Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label Pelatihan Guru. Show all posts
Showing posts with label Pelatihan Guru. Show all posts

16 November 2018

Di Kampung Main

Pagi ini. Jumat, 16 November 2018, pagi-pagi saya sudah sampai di kampung main. Bukan di suatu daerah di lokasi wisata atau lokasi out bond persisnya, tetapi di sekolah. Benar, bahwa hari ini sekolah telah tersulap sebagai tempat bermain yang di gerbangnya dipampang sebagai kampung main.

Ini tidak lain adalah kreasi guru-guru yag ada di KB dan TK, yang pada Jumat ini mereka akan melakukan kegiatan luar kelas, yang berupa kegiatan out bond dan berkemah. Lokasinya, sekali lagi, bukan ke lokasi bermain atau berkemah di daerah Bogor, tetapi tetap di sekolah.


Jakarta, 16 November 2018

25 August 2015

Menjadi bagian Manajemen Sekolah

Pada saat akan bercerita dengan teman-teman yang memang pada posisi Kepala dan Wakil Kepala Sekolah, saya mengajukan beberapa stetmen tentang model kepala sekolah yang menjadi impian kita bersama atau impian kita masing-masing.

Tentunya, saya tidak memberikan kepada teman-teman itu tipe-tipe kepemimpinan yang terdapat dalam buku-buku manajemen atau buku lainnya. Tetapi saya hanya memberikan beberapa hal yang pernah saya dengar, lihat, atau bahkan mungkin saya mengalaminya sendiri.

Seperti beberapa model Kepala Sekolah yang antara lain adalah sebagai berikut:

Satu; Mengemban jabatan dengan mengacu kepada SOP. Teguh dan kadang kaku menjaga penerapan SOP di lapangan. Utamanya yang pernah saya dengar adalah bagaimana Kepala Sekolah secara lurus-lurus saja dalam menerapkan SOP dalam stuasi yang dihadapinya. Dan kerena terlalu disiplin dalam menerapkannya, maka ia menjadi pribadi yang dinilai kaku oleh teman-temannya. 
Dua; Mengemban jabatan dengan kikuk dan ragu. Langkahnya selalu dibayangi ketidak enakan.

Tiga; Mengemban jabatan dengan semangat. Semua ide bagusnya dituangkan semurni dan sekonsekuen mungkin

Empat; Mengemban jabatan dengan menunggu putunjuk atasannya. Selalu butuh dorongan dan inisiasi atas.

Lima; Mengemban jabatan dengan semangat transparansi tanpa tabir. Tidak ada sekat dan koordinat yang dipegang selaku manajemen.

Enam; Mengemban jabatan dengan penuh percaya dori dan cenderung menutup diri. Dengan fokus kepada pengelolaan administrasi.

Tujuh; Mengemban jabatan dengan membagi habis tugas kepada bawahan secara tuntas. Fokusnya menagih tugas yang didistribuaikan.

Lalu yang mana model Kepala Sekolah yang ideal? Ini juga hal-hal baik yang menurut saya menjadi inspirasi bagi kita yang memegang tampuk pimpinan di sekolahan. Hal-hal baik itu antara lain adalah:

Satu; Pintu ruangan yang 'terbuka'

Dua; Mudah diakses

Tiga; Terbuka dan berkoordinat

Empat; 'Menyongsong' sepanjang waktu

Lima; Seperti 'kondektur' bus

Enam; Menembus apa yang tidak tampak di satu langkah di depannya

Tujuh; Mengajak 'touring' karena senang bereksplorasi

Jakarta, 25 Agustus 2015.

24 June 2014

Pelatihan Akhir Semester

Sebagaimana seperti lazimnya, beberapa hari setelah seluruh siswa libur, saya bersaa teman-teman masih berada di sekolah untuk menjalani pelatihan guru. Dan teman pelatihan pada akhir semester ini, Juni 2014, adalah keterampilan untuk membuah bahan ajar berbasis komputer. Jadilah kami berada di ruang bersama untuk bersama-sama membuat bahan ajar dengan dipandu sepenuhnya oleh lembaga pelatihan yang kami mintai bantuan.

Suasana pelatihan. Saya pribadi merasakan seru. Karena banyak hal baru yang nantinya dapat saya suguhkan kepada teman-teman sesama guru dan siswa.
Apa yang kami pelajari selama pelatihan dengan duarasi tiga hari ini? Sederhana. Hanya tentang bagaimana memadukan kalimat yang merupakan konten dari Mata Pelajaran, memberikan ilustrasi, menempelkan foto atau dan film yang sesuai dengan apa yang akan menjadi bahasan Bapak atau Ibu guru, serta panduan praktek, atau apapun yang kami inginkan sebagai wahana bagi pembelajaran yang menarik.

Sayangnya, saya sendiri masih belum tuntas dalam membuat tugas yang enjadi bagian dari saya sendiri, yaitu membuat buku panduan guru untuk tahun pelajaran mendatang. Menantang dan sekaligus menyenangkan. 

Harapan saya adalah, supaya teman-teman benar-benar dapat menjadikan keterampilan komputer setelah ini, sebagai modalitas dalam menyongsong para siswanya dengan antusiasme yang tinggi. Sekaligus melayannya dengan penuh keriangan. Semoga.

Jakarta, 24 Juni 2014.

09 June 2014

Terlambat Masuk Kerja

Ketika saya membuat catatan ini, sudah banyak saya mendengar teman-teman yang kepala sekolah atau yang menjadi kepala di kantornya begitu tidak mudahnya untuk 'membenarkan' orang-orang yang juga adalah bawahannya menjadi tidak terlambat masuk kerja. Atau kalau kepala sekolah, merasakan betapa tidak mudahnya dalam mengingatkan teman-temannya yang masih terlambat jam masuk kerja,  adalah juga jam masuk kelas sesuai dengan jam mengajarnya di kelas tersebut. 

Diarasakannya bahwa teman-temannya yang ngotot untuk dimengerti keterlambatannya itu justru menjadi berbusa argumentasinya ketika ia mencoba untuk menyadarkannya. Segudang kalimat mengelak atas keterlambatan yang telah tercatat di mesin absensi. Dan argumentasi itulah yang membuat sedikit pening di kepalanya.

"Mengapa kantor hanya fokus dengan data-data absensi Bu? Mengapa tidak kenerja? Mangapa ketika saya datang di hari Sabtu atau pulang  lebih sore tidak menjadi catatan kantor?"

Begitulah kira-kira kalimat penawar yang di usung para pasukan terlambat masuk kerja itu. Dan setiap para pelaku diingatkan, sedikit dari mereka yang langsung menyadari apa yang salah dari keterlambatannya datang ke sekolah atau kantor. Sebagian besar justru langsung mengeluarkan jurus mengelak dan ngeyel. 

Pendapat Saya

"Apa komentar Pak Agus atas fenomena itu? Bagaimana seharusnya kita sebagai atasanya memposisikan diri? Apakah kita harus mentolir atas keterlambatannya?" Demikian kata-kata teman saya kepada saya setelah mereka curhat. Saya diam saya untuk sementara hingga teman saya itu benar-benar selesai apa yang ingin diungkapkannya. 

Dan setelah semua selesai, saya sampaikan tentang terlambat itu dengan pengalaman saya sendiri sebagai pegawai di sebuah kantor. Artinya, saya menjawab dari kacamata saya sebagai pegawai yang insyaf. Begitulah kira-kira. 

Pertama; Saya tahu saya akan terlambat sampai sekolah ketika saya mulai keluar pintu rumah saya. Kok begitu? Tapi memang demikianlah adanya yang saya alami sehari-hari sebelum saya sadar dan kemudian insyaf bahwa saya adalah karyawan sebagai pegawai. Ketika kaki saya melangkah keluar pintu rumah, dan itu sudah menunjukkan pukul 06.20, maka hati saya berdegup. Karena dengan demikian saya harus mendapatkan bus segera begitu saya sampai halte. Juga ketika sampai terminal Blok M, saya harus langsung mendapat Metro Mini trayek 610 dan tidak pakai ngetem di perempatan Panglima Polim, Blok M. Jika persyaratan semua itu tidak terpenuhi, pasti terlambat sampai kantor saya yang ada di Cilandak. Berbeda jika saya berangkat dari rumah benar-benar pukul 06.00 teng!

Dari sini, saya mendapat pelajaran untuk menggunakan Matematika hitung mundur. Jika saya baru sadar akan berangkat kerja 30 menit sebelum keberangkatan, maka persiapan yang bisa saya lakukan adalah persiapan serba kilat. Cepat. Dan jika sebagai suami, realitas ini akan menjadi sumber konflik jika gaya serba kilat ini berdurasi lama.

Kedua; Sejauh yang saya ketahui, tidak ada satu kantorpun yang mentolerir pegawainya terlambat sampai di kantor. Ini memang nyata terjadi. Sampai sekarang, sebagai guru, saya belum menemukan jika gurunya boleh datang terlambat sampai sekolah atau bahkan sampai di kelas untuk mengajar. Kalau ada yang mengetahui akan informasi tersebut, saya minta nomor kontaknya. Siapa tahu saya masih diterima untuk mengirimkan lamarannya. Memang ada kantor yang menghitung keterlambatan dengan uang tambahan semacam uang transpor. Tetapi bukankah itu bentuk betapa tidak ditolerirnya karyawan datang terlambat?

Ketiga; Untuk sebuah sekolah, guru on time dan full time, adalah bentuk marketing yang nyata! Disebuah sekolah swasta yang saya kenal, para petingginya sekarang sedang disibukkan oleh masalah kekurangan siswanya. Maka, ada usulan bagus datang dari salah satu mereka agar sekolah menyewa tenaga marketing profesional sebagai upaya mendongkrak jumlah siswa.

Usulan yang bagus. Tetapi dari informasi yang lain, saya mendapatkan bahwa kepala sekolah masih dipusingkan dengan jam kosong di kelas. Dan setelah diselidiki siapa guru yang seharusnya ada, masalahnya ternyata berada di keterlambatan guru datang ke kelas. Gurunya asyik berdiskusi dengan sejawatnya karena sedang menjadi 'pengamat' di ruang guru. 

Bagaimana jika seluruh guru yang ada tahu, sadar, dan kompak masuk kelas tepat waktu dengan dengan penuh waktu keberadaannya di dalam kelas? Bukankah itu jurus jualan yang paling dasar?

Keempat; Sampai kantor secara on time dan bekerja secara full time, adalah pintu gerbang sukses sebagai pegawai! Menurut saya inilah kunci seseorang akan mendaptkan kepercayaan lebih tinggi dari lembaganya. Hampir mustahil sebiah amanah jatuh kepada personal yang telatan. Saya hanya percaya bahwa amanah selalu jatuh pada sosok yang paling layak menjadi teladan di ruang kerjanya. Bukan mereka yang suka telatan. Pasti!

Lalu? Kalau masuk kerja saja masih sering terlambat, masak mengharap kesempatan maju yang banyak lagi dari karyanya?

Jakarta, 9.06.2014.

03 June 2014

Posisi Diri dalam 'Perubahan' Sekolah

Hari ini, saya membaca butir-butir masukan dari para responden yang diambil dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion atau FGD di sebuah sekolah. Ada sembilan pertanyaan yang diajukan kepada peserta diskusi. Yang pada masing-masing pertanyaan tersebut peserta dapat secara terbuka dan bebas memberikan masukan, pendapat, dan juga gagasannya. Bahkan untuk dua  dari sembilan pertanyaan yang ada, masih dibutuhkan dalam bentuk faktor internal dan faktor eksternal. Hebatnya, dari kesembilan pertanyaan itu, bayak sekali masukan, pendapat dan jga gagasan dari peserta diskusi itu.

Dan saya, ketika membaca laporan hasil diskusi tersebut, yang disarikan dalam bentuk pertanyaan dan poin-poin solusi, pendapat, gagasan, dan masukan dari peserta diskusi tersebut, langsung terbayang bagaimana aura dari sebuah forum diskusi itu. Menggairahkan.

Dan, karena saya uga adalah bagian dari pengelola sekolah dimana para pegawainya sedang menjadi peserta diskusi itu, maka tidak salah jika pada poin-poin tertentu saya merasa panas dingin. Utamanya jika mendengar masukan. Ini karena persepsi saya dengan persepsi orang tersebut berbeda, atau bahkan bertolak belakang. Mungkin ini karena saya kebetulan sebagai pengelola sedang peserta diskusi adalah para pegawai yang melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari.

'Perubahan' Sekolah

Perhelatan FGD tersebut adalah sebuah wahana bagi kami dalam rangkaian gerakan perubahan bagi sekolah kami. Tentunya perubahan agar sekolah kami tetap menjadi sebuah lembaga yang eksis secara konsisten. Dan ini dibutuhkan  ketajaman pendengaran dan penglihatan kami sebagai stake holder yang ada di lembaga untuk kemudian pengetahuan dan pemahaman yang kami dapatkan dapat menjadi 'peluru' dalam mengikuti pergerakan zaman tersebut.

Karena kami yakin bahwa hanya dengan kemampuan untuk beradaptasi sesuai dengan lingkungan yang membutuhkanlah yang menjadi pintu gerbang bagi kelanggengan kami. an itu, salah satu jalanya, adalah megajak seluruh unsur stake holder sekolah yang ada berkontribusi. Ini penting, mengingat seluruh lembaga yang sekarang ada, utamanya adalah lembaga pendidikan swasta, terus berusaha untuk selalu menjadi dan mendapatkan predikat  lebih baik. Maka hanya dengan 'berlari'lah lembaga dimana kami semua berada ini harus selalu siap dan mampu dalam menjaga amanah  masyarakat dalam mengebangkan generasi mudanya.

Logika itulah yang menjadikan kami harus selalu belajardan tumbuh.

Namun dengan membaca masukan, pendapat, dan gagasan itu, masih banyak para peserta yang berada dalam forum tersebut dalam memposisikan dirinya ketika menyampaikan pendapatnya, masukannya, atau gagasannya, berada dalam posisi sebagai pengamat. Sebagai komentator. 

Itulah catatan saya hari ini ketka membaca ringkasan hasil FGD dengan para stake holder kemarin. Sesuatu yang bagus, tetapi sedikit mengecewakan.

Jakarta, 3 Juni 2014.

30 April 2014

Pelatihan Guru #6; Selalu ada yang Jualan

Mendapat undangan untuk hadir dan ikut serta dalam kegiatan pelatihan guru pada saat-saat ini, menjadi harus selektif bagi saya untuk memutuskan apakah saya harus ikut serta atau tidak. Pertama memang apa yang akan menjadi topik dan bahasan dalam kegiatan yang ditawarkan. Selain memang biaya diharus kami keluarkan, waktu, dan lokasi.

Namun jujur, ada satu hal yang menjadi pertimbangan bagi saya sekarang ini. Utamanya adalah berkenaan dengan siapa yang menjadi pelaksana serta yang menjadi narasumber dari kegiatan tersebut. Ini tidak lain karena saya tidak mau jika ketika menjadi peserta pelatihan yang bertujuan ingin meningkatkan kualifikasi diri dalam profesionalisme, berujung kepada penawaran terhadap barang atau jasa tertentu kepada kami. Meski itu adalah sarana yang akan menjadi bagian pendukung bagi kinerja pembelajaran di sekolah.

Jadi, sungguh saya harus mohon maaf jika tidak seluruh undangan atau penawaran yang kami terima begitu serta merta menjadi agenda bagi sekolah sebagai kegiatan peningkatan profesionalisme teman-teman guru. Kami di sekolah harus benar-benar agar kegiatan yang kami ikuti pada ujungnya memang bagi peningkatan kualifikasi kami. Dan bukan menjadi bagian dari sasaran tembak penjualan sebuah produk. Apapun produknya.

Seperti ketika kami mengikuti sebuah kegiatan yang mengusung tema pembelajaran berbasis IT. Bersemangat kami mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang ada. Tentunya yang disampaikan oleh seorang praktisi IT, dan juga olehsorang guru yang berbekal kompetensi  IT yang kuat. Namun pada akhir sesi kami diperkenalkan sebuah prduk dengan basis IT yang akan menjadi bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah oleh guru-guru.

Repotnya, proposal yang disampaikan keada kami tidak berhenti sampai disitu, karena bagian penjualan terus menerus akan mengejar apa yang akan menjadi keputusan kami. Ini karena target mereka dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan guru tidak lain adalah jualan.

Setidaknya, itulah yang saya rasakan. Sebagai sekolah, banyak orang yang melihat kami seolah-olah sebuah pasar yang berkelimpahan harta!

Jakarta, 30 April 2014.

15 April 2014

Pelatihan Guru #5; Pelatihan yang 'Tak Penting'

Akhir pekan lalu, kami melaksanakan pelatihan yang providernya dari luar sekolah. Ini karena keterampilan yang akan dilatihkan kepada teman-teman guru di sekolah kami, berkenaan dengan keterampilan membuat program pembelajaran dengan media komputer. Jadilah kami ber 30 hadir di sekolah di akhir pekan yang lalu. 

Awalnya

Rencana kami untuk mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan program pengajaran dengan berbasis komputer tersebut, tidak ditanggapi dengan tanggapan yang seragam. Tetapi beragam sekali. 

Untuk saya sendiri, sebagai orang yang sudah merasa tua, yang berarti, khusus untuk saya sendiri, sedikit tertinggal oleh akselerasi perkembangan komunikasi komputer, merasa begitu pentingnya keikutsertaan saya. Selain juga untuk mengejar isu tentang perkembangan pembelajaran. khususnya perkembangan pembelajaran berbasis komputer. Maka dalam kegiatan itu, saya menjadi pendaftar yang pertama, sekaligus dengan harapan yang menggebu tentang apa yang akan saya dapat.

Sedang ada beberapa teman yang sudah terpilih sebagai bagian dari unit sekolah yang harus hadir dalam pelatihan tersebut, tidak semuanya menyambut kegiatan di akhir pekan tersebut dengan aura yang menggembirakan. Ada beberapa teman yang menanggapi kegiatan itu tidak sepenuh hati. Bahkan pada H-2, ada pada saya datang teman untuk meminta pengganti peserta. Ini karena peserta yang terlanjur ditunjuk di awal oleh kepala sekolah mengundurkan diri dengan argumen karena ada kegiatan keluarga.

Akhirnya

Siang hari pada pelaksanaan kegiatan tersebut, persisnya ketika kami tidak lagi mendengarkan presenasi yang diberikan oleh pelatihnya, tetapi ketika kami memulai membuka program aplikasi komputer dan mencobanya untuk membuat rancangan pembelajaran, harapan yang sebelumnya tidak utuh berbalik 180 derajat.

Wajah-wajah penuh minat mengganti wajah keterpaksaan. Teman-teman begitu antusis untuk terus menerus mencoba dan merumuskan apa yang menjadi tugas dalam pelatihan tersebut. Semua teman mengganti tag line pelatihan yang 'tidak penting' menjdi sesuatu yang penuh antusiasme.

Saya dan teman-teman perumus justru menjadi ditodong; "Ayo Pak, yang lain harus ikut pelatihan seperti kita. Kita buat lagi yang lebih lama dan lebih mendalam!"

Jakarta, 15.04.2014.

10 January 2014

Pelatihan Guru #4; Menyusun Aspek Kinerja

Beberapa tahun yang lalu, saya mendapat tugas penting dari sebuah lembaga pendidikan pesantren di Sulawesi. Bukan saja karena tugas itu  datang dari sebuah pesantren sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena apa yang ditugaskan kepada saya sehingga saya menjadikannya penting. Juga bukan saja karena itu adalah tugas yang sekaligus memungkinkan saya berada di tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya, mengingat saya hanyalah seorang guru swasta. Tugas itu penting karena tugas yang diberikan adalah tugas besar bagi saya yang selama ini sebagai penjaga gawang saja.

Tugas untuk membuatkan dokumen yang pada ujungnya dapat menjadi sebuah sistem di lembaga tersebut. Namun karena saya bukan ahli membuat dan lalu mempresentasikan hasilnya, saya justru menjadikan komunitas sekolah, manajemen, guru, karyawan, dan yayasan benar-benar berbagi peran dalam proses pembuatan tersebut.

Sebagai gambaran saja bahwa lembaga pendidikan itu termasuk dalam bagian penting dalam kontribusi pengembangan generasi muda di provinsi yang saat itu masih baru. Namun demikian, ketika saya dilibatkan, teman-teman yang penuh semangat itu masih perlu mendapat pijakan dalam membedakan kualitas diri mereka antara satu dengan yang lainnya. Khususnya bagi teman-teman yang mendapat amanah untuk mengkoordinasikan seluruh aktivitas berkarya, sebagai manajemen di unitnya masing-masing di lembaga itu. Jadilah selama satu pekan saya diminta untuk bersama mereka dalam membuat rumusan, atau setidaknya  dokumen yang dapat dijadikan sebagai acuan kerja.

Seperti di lokasi lainnya, saya memulai pertemuan di awal-awal dengan berdiskusi, presentasi, dan bekerja untuk membuat frame dan garis kesamaan. Ini penting supaya kami semua yang terlibat di dalamnya memilikim semangat dan langkah yang sama, yang harus menjadi kesepakatan kami. 

Langkah berikutnya adalah menjelaskan dan sekaligus simulasi tahapan yang akan kita jalani bersama selama empat hari kedepan. Saya benar-benar merasa harus berpikir keras kala itu. Ini karena saya melakukan kegiatan seperti itu untuk lembaga lain adalah peristiwa untuk kali yang pertama. Dan ini benar-benar menjadi tantangan tersendiri.

Saya menjadikan kesempatan seperti itu adalah kesempatan yang luar biasa. Berbeda ketika kegiatan seperti itu saya lakukan di lembaga yang sehari-hari saya berada di dalamnya. Pada sisi inilah saya merakan adanya tekanan dan sekaigus tantangan yang begitu besar. Maka jauh hari saya telah memikirkan strategi dari menit ke menit untuk pertemuan yang dirancang selama satu pekan itu.

Aspek Kinerja

Saya menjadi terbayang bagaimana membuat sebuah rapat kerja. Dimana, untuk seluruh peserta akan menjadi bagian penting dalam memberikan kontribusi positifnya. Mereka berada dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan, merumuskan, menyepakati, dan menyiapkan presentasinya sebagai hasil dari masing-masing kelompoknya. Nah model dan strategi mendapatkan hasil itulah yang akhirnya menjadi pilihan saya.

Alhamdulillah, proses penyusunan dokumen itu berjaan dengan baik dan dilakukan dengan sangat penuh antusiasme. Teman-teman seperti merasakan kembali bagaimana eforia pada saat masih duduk di bangku mahasiswa. Mereka berdiskusi dengan beradu argumentasi untuk kemudian menyepakati apa yang harus putuskan. Menyenangkan.

Saya sendiri menjadi fasilitator yang sesungguhnya dalam semua acara yang dilakukan itu. Mengalir baik sekali. Meninggalkan kesan yang membahagiakan. 

Hingga akhirnya saya sendiri yang harus melibatkan diri manakala diskusi itu nyaris buntu pada saat menyusun kriteria kinerja yang harus menjadi kesepakatan. Ini karena ada kriteria ibadah yag harus masuk ke dalam kinerja yang akan menjadi dokumen pembeda diantara mereka.

"Bukakah tujuan kita beribadah hanya karena Allah? Saya kawatir jika ibadah masuk dalam knerja, maka niat dan semangat kita menjalaninya akan melenceng?" Ini pernyataan yang diberikan oleh teman-teman yang tidak menyepakati masuknya unsur ibadah dalam indikator kinerja.

"Bagaimana mungkin kita menjadikan orang yang berkinerja baik tetapi tidak banyak terlibat dalam melakukan pembinaan ibadah kepada siswa degan teladannya?" Ini pernyataan bagi teman-teman yang menghendaki masuknya indikator ibadah dalam kinerja.

Saya memberikan kesempatan kepada semua teman itu untuk berdiskusi. Kepada masing-masingnya dengan argumentasi yang selengkap-lengkapnya.

Perlu saya sampaikan bahwa pembahasan mengenai poin ibadah yang terdapat dalam sistem penilaian kinerja tersebut merupakan waktu tambahan. Dimana kegiatan normalnya kami lakukan sejak pagi hingga sore hari. Malam hari saya menggunakannya untuk bertemu dengan santri, rileks, atau menyiapkan keperluan yang akan menjadi bahan bahasan esok harinya. Namun mengingat begitu serunya mendiskusikan aspek kinerja yang bernama ibadah tersebut, maka kami harus menambah waktu raker setelah shalat isyak. Dan lokasinya pn tidak lagi di wilayah pesantren, tetapi di lorong depan kamar dimana saya menginap. Jadi memang benar-benar seru.

Dan atas pemahaman terhadap masing-masing argumen yang telah disampaikan oleh masing-masing kubu, maka saat itu kami menyepakatinya.

Dan itu, menjadi pengalaman tersendiri bagi saya dalam membuat sebuah 'pegangan' bagi warga komunitas yang ada di dalamnya. Saya mensyukuri sekali peristiwa itu sebagai bagian dari perjalanan saya.

Jakarta, 10.01.14.

05 January 2014

Pelatihan Guru #3; Me-lay Out Kelas

Melihat dan sekaligus masuk keruang-ruang kelas yang ada, selalu menerbitkan rasa yang kurang puas pada diri saya. Ini karena ruang kelas yang saya kunjungi masih bernuansa berantakan atau bahkan belum ada sentuhan baru, sejak tahun pelajaran dimulai enam bulan sebelumnya. Itulah maka saya mencoba untuk mengajak teman-teman guru membuat citarasa baru dalam mengatur kelas mereka dalam pelatihan.

Selain dinamisasi pengaturan ruangan yang kurang catik itu, juga dibarengi oleh perilaku yang kurang tertib dari teman-teman untuk menyimpan dan meletakkan barang yang sudah tidak terpakai, atau barang yang masih akan dipakai kelak, atau bahkan barang yang harus diarsipkan pada tempat yang kurang pada tempatnya. Sehingga menimbulkan situasi yang yang tidak rapi bahkan terkesan serampangan atau jorok. Seperti sudut-sudut kelas yang berada di belakang siswa.

Meski harus diakui kalau perilaku dan kondisi seperti itu tidak terjadi di semua kelas. Karena masih ada beberapa kelas yang selalu terlihat grooming dan apik. Walau harus juga diakui kalau kondisi bagus seperti itu masih menjadi minoritas. Hanya beberapa guru saja yang begitu peduli kepada kebersihan dan kerapihan dari ruang kelas yang menjadi tanggungjawabnya.

Atas kondisi itulah saya pernah membuat pelatihan kepada guru-guru dalam mengatur ruangan kelas yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Dimana saya membagi teman-teman guru itu dalam kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan tidak lebih dari 5 orang guru. Saya melibatkan para supporting staff di dalam pelatihan ini. Mereka adalah para pramubakti, orang sipil, dan listrik, yang akan dinamis berkeliling untuk setiap kelompok kerja yang ada, guna memberikan bantuan dalam bentuk mengangkat barang-barang yang berat, memindahkan titik listrik, atau pekerjaan lain yang diperlukan oleh kelompok kerja tersebut.

Kepada kelompok, tentunya setelah kami berdiskusi tentang ruangan kelas yang kondusif untuk belajar  dan bekerja bagi guru dan siswa, kelompok-kelompok tersebut akan mengambil undian di meja saya. Undian ruangan yang akan menjadi tanggungjawab kelompok mereka dalam kegiatan pelatihan saya itu.

Me-lay Out Kelas

Tugas pertama yang dilakukan dalam kelompok kerja setelah masing-masing kelompok tersebut mendapatkan jatah ruangan yang harus mereka make over, adalah membuat kesutusan kelompok tentang design ruangan yang akan mereka lakukan. Mereka dalam kelompok terlebih dahulu harus membuat rencana lay out kelas yang diinginkan.

Setelah design lay out itu telah disimpulkan oleh kelompok,  teman-teman juga diharuskan untuk menggunakan properti yang ada di kelas tersebut tanpa menambah. Ini sesuai dengan standar ruangan yang ada. Demikina juga bila ada rencana dari kelompok untuk memindahkan barang yang berat atau memindahkan titik listrik.

Apa yang terjadi setelah teman-teman guru itu merealisasikan rencana design yang disepakati dengan kedaan ruangan sesungguhnya yang diinginkan? Saya dibuatnya kagum. Ada beberpa guru yang memang kurang memiliki rasa estetika sehingga mengikuti saja usulan dan saran dari temannya yang memang lebih pintar dalam membuat tata ruang yang apik. Sehingga mereka cenderung menjadi pekerja di dalam kelompoknya itu. Selebihnya saya melihat kegairahan yang luar biasa terhadap kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan di sekolah yang telah diamanahkan kepada saya lebih kurang enam tahun itu.

Apa juga yang dapat saya tarik sebagai kesimpulan terhadap pelatihan itu? Saya melihatnya bahwa pelatihan itu telah menjadi wahana yang bagus bagi semua komunitas sekolah dalam memahmkan, dan menanamkan citarasa fungsi ruang, kerapihan ruangan, keindahan, dan sekaligus kenyamanan sebagai ruang kelas. Juga sebagai sarana bagi guru untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan. Itu jugalah yang muncul dari guru-guru tersebut sebelum pelatihan itu berakhir. 

Jakarta, 05.01.2014.

03 January 2014

Pelatihan Guru #2; Membaca Artikel

Saat mengikuti sebuah paelatihan tentang budaya transformasi, presenter bertanya kepada kami. Pertanyaannya; Apakah kita perlu belajar? Tentu kami semua sepakat dan kompak menjawab dengan mantap; "Perlu.."

Namun jawaban kompak kami ternyata pancingan presenter ketika ia akan mengatakan bahwa yang terutama pada masa kompetitif seperti sekarang ini yang dibutuhkan oleh kita sebagai pelaku kompetisi adalah tidak sekedar belajar, tetapi belajar dengan cepat.

Mengapa? Karena kalau kita hanya sekedar belajar atau belejar sekedar, maka kita akan tertinggal jauh dengan kompetitor yang ada. Karena pada saat kita belajar, semua kompetitor juga akan melakukan pembelajaran diri. Oleh karenanya,  untuk  memenangkan sebuah laga, maka kita ditutut untuk belajar lebih keras dan lebih cepat lagi. Kita harus meng-up grade diri dengan cara yang lebih sungguh-sungguh dan lebih cepat.

Membaca Artikel

Karena itulah, saya menggunting artikel-artikel yang saya pandang menarik untuk dibaca, diketahu, atau setidaknya dipelajari. Maka ketika waktu pelatihan tiba, saya meinta guru-guru untuk membaca artikel, memahami apa yang mereka baca, membuat rumusan tentang apa yang dibacanya, dan juga harus mempresentasikan kepada teman-temannya yang ada di dalam kelompok, sebagai bagian untuk berbagi.

"Apa yang sudah kita pelajari dari artikel yang kita baca?" Tanya saya setelah kegiatan berlangsung dengan tuntas. Dimana teman-teman setelah membaca mereka harus share hasil bacaannya kepada teman dalam kelompoknya. Bahkan ada beberapa prang yang menjadi sukarelawan untuk menyampaikan hasil bacaannya kepada kita semua yang hadir.

"Saya harus jujur Pak. Kalau saya sesungguhnya tadi terpaksa membaca. Ternyata artikel yang saya baca membuat saya memiliki cara pandang baru tentang sesuatu atau bahan bacaan. Karena  sebelumnya artikel yang saya dapat adalah artikel yang tidak membuat saya tertarik membacanya, tetapi setelah masuk dalam paragraf kedua, saya berpikir untuk terus membaca dan menuntaskannya. Terima kasih Pak." Jelas seorang guru kelas 3 SD begitu semangat meski tidak berapi-api.

"Saya bersyukur karena telah dapat lima pengetahuan baru dalam waktu yang kurang dari 40 menit Pak. Karena saya membaca sendiri satu artikel, dan mendapat limpahan pengetahuan dari presentasi teman-teman." kata yang lain lagi. 

Pendek kata, banyak teman-teman saya yang menjadi tekuak semangat untuk menimba ilmu pengetahuan dengan membaca. Tentu bukan membaca sembarangan. Karena teman-teman itu juga adalag penikmat buku fiksi. Sehingga semangat fiksinya itu dapat lagi dan bermigrasi ke membaca artikel. Yang ternyata dirasakan manfaat yang luar biasa.

Semangat untuk mengetahui sesuatu secara lebih baik, lebih luas, dan lebih daam tersebut merupakan mimpi kami semua dalam menumbuhkan cinta berpengetahuan sebagai modal bagi kemenangan dalam persaingan.

Jakarta, 3 Januari 2013.

02 January 2014

Pelatihan Guru #1; Membawa Daun

Dua hari sebelum kegiatan pelatihan guru di sekolah, saya masih bingung untuk memberikan materi apa? Bahkan, meski dalam pikiran ada yang harus saya sampaikan nanti ketika guru-guru masuk seusai libur sekolah, namun tetap detil materi yang belum jga tergambar. Hingga ketika liburan tahun baru lalu, dan kebetulan badan sedikit meriang sehingga saya tetap berdiam di rumah, ada gagasan agar guru-guru membawa daun, apapun, masing-masing sebanyak 4 lembar yang ada di rumah atau dekat lokasi tempat tinggalnya ketika mereka datang ke sekolah.

Alhasil, tengah hari itu saya mencoba merangkai pesan untuk disebar kepada teman-teman guru. Di akhir pesan saya juga wanti-wanti agar guru-guru itu memastikan bahwa teman-temannya semua menerima pesan yang sama dengan pesan yang dia terima dari saya. Alhamdulillah, ketika pesan itu pelatihan guru itu akan kami mulai, tidak seorang pun dari teman-teman yang tidak membawa 4 lembar daun dari rumah mereka masing-masing. Hebat!

Mengklasifikasi

Ada dua bagian dari pelatihan yang diperuntukkan guru sebagai 'pesan' di awal tahun, yang juga adalah awal semester II tahun pelajaran 2013/2014 ini. Dan kegiatan dengan daun menjadi bahan pelatihan untuk tahap yang pertama.

Namun sebelum bagian-bagian itu kami mulai, saya memberikan kepada semua teman ruang katarsis. Mengingat sebagai hari pertama masuk kerja, dengan euforia yang meluap, maka kegiatan katarsis itu berguna sekali sebagai lahan untuk menarik konsentrasi teman-teman semua. Alhamdulillah semua terlibat aktif dalam kegiatan pembuka tersebut. Banyak hal positif dapat ditarik dalam kegiatan pembuka itu. Misalnya ada teman yang waktu liburan kemarin pergi ke universitas yang menjadi impian anandanya. Ini sebagai bekal bagi mereka sekeluarga dalam menentukan afirmasi keinginan dan cita-citanya. Juga ada teman yang berkendara Jakarta-Malang-Jakarta tanpa henti melalui berbagai kota yang menjadi tempat singgahnya, baik di Jawa Tengah atau di Jawa Timur. Juga ada teman yang mencoba menikmati kereta api Bogor-Sukabumi. Sebuah rute baru bebas macet dan terjangkau. Dan lainnya.

Kembali ke daun, setelah saya membagi teman-teman dalam beberapa kelompok, maka meminta semua kelompok untuk mengumpulkan daun yang dibawanya dari rumah menjadi satu. Dari daun yang ada tersebut, semua guru harus mengelempokkan daun-daun itu. Maka terjadilah diskusi dalam kelompok-kelompok itu tentang dasar pengelompokkannya. Maka ada kelompok yang mengelompokkan daun-daun yang ada berdasarkan kerangka daun. Ada yang bedasarkan manfaat  pohon dari  daun yang ada. Juga berdasarkan vitamin yang terkadung dalam tanaman daun tersebut, atau dari dasar yang lain.

"Bagaimana menurut Bapak dan Ibu semua, apakah semua pengelompokkan yag sudah anda buat bersama itu benar? Mengapa?" Tanya saya pada peserta pelatihan. Dan tentunya dengan dalil yang mereka buat, maka semua pengelompokkan daun yang mereka buat dengan dasar pengelompokkan yang mereka sama-sama sepakati adlah benar.

"Apa yang Bapak dan Ibu pelajari dari kegiatan daun itu?" tanya saya.
"Berdiskusi Pak."
"Kebebasan dalam mengklasifikasikan daun Pak."
"Belajar bebas tetapi bertanggung jawab Pak."
"Kami dapat belajar bagaimana pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai pusat belajar."

"Apa langkah berikut setelah kita selesai dengan kegiatan mengklasifikasi daun?" Pertanyaan saya berikutnya. Maka kami diskusi bersama tentang beberapa kemungkinan kegiatan belajar sebagai follow up dari pengelompokkan daun tersebut. Diantaranya adalah;

Memberi warna pada bagian belakang daun, bagian yang  kerangka daunnya jelas menonjol, untuk kemudian kerangka tersebut ditempelkan di kerta kosong, sehingga akan menghasilkan cap daun.

Anak-anak juga dapat menempel salah satu daun yag mereka suka, kemudian menguraikan pembelajaran tentang daun secara lebih luas dan dalam. Atau bahkan sekedar mencatat apa yang telah mereka lakukan dalam belajar daun tersebut dalam bentuk deskripsi, sehingga hasil kerja mereka dapat menjadi bahan display di kelas. Atau bahkan masih banyak sekali yang dapat anak-anak lakukan di dalam kelas sebagai kelanjutan dari aktivitas belajar itu.

Semua yang kami lakukan dalam pembelajaran daun itu, kami tutup dengan diskusi yang lebih intens lagi berkenaan dengan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Saya bermaksud agar kegiatan tersebut dapat menjadi jendela bagi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan siswanya di dalam kelas berbasis aktivitas. Semoga.

Jakarta, 2.1.14