Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

22 February 2024

Doa Arafah

Mengaminkan Doa yang disampaikan oleh Habib Novel Alaydrus pada hari Arafah pada hari Selasa, 27 Juni 2023 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1444 H
 

Selepas waktu Ashar pada hari Selasa, 27 Juni 2023 atau bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1444 H, seluruh jamaah Haji dari Diyo Siba berkumpul di halaman tenda menghadap ke arah Mekkah Al Mukaramah untuk memanjatklan doa bersama yang dibimbing oleh Habib Novel yang menjadi bagian dari kafilah haji kami. 

Doa disampaikan dalam untaian kalimat yang menyentuh dan mengena pada jiwa kami yang sedang menyorongkan harapan penuh keyakinan akan berbagai hal. Baik terhadap apa yang telah berlangsung di masa lalu dan juga keinginan untuk masa depan yang lebih baik. Doa untuk kami sendiri, kerabat dekat dan kerabat jauh. Juga untuk semua kolega termasuk kepada jajaran yang memimpin kami dalam kami bekerja.

Doa bersama ini menjadi pelangkap dari seluruh lantunan doa yang secara pribadi telah dan terus dilantunkan para jamaah, juga bersama dengan pasangan jamaahnya masing-masing atau juga dalam rombongan kecil lagi. Sebagaimana dalam rombongan kami ada yang berasal dari satu daerah. Seperti dari Wonosobo yang lebih kurang ada 30 jamaah. Dari wilayah Sumatera lebih kurang ada 15 jamaah. Dari Lumajang lebih kurang ada 30 jamaah. Dari Kalimantan dan Sulawesi yang masing-masing terdapat lebih kurang 10 jamaah. 

Saya bersama istri telah mem[ersiapkan doa-doa yang akan kami sampaikan dimanapun di lokasi yang kami kunjungi selama prosesi haji itu.  Dalam buku kecil warna coklat, saya menuliskan poin-poin doa itu dan juga kepada siapa saja yang menjadi tujuan permohonan saya.

La haula wala quwwata illa billah. Allahumma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Jakarta, 22 Februari 2024.

 

21 February 2024

Pak Ponimin Sehat

Foto bersama Pak Ponimin. Teman 1 kamar asal dari Sijunjung, Sumatera Barat. Foto seusai shalat di Masjid Nabawi pada hari Jumat, 9 Juni 2023..

 

Ketika semua rombongan tiba di Madinah, pada pagi hari sekitar pukul 08.00 di hari Senin, 5 Juni 2023, kami disambut oleh perwakilan pejabat Kemendag yang bertugas di Saudi Arabia. Hal ini mengingat rombongan kami adalah rombongan Haji Plus untuk kloter pertama. 

Penyambutan dilakukan begitu kami turun dari bus di depan pintu Hotel MovenPick, Madinah.  Serupa halnya ketika kami berangkat dari Jakarta, beberapa pejabat dari Kemenag RI juga memberikan sambutan dan ucapan selamat jalan saat sebelum kami melakukan boarding.  

Dan hingga masuk hotel di Madinah itu, saya belum mengenal siapa saja yang akan menjadi teman sekamar. sudah ada pembagian kamar ketika kami berada di Soeta, namun karena ada lebih kurang 150 jamaah dalam rombongan kami, maka teman-teman satu kamar itu belum saya temukan.

Sudah saya coba untuk bertanya kepada jamah yang saya jumpa saat di bandara keberangkatan maupun saat antri di toilet ketika pesawat baru sampai di Bandara Jeddah, namun nama-nama yang ada dalam list, belum juga saya jumpai.

Dan ketika waktunya tiba pembagian kunci kamar hotel, satu persatu teman satu kamar saya temukan dan kami saling untuk berkenalan dan bercengkerama. Ini mengingat dalam 1 kamar kami berempat.

Maka teman-teman sekamar itu berjumpa dan saling mengenalkan dan akhirnya menjadi saudara karena 30 hari lamanya kami bersama. 10 hari di kota Madinah, 10 hari di kota Mekkah, dan 10 hari di Aziziyah.

Mereka adalah H Darto asal Surabaya yang berusia lebih kurang 50 tahun. H Ogi yang muda dan segar dari Bekasi yang masih berusia 28 tahun dan masih singgle, Haji Ponimin asal Sijunjung yang telah 75 tahun dengan fisik yang gagah dan sehat segar.

Dalam irama ibadah sepanjang perjalanan haji itu, maka kebersamaan saya dengan Pak Haji Ponimin relatif dan lumayan intens. Beberapa saat sebelum azan berkumandang, kami menyusuri mall menuju shaf shalat yang masih tersedia di dalam Masjid Nabawi. Begitu setiap saat di kala waktu shalat. 

Saya selalu mengkonfirmasi keadaan beliau di kala sedang melaju di perjalanan. melangkah sedikit cepat namun tetap tidak tergesa-gesa. Beliau selalu menjawab; "Siap Pak Agus. Lanjut saja. Saya tidak ada masalah dengan jalannya. Saya biasa melakukan perjalanan. Jadi lanjut saja. Saya mengikuti Pak Agus di belakang."

Dan ketika perjalanan waktu satu pekan berada di Madinah dengan irama fisik sebagaimana yang saya gambarkan, Pak Ponimin mengalami sesak napas yang lumayan hebat. Upaya pertolongan dengan urut dan minum obat dokter yang bertugas di dalam rombongan tidak membuahklan hasil maksimal. Hingga akhirnya kami semua panik ketika mendapat beliau benar-benar merasakan kepayahan. Dalam situsasi demikian, tidak ada jalan lain selain membawa Pak Ponimin ke Rumah Sakit. 

Alhamdulillah, beberapa hari setelah itu, Pak Ponimin kembali ke kamar dengan kondisi lebih segar dari waktu sebelumnya. Kami senang dengan keadaan itu, dan kami sepakat untuk tidak terlalu spartan dalam aktivitas ke Masjid Nabawi, khususnya bila bersamaan dengan beliau.

Jakarta, 21 Februari 2024.

20 February 2024

Arafah #3

 

Foto bersama dengan Pimpinan  Diyo Siba di depan tenda Arafah. Menjelang waktu Maghrib di tanggal 9 Dzulhijjah bersamaan dengan hari Selasa tanggal 27 Juni 2023












Kami tinggal bersama rombongan jamaah haji Diyo Siba di Padang Arafah kurang dari satu hari penuh. Sebagaimana kami sampai di Arafah pada hari Selasa tanggal 27 Juni 2023 sekitar pukul 10.00. Selepas waktu dhuha dan menjelang Dzuhur setelah kami datang dari Mina untuk melaksanakan tarwiyah. 

Dan setelah kegiatan usai pada hari dan tanggal tersebut, setelah melaksanakan shalat Isyak, maka perjalanan berikutnya yang kami nantikan adalah bus penjemput yang akan membawa kami menuju ke Masjidil Haram untuk melanjutkan prosesi haji; thawaf, sa'i, dan tahalul awal. Artinya, pada posisi kami di Arafah, saya tetap memiliki rasa was-was sekaligus khawatir, meski tidak ada pemikiran yang tidak baik pada kegiatan dan prosesi berikutnya dari perjalanan haji. 

Mengapa? Karena inilah perjalanan haji saya yang kali pertama. Jadi posisi batin inilah yang menjadikan saya untuk tetap dan selalu mempersiapkan diri. Sebagaimana yang selalu pembimbing haji sampaikan saat berada di tenda atau juga di dalam bus. Agar kita selalu mempersiapkan diri baik fisik atau psikis. Harus lembah manah. Sabar.

Bus 1 datang mengambil teman-teman kami saat waktu telah menujukkan pukul 21.000 pada hari yang sama. Sementara bus 2, dimana saya berada di dalamnya, datang di tenda sekitar pukul 23.00. Dimana suasana di Padang Arafah sudah mulai ditinggalkan para jamaah haji sehingga suasana mulai sepi.

Dan dari cerita teman-teman yang ada di Bus 3 dan bus 4, maka mereka sempat diliputi rasa lelah sehingga melahirkan emosi ketidak puasan. Seperti yang dialami oleh rombongan teman-teman yang ada di bus 4, dimana bus yang akan menjemput tidak juga kunjung datang hinga pukul 01.00 di tanggal 10 Dzulhijjah atau tanggal 28 Juni 2023. Hal ini menurut informasi yang kami terima, jalur masuk menuju Arafah dari tempat-tempat parkir bus tersebut tertutup sehingga menimbulkan kemacetan yang tdak memungkinkan bus-bus tersebut sampai ke Arafah untuk menjemput jamaah.

Pasti kesal jika kita berada pada situasi demikian. Demikian pula yang dirasakan dan diceritakan teman-teman saya yang ada di rombongan bus 4 tersebut usai tahalul awal di kota Mekah. Namun rasa jengkel tersebut luluh manakala teman-teman di rombingan bus 4 ini bertemu kami, diantaranya pada saat kami berasa di lokasi sa'i atau pada saat kami berombongan di tempat cukur di Al Shaffah. 

Karena ketika teman-teman di bus 4 akhirnya disewakan mobil pengganti, sebagaimana yang digambarkan teman setara dengan Metro Mini di Jakarta dengan tanpa AC, perjalanan yang mereka tempuh justru tidak memakan waktu lama untuk sampai di Mekkah. Tidak seperti kami yang berangkat lebih awal.

Maka inilah hikmah yang membuat teman di bus 4, mampu bersyukur betapa keterlambatan mereka meninggalkan Padang Arafah tidak lagi menjadi penyesalan dan kejengkelan. Allahu'alam bishawab.

Jakarta, 20 Februari 2024

Arafah #2

 

Menyamak khotbah Arafah yang disampaikan oleh  KH Heikal Al Amry.      

Menjadi hal yang pertama saya dan istri mengunjungi Arafah dalam prosesi Haji tahun 2023. Dan ini berlangsung pada tanggal 9 Dzulhijjah 1444 H waktu setelah Dhuha. Sebuah tempat yang tidak terbayang sama sekali dimana lokasi persisnya. Karena sepekan sebelumnya, kami bersama rombongan haji ditemani muthowif telah bersama-sama berfoto di perkemahan yang kala itu sedang dilakukan penyempurnaan, yang antara lain adalah perbaikan kemah dan juga pemasangan AC. Namun sepertinya lokasi tersebut berbeda jauh dengan yang menjadi tempat kami bermukim di tanggal 9 Dzulhijjah ini. Berbeda meski dalam wilayah yang sama, Arafah.

Dan jika dsaya gambarkan persisnya berada dimana di lokasi Arafah, saya benar-benar tidak tahu. Namun lokasi kami di tanggal 9 Dzulhijja itu, adalah lokasi yang saya yakini yang terbaik. Ini karena kami berada di punggung bukit, yang di belakang kami tidak ada lagi perkemahan. Sementara bila kami menghadap ke arah Masjidil Haram yang terlihat Clock Tower yang menjulang tinggi,  terhampar di bawah kami jalanan yang selalu dipenuhi bus-bus dan ambulan, serta sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan tenda putih jamaah.

Kami meninggalkan Mina setelah selesai Shalat Dhuha pada tanggal 9 Dzulhijjah pagi dengan diantar oleh bus. Terdapat empat bus rombongan. Kami berada di Mina setelah semalaman berada di sana sejak tanggal 8 Dzulhijjah, atau di hari tarwiyah. Dan kala bus memasuki wilayah Arafah, bertanya-tanya dimana lokasi berikut yang akan menjadi bagian dari prosesi haji kami. 

Alhamdulillah, kami turun bus dan mendapati kemah yang luas. Cukup untuk 150 jamaah di riombongan kami. Tenda besar, berpenyejuk udara, dengan 2 show case yang penuh minuman dingin dan es krim. Juga dengan kursi-kursi yang jauh lebih nyaman dari pada kursi-kursi di Mina. 

Toilet dan meja makan berada di sisi kanan dan kiri di bagian belakang tenda kami. Jika waktunya untuk menunaikan hajat ke belakang dan juga  kala waktu makan tiba, harus bersabar untuk antri. Meski demikian, makanan tidak bakal kehabisan. Juga jika air di toilet terkendala, maka air mineral cukup menjadi penggantinya. Semua tersedia melimpah.

Usai Dhuhur, kami tekun dan khusuk menyimak khotbah Arafah. Indah sekali uraian kata yang disampaikan Ustadz tentang perjalanan Rasulullah SAW. Dengan atmosfirnya, Arafah yang hangat di akhir bulan Juni, menjadikan semua kami haru.  

Jakarta, 20 Februari 2024.

17 February 2024

Padang Arafah #1

Pintu masuk tenda di Arafah selepas Isyak di tanggal 9 Dzulhijjah 2023.















Sampai kami disini
9 Dzulhijjah 1444 H
tetap dengan memegang pesan
banyak bermunajat disepanjang waktu
sejak memasuki gerbang Arafah
berada di bukit yang tinggi
di dalam tenda besar berpendingin
dengan kursi-kursi nyaman
yang harus kami susun untuk lebih leluasa
saat beraktivitas ibadah
dan menyimak khotbah

Terus menerus mengsisi waktu yang tidak lama
dengan melantunkan kalimat thayibah
sejak kedatangan di waktu dhuha
hingga nanti selepas Isyak
menuju perjalanan berikutnya
menyambut pagi hari di hari Idul Adha
untuk thawaf,  sa'i,  dan tahalul
di Masjidil Haram, di Mekah al Mukaromah

Untuk bersabar pada kondisi yang tidak kondusif
pada saat panasnya bulan Juni
padatnya jamaah
antrian di meja pramanan dan keperluan di belakang
bilamana kepadatan  ditengah perjalanan
terus meneruslah mensyukuri
proses perjalanan waktu
yang pasti akan berakhir
dan entah kapan lagi dapat bertemu
dalam atmosfir yang sama

Saya tata kembali semua yang diperlukan
tenaga, fikiran, dan emosi
saya mencoba optimalkan apa yang bisa
semaksimal yang mungkin mampu
mendengar dan menyimak
yang disampaikan sepanjang waktu
di prosesi Arafah yang padat

Sabtu, 17 Februari 2024

Titik Grafitasi

 

Tenda-tenda di Arafah yang akan kami tinggalkan menjelang 10 Dzulhijjah 1444H. Indah dipenuhi cahaya.


Tiada kata paling pas selain syukur Alhamdulillah
untuk memaknai apa yang kami terima,
kami nikmati, kami jalani
bersama istri dan rombongan
menunaikan rihlah spiritual
sebuah prosesi haji yang tak semua orang diberikan kesempatan
baik mereka yang berpunya atau mereka yang sehat raga
benar-benar merasakan keriangan tiada tara

Kami berada di lokasi-lokasi dalam prosesi haji
berjumpa dengan jamaah sedunia
di Madinah, di Mekkah, di Aziziyah, di Mina, di Arafah
dan kembali ke tanah air
setelah sempat tertunda karena pandemi dan antrian

Sebuah jalan panjang
bila diukur dengan satuan akal
jalan yang tak terkira mampu diselesaikan
meski dengan hitungan yang paling cermat sekalipun
pasti hanya bertemu jalan buntu
yang tidak lagi bisa berlanjut
apa lagi sampai tujuannya
karena akal akan menghitung realita

sebuah jalan kenyataan
bahwa begitu diimpikan tujuannya
maka terasa itu menjadi pusat grafitasi
mencoba dan tersirat untuk meragukan
tapi bukankah itu hanya membuat menjadi kufur
kepada apa yang sdh dijanjikan
Yang Maha Pemilik masa depan?

Sebuah jalan keyakinan
bahwa bila tujuan sdh ditentukan
kemudian memahaminya dan menjadi keyakinan
maka tujuan menjadi pusat dan titik grafitasi
darimanapun dan bagaimanapun
angin seperti memberikan bantuan 

bertiup kencang memberikan dorongan
dan memudahkan perjalanan menuju tujuan
begitu ringan dan tidak terduga

semua terasa tiba²
sampai kepada arah yang diinginkan

Sabtu, 17 Februari 2024 

04 February 2024

Selamat Tinggal Mina

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tiba juga waktunya
untuk melempar Jumroh
di hari tasryk yang terakhir 
13 Dzulhijjah 1444 bersamaan 1 Juli 2023
Ini penanggalan KSA
berbeda dg yg di tanah air

Saat Dhuha di Mina
kami bersiap menata bawaan dan hati
dilokasi mabit yg tak sepenuhnya dihuni
kecuali pada sebagian malamnya
karena harus berbagi
agar kapasitasnya lebih nyaman 

Menuruni tangga dari kemah maktab 111 
dekat toilet paling atas
yang memberikan kesempataan kepada kami
saya, istri, dan sahabat haji
bertemu, bercengkerama, dan menjalin ukhuwah
 
Dan sesampai di depan pintu maktab
bertemu di jalanan Mina
bersama teman² yg sdh menjadi saudara
harus saya sampaikan
kata perpisahan
SELAMAT TINGGAL MINA.... 




 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Lalu Kami saling menyepakati 
naik eskalator yg tak lagi antri
lengang 
hanya kami yang melalui
begitu pula saat kembali
menuruni seusai 21 batu kami lontar
untuk yang terakhir kali
benar² yang paling akhir

Maka layak sdh
saya sampaikan salam perpisahan
kepada kemah² indah dan sahdu 
kursi yang sekaligus alas tidur
bantal² mungil pembatas tidur
tangga² yang berselimut karpet hijau
lemari² es yg masih penuh minuman 

Harus kukatakan; 
selamat tinggal Mina
 
Catatan dari Mina, 13 Dzulhijjah 1444 H

Nafar Tsani 2023

 























 
Sore selepas waktu Ashar 12.12.1444 H
Sudah lupa bila kami basah kuyup 
oleh keringat lelah perjalanan 
sejak dari Aziziyah
menyusuri jalanan di udara yang msh hangat
menuruni apartemen yang berada di atas bukit
perlahan menuju jalanan besar
ke arah terowongan
yang diujungnya terlihat bangunan bulat tinggi
dimana lokasi eskalator
selepas resto cepat saji yang ramainya tidak terkira

Dan rasa bahagia kami
saat keluar dari eskalator
menapaki jalanan menuju pelontaran
dengan semprotan air segar
dari pompa² tangan para askar dan relawan
dalam udara yang berhembus kencang 
menambah semangat kami menuju lokasi pelontaran pertama
 
Sore itu area pelontaran
suasana yang berbeda dari kemarin
sepi dan cenderung lengang 
memungkinkan kami untuk dapat melihat suasana dari kejauhan
dan langkah-langkah mantap anggota jamaah lain  

pasti banyak sahabat kami 
yang telah selesai prosesi haji
pagi tadi karena nafar awal
lalu m,ereka telah meninggalkan kami
yang harus menginap sebagian malam
hingga esok pagi
di tanggal 13.12.1444 Hijriah

Maka terasa lapang batu² kami lempar
pada dinding Ula, Wustho, dan Aqabah
Bismillahi Allahu Akbar....
 
Inilah pertanda kami harus pergi
meninggalkan lokasi pelontaran
pada musim haji 1444 H ini
berharap sekali untuk dapat kembali
melontar batu
seperti perjalanan nafar tsani ini...
 
Alklahummka shali ala Muhammad
wa ala ali Muhammad.

Maktab 1444 H


























Saya bersyukur bahwa
tak sampai tertulis dan terucap 
kata dan kalimat menghakimi
disaat tidak jadi berangkat haji
tahun lalu

Meski ikhtiar telah saya memulainya
disaat awal Pandemi Covid-19
mendaftarkan nama mengurus dokumentasi
dan memberikan panjar keberangkatan

Bersyukur bahwa bersikap tenang dan yakin
menjadi acuan utama
disaat kuota hanya separuh 
dan kami tidak menjadi bagian 
dari sebagiannya itu

Tidak juga ucapan dan gerutuan 
meski ada dorongan untuk berbuat 
saya bersyukur tidak lakukan
hanya karena meyakini 
yang terbaik saja 
yang saya dapat dan rasakan 
pasti tidak yang lain
fainna ma'alu'syri yusyraa

saya bersyukur bahwa Allah jadikan saya
bagian dari 100 persen kuota Haji 1444 H
merasakan meriah dan ramainya 
bersama jamaah dunia 
setelah Covid tak lagi jadi halangan 

Bersyukur untuk menikmati 
bagaimana bersama dalam maktab
yang berhimpitan saat beristirahat
antri saat prasmanan dan ke belakang 
atau berebut suara dari pengeras 
karena tiap kafilah terpisah hanya oleh kain tenda
di maktab mabit di Mina

Saya berbaiksangka 
bahwa tahun lalu 
tentu berbeda dg tahun ini
tahun yang membuat pengalaman terbaik

Saya bersyukur sekali.
menikmati dengan sepenuh hati
enaknya berada di maktab
yang selangkah menuju tangga jalan
menuju tempat melontar jumroh
di musim haji tahun ini


Kenangan Maktab 111 di Mina- 20.09.2023

Mencintai

 

Bagaimana saya bisa seperti yang diceritakan 
oleh beberapa teman 
tentang tulusnya air mata
yang berurai dan bercucuran 
tulus dan hangat begitu rupa
saat mendengar, menyebut, dan atau melafazkan 

orang yang Allah sendiri tak pernah sebut namanya 
manakala memanggil dan menyerunya?
selain dengan predikat dan jabatannya?
Bagaimana saya bisa dan mampu
melakukannya dan menghayatinya? 

Bagaimana saya memulai 
manapaki jalan apa yang sahabat dapatkan 
sehingga Akan membuat lengkap suka cita
bahkan menikmati dialog 
dalam mimpi?
Bagaimana saya bisa
berupaya dan berusaha

Maka saya mulai saja
menurut apa yang saya bisa
dalam mengenal, mengatahui, memahami
dan mencoba untuk melekatkan cinta
kepada sosok yang tak pernah disebut nama
selain predikat dan jabatannya
sebagai penghargaan 
dari sang pencipta dan pengutusnya 

Maka saya mencoba 
bagaimana rasa dalam fikiran 
menjalar menjadi makna 
agar menjadikannya
terasa berat dalam timbangan 
hingga mampu membuatku tertunduk 
pada ranah mencitai
 
Saya mencoba dengan rasa berat
mencontoh apa yang saya lihat
dalam sebuah pertemuan jamaah
dimana teman lain begitu rupa
merasakan dan menjadi terharu
 
Saya sempat bertanya
apakah bisa mengharu biru
seperti mereka
saat disebutkan namanya...

Padang Arafah, 9 Dzulhijjah 1444 H

Memburu Shaf

 












Allahumma shali ala Muhammad 

Tepat 5 Juni 2023, kami sampai
pada tujuan awal perjalanan 
hingga 30 hari kedepan 

Seperti mimpi sampai disini 
hingga berkali kali menyadarkan diri
memastikan dan menemukan jawaban 
supaya tidak terjebak di angkasa 
mengambang tanpa pijakan 

lalu kembali saya yakinkan 
bahwa ini bukan lagi ilusi 

Tak mau waktu mendahului 
segera saja saya kelilingi 
dimana saya meletakkan lelah 
meninggalkan teman didalam kamar 
karena hari telah berganti 

saya mencoba berjalan selekas nya
berpapasan dgn jamaah yang telah sigap 
yang juga tidak kalah cekatannya 
dalam memburu shaf shalat 
di barisan depan dalam Masjid Nabawi 
melalui pintu 16 untuk akhwat 

Nabawi-Movenpick

Ini Nyata?



























Ini memang nyata
tanggal 5 Juni 2023
di hawa yang tidak dingin
kala hari baru saja berganti
di penginapan yang baru saja aku masuki
di kota impian ummat
Madinah al Munawaroh 
Ini benar nyata adanya!

Saya mencoba selalu meyakini
bahwa ini perjalanan nyata
yang ada angan² dan raga
dengan perlengkapan yg juga menyertai
sejak dini hari dalam bis tingkat
di parkiran bandara Jeddah, KSA
ini nyata!

Mensyukuri perjalanan yang ada
dengan billboard pemandu 
yang ada di dinding² bukit batu
menuju kota Rasul-Mu, Madinah
kalimat² thayibah 

Belum lagi mengenal teman² dalam rombongan
mengingat waktu yang belum terlalu panjang
untuk bercengkerama di sela kegiatan

Dan saat sudah di tujuan
kembali lagi muncul keragu-raguan 
dalam bilik hati 
Ini nyata adanya!

Alhamdulillah 
Allahumma shali ala Muhammad 
wa ala Ali Muhammad 

Jeddah-Movenpick-Madinah, 5.06.2023

01 February 2024

Menanti Pergi *)















Saya selalu menenangkan diri 
untuk berbaik sangka atas apa yang ada
yang di rasa
atau juga yang sedang dialami

tetap tenang dan bersyukur
menjaga santun berucap berkata
selalu waspada apa yang akan terjadi
diwaktu ketentuan kebarangkatan haji 

Dan
ketika waktu mendekati akhir keberangkatan haji 1443
momen yang kami nanti sejak 1442/2021

Dan 
ketika memang itu tidak terjadi 
harus memaksa hati untuk tetap sama 
dalam gelombang berbaik sangka 
dan tidak terpengaruh ide tetangga
atau juga pilihan² kata yang menari nari
seperti arus air saat kran dibuka

Harus percaya pada tingkat dewa 
bahwa ketentuanNya adalah pilihanNya 
harus tulus meyakini 
bahwa momen itu menjadi yang terbaik
menurut takaran langit
jadi tetap berprasangka baik

Lalu 
berjalanlah waktu 
yang menjadi bonus persiapan hati
meski koper yang sdh tertata
tak lagi berminat untuk merapikannya 
semua telah tersedia satu tahun sebelumnya

Lalu 
tibalah waktu
terima kabar dan persyaratan 
membangunkan niat dan semangat
seperti tahun lalu
di hari Minggu, 4 Juni itu
menjadi angkatan pertama di musim itu
Alhamdulillah 

Sekarang sudah berlalu
maka menjadilah  apa yang berlalu
terang benderang dan terbaca  jelas
seperti memandang hamparan dari atas bukit
jelas dan tidak ada yang tidak tampak 

Saat ini setelah semuanya berlalu terjadi
Terlihat bagaimana dan mengapa liku² terjadi 

Hikmah memang datang kemudian.

Madinah, 5 Juni 2023.

 
*) Fragmen menanti kepastian berangkat haji 2022.

Roof Top Nabawi


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Saya keluar kamar hotel yang terletak di tepi pagar masjid itu terlambat sedikit saja. Atau  kurang awal dari waktu sebelum Shalat Magrib. Matahari cahayanya masih terang benderang dengan warna lembayung yang kental di Kota Nabi Madinah Al Munawarah sore itu. 
 
Udara masih juga hangat. Kisaran 40 derajat. Dengan angin yang menghembuskan udara hangat itu diantara dinding-dinding hotel yang mengitari Masjid Nabawi. Dan kipas angin yang juga tak kalau sibuk menyemburkan angin dan air pada setiap tiang-tiang payung otomatis di sepanjang emperan Masjid.

Bergerak lekas berpacu dengan para askar yang berjaga di pintu-pintu masjid, yang akan menutup pintu manakala jamaah yang di dalam telah cukup kuota. Saya tetap dengan harapan bisa masuk masjid dan menemukan shaf di dalamnya. Setidaknya sebelum askar penjaga pintu menutup pintu gerbang yang saat itu masih terbuka.

Maka tatapan mata saya pada gate 17 melihat bagaimana askar telah mengarahkan pengunjung termasuk kami untuk menuju tangga yang berada di bagian kiri gerbang Masjid.

Begitu sampai di pelataran lantai atas  Masjid, Rasa takjub muncul.  Subhanallah.  Pelataran yang sangat luas. Tak terbayang sebelumnya  pada saat sebelum menginjakkan kaki disini. Luas sekali. Padahal saat kami berada di bagian lantai dasar Masjid, sering kami harus pintar dan sabar saat mendapatkan shaf shalat. Namun di roof top ini, saat saya sampai jamaah masih sedikit sekali. Sehingga kesan luas nya semakin nyata.

Kami, saya bersama saudara satu rombongan dari Surabaya, mencoba untuk mengenali Lingkungan. Maka perjalanan kami adalah mencari sudut-sudut pelataran.  Dan yang menjadi patokan eksplorasinya adalah kubah Raudah.

Tiba di Madinah

Pagi hari tanggal 5 Juni 2023 sekitar pukul 07.00 pagi waktu Madinah, perjalanan kami dari Soeta di Jakarta sampai di
Movenpick, Madinah. 
 
Ini adalah tahapan awal dari prosesi Haji 1444 H yang akan berlangsung di akhir bulan Juni, tepatnya pada tanggal 27 Juni, yang kalau penanggalan tanah air, hari raya Idul Adha akan berlangsung pada tanggal 28 Juni 2023.

Jika ada 30 hari durasi perjalanan, maka tanggal 27 Juni berada di 10 hari terakhir kami. Inilah yang ketika masih pelaksanaan menasik di Jakarta, ustadz pembimbing mengingatkan kami untuk fokus pada pelaksanaan haji, sebagai tujuan perjalanan kami. Ini dimaksudkan agar jamaah tetap menjadikan semua rukun haji sebagai prioritas. Maka aktivitas sunah dijalani dengan tidak memaksakan diri. Agar ttp sht saat prosesi haji.

Diluar itu, saya juga tetap memperhatikan beberapa momen dan kegiatan untuk lebih eksploratif, yang diantaranya dg sekedar menganbil video serta sesekali melakukan aktivitas yang tidak normatif. Seperti diantaranya menemukan hal² yang tdk.selalu sama. Baik terhadap seluk beluk Masjid Nabawi atau juga deretan toko cindera mata. Bahkan meski hanya berdiri di pinggir toko untuk berteduh dari sengatan matahari dan sedikit mendapatkan udara sejuk dari AC yang ada tidak jauh dari saya berada, untuk melihat-lihat para jamaah kembali ke hotelnya masing² seusai melaksanakan shalat fardu.

Karena hanya dengan begitu, saya akan mendapatkan pemandangan berbagai gerak gerik jamaah dengan warna pakaian dan coraknya.  Yang dengan demikian, saya sendiri mencoba melihat dan menyaksikan beragamnya asal muasal  jamaah itu. Ini memperkaya pemahaman dalam batin saya. 

Dan pagi itu, sebelum bis tingkat yang saya naiki masuk ke parkiran Movenvick di Kota Nabi Allah Madinah, berkecamuk perasaan campur aduk yang sulit saya mendiskripsikan.  Yang paling mendominasi adalah perasaan antara percaya atau tidak bahwa saya sedang menjalani kehidupan nyata. 

Namun semua tahapan perjalanan benar-benar saya jalani dengan kesadaran sepenuhnya.  Walaupun  selalu saja terlintas dalam hati bahwa saya menjadi bagian dari jamaah haji Indonesia tahun ini, 2023. 

Jeddah-Movenpick, 5 Juni 2023