sendiri baru kami selenggarakan jika pemerintah secara definitif telah mengeluarkan serangkaian peraturan tertulisnya untuk penyelenggarakaan hajat besar di dunia pendidikan kita itu. Dan itu biasanya akan jatuh sekitar bulan Januarai atau Februari. Padahal penyelenggaraan UN SMP dan UAS-BN SD hampir selalu di akhir bulan April dan awal bulan Mei.

Apakah pemerintah bisa mengeluarkan keputusan definitif itu di awal tahun pelajaran? Tidak akan bisa. Semua baru di rencanakan setelah memasuki tahun pelajaran baru. Sebuah prestasi bila suatu saat pemerintah telah mengeluarkan keputusan didefinitf tentang ujian akhir nasional itu sebelum bulan Nopember! Tapi apa mau dikata, memang seperti itulah hidup kita di negara yang sama-sama kita cintai ini.

Dan kembali lagi kepada masalah sosialisasi ujian itu kepada pihak orangtua siswa, saya selalu menyampaikan agar para Ibu dan Bapak itu jangan panik. Mengapa harus panik? Tanya saya. Karena hari ini kita semua tahu materi pelajaran apa dan yang mana yang akan keluar dalam soal ujian akhir tersebut? Lanjut saya. Itu semua kita dapat melihatnya dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) atau kisi-kisi yang sudah termasuk dalam satu paket peraturan yang dikeluarkan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional.
Lalu saya tunjukkan SKL dan kisi-kisi dari materi ujian nasional itu, yang telah saya buat dalam format self assessment.

Dari situ, saya mengajak Bapak/Ibu orangtua siswa untuk mencoba melihat secara akal sehat. Bahwa kalau anak kita normal dan sehat pada saat ujian nasional berlangsung. Dan tentu saja belajar dengan sewajarnya. Maka dapat dipastikan bahwa mereka akan mampu memperoleh predikat lulus.

Namun bagaimana dengan perolehan nilai ujian yang pada ujungnya nanti menjadi kunci dan modal anak mereka masuk di sekolah pemerintah yang diidamkannya? Disi pula saya mengajak para orangtua itu untuk melihat passing grade dari masing-masing sekolah. Dan dari situlah mereka dapat mengambil ancang-ancang dalam persiapannya. Jika menginginkan nilai 9 pada suatu mata pelajaran, maka ikhtiarnya minimal harus 9.

Dengan melihat itu semua, maka sesungguhnya untuk sukses dalam UN atau UAS-BN, petanya sudah jelas dan terang benderang. Saya berharap, semoga Anda pun dapat mempersiapkan putra-putrinya dengan sebaik mungkin tanpa perlu kepanikan.

Tapi saya juga mengingatkan semua bahwa, hasil UN atau UAS-BN hanya merupakan salah satu hasil belajar anak kita. Dan bukan hasil belajar satu-satunya. Dan akhlak, yang mulia (akhlakul karimah) adalah hasil belajar yang paripurna. Semoga sukses! Amin.

Jakarta, 26 Januari 2011.

25 January 2011

Naik Trans Jakarta



Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan naik Bus Trans Jakarta. Ini bukan berarti bahwa saya tidak pernah naik bus selama ini. Tetap naik bus juga. Terutama bila saya harus pergi ke jarak yang dekat dengan rumah. Tetapi ke kantor dengan naik busnya orang Jakarta ini, ini pengalaman pertama saya. Ini juga karena koridor IX, mulai beroprasi pada tanggal 31 Desember 2010 yang lalu. Selain bertambah macet di jalur yang dilalauinya, naik bus ini justru kebalikannya. Bebas macet alias lancar jaya.


Saya berangkat dari Slipi pukul 06.20. Setelah membeli karcis seharga Rp.2,000, saya bertanya kepada penjaga, ke jurusan mana jika saya akan menuju ke Pulomas di Jakarta Timur? Penjaga memandu saya untuk naik jurusan Pluit, turun di Grogol untuk kemudian pindah naik ke jurusan Pulo Gadung. Ini sebuah petunjuk yang sebenarnya tidak saya harapkan. Karena saya berpikir untuk menuju Cawang dan kemudian pindah ke jurusan Tanjung Priok. Namun apa yang kemukakan oleh penjaga itu, langsung saya turuti karena saya yakin dialah yang paling tahu tentang apa yang saya tanyakan itu.


Mungkin hanya perlu sekitar 1 menit saya menunggu bus itu datang. Saya mendapat tempat duduk paling pojok belakang di bus gandeng itu. asyik sekali. Bus baru dengan laju yang nyaris tidak terganggu. Dari tempat duduk menuju Grogol itu, saya menyaksikan pemandangan yang kontras. Di luar jalur bus Trans Jakarta yang hampir selalu steril oleh kendaraan selain bus Trans Jakarta di jam berangkat dan pulang kantor, mobil umum dan pribadi berderet-deret diantara kendaraan roda dua yang tampak menyemut menyesaki jalan yang hanya tersedia dua jalur. Inilah nikmatnya naik bus Trans Jakarta. Pikir saya. Karena kami dapat melaju sedang mereka tersendat dan di beberapa bagian nyaris berhenti. Atau kalau dalam bahasa lalu lintasnya; padat merayap.


Dan pas pukul 07.18, saya sudah menempelkan telunjuk saya di mesin absen kantor. Dengan ongkos tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Dari sekelumit pengalaman itu, maka saya berpendapat bahwa Trans Jakarta sekarang ini sudah menjadi solusi. Ya karena memang selama ini tidak usaha pemerintah yang paling nyata bagi transportasi massal selain moda kereta api dan bus way. Monorel yang telah dibangun tiang pancangnya di masa Gubernur Sutiyoso seperti mangkrak tidak ada ujungnya.

Namun kesempurnaan dari Trans Jakarta masih harus menjadi perhatian jika pemerintah tidak mau keghilangan moment. Yaitu tentang keadaan bangunan halte dan jembatan penyeberangan orang yang tampak di bawah standar kualitas.
Hal ini seperti tampak di Grogol. Dimana plat besi yang menjadi lantai sudah dalam kondisi bergelombang. Bahkan di bibir haltenya ada lantainya yang somplak. selain juga kurangnya kebersihan. Debu dan kertas yang jelas kentara di setiap halte. Kondisi busnya juga kurang maksimal. Terutama koridor yang telah lebih dahulu beroperasi. Selain juga kebersihan kaca dan lantai bus yang relatif belum terjaga sempurna. Bahkan untuk koridor Pulo Gadung - Kali Deres, beberapa bangku penumpangnya hanya diikat dengan tali rafia hitam.


Jakarta, 25 Januari 2011.

Jalanan Macet, dan Sekelimut Pengalaman Saya

Memasuki tahun 2011 ini, jalanan di Jakarta terasa semakin macet. Dan kemacetan yang paling saya rasakan sekarang ini adalah sepanjang perjalanan saya memasuki jalan arteri Gatot Subroto, dari pintu tol keluar Slipi (Depan Gedung DPR/MPR) menuju ke persimpangan lampu lalulintas Slipi dan juga pintu keluar tol Slipi Jaya (Depan RS Harapan Kita) hingga persimpangan lampu lalu lintas Slipi. Paling tidak karena ruas jalan inilah yang paling bisa saya lalui ketika pulang dari kantor di bilangan Pulomas, Jakarta Timur.

Ada memang jalur yang bisa saya lalui untuk perjalanan Pulomas-Slipi saat pulang kantor. Yaitu jalur arteri Casablanca-Arteri Pejompongan-Slipi dan jalur Patung Tani- Merdeka Selatan- Kebon Sirih- Tanah Abang- Slipi Jaya-Slipi. Tapi sejak hampir dua tahun yang lalu saya sama sekali tidak berani lagi melewatinya. Terlebih sejak ada proyek pembangunan Jalan Arteri Bukan Tol di sepanjang Jalur yang melalui Casablanca atau juga sejak perubahan jalur di seputar Tananh Abang. Jalur-jalur itu semakin ruwet dan mengkhawatirkan.

Pilihan terbaik saya untuk selalu melewati jalur tol baik Cawang menuju Slipi atau Ancol menuju Slipi, masuk di tahun 2011 ini sudah bukan menjadi pilihan terbaik. Dua jalur itu sekarang menjadi pilihan yang terpaksa saya pilih. Ini karena kemacetan yang luar biasa di jalur arteri Slipi Jaya menuju Slipi atau jalur Taman Ria menuju Slipi mampat dan selalu nyaris tidak bergerak.

Oleh karenanya, sejak tiga pekan di tahun ini, ada beberapa tambahan kegiatan saya agar tidak terlalu terjebak masuk dalam kemacetan yang menguras tenaga, emosi, pikiran, dan usia kita. Tiga hari dari lima hari yang ada dalam satu pekan itu akan saya gunakan untuk bersilaturahim. Saya akan 'merapat' di sekolah anak saya dulu, yang berlokasi di Tebet. Saya akan sampai di lokasi itu sekitar pukul16.30 dan akan berada di sana hingga pukul 20.00. Atau saya akan menghadiri rapat di Cipete, yang alhamdulillah dilaksanakan diantara hari Rabu-Jumat pada pukul 18.30 hingga 21.00. Atau saya akan tetap tinggal di sekolah saya dan baru meninggalkannya setelah pukul 20.00. Itulah kegiatan yang akhirnya tercipta dalam situasi jalan yang macetnya luar biasa.

Sekedar gambaran untuk anda semua, bahwa jarak Slipi-Pulomas, yaitu jarak dari rumah ke kantor saya lebih kurang 20 km jika saya masuk tol Slipi-Cawang-Rawa Mangun. Yang pada awal saya bekerja, yaitu tahun 2004, hampir selalu saya tempuh dalam waktu 30 menit saja dengan berkendara berkecepatan 80 km/jam. Namun waktu tempuh itu menjadi semakin tidak manusiawi lagi saat-saat ini. Karena dalam keadaan normal, saya sekarang perlu waktu 45 menit di dalam jalan tol. Dan pada sore hari saya masih butuh 30 menit lagi sebagai tambahan untuk jalur keluar pintu tol Slipi menuju rumah saya yang berada persis di belakang Hotel Ibis Slipi.
Itulah sekelumit pengalaman saya.
Jakarta, 25 Januari 2011.

03 January 2011

Wader Goreng


  • Kalau stok bahan mentahnya bisa didapat dengan lancar, maka membuka usaha ini di kota menjanjikan Untung. Begitu kata saya kepada teman saat kami menunggu nasi wader goreng yang kami pesan siap di sajikan, di suatu siang di sebuah warung Pak Bejo di daerah Piyungan Yogyakarta Pada Sabtu tanggal 1 Januari 2011 yang lalu.
Ide makan nasi wader datang dari kawan yang menemani kami berkunjung ke Balerante satu hari sebelumnya. Dia menawarkan akan makan dengan 'aroma' khas atau yang standar? Saat itu jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.00, sementara perjalanan kami menuju Yogyakarta masih butuh lebih kurang 45 menit dalam kondisi yang sedikit tersendat. Maka kami segera menuju jalan Piyungan dari arah Klaten. Dan persis lampu lalu lintas perempatan jalan sebelum Jalan Ring Road Selatan, kami mengambil jalan ke kiri. Disitulah kami menemukan warung sederhana dari bambu.

Dengan rasa sambel yang gurih dan pedasnya berani, nasi dengan lauk wader goreng segera lenyap kami santap. Dalam detik-detik terakhir santapan itulah, saya masih menyisakan beberapa ekor wader goreng saya sebagai suapan terakhirnya. Yahudnya setara dengan makan nasi intip!

  • Saat masih kanak-kanak, ketika wader yang menyambar umpan dari pancing kita, sesungguhnya tidak terlalu membuat kita bergembira. Kata saya ketika kami sudah berkendara untuk melanjutkan perjalanan.
  • Mengapa? Tanya kawan saya dalam rombongan yang memang hidup sejak lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta.
  • Karena, lanjut saya, kami lebih mengharapkan umpan pancing kami disambar ikat gabus atau ikan tawes. Jelas saya.
Dari situ, kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat kami kecil memperolah ikan wader ketika memancing sesungguhnya tidak terlalu membuat kami bergembira. Ini terlepas dari rasa gurih dan enaknya dari ikan wader ini dibandingkan dari dua jenis ikan yang menjadi harapan kami ketika kami memancing di sungai. Namun itulah kenyataannya. Berbeda saat ini, ikan wader, untuk saya pribadi, menjadi sebuah makanan kerinduan kami kepada masa-masa dulu ketika kami masih kanak-kanak dan hidup dalam keprihatinan.

Dan itulah yang saya rasakan sepanjang menyantap nasi dengan lauk goreng ikan wader. Teringat nostalgia yang boleh jadi tidak akan diperoleh oleh kawan kami yang bersama-sama menyantapnya di warung Pak Bejo siang itu.


Jakarta, 3-5 Januari 2011.

Sego Intip


Saya terperanjat gembira sesampainya di rumah Mamak di Wojo pada Sabtu malam tanggal 1 Januari 2011 lalu. Ini karena ketika akan makan masih tersisa sego intip atau nasi intip yang mengerak di dasar periuk nasi. Maka tanpa menyia-nyiakan waktu segera saya mengambilnya lalu menuanginya sayur dan kuah kacang panjang dan bunga pisang ke dalamnya. Yahud rasanya.

Saya bersyukur sekali bahwa ini terjadi serba pas. Pas saya sampai rumah setelah menempuh perjalanan dari Yogyakarta, dimana saya memisahkan diri dari rombongan yang melanjutkan perjalanan kembali ke Delanggu karena saya bermaksud bersilaturahim dengan Mamak saya di kampung. Pas juga saya lapar. Dan yang paling membuat saya bungah adalah pas ada makanan langka! Jenis makanan yang tidak akan ada sepanjang kita memasak nasinya menggunakan peralatan moderen seperti penanak nasi yang bertenaga listrik.

Sego Intip adalah Nasi Prihatin

Jenis makanan seperti itu bagi saya berada pada tataran istimewa. Mengapa? Karena langkanya itu. Sehingga saya sulit menjumpainya. Sering dalam sebuah perjalanan nasi intip itu telah dijajakan sebagai intip goreng. Dan saya tidak pernah tertarik untuk merasakannya. Bagi saya cita rasa tertinggi dari jenis makanan ini adalah rasanya yang sangat khas. Juga beraroma nostalgi.

Ini karena sudah nyaris 26 tahun setelah saya merantau tidak pernah lagi berjumpa dengan makanan ini. Situasi seperti ini membuat kerinduan saya meledak begitu di rumah orangtua menemukan makan istimewa di masa saya masih sekolah dan tinggal di kampung halaman.

Jenis makanan yqng selalu membuat kami, saya dan adik-adik, sumringah ketika menghadapi periuk nasi yang penuh intip atau kerak di dasar dan bagian bawah sisi periuk itu, yang semula keras kini menjadi lembek oleh kuah sayur bobor singkong muda buatan Mamak saya yang gurih. yang dengan kuah itu, maka intip yang tadinya keras dan erat menempel di periun menjadi lembek, lunak dan mudah kita sendok dan kita bagi ke dalam piring kita masing-masing. Bila perlu, dalam jatah kita yang ada di dalam piring, kita tambahkan lagi sayuran yang kita mau. Itulah puncak kenikmatan sebuah sajian makanan yang agak sulít, saya kira, bagi Anda untuk membayangkannya.

Ini karena Anda bukan orang yang pernah menjadi penghuni masa keprihatinan. Itulah maka saya menyebutnya nasi atau sego dalam bahasa Jawanyá ini, sebagai nasi prihatin. Setidaknya untuk saya.

Wojo, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

Kali Gendol


Setelah mendengar berita tentang erupsi Gunung Merapi sejak akhir Oktober 2010 lalu, nama kali ini juga turut menempel dalam ingatan saya. Tidak saja Kali Gendol yang saya ingat hingga sekarang ini. Tetapi juga masih ada Kali Krasak dan Kali Boyong.

Sayapun sempat mencoba untuk melihat secara detil keberadaan kali-kali itu dan juga wilayah-wilayah lainnya yang menjadi bagian tidak terpisahkan darí
bencana alam itu di peta yang saya punya.

Jumat, 31 Desember 2010 pukul 19:00, kami, utusan dari Sekolah Islam Tugasku Pulomas Jakarta Timur berkesempatan untuk melintasi dasar kali atau Sungai Gendol.

Perjalanan kami di lokasi ini tidak lain adalah membawa amanah sumbangan untuk warga yang tinggal di desa Balerante, Klaten, yang posisinya berada di seberang kali pada saat kami saat itu.

Untuk menuju ke SDN Balerante, kami berangkat dari sebuah warung makan tradisional yang merangkap juga sebagai posko bencana yang dikelola oleh warga setempat yang kebetulan selamat dari bahaya erupsi. Lokasi warung tersebut persis di sebelah kiri pintu gerbang masuk tempat wisata Deles
Indah. Hanya ada satu jalan menuju Balerante dari lokasi ini. Yaitu menyeberangi Kali Gendol. Hal ini akan dikofirmasi terlebih dahulu kepada Mas Jadmiko, sekalu koordinator masyarakat yang akan kita tuju. Apakah menyeberang sungai aman, meski sejak siang tidak ada hujuan di wilayah puncak Merapi. Dari konfirmasi itu disepakati bahwa Pak Jatmiko akan menjemput dan memandu kami dengan berkendaraan mobil. Kami tenteram dengan kesepakatan ini. Karena terus terang kami kawatir jika kami harus berkendara dalam menyeberang sungai.

Namun untuk menghemat waktu, karena Mas Jadmiko belum juga kunjung datang, maka perjalanan dari posko menuju Balerante di pandu oleh Pak Nur, yang juga guru SMA, dengan mengendarai sepeda motor. Lebih kurang 500 meter dari pintu gerbang Deles Indah, Pak Nur berbelok ke kiri menuju jalan kerikil yang tidak beraspel. Dan inilah awal perjalanan petualangan kami. Tidak kebayang bagi kami mampu berkendara dari tebing sungai yang berada disisi timur menuju kesisi barat sungai yang terjal dan berbatu sebelum akhirnya benar-benar 'nyebur' di dasar sungai. Saingan kami adalah para penambang pasir yang sekaligus memberi inspirasi keberanian kami.


Bagi saya yang kala itu mendapat amanah sebagai pengendara, kenyataan bahwa truk pasir hinggap hingga dasar sungai cukup memberi petunjuk bahwa kami pun akan mampu menyeberang. Ini nalar saya yang membuat kami berani mengikuti sang penunjuk jalan yang sudah berada di depan kami.

Dan itulah oleh-oleh kami dari lereng Gunung Merapi. Selain perlu juga kami sampaikan bahwa, recovery Merapi tetap akan berlangsung meski erupsi telah berlalu.

Delanggu, 1 Januari - Jakarta, 3 Januari 2011.

26 December 2010

Menjadi Trainer

Guru saya pulang dari kegiatan pelatihan. Seperti yang lain-lain sebelumnya, untuk tujuan pemberdayaan sekolah sebagai komunitas belajar, maka setiap kita yang selesai mengikuti kegiatan pelatihan, seminar, diskusi, atau kunjungan pendidikan, ada sesi untuk kita memberikan apa yang kita dapat kepada kolega kita di sekolah. Itu pulalah yang terjadi dengan guru saya ini. Ia meminta waktu khusus setelah sesi untuk teman tuntas ia lakdankan.

  • Hebat ya traíner saya. Saya ngak kebayang betapa bagusnya sekolah dimana ia menjadi Kepala Sekolahnya. Ungkap guru saya mengawali diskusi kami. Yang selain saya dan día, masih ada Kepala Sekolah TK dan Kepala SMP.
  • Siapa trainernya Pak? Tanya saya menyelidik.
  • Pak Hermanu. Kata guru saya penuh semangat. Saya senang juga jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah, dan guru itu terinspirasi akan apa yang díikutinya. Pengiriman guru untuk ikut pelatihan di luar sekolah atau kita mengundang nara sumber untuk malakukan in house traning memang bertujuan untuk terus menerus meningkatkan kompetensi Guru. Karena hanya dengan guru yang berkualitas baguslah maka sekolah kami yang swasta ini eksistensinya akan terus terjaga.
  • Pak Hermanu. Kata saya. Terus terang nama itu saya tidak asing lagi. Ia adalah salah satu Kepala Sekolah dimana kebetulan saya menjadi bagian dari Yayasannya. Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu sebagai Kepala Sekolahnya. Jadi kalau mau dilihat secara herarki, Pak Hermanu adalah masuk dalam jajaran bawahan saya. (Mohon maaf, ini hanya untuk memberikan ilustrasi kepada pembaca agar dapat memahami tulisan saya ini dengan baik. Bukan untuk menunjukkan secara detil dan vulgar tentang diri saya).
  • Apa yang disampaikan Pak Hermanu dalam pelatihan itu Pak? Tanya saya lagi. Guru saya dengan baik menceritakan beberapa hal yang inspiratif selama pelatihan yang díiiutinya.
  • Senang ya Pak kalau Kepala Sekolahnya seperti Pak Hermanu. Setiap hari selalu inspiratif. Lanjut Guru saya. Saya ikut sumringah dengan apa yang disampaikan guru saya itu. Syukurlah bahwa ia terinspirasi untuk berbuat lebih baik dan lebih profesional.

Terlepas darí itu, saya sangat mensyukuri bahwa keberadaan Pak Hermanu, sebagai Kepala Sekolah dimana saya membantu teman yang lain di Yayasan yang mengelola sekolah dimana Pak Hermanu berada, mampu memberikan inspirasi kepada teman-teman guru sekolah lain dengan menjadi trainer. Saya berharap bahwa aura positif itu pula yang tumbuh dan berkembang dimana Pak Hermanu sebagai leader di sekolahnya.

Namun dalam sebuah kesempatan di kemudian hari, saya bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman guru yang menjadi bawahan Pak Hermanu di sekolah dalam pertemuan, dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, saya mendapat fakta atentang Pak Hermanu yang justru kebalikannya. Kenyataan itu memberikan keyakinan kepada saya akan informasi selama ini melalui email atau pertemuan informal dengan beberapa diantara teman-teman itu. Yaitu yang berkenaan secara operasional keberadaan Pak Hermanu, yang tidak cukup memberikan kesan positif dalam pengembangan profesionalisme guru-guru yang menjadi kewajibannya. Meski itu sangat dirindukan teman-teman. Bahkan ada komentar salah satu darí teman itu: "Pak Agus, saya tidak bangga sama sekali dengan sekolah ini, meski punya Kepala Sekolah yang menjadi trainer standar nasional".

Dari statmen itu, saya mencoba untuk merefleksi diri. Jangan sampai saya dihinggapi sakit memberikan sesuatu yang bukan atau belum terjadi di sekolah sendiri dalam setiap posisi menjadi trainer. Atau apalah namanya. InsyaAllah. Amin.

Jakarta, 26 Desember 2010.

19 December 2010

"Anda Harus Tahu, Saya ini Pejabat!"

Ini kisah perilaku kampungan yang lain lagi dari saya. Bukan saya sendiri pelakunya, karena saya cukup tahu diri dari mana asal usul saya, namun teman-teman saya yang pernah menjadi korbannya. Seperti judulnya, maka kisah ini akan mempertunjukkan kepada kita, InsyaAllah, betapa masih ada orang-orang pintar atau orang-orang yang benar-benar menjadi orang penting atau menjadi pejabat, yang ada di sekitar kita, yang harus menyebutkan posisi kerjanya atau jabatannya yang mungkin menurutnya paling mulia di dunia ini. Pasti untuk tujuan pengakuan dari lawan bincangnya.

Seperti kita pahami bersama bahwa sebagai perilaku, ia bisa sekali hinggap pada diri siapa saja. Termasuk saya dan Anda. Tapi sekali lagi, karena asal usul saya yang memang 'kismin 'dan ndeso dari sananya, justru itu membuat saya ngak pede. Apakah orang kota, orang desa, orang kampung, atau bahkan orang norak sekalipun bisa terjangkit sakit ini. Penyakit yang tidak pandang bulu asal muasalnya. Sebagai perilaku yang bisa menjadi milik siapa saja, ia punya prinsip dasar saat menghinggapi seseorang. Yaitu manakala orang tersebut merasa dirinya yang paling pintar diantara orang disekitarnya. Yang merasa paling berkuasa, yang paling penting, yqng paling apa saja. Biasanya perilaku ini akan menjadi karakter sombong atau angkuh. Munculnya seperti yang saya katakan semula, terlalu percaya diri untuk menghargai dirinya lebih dari pada orang lain.

Akibatnya turunannya atau implikasi selanjutnya yaitu penyakit bebal sosial atau bodoh horisontal. Artinya ia tidak tahu dan tidak sadar kalau día sedang sakit bebal. Padahal orang di sekitatnya melihat día tidak lebih baik atau sama dengan, dengan apa yang ada dalam benaknya.

Kisah ini tentu saya tulis karena beberapa orang yang saya kenal mengalami trauma akibat penyakit kampungan ini. Mungkin juga pernah Anda derita. Seperti kawan saya ini. Ia mendapat telpon dari orang yang kecewa karena terlalu cepat memberikan penilaian. Maka nada bicaranya yang tinggi hati dan mendikte, keluarlah umpatan kampungannya: "Ibu harus tahu ya, saya itu siapa. Saya Pejabat! Saya anggota ..." .

Tentu Anda dapat membayangkan bagaimana bahasa tubuh orang tersebut saat kata-katanya meluncur. Lebih-lebih saat ia mengatakan "Saya Pejabat. Saya anggota...". Pasti mimik mukanya sinis dan siap menelan Anda. Dan jika Anda atau saya kebetulan di depannya, hanya akan dilihatnya tidak lebih daripada kutu busuk yang sudah siap dilumat benda keras.

Repotnya, orang kampungan model seperti ini tidak bergentayangan di terminal bis kota atau stasiun kereta api. Namun justru menjadi bagian dan penghuni kantor-kantor keren. Yang kalau untuk menjadi korp disitu harus melalui pesta demokrasi yang maknanya tidak beda dengan pesta bagi rezeki.

Dan meski posisinya 'terhormat', karena begitulah orang menyapa ketika dalam rapat resminya, tetap saja mental kampungan itu membuat orang memposisikannya rendah. Tentu tetap ada saja yang menyanjung-nuanjungnya sebagai orang terhormat, yaitu orang-orang bermental penjilat yang mengharapkan materi darinya.

Untuk itulah, maka saya sampaikan kepada kawan itu agar menghadapi orang-orang kampungan itu dengan mendoakannya agar diberikan keinsyafan. Karena seperti sejarah telah membelajarkan kepada kita bahwa kehormatan hanya dapat dimiliki oleh mereka yang memiliki sifat, perilaku atau karakter yang bertanggung jawab, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, kerja sama, sopan, peduli, hormat dan sabar. Bukan mereka yang berperilaku kampungan sebagaimana yang saya sampaikan di atas.

Mudah-mudahan Anda percaya dengan kesimpulan saya ini. Dan saya tidak berharap Anda sendiri punya rasa bangga diri yang berlebihan tanpa bisa mengontrolnya, sehingga lupa kalau sikap itu adalah titik tolak menjadi kampungan.

Jakarta, 18-19 Desember 2010

17 December 2010

Di Sebuah Pasar, Saya Menemukan 'Cermin'

Pagi Ahad tanggal 12 Desember 2010 sekitar pukul 05,30 saya bersama tiga teman telah meninggalkan rumah yang kami tumpangi untuk bermalam. Sebuah daerah yang sesungguhnya hanya berjarak 55 kilometer dari tempat dimana saya dibesarkan di kampung Wojo. Dengan berjalan kaki, untuk sekedar jalan-jalan sekaligus pengenalan lingkungan. Tempat yang kami tuju dalam perjalanan mencari angin pagi ini, kami sepakati adalah Pasar Sentolo. Yang letaknya tidak begitu jauh dengan rel kereta api ganda jurusan Yogyakarta- Wates, yang jarak antara rumah yang kami tumpangi ke pasar itu tidak lebih dari dua kilometer saja.

Sampai di pasar, saya segera menghirup aroma kerinduan. Kerinduan akan sebuah masa di empat puluh tahun yang lalu, di masa kecil saya, yang tinggal di Wojo. Rindu dengan pasarnya. Yang dulu semarak dengan pedagang dan pembeli, yang memenuhi pelataran pasar hingga saya merasa kesulitan untuk masuk melalui gapura yang gagah bertuliskan Pasar Wojo, yang sekarang bangunan pasar itu telah roboh dan berganti dengan bangunan puskesmas pembantu. Yang alhamdulillah di ramai pasien darí daerah sekitar. Rindu dengan stasiun kereta apinya yang peronnya dipenuhi oleh buah kelapa, sapu lidi daun pisang,yang terlipat apik, gula jawa dan segala pernak pernik dagangan dari kampung untuk diperjualbelikan di Pasar Kranggan Yogyakarta. Dan pastinya para pedagang yang empunya dagangan untuk menunggu kereta kluthuk, atau kereta berbahan bakar kayu. Rasa kangen akan kesibukan sebuah stasiun kereta api yang sekarang tidak sibuk lagi dengan penumpang yang berangkat dan datang. Stasiun yang sekarang tambah tampak muda tetapi justru sepi pemakai. Aroma kerinduan itu mengiringi saya selama perjalanan mengitari los-los pasar di Pasar Sentolo itu. Ada juga rasa iri. Mangapa pasar ini masih begitu ramaii dengan aktivitas jual beli dan pasar di kampung saya tidak?

Disana saya jumpai penjaja palawija, buah dan daun pisang, tikar dari mendong, gethuk, klembak menyan dan tembakau, dan tidak ketinggalan growol yang terbuat dari singkong serta tempe benguk. Saya mengajak teman untuk membeli sedikit jajanan itu. Untuk kemudian kami santap dengan teman teh manis di sebuah warung gorengan yang ada di seberang pasar. Kawan yang sejak kecilnya tinggal di kota banyak bertanya tentang makanan yang kami makan.

Mereka begitu heran manakala saya bercerita kalau salah satu makanan yang kami sedang santap itu adalah jenis makanan yang dulu menjadi salah satu makanan pokok di keluarga saya. Seperti growol misalnya. Dan makanan growol itu, kembali mengingatkan saya pada masa kecil saya yang prihatin.

Mereka bertanya kepada saya mengenai asal dan proses pembuatan darí makanan-makanan itu. Sebagian saya bisa jelaskan secara baik karena saya tahu persis bagaimana Mamak saya memasaknya. Namun sebagian yang lain lagi saya telah lupa bagaimana makanan itu diproses sebelumnya.

Sebelum meninggalkan pasar itu, sekali lagi saya ajak teman-teman untuk masuk pasar pada bagian dalam dari sisi yang lain. Dan saya menemukan penjual alat pertanian seperti cangkul, arit, pisau, golok, sekop serta alat yang lainnya. Dan karena saya ingat betapa susahnya saya memotobg tulang kaki hewan kurban pada Idul Adha lalu, maka saya tertarik untuk membeli pethel.

Itulah catatan saya tentang perjalanan ke Pasar Sentolo. Sebuah catatan untuk Bapak dan Mamakku yang telah membelajarkan diriku bagaimana hidup dalam kondisi yang prihatin. Perjalanan di pasar itu, seperti saya sedang napak tilas. Seperti sedang bercermin...

Sentolo, 12 Desember 2010 - Jakarta, 17 Desember 2010.

16 December 2010

Guru Kelas 1 SD

Bagaimana membelajarkan siswa menulis dan membaca di kelas satu sekolah dasar? Setidaknya inilah pengalaman saya di saat awal-awal saya menjadi guru SD kelas satu, tahun 1986 hingga tahun 1992 di Sekolah Islam Al Ikhlas, Cipete, Jakarta Selatan. Meski mungkin ini pengalaman yang kurang mengena buat Anda. Tetapi inilah fondasi bagi karir saya sebagai pendidik hingga hari ini, yang harus saya ikat dalam tulisan.

Tahun 1986, diusia saya yang masih belia untuk memegang amanah sebagai pendidik di sekolah formal. Tetapi itulah realita yang harus saya jalani. Lulus dari sekolah pendidikan guru (SPG) yang setingkat SMA tahun 1984, dan pada Juli '86 benar-benar memegang amanah penuh sebagai guru kelas. Yang berarti diusia saya yang ke 22 tahun.

Dengan 40 siswa yang ada di dalam kelas. Dengan pengantar para Suster dan Ibu-Ibu yang saya kira berusia tidak jauh terpaut dengan saya. Dengan kebiasaan mereka menunggu di depan kelas atau bahkan dengan wajah yang melongok ke dalam kelas melalui jendela kelas sepanjang waktu putra atau putri mereka ada dalam jam belajar bersama saya. Kenyataan seperti ini sungguh membuat saya menjadi sangat tidak nyaman untuk mengajar. Maka lengkaplah beban tugas saya itu memberati batin dan pikiran saya. Tertekan.

Beruntung bahwa, saya menyimak sekali apa yang menjadi pesan guru mata pelajaran Pedagogi dan juga guru Metodologi Belajar dikala SPG agar kita menguasai lagu-lagu anak dan juga beberapa cerita anak. Terutama bila kita bertugas mengajar atau menjadi guru di kelas rendah di SD. Dengan modal itulah saya mengawali jam, hari, minggu, dan bulan pertama saya dengan menyanyi dan bercerita. Dan saya relatif mendapat 'simpatí' siswa. Namun apakah selesai dengan simpati yang telah saya peroleh? Belum. Karena satu tahun pelajaran ada selama tiga catur wulan. Maka inilah lebih kurang catatan saya sepanjang perjalanan itu. Paling tidak sedikit kilas balik tentang apa yang pernah saya alami dulu. Yang tentu saja berbeda sama sekali dengan kondisi kelas rendah di SD saat ini. Berbeda.

Catatan masa lalu yang bagaimanapun serta apapun juga, adalah fondasi bagi pertumbuhan diri saya selanjutnya dalam menapaki amanah sebagai guru. Masa yang selalu menjadi bagian yang akan melekat dan tidak terpisahkan dalam hidup saya. Yang selalu menjadi unsur dalam pertumbuhan profesionalisme dan etos kerja saya.

Belajar Menulis

Salah satu tugas berat saya sebagai guru kelas satu SD adalah belajar menulis. Bahkan Pada hal yang paling awal sekalipun dalam belajar. Kendala dalam belajar menulis itu tidak pernah menjadikan saya tertekan. Seperti yang saya sampaikan di atas, rasa tertekan justru datang karena pada hari-hari pertama mengajar dengan beberapa siswa yang ditungguin Ibu dan baby sitter-nya. Bahkan dua tiga atau bahkan empat orangtua siswa duduk bersama anaknya di dalam kelas ikut proses belajar. Itulah situasi menekan yang tidak bisa tidak harus saya hadapi dengan lapang dada dan tabah.

Mungkin siswa tidak mau ditinggal dan selalu minta ditungguin karena merasa tidak nyaman dan meresa takut. Dan boleh jadi perasaan itu muncul antara lain karena sayanya. Mungkin juga karena situasinya. Sehingga rasa percaya diri itu menjadi miliknya. Syukurnya situasi demikian berlangsung hanya pada bulan peertama di catur wulan awal saja. Selanjutnya saya dapat dengan lega menghadapi siswa tanpa ada orangtua dan baby sitter.

Tetapi mungkin darí sinilah beberapa orangtua yang ikut duduk di samping anaknya yang belum berani ditinggal itu melihat dan menghitung bagaimana repotnya saya yang harus membukakan buku tulis anak-anak dan halamannya sebelum belajar menulis dimulai. Dan ini harus saya lakukan untuk ke-40 siswa yang ada di kelas. Jadi kalau saya membantu menyiapkan buku tulis siswa mulai dari deretan tempat duduk paling kanan dari baris depan sampai baris belakang terus hingga deret bangku paling kiri. Maka belajar menulis mungkin baru siap 15-20 menit sesudah saya meminta mereka membuka buku. Ini mungkin salah satu yang beda antara kelas satu SD waktu itu dengan sekarang.

Belajar Membaca

Lalu bagaimana dengan kegiatan belajar membaca? Ini juga menjadi tugas berat saya yang lain lagi. Inipun saya lakukan di kelas dengan romantika yang berliku. Karena pada akhir empat bulan pertama masih ada lebih kurang sepuluhan siswa yang masih terbata-bata mengeja huruf saat membaca.

Maka dari sekian puluh siswa saya itu saya berikan tambahan waktu belajar. Pada saat itulah saya dapat benar-benar menikmati bagaimana seorang anak menggunakan sarana berpikirnya dalam 'belajar' membaca. Darí sinilah saya menemukan metode konsisten. Yaitu strategi atau cara untuk membantu siswa agar bisa membaca. Sebuah strategí yang terus menerus kita gunakan. Dengan belajar membaca seperti ini sangat dimungkinkan siswa yang bisa membaca belum tentu akan menjadi suka membaca karena mereka belum tentu tahu apa arti kata-kata yang dilafalkannya. Sebaliknya siswa yang gemar membaca pasti adalah yang bisa membaca.

Saya menggenalkan cara suku kata untuk membelajarkan mereka bisa membaca. Siswa saya sodori suku kata na ni un ne no. Sebelumnya huruf vokal a i u e o. Dari modal ini saya mengajak siswa untuk membuat kata. Ana ani ina nana nina nani dan seterusnya. Persis seperti belajar Iqra dalam membaca Al Qur'an. Konsistensi ini membuahkam hasil. Maka pada akhir tahun pelajaran saya mendapati siswa saya telah bisa membaca.

Bisa vs Suka Membaca

Tahap berikut setelah siswa bisa membaca adalah bagaimana supaya mereka suka membaca. Karena ketika melafalkan teks bahasa tidak dipahami maknanya, maka kegoiatan membaca hanya sebatas menyelesaikan tugas. Dia menguap begitu saja tanpa bekas. Namun kenyataan ini tidak menjadi kesadaran saya seketika dikala itu. Kenyataan ini saya sadari setelah siswa tetap kesulitan memberikan makna terhadap teks yang dibacanya sehingga mereka tetap kesulitan menjawab pertanyaan saat ulangan berlangsung di akhir catur wulan.

Apa usaha saya? Sesering mungkin saya meminta siswa untuk membaca bacaan untuk kemudian saya mengajak mereka memberi makna. Saya memberikan pertanyaan; Siapa yang menjadi tokoh dalam cerita itu? Siapa tokoh baiknya? Siapa tokoh yang tidak baik? Apa yang membuat kita suka pada tokoh baik? dan seterusnya.

Tidak jarang saya memberikan pekerjaan rumah bebas seputar membaca dan menulis ini. Misalnya; Dikte bebas dengan ayah atau ibu 10 baris dengan menulis huruf sambung. Atau; Membaca cerita bebas. Saya melihat dengan cara ini siswa menikmati. Karena empat atau tujuh dari cerita mereka akan sauya bacakan setelah saya mengoreksi dan memberikan ponten.

Inilah kisah saya di kelas satu...

Jakarta, 7-18 Desember 2010.

04 December 2010

'Dasboard'


Istilah dashboard yang kemudian berkorelasi dengan sekolah ini mencengangkan saya dan juga beberapa teman, yang menjadi peserta dalam Leadership Forum ANPS-BI, Pada Jumat tanggal 26 Nopember 2010 di Bali. Menjadi mencengangkan karena presenter mempersonifikasi fungsi leader di sekolah sebagai pengendara kendaraan, dan fungsi dasboard di dalam kendaraan bermotor. Di dalam kendaraan, indikator yang terdapat dalam dasboard memberikan informasi tentang perform kendaraan bagi pengendara. Dan dengan informasi tersebut pengendara akan menjadi yakin dengan kondisi kendaraannya untuk sebuah perjalanan yang akan dijalaninya.

Bagaimana di sekolah? Disinilah letak irisan antaranya. Pada sisi ini presenter mengajukan pertanyaan kepada kami; Indikator apa yang Anda inginkan tentang sekolah yang Anda pimpin, yang harus muncul di dasboard Anda? Lalu kepada kami diberikan waktu untuk berdiskusi apa saja indikator yang menurut kami penting untuk ada. Dan ternyata tidak semua kami dapat menyepakati. Masing-masing kita memiliki karakteristik dan level sekolah yang berbeda. Yang membuat ekspektasi jenis indikator yang tidak sama satu sama lainnya.
Saya sebagai wakil dari sekolah nasional, teman sebelah kiri saya yang adalah wakil dari Sekolah RSBI, sebelah kanan saya dari sekolah nasional plus atau lebih tepatnya dari sekolah internasional minus, depan saya dari sekolah IB, memiliki persfektif berbeda saat mendifinisikan indikator apa yang harus ada di dalam dasboard sekolahnya masing-masing. Teman-teman ada yang menyebutkan bahwa indikator yang selalu harus nongol dalam 'dasboard'nya adalah student assessment, yang lain menyebutkan tentang learning strategies, yang lain lagi menyebut tentang kahadiran guru dan karyawannya.
Dari sini, dari jenis jawaban yang kami buat tersebut, saya menjadi tergelitik dan berpikir bahwa indikator yang kepala sekolah sebut tersebut menunjukkan gradasi kualitas sekolah. Apakah sekolah tersebut masih berkutat dengan urusan kehadiran guru, atau sudah masuk tentang kualitas interaksi guru-siswa, atau juga apakah sudah masuk dalam bagaimana mereka memberikan pelayanan lebih optimal kepada pengembangan potensi siswanya.
Dengan berkaca dari jawaban teman-teman itu, menurut saya, sekolah yang bagus tidak lagi menjadikan absensi guru sebagai indikator mereka. Bukan berarti bahwa kehadiran guru tidak penting untuk menjadi indicator dalam dashboard-nya, tetapi sekolah dan komunitasnya sudah berpikir bagaimana meningkatkan kualitas interaksi instruksional di dalam kelas dalam ranah berpikir analitis. Guru dan karyawan di sekolah semacam itu telah memiliki etos kerja dengan komitmen yang tinggi.
Sementara di sebagian sekolah lainnya, pimpinan sekolah masih sibuk dengan morning sms. Karena nyaris setiap hari ada saja gurunya atau stafnya yang tidak masuk kerja. Apakah karena ada anggota keluarganya yang sakit, atau malah dirinya sendiri yang tidak enak badan, atau karena untuk mengurus surat, dll. Pendekkata, dari 40 syafnya yang terdiri dari guru dan karyawan, nyaris selalu ada saja yang tidak dapat masuk kerja. Dan berita itu akan día terima pada setiap pagi melalui telpon atau sms untuknya. Itulah morning sms yang paling tidak dia kehendaki.
Dan itu pulalah dasboard yang dimaksud dalam tulisan ini. Lalu apa indikator yang yang harus ada di dashboard, di Sekolah Anda?
Jakarta, 4 Desember 2010.

02 December 2010

UN, Pemetaan, dan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Hingga hari ini, Kamis tanggal 2 Desember 2010, pernyataan Menteri Pendidikan Nasional tentang Ujian Nasional masih menjadi bahan diskusi teman-teman di milis. Pernyataan itu bernada ketidak setujuan Menteri terhadap sebagian orang yang berpendapat bahwa kalau Ujian Nasional tidak perlu diselenggarakan jika pemerintah belum siap dengan formula revisi Ujian Nasional sebagaimana yang dipersyaratkan oleh DPR. Yaitu agar hasil Ujian Nasional tidak memveto kelulusan siswa seperti yang selama ini terjadi. Karena jika ini yang masih terjadi, maka apa yang menjadi diskusi agar waktu dan hasil belajar siswa selama berada di jenjag pendidikan yang ditempuhnya tidak terbuah sia-sia oleh peristiwa tiga (4) atau enam (6) hari dalam pelaksanaan UN.

Komentar menteri yang terasa janggal dinilai oleh para pendidik yang tidak dalam barisannya adalah ketidak setujuan menteri untuk menghapus atau meniadakan UN. Bahwa jika itu pilihan yang dijatuhkan, maka kita akan memanjakan siswa yang adalah anak-anak kita sendiri.

Pada Jumat, 26 Nopember 2010 yang lalu, penulis berkesempatan untuk meminta pandangan dari Prof. Paulina dari SEE Jakarta saat rekat makan siang di acara Leadership Forum ANPS-BI di Legian Bali.

  • Apa keberatan kita tentang penghapusan UN yang ada? Tanya saya.
  • Karena jika tidak ada, kita tidak memiliki satu standar yang berlaku secara nasional sebagai bahan untuk pemetaan pendidikan di tanah air. Maka yang terjadi selanjutnya, pemerintah atau lembaga luar akan masuk dan melakukan pemetaan. Jelasnya.
Pada sisi ini saya paham sekali. Artinya, jika pemetaan atas kualitas pendidikan dapat diketahui, maka langkah berikutnya adalah langkah perbaikan atau peningkatan atau pengembangan dari tiap-tiap daerah tersebut. Pada titik ini saya bertanya pada diri sendiri; Apakah lingkaran seperti ini selama ini dijalankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan? Tidak bisa saya jawab. Mungkin sudah tetapi mungkin juga belum. Karena sebagai bagian dari sekolah swasta yang dinamakan pembinaan oleh pengawas pendidikan kepada teman-teman guru di sekolah saya selalu memperoleh feedback cukup sebagai nilai maksimal mereka?

  • Tapi mengapa setelah UN dilaksanakan tetapi juga masih mejadi polemik? Tanya saya selanjutnya.
  • Karena hasil UN tersebut masih menjadi tolok ukur kelulusan. Jelasnya.
Diskusi saya dengan Prof. Paulina tidak berhenti disitu. Kami masih diskusi banyak hal tentang pendidikan dan khususnya guru. Termasuk juga pendapat guru PNS dan guru swasta. Namun semua itu harus berhenti ketika waktu rehat berakhir.

Jakarta, 2 Desember 2010.

28 November 2010

Belajar dari Kisah Lampu Lalu Lintas


Apa yang saya tuliskan ini adalah apa yang saya baca dari dinding facebook saya. Tulisan itu sederhana saja. Sulit untuk mengatakan bahwa tulisan itu tanpa tendensi apapun dari penulisnya selain hanya memberikan laporan pandangan mata. Karena ada dua kata kunci di awal kalimatnya yang berbunyi: Jangan seperti. Dan dua kata itu dalam kalimat itu membimbing saya sendiri, dan mungkin pembaca lain, untuk menemukan kunci apa yang menjadi maksudnya. Yaitu mengingatkan kepada kita semua yang masih menjadi pelaku atau yang masih berkontribusi dalam kehidupan sosial dalam bentuk apapun di dunia ini untuk terus memperbaiki diri dan sadar akan tugas dan fungsinya.

Secara persis tulisan itu saya sudah lupa karena tulisan itu telah berlangsung beberapa waktu yang lalu. Namun karena kesan yang dalam terhadap tulisan tersebut, maka secara esensi saya masih dapat mengingatnya. Lebih kurang tulisan itu berbunyi: Jangan seperti lampu lalu lintas di dekat rumah saya, kalau lampu lalu lintas itu mati atau tidak berfungsi justru jalanan menjadi lancar. Sebalilknya, jika menyala dan berfungsi malah menjadi sumber kemacetan.

Tulisan yang adalah murni laporan kajadian atas fakta lapangan yang ada. Namun dalam ranah kehidupan kita, adalah bentuk metapora dari realitas kepincangan yang terjadi dalam sebuah sistem dan peran seseorang yang ada di dalamnya. Sebuah contoh konkrit dari salah satu perilaku buruk yang terdapat dalam sebuah lembaga. Contoh yang sangat cerdas sekaligus orisinal. Cerdas, karena realita tersebut benar-benar potret dari sebuah pembusukan yang terjadi dalam sebuah sistem atau lembaga. Orisinal, karena kenyataan bahwa tidak semua sistem lampu lalu lintas dapat berjalan efektif sebagai mana tujuan yang diinginkannya.

Saya pribadi sebagai individu, merasakan getaran kebenaran atas realita tersebut. Dan saya tergerak untuk menuliskannya disini sebagai refleksi diri dalam proses pertumbuhan saya. Terus terang, dalam diri saya dan kapasitas saya sebagai bagian dari sebuah sistem dalam sebuah lembaga yang kadang memiliki fungsi sebagai lampu lalu lintas saat sebuah kebijakan dibuat dan dioperasionalkan. Kalimat itu telah mampu menohok rasa ketersingungan yang dalam pada akal sehat saya. Juga pada hati nurani saya. Kalimat itu telah benar-benar memberikan peringatan kepada saya dengan metapora yang apik, cerdas, sekaligus sarkastik.

Dalam posisi saya sebagai pembaca, kalimat itu tidak secara gamblang diamanatkan kepada saya. Tetapi untuk alasan kesehatan sosial, kalimatnya itu saya jadikan wahana pembenahan diri. Khususnya pada kalimat yang menyatakan bahwa keberadaannya justru menjadi sumber kemacetan.

Tulisan itu juga membawa saya untuk mengutip apa yang ditulis oleh Kitami Masao dalam Novelnya The Swordless Samurai. Katanya: Kesalahan-kesalahanku yang terbesar bisa dianggap berasal dari satu kelemahanku: kesombongan. Ketika kekuasaanku semakin tinggi, aku mulai memercayai mitos tentang kehebatanku sendiri. Setelah berhasil menyatukan Jepang, seharusnya aku lebih berkonsentrasi membawa Negara dalam kedamaiandan kemakmuran yang lebih tinggi. Tapi aku malah mencari kejayaan di seberang lautan. Misiku yang congkak akhirnya menimbulkan Perang Tujuh Tahun di Korea dan China, yang tidak diragukan lagi adalah kegagalan terbesar dalam hidupku. (Kitami Masao: The Swordless Samurai.2007;242).

Meski saya sendiri tidak mungkin mempersonifikasikan sebagai Toyotomi Hideyosi, sang samurai tanpa pedang itu, namun dengan sadar akhirnya saya menghitung plus minus dari keseluruhan kontribusi yang saya mampu berikan dalam bingkai kemaslahatan lembaga pemberi amanah. Tapi lagi-lagi, kemauan untuk itu dibayangi subyektivitas, yang jika saya teruskan justru mengarah kepada kontraproduktif. Karena berujung kepada pembelaan diri.

Terlepas dari bela diri atau tidak, proses introspeksi harus menjadi bagian vital bagi saya dalam mengemban posisi yang menjadi amanah pemilik lembaga. Agar pembusukan perilaku amanah dapat dibelokkan menjadi keluhuran. Meski pengunduran diri dari sistem tersebut yang menjadi pilihannya. Seperti pesan di akhir novel Kitami Masao tersebut.

Mengapa tulisan itu begitu bermakna bagi saya?

Karena saya, dan pasti juga Anda, merasa bahwa memikul amanah dari sebuah lembaga adalah berat. Ini mungkin saya merasakan kalau kapasitas yang saya miliki dan kontribusi yang mampu saya berikan, tidaklah sebesar anggapan atau penilaian pemberi amanah.

Untuk itulah, melalui bantuan Anda para pembaca, saya selalu bermohon kepada Yang Maha Memiliki untuk diberikan kemampuan membaca ‘tanda-tanda zaman’ dan sensitif selalu pada hati nurani.
Mungkin itulah tafsiran saya tentang metapora lampu lalu lintas itu. Allahua'lam.

Padma Resort, Legian, Bali-Slipi, Jakarta, 26-28 Nopember 2010