Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 May 2010

Ketika Mereka Masih Kanak-Kanak




Saat kami berkunjung ke rumah keluarga, kami menemukan album foto tahun 94-an. Setelah di scan, inilah foto kenangan masa itu. Foto anak-anak kami. Saat mereka masih kanak-kanak. Sungguh membahagiakan ketika kami sekarang melihat masa dahulu kami. Alhamdulillah bahwa Allah telah memperkenankan kami melihat masa kami muda.

Foto di samping adalah ketika Ikhwan dan Zahra masih berusia lebih kurang 1, 8 tahun dan 8 bulan. Mereka berdua beda usia satu tahun kurang 2 hari.

Beginilah selalu yang menjadi kebiasaannya. Mereka berdua adalah sahabat yang saling isi satu sama lain. Ini terjadi saat bermain di rumah Bude Nani di Kompleks Angkasa Pura II, Tangerang. Anak ketiganya belum lahir.
Jika di rumah Slipi pun, mereka akan berbagi mainan. Kalau yang laki mengendarai mobil-mobilan maka yang perempuannya akan mengendarai sepeda roda tiga. Ruang tamu hingga ke dapur, adalah area mereka saling berpacu. Sementara Eyang, akan menemani mereka bermain dengan membaca Al Qur'an di depan pintu kamarnya.






Ini foto Ikhwan saat dia ada di TKB. Mungkin menjelang masuk bangku SD. Saat pulang kampung. Tentu juga saat Mbah Laki masih sangat sehat waktu itu. Sepatunya adalah sepatu favoritnya. Dan sepatu ini meski 'kedodoran' menjadi seragam utamanya. Hingga Ibunya sebel.










Ini aksi paling menggemaskan. Sejak kecil anak ini sudah 'siap' menginap di rumah Budenya. Dan mandi dengan disiram air, menjadi salah satu aksi yang pernah dilakoninya. Usianya sekitar 3 tahun.









Foto Wildah. Usia saat itu sekitar satu tahun. Lahir bertepatan dengan hari Maulid tanggal 9 Agustus 1995. Adalah teman setia Eyang. Karena kedua kakaknya sudah masuk bangku sekolah saat dia berusia 1 tahun.












Jakarta, 17 Mei 2010

06 May 2010

Siap Menang Tapi Tidak untuk Kalah


Pada suatu malam, saya terlibat diskusi dengan sahabat berkenaan dengan pengumuman hasil Ujian Nasional SMA dan SMP sederajat, dan fenomena cara siswa dalam memberikan tanggapan hasil UNnya. Diskusi tidak berkait dengan pro kontra pelaksanaan UN atau menurunnya hasil UN tahun 2010 ini dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang merupakan hasil terendah, tetapi tentang hal yang berkenaan para siswanya yang menjadi peserta UN.


Sahabat saya menyampaikan rasa prihatinnya bahwa ada beberapa siswa yang gagal dalam UN menanggapinya dengan perilaku yang tidak selayaknya dilakukan oleh orang yang sedang mengalami kegagalan. Terlebih bahwa kegagalan UN tahun 2010, belum merupakan kegagal final. Mengingat masih ada UN Ulangan untuk mereka yang gagal dalam UN Utama.

Dan dengan pemahaman yang demikian, maka sikap marah-marah, berteriak-teriak karena rasa kecewa yang teramat sangat, bahkan hingga merusak fasilitas yang ada sebagai bentuk sikap kecewa, merupakan perilaku yang tidak santun, kurang mawas diri dan merupakan bentuk perilaku yang tidak tahu diri. Terlebih ada yang karena malunya tidak lulus dalam UN Utama itu meski hanya disebabkan oleh satu nilai mata pelajaran, hingga sikap fatal yang dipilihnya sebagai solusi, yaitu bunuh diri.

Apakah begitu sakralnya atau begitu mulianya UN ini, sehingga jika hasil yang diperolehnya gagal maka harus mengakhiri hidup sebagai cara penyelesaiannya? Mengapa begitu pendek cara berpikir remaja itu? Betapa tidak siapnya remaja kita ketika menemui kebuntuan, kegagalan atau kesulitan. Mereka seperti hanya siap untuk berhasil, lulus, sukses, dengan tanpa mau berkalkulasi tentang ikhtiar yang dijalaninya. Siap menjadi pemenang dan tidak untuk menjadi pekalah.

Dari fenomena yang ada itu, setidaknya ada dua hal yang dapat kami petik sebagai hal penting dalam catatan refleksi. Pertama; Bahwa pendidikan kita masih belum membelajarkan bagaimana menghadapi kegagalan. Hasil pendidikan yang kita lakukan di kelas-kelas, hingga detik ini masih mengajarkan bagaimana untuk berhasil. Tapi masih jauh dari menyiapkan generasi yang siap gagal. Atau setidaknya generasi yang siap untuk menemukan solusi dalam kesulitan, kebuntuan, atau bahkan kegagalan yang dihadapinya. Bagaimana untuk memiliki mental problem solver.

Karena sesungguhnya berhasil dan gagal adalah dua sisi mata uang yang akan selalu ada dalam setiap akhir ikhtiar kita. Dan bukan berhasil dan gagalnya yang paling pokok yang harus kita hadapi. Tetapi lebih dari bagaimana kita mensikapi dua fenomena itu.

Kedua; Pendidikan kita di sekolah sekarang ini adalah pendidikan untuk generasi yang serba gampang. Model generasi ini adalah kemudahan yang luar biasa bagi kehiduopannya. Karena kemudahan itulah justru membuat mereka menjadi bukan pekerja keras.

Mengapa harus bekerja keras? Bukankah semua yang diinginkan dapat dicapai tanpa harus berusaha keras? Sejak kebutuhan yang dari rumah, berupa sandang, pangan dan fasilitas pribadi seperti telepon seluler, semua terpenuhi tanpa harus berjuang untuk mendapatkannya. Kondisi demikian telah dan terlanjur terbentuk. Perilaku ini menjadi bertambah subur karena prinsip sebagian orangtua terhadap anaknya: Biarlah anak saya tidak perlu susah lagi sekarang, sebagaimana saya dulu saat seusia mereka.

Bahkan dalam kasus tertentu yang lain, untuk lulus UN pun tidak harus belajar. Karena esok pagi menjelang masuk kelas dan mengisi lembar jawaban, kunci jawaban telah sampai pada mereka dalam bentuk sms?
Namun betapapun fenomena remaja seperti itu tidak terjadi pada setiap remaja. Banyak sekali remaja kita yang tetap memiliki visi dan prioritas hidup yang maju. Ia adalah remaja-rejama mandiri yang faham akan masa depannya. Bahwa usahanya sekarang adalah bentuk investasi bagi keberhasilan dirinya di masa depan. 

Cipete-Jakarta, Selasa, 27 April-10 Mei 2010

05 May 2010

Tetap Mengalah


Semestinya saya pasang wajah tersinggung atau langsung berkomentar: "Maaf, saya tidak membutuhkan masukan Anda hari ini." Tapi mungkin karena saya sedang rendah hjati atau justru malah rendah diri, kalimat itu tidak terucap dan hanya nyangkut di kerongkongan saya, dan kembali masuk dalam dunia ide bersamaan dengan saya menelan ludah.

Mengapa saya pantas tersinggung? Karena setiap menuliskan sesuatu, baik pengalamannya atau hasil observasinya, saya merasakan sentilan yang luar biasa. Sentilan yang mengandung emosi negatif terhadap apa yang dibuat orang lain. Merasa dirinya paling benar atau bahkan mungkin paling pintar atau justru merasa bahwa dirinya standar kebenaran dan kepintaran itu sendiri. Bah!

Dan pada saat yang sama maka dirinya akan melihat dan memposisikan saya sebagai obyek yang tidak selevel dengannya. Oleh karenanya, kritikan dan masukan yang disampaikannya tidak lebih dari cacian pada diri saya yang membuat saya kurang bersimpati.

Pada saat yang sama juga, saya tidak sedang membela diri atas temuannya. Yang mungkin dengan temuan itu akan menjadi bagian dari titik tolak bagi perbaikan diri saya di masa mendatang. Namun cara dan sudut pandang yang diambilnya dan dijadikannya acuan kritikannya, membuat saya tidak legowo.

Jangankan pada tulisan yang dibuatnya. Dalam komentar-komentar yang ditulisnya atas apa yang oranglain buat pun, selalu nyinyir bernada merendahkan atau juga meremehkan. Dan tidak jarang justru memukul balik.


Dan ketika saya mencoba untuk memberikan pengertian kepadanya, senyum sinis sebagai balasannya. Saya sempat berpikir; kapan dan bagaimana caranya orang ini nanti akan disadarkan oleh Yang Maha Pemberi Kesadaran? Atau mungkin dengan cara sebagaimana yang Band Cokelat gambarkan dalam lirik lagunya yang berjudul Karma? Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang menjadi rahasia di bumi dan di langit. Meski saya tidak berharap model kesadarannya sebagaimana cerita dalam lagu itu, namun setidaknya akan ada masanya nanti dia memiliki lebih banyak lagu tenggang rasa dan pemahaman bahwa dia hidup bersama-sama dengan orang lain yang butuh juga penghormatan dari dirinya. Semoga.

Terakhir yang saya dapatkan adalah tulisannya mengenai bagaimana semestinya berperilaku terhadap anak. Dia sampaikan semestinya di sekolah anak tidak hanya dicekoki dengan ilmu pengetahuan akademik an sich. Atau katanya dalam kalimat yang lain: Seyogyanya kita mesti melihat pendidikan anak di sekolah tidak selalu dengan kaca mata akademik?

Mengapa saya menjadi tersinggung dengan apa yang disampaikannya itu? Bukankah itu yang selalu saya katakan dan saya serta teman-teman lain lekukan di sekolah yang kami cintai ini? Apakah stetmen kami bahwa Ujian Nasional bukanlah satu-satunya hasil belajar, yang juga kami deklarasikan dalam Buku Panduan Sekolah, jelas-jelas menyatakan hal itu? Bukankah kami di sekolah benar-benar telah mengejawantahkan keyakinan kami tersebut dalam bentuk komitmen perilaku tentang keterampilan lain selain keterampilan akademik seperti sekolah kebanyakan?

Saat saya menuliskan ini, saya masih berpikir untuk mengalah. Bagaimana jika Anda adalah saya?

Jakarta, 5 Mei 2010

01 May 2010

Martabat


Pernahkah Anda berpikir bahwa, bila menduduki jabatan baru, menjadi sesuatu, itu berarti juga akan memperoleh martabat yang lebih dibandingkan sebelum Anda diangkat atau sebelum Anda menjadi sesuatu itu?
Yang juga berarti kebalikannya, bahwa kalau Anda turun dari menjadi sesuatu itu berarti pula martabat dan penghargaan orang di sekitar Anda menjadi luntur atau berkurang?
Jika demikian apa yang menjadi model berpikir Anda, sebaiknya Anda memulai sadar akan kekeliruan itu. Karena, setidaknya ini menurut saya, bahwa martabat atau penghargaan seseorang terhadap seseorang yang lain dalam jangka waktu yang panjang ada dan terletak pada diri orang yang bersangkutan.
Jabatan dan kedudukan dengan ketiadaan integritas diri yang mulia, hanya menghantarkan penghormatan terhadap orang yang bersangkutan dalam tempo yang singkat. Model manusia seperti ini paling lama akan dihormati orang disekelilingnya hanya selama jabatan itu ada pada dirinya. Dan orang sekilingnya itu mungkin bahawannya sendiri. Namun sesudah itu orang akan melupakannya dan menjadikannya teladan bagi ketidakmuliaan.
Bahkan beberapa hari ini kita bisa melihat di tv atau membaca di surat kabar bagaimana orang menjadi tidak begitu dihargai martabatnya setelah diketahui hal atau bagian dari hidupnya yang tidak mencerminkan integritas. 

Demikian juga sebaliknya. Bilamana diri dan pribadi tersebut dengan hiasan aklak integritas kemuliaan, maka dimanapun ia, terlebih dengan kedudukan dan jabatan yang menjadi amanahnya, martabat yang pantas akan tersandang mapan.


Tapi mengapa masih ada beberapa sahabat dan kolega atau tetangga kita yang mengejar penuh nafsu jabatan dan kedudukan demi mencita-citakan martabat diri yang tinggi? Orang-orang model seperti ini akan mengalami masa frustasi bilamana jabatan atau kedudukannya hilang. Sekalipun jabatan dan kedudukan yang dimilikinya tidak terlalu tinggi di sebuah lembaga yang juga tidak terlalu besar itupun lenyap dari genggamannya.

Maka jika kita menemukan teman yang memiliki model manusia seperti itu, segeralah ingatkan untuk melihat bahwa implikasi dari keseluruhan atmosfir yang ada dalam lingkungannya bermula dari diri sendiri. Inilah sesungguhnya konsep kausalitas yang adil bagi siapapun juga.

Dan semoga kita masuk dalam bagian yang menyadari bahwa memperbaiki diri sendiri berarti memperbaiki masa depan sendiri dan seluruh konstelasi lingkungannya.

Jakarta, 1 Mei 2010

13 April 2010

Mengapa Mesti Repot-Repot?

Mengapa mesti repot-repot untuk melakukan atau untuk membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik, menyenangkan dan menantang siswa? Pernahkan kita mendengar kalimat seperti itu? Kalau belum pernah, mungkin ada baiknya saya akan menjelaskan apa yang pernah saya dengar.
Saya mendengarnya beberapa waktu lalu dengan seorang Kepala Bagian di sebuah lembaga. Ia menceritakan setelah kami meningalkan tangga Masjid seusai menunaikan Salat Magrib. Dia menceritakan ini mengingat himbauan dan ajakannya, sebagai panitia di sebuah kepanitiaan, yang mengharuskannya untuk mengundang teman-teman guru guna mengikuti pelatihan yang diselenggarakannya. Namun betapa kagetnya dia saat Pak Guru itu menolak tawarannya dengan kalimat yang lebih kurang seperti judul di atas.


Benar. Mengapa harus repot-repot? Harus membuat perencanaan yang lebih matang, yang oleh karenanya harus memerlukan informasi yang lebih banyak lagi berkenaan dengan ide tentang proyek belajar? Pilih saja kegiatan belajar yang pernah ada sebelumnya, yang tidak lagi menuntut kita untuk berusaha lebih keras lagi dalam pembuatan rencana. Flat saja. Lakukan seperti apa yang pernah kita lakukan. Lakukan sebagaimana biasanya. Tidak perlu lagi membuat sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita lakukan. Karena itu berarti kita sedang menciptakan pekerjaan baru? Jadi, ngapain harus repot-repot?


Inilah logika bagi penganut faham: mengapa mesti repot-repot? Saya menyampaikan ini bukan karena berkepentingan dengan ada sebuah pembahruan di sebuah lembaga. Ini murni saya sampaikan karena betapa ruginya hidup bagi penganut faham itu. 

Ada beberapa alasan mengapa saya memiliki kesimpulan seperti itu. Pertama, bahwa dalam usaha memperbaiki diri secara terus menerus guna mencapai derajat mulia atau yang bermartabat, maka proses melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dalam kerangka pengembangan, penumbuhan dan penyempurnaan adalah inti dari sebuah makna kata survive. Wujud paling nyata dari makna kata itu yang dapat kita saksikan bersama dalam kehidupan ini adalah, bagaimana pelaku usaha selalu merubah tampilan produknya dengan selalu menyesuaikan diri dengan apa yang sedang tumbuh dan hidup dipemakai produknya. Dan tanpa ikhtiar ini, maka berhentilah kelangsungan hidup usahanya (?).

Untuk itu maka guna mempertahankan eksistensi, diantara ikhtiar dan perjuangan untuk mendaatkanya dan wajib kita lakukan adalah untuk tidak sungkan melakukan sesuatu yang berbeda dengan tujuan mencapai pertumbuhan menuju yang lebih baik. 

Kedua, Nikmatilah hidup ini dengan cara yang berbeda-beda. Maksudnya? Jangan pernah kita mau untuk melihat, mendengar, merasai, ataupun melakukan sesuatu dengan menggunakan kaoordinat yang sama. Linier terus menerus dan berkepanjangan. Jauh lebih baik kita menggunakan semangat eksploratif. Jika jalan berbeda yang kita tempuh dan karena itu kita akan menjadi gamang, jalan terus. Bukankah sesuatu yang berbeda kan membuat pengalaman kita bertambah dari apa yang kita lakukan kemarin? Bagaimana jika keberbedaan itu kita jadikan kredo berpikir dan bertindak kita, apakah tidak berarti kita jauh memiliki pengalaman yang lebih kaya? Lalu bagaimana dengan bertambahnya kerepotan yang harus kita jalani? Justru semakin repot itulah yang menjadikan pengalaman yang akan kita dapatkan menjadi lebih berharga.

Ketiga, Berpikirlah selalu dari kata mungkin. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semua hal serba mungkin. Jika demikian, maka keberhasilan dan eksistensi yang orang lain dapatkan juga dapat pula menjadi bagian dari diri kita.


Dan sebelum saya berpisah dengan teman saya itu, saya sempat berguman pada diri sendiri. Bahwa orang yang mengatakan ngapain repot-repot itu sangat boleh jadi kalau dirinya berada pada posisi bahwa dia tidak tahu kalau ia menjadi bagian dari orang-orang yang tidak tahu. Kasihan.

Jakarta, 15 April 2010

Belagu

Kalau dalam bahasa Ibu saya, istilah yang paling cocoknya adalah kemlinthi. Penjelasannya adalah sikap sok. Misalnya saja sok punya. Maka bagaimana menampilkan diri menjadi seperti punya , misal saja seperti orang yang punya uang. Padahal sesungguhnya sikap sok menjadinya itu adalah upaya mengelabuhi diri sendiri yang memang kontras dengan apa yang ditampilkannya. itulah penjelasan saya tentang sikap atau perilaku belagu.
Pagi itu, Ahad, 18 April 2010, kebetulan saya mendengarkan siaran Radio dalam acara Talk Show Tilawah Al Quran yang menghadirkan Ustad Yusuf Mansur dan Ustad Efendi. Dalam selingan ceramahnya, Ustad Yusuf bercerita bahwa masih ada beberapa orang yang menjadi imam ketika shalat di masjid, yang bacaan shalatnya masih belum tuntas benar. Dimikian Ustad muda ini mengawali ceritanya. Repotnya, lanjutnya, ketika saya mencoba untuk menyampaikan beberapa bacaan yang kurang benar itu, si imam justru nanya; memang antum siapa?
Diceritakan pula saat rombongan Ustad ini jamaah di suatu tempat di tanah Arab, dan kebetulan imam masjidnya ada yang kurang benar dalam bacaannya, dan disampaikan kekurangannya itu, maka sang imam langsung meminta agar seluruh bacaan Qur'annya di koreksi. Nah!

Dari apa yang saya dengarkan pagi itu saya memperoleh pencerahan kalau belagu juga dekat dengan kebodohan. Artinya, seseorang yang memiliki sikap belagu, akan membuat dirinya untuk menjadi yang paling benar dan yang paling pintar diantara orang yang ada, sehingga sikap ini akan membuatnya lupa bahwa ada hal penting dalam dirinya yang masih perlu diperhatikan dan diperbaiki. Sikap inilah yag memperlambat pengembangan potensi dirinya.
Sikap ini menutupi potensi kita untuk berkembang melejit. Karena sikap belagu akan membuat seseorang menjadi pongah. Dan sikap pongah akan memunculkan keyakinan pada diri sendiri yang mungkin menjadi berlebihan, yang tidak memungkinkan seseorang menjadi lebih ikhlas dalam menerima masukan. Artinya, sikap belagu sangat boleh jadi milik mereka yang tidak tahu kalau dirinya kurang atau bahkan tidak tahu.

Dari sini jugalah saya akan mulai bergerak sekuat tenaga untuk belajar menjadi orang yang bukan siapa-siapa yang memungkinkan saya melihat diri saya tidak lebih dari pada orang lain yang ada di sekitar saya. Berat. Karena saya terlanjur dewasa. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dan usaha ini harus saya lakukan karena masa di depan saya masih terbuka lebar untuk apa saja yang saya impikan.

Saya berharap, ikhtiar ini membawa keberkahan hidup. Amin.

Jakarta, 18-27 April 2010

12 April 2010

Pelajaran di Hari Libur Sekolah


Ada pelajaran berharga sekali ketika libur saya kembali ke kampung beberapa waktu lalu. Saat dimana Bapak saya masih ada. Dimana sembari menengok Bapak saya memberitahukan keberadaan saya di kampung kepada sahabat saya seperjuangan di kampung yang mengelola sekolah swasta.

Sahabat meminta saya untuk meluangkan satu hari disaat-saat menengok Bapak, guna memberikan pelatihan bagi teman-teman gurunya yang berjarak lebih kurang 60 kilometer dari rumah Bapak saya. Maka pukul 05.30 saya telah bersiap sedia di pinggir jalan raya menunggu bus AKAP Jogjakarta-Purwokerto yang bisa saya tumpangi.

Pukul 08.00-15.00 pelatihan itu berlangsung. Meriah sekali. Saya mengajak peserta untuk melihat potensi yang paling mungkin dieksplorasi dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna di dalam kelas. Kadang mereka serius memperhatikan apa yang saya sampaikan. Atau kadang mereka sendiri yang mempresentasikan hasil analisa kelompoknya atau menyimak hasil kerja kelompok lain. Sesekali mengajukan pertanyaan yang operasional berkenaan dengan apa yang saya sampaikan. Bahkan ada kalanya kita termangu seperti tidak percaya bahwa dengan modal yang sederhana dapat menjadikan belajar menyenangkan dan menantang siswa.

Berapa gaji sebagai guru di sini? Tanya saya kepada teman yang memboncengkan saya untuk mengantarkannya di pool bus Sumber Alam. Saya lupa siapa nama guru itu. Tapi sepengatahuan saya, ia adalah kelompok awalun ketika sekolah swastanya didirikan beberapa tahun lalu. Artinya masuk dalam kelompok guru senior di sekolahnya yang baru tersebut.

Guru baru dua ratus ribu. Sedang guru yang tergolong senior ditambah sebagai guru kelas dan koordinator ekskul bisa dapat limaratus lima puluh. Kalau kepala sekolah tujuh ratus lima puluh. Jawabnya tulus. Terus terang, saya yang menjadi guru swasta di Jakarta tidak terbayangkan dengan jumlah gaji sebesar itu.

Hebat. Pikir saya. Karena selain guru-guru yang mengajar di sekolah swasta, saya kebetulan juga bersahabat dengan teman SPG dulu yang sekarang menjadi PNS. Rata-rata sahabat SPG saya sekarang telah memiliki golongan 3. Dan bahkan ada yang telah menjadi Kasi Dikpora. Dan pastinya memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dari itu. Itu keyakinan saya ketika saya mengunjungi rumah mereka yang mentereng.

Hebat karena dengan pendapatan sebesar itu jam kerja mereka tidak kalah dengan kita yang ada di Jakarta. Rata-rata mereka harus sudah di dalam kelas pukul 07.00 dan kelas kosong dari siswa sekitar pukul 15.30! Dan jam pulang siswa itu belum berarti mereka bisa meninggalkan sekolah. Karena sangat sering masih ada kegiatan di luar mengajar. Mungkin ada diskusi, mempersiapkan kegiatan belajar hari berikut atau rapat tentang kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

Hebat karena ada beberapa diantara mereka adalah sarjana dari Lampung, Bogor, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Jogjakarta dan juga Surakarta. Bahkan ada juga lelaki separuh baya yang memiliki akta IV, korban PHK di Tangerang dan memilih kembali ke kampung halamannya. Selain pengusaha pupuk kompos adalah juga guru Matematika di kelas 4, 5 dan kelas 6.

Inilah sekelumit pelajaran yang saya dapatkan di saat libur sekolah tahun 2008 yang lalu. Menengok Bapak yang saat itu masih ada dan memberikan pelatihan kepada teman-teman guru yang hebat.

Jakarta, 12 April 2010.

04 April 2010

Mempertajam Radar Sosial

Inilah kata saya kepada salah seorang keponakan saat kami berkumpul di sebuah arisan keluarga. Kata ini saya sampaiakna dihadapan para keponakan setelah ada kejadian kendaraan yang tidak bisa melintas di jalanan komplek di mana kami berkumpul karena adanya dua kendaraan yang parkir berdekanan satu dengan yang lainnya namun berada pada sisi yang berbeda.


"Kendaraan yang mana yang tadi parkirnya lebih awal?" Tanya saya.
"Yang warna putih Om." Jawab salah satu keponakan mencoba menjelaskan.


Dan dengan keterangan ini cukup bagi kami untuk menentukan siapa pemilik kendaraan yang tidak berperikendaraan. Yang memakirkan kendaraan di sisi kendaraan yang parkir terlebih dahulu tanpa berpikir apakah jalan yang juga menjadi tempat parkir tersebut masih memberikan akses bagi kendaraan lain untuk melewatinya?


Di sinalah saya menjadi sangat terheran-heran. Apakah kendaraan yang parkir belakangan dikendari oleh pengemudi yang lulus dari sekolah kita? Apakah tidak sampai diakalnya jika jalanan dimana dia memarkirkan kendaraannya adalah bukan jalan buntu?


Bentuk sikap dan perilaku yang telah ditunjukkan oleh pengemudi mobil yang parkir belakangan itu saya sebut sebagai penyakit tumpul radar sosial. Yaitu ketidakpedulian seseorang terhadap implikasi sosial atau implikasi lingkungan dari tindakannya.


Meski ia adalah orang yang memiliki gelar akademis yang baik dan reputasi kerja atau jabatan yang bagus, namun sikapnya tersebut telah memberikan gambaran bagi kita, atau memberikan bukti bagi kita bahwa yang bersangkutan adalah pemilik kecerdasan sosial yang lemah. Atau pemilik dari radar sosial yang tumpul. Yang menyebabkannya sulit membaca lingkungan sosial yang berkorelasi dengannya.


Pengalaman yang saya alami ini sangat mungkin juga pernah pembaca lain alami pula. Meski dalam bentuk empiri yang berbeda.


Itulah pentingnya bagi kita untuk mampu memetakan konstelasi sosial yang berada dalam lingkungan dimana kita berada dan berinteraksi. Yaitu dengan terus menerus mempertajam kemampuan menangkap sinyal dari lingkungan sosialnya. Mempertajam radar sosial.


Jakarta, 4 April 2010

03 April 2010

Mungkin


Saya menemui dan menemani tamu yang melakukan kunjungan studi di sekolah kami. Mereka rombangan dari sebuah Kabupaten di Jawa Timur yang dipimpin oleh Wakil Bupatinya. Rombongan ini terbilang lengkap untuk sebuah kerangka perubahan di sebuah Kabupaten yang mereka impikan. Ada dari ekskutif; Wakil Bupati, wakil dari Dinas Pendidikan, wakil dari sekolah dan juga dari Legeslatif; yaitu beberapa anggota DPRD yang membidangi pendidikan. Ini kami lakukan untuk membuat pilot project sebuah sekolah yang dapat diunggulkan. Demikian penjelasan kepala rombongan.

Namun setelah presentasi tentang sekolah yang kami sampaikan selesai, dilanjutkan kunjungan ke kelas-kelas dan melihat fasilitas yang ada, saya banyak mendengar kata-kata yang diungkapkan anggota rombongan yang tidak menyiratkan optimisme dan semangat Oh Ya!.

  • "Sekolah ini luar biasa Pak Agus. Semua fasilitasnya lengkap. Semua serba kondusif untuk menjalankan program-program unggulan. Beda sekali dengan apa yang ada di sekolah kami. Apa yang bisa kami contoh ya Pak?" Kata salah satu anggota rombongan ketika berada di ruang Komputer.

  • "Bagaimana ngak maju Pak, biaya yang dikeluarkan juga wah? Beda dengan kita yang di daerah." Kata anggota rombongan lainnya.

  • "Luar biasa sekolah ini Pak. Jika sekolah ini nanti yang akan menjadi patokan kami di daerah, wah ngak kebayang bagaimana kami harus mengejar semuanya. Kami pesimis Pak Agus." Komentar yang lain lagi.
Pendek kata, banyak komentar anggota pengunjung yang datang ke sekolah kami yang bernada pesimis, minder, serta sama sekali tidak melihat bahwa diri dan potensi mereka memungkinkan untuk mampu berbuat apa yang telah kami capai atau bahkan melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dan maju dari pada apa yang dilihatnya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di ruang pelatihan atau ruang guru yang ada di sekolah, sikap semacam ini, sesungguhnya tidak hanya menjadi milik anggota rombongan studi lapangan itu saja. Banyak diantara kita ketika melihat sesuatu yang berbeda atau sesuatu yang baru atau juga sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah menjadi milik kita hari ini, kita menyikapinya dengan nada yang tidak mencerminkan keoptimisan.

Banyak diantara kita ketika pada posisi itu pikiran pertama yang muncul adalah ketidakmungkinan. Dan pikiran dan sikap inilah, menurut saya, yang pertama harus kita singkirkan agar kita tidak selalu bangga dengan apa yang sudah kita punya. Kita harus berani atau nekat jika diperlukan untuk merubah pikiran dan sikap ketidakmungkinan tersebut menjadi mungkin!

Mengapa kita perlu terus menerus belajar dan melakukan studi banding jika dalam dasar benak kita hanya ketidakmungkinan yang akan kita rekomendasikan sebagai tindaklanjutnya? Bukankah jauh lebih efisien jika kita tetap tidak melakukan apa-apa jika konsep ketidakmungkinan yang menjadi jalan keluar setiap ikhtiar kita?

Maka sangat korelatif jika ikhtiar untuk maju dan berkembang serta tumbuh pada diri kita dan pada sebuah lembaga itu dilandasi pikiran dan sikap mungkin. Karena hanya dengan semangat mungkin-lah yang akan menghantarkan kita menuju tujuan yang telah kita buat dalam koordinat hidup kita sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam sebuah lembaga yang bernama sekolah.

Semangat mungkin, hanya mampu dimiliki oleh kita yang menjadi penganut faham optimisme. Faham bahwa berubah adalah sebuah perjalanan hidup yang harus selalu dilalui. Semoga.

Jakarta, 1-12 April 2010

30 March 2010

Catatan untuk Peserta UN

Selasa, 30 Maret 2010, adalah Ujian Nasional SMP hari kedua dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya telah datang ke sekolah pukul 05.50 bersamaan dengan panitia UN dan Pengawas Independen yang datang dari Rayon dengan membawa soal ujian.

Mempersiapkan sesuatu yang memungkinkan peserta merasa nyaman ketika akan menghadapi soal di mejanya masing-masing. Kami sambut beberapa siswa yang mulai berdatangan di 'gerbang' sektor pelaksanaan UN di SMP kami. " Bahasa Inggris Nak. Semoga sukses ya!" Kata saya kepada siswa yang datang dengan senyum yang menyiratkan optimisme. " Amin. Terima kasih pak Agus!" Jawabnya tulus. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.

"Bagaimana hari ini?" Tanya saya kepada siswa yang lain.
"Biasa saja Pak Agus." Jawabannya ringan.
"Bagaimana soal yang kemarin?" Lanjut saya.
"Ya begitulah Pak." Sahutnya.

Wajah dan penampilannya khas remaja merdeka. Saya istilahkan demikian karena remaja saya, menurut asumsi saya, ini memiliki prinsip hidup merdeka tanpa tekanan. Masa UN atau tidak tidak tergambar di raut mukanya. Ekspresi tubuhnya menyiratkan sikap rileks tanpa beban. Perilaku saat UN seperti yang ditampilkan pada hari ini, berkorelasi samadengan dengan apa yang dia tampilkan jauh sebelum persiapan UN dilakukan. Perolehan angka akademik saat TO yang lalu, yang menjadi patokan dalam pelaksanaan UN kali inipun, tampaknya tidak atau belum membuatnya terpancing untuk berperilaku sungguh-sungguh.

Saya melihat jam tangan, waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Belum terlambat memang. Karena peserta UN diharapkan memasuki ruang UN tepat pukul 07.30. Namun pada pukul tujuh lewat dua puluh menit itu ada kegiatan Shalat Dhuha yang dilakukan oleh seluruh siswa peserta UN di Ruang Serba Guna. Tentu dengan bimbingan guru yang menjadi panitia UN.

Saya bergerak ke Ruang Serba Guna untuk ikut menikmati suasana kepasrahan, keikhlasan dan kekhusuan yang tergambar di hampir sebagaian peserta UN dalam melaksanaan Dhuha. Khidmat sekali suanananya. Saya bangga dengan remaja-remaja ini. Mereka bisa begitu menghayati apa yang mereka ingin capai. Yaitu lulus UN dengan hasil nilai angka UN setinggi-tingginya. Karena hanya saya setelah itu yang menjadi impiannya. Yaitu memasuki gerbang SMAN pilihannya dengan berbekal angka tersebut.

Saya keluar ruangan dan merenung. Inilah tantangan saya sebagai guru bagi remaja-remaja itu. Satu sisi ada remaja merdeka yang tidak tahu dan tidak sadar akan 'posisi' dirinya. Dan di lain sisi ada remaja-remaja yang menikmati keremajaannya dengan penuh perjuangan untuk memperoleh apa yang menjadi impiannya.

Saat seperti ini, tidak ada yang bisa saya lakukan selain bermohon kepada Allah SWT bagi kemudahan dan kesuksesan serta keberhasilan terhadap apa yang siswa kami telah ikhtiarkan pada UN tahun ini.

"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Agung. Berikanlah selalu hidayah dan panduan-Mu kepada remaja-remaja saya ini. Kami bermohon kepada-Mu untuk keberhasilan mereka semua. Baik yang ada di sekolah atau yang ada di rumah kami sendiri. Amin."

Jakarta, 31 Maret 2010

28 March 2010

Membuat Display Kelas

Display atau pajangan kelas, merupakan pengalaman baru bagi saya sebagai guru di sekitar bulan Juli 1996 yang lalu. Baik dalam ranah pengertiannya, pemahamannya, urgensinya, dan juga pada sisi operasionalnya, yaitu saat saya harus mengerjakannya.
Pengalaman baru, karena sebelum ini, selama sebelas tahun saya menjadi guru kelas di tingkat sekolah dasar, membuat display bagi saya tidak masuk dalam jobdes sebagai guru kelas. Lalu apakah pajangan yang ada di kelas saya sebelum itu? Yang ada adalah foto Garuda Pancasila, Presiden dan Wakil Presiden, serta pahlawan nasional yang berbingkai. Pajangan itu lestari sejak awal tahun pelajaran hingga penerimaan rapor kenaikan kelas.

Dan sekarang, saya memiliki tugas tambahan sebagai guru kelas lima sekolah dasar itu dengan latar belakang sebagaimana yang telah saya sebut. Jadi bagaimana saya memulai pembuatannya itu. Inilah nukilan pengalaman saya.

Pertama saya bertanya pada teman pararel kelas saya berkenaan dengan fungsi dari papan-papan display itu. Istilah display ini pun baru saya kenal saat hari pertama saya berada di sekolah baru saya itu. Hari pertama saya masuk adalah lima hari kerja sebelum siswa masuk sekolah.

Dari uraian teman, saya menyiapkan karton buffalo sebagai back ground dan list atau bingkai dari papan display yang tersedia. Di dalam kelas, semua ada 4 papan display. Tiga papan ukuran 240 sentimeter kali 120 sentimeter dan satu ukuran 240X60 sentimeter.
Dengan ketiadaan pengalaman dan cita rasa tentang warna, saya seharian memasangi papan display itu dengan warna yag beragam. Ada warna merah dengan list warna hitam. Warna kuning dengan list warna hitam. Warna coklat muda dengan list coklat tua. Dan pilihan warna-warna itu setelah melihat apa yang dipilih oleh teman pararel. Dan ketika sore hari, teman saya yang lain memberi komentar terhadap hasil kerja saya, yang membuat saya nyaris putus asa. Komentarnya: Agus, warna di kelasmu seperti warna mau pesta!

Komentar itu telah memberikan bukti kepada saya bahwa pengalaman mengajar sebelas tahun mengajar sebagai guru, seolah tidak memberikan kontribusi kepada saya pada hal kecil. Yaitu membuat display kelas. Saya malu pada diri sendiri. Tapi saya coba berpikir berbeda; Inilah sekolah baru saya, tempat saya belajar menjadi guru pada fase yang berbeda.

Mengapa saya memaknai sebagai fase berbeda? Karena saya ingin sekali untuk menjadi guru yang terus menerus memperbaiki koordinat berubah menuju kebaikan. Dan pengalaman membuat display itu adalah indikatornya. Karena saya bergerak dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menuju ke ada.

Apakah pergerakan tidak ada menjadi ada itu sederhana? Dalam artikel ini sangat mungkin sederhana kelihatannya. Namun dalam praktek yang saya alami pada Juli 1996 yang lalu, hal itu merupakan pergulatan perasaan rendah diri, ketidakberdayaan, keputusasaan dan kepasrahan yang memeras integritas saya.

Namun optimisme untuk menjadi lebih baik sebagai semangat hijrah saya, telah menghantarkan saya untuk tidak mudah menyerah dan menyalahkan ketidakberdayaan kepada lingkungan sekitar. Dalam artikel ini pula saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman satu kolega yang ikut berkontribusi kepada usia saya di tahun-tahun itu.

Dari pengalaman saya yang mengalami gegar budaya ketika menjadi guru baru di sebuah lembaga yang bernama sekolah dengan paradigma yang tidak sama dengan apa yang saya dapatkan sebelumnya, akhirnya memberikan hikmah pada diri saya. Yaitu untuk membentangkan tangan selebar yang diinginkan kepada teman baru saya di tahun berikutnya.
Dimana saya sudah menginternalisasikan budaya yang ditahun sebelumnya baru bagi saya pada tahun berikutnya kepada teman baru saya. Tidak saja dalam bentuk orientasi kepada mereka yang menjadi guru baru. Tetapi juga dokumen yang dapat mereka jadikan pegangan. 

Hikmah itu menggarisbawahi bahwa pengalaman meraba-raba dan menduga-duga tentang budaya apa yang menjadi garis perjuangan di sebuah lembaga, yang pernah saya alami ketika menjadi guru baru, jangan berulang kembali kepada teman baru saya. 

Namun sering keterbukaan tangan saya menjadi tidak lebar lagi ketika menemukan teman baru saya yang tidak memiliki rasa kekurangan pada diri mereka.

Jakarta, 30 Maret 2010.

19 March 2010

Menjadi Guru yang Tidak Hanya Pengajar

Kalimat dari judul artikel ini, bukan suatu paradigma yang baru jika konteksnya hari ini. Namun ketika niat itu yang saya kemukakan pada saat interviu di sekitar bulan Maret tahun 1996, saya marasakan hal itu adalah suatu pendobrakan dari model, gaya dan budaya kerja yang mengakar sebagai seorang guru.
Sebuah pencerahan yang baru saya temukan bukan dari hingar bingar artikel di media, seminar atau obrolan. Itulah masa gersang yang saya alami sebagai bagian dari perjalanan menjalani profesi yang bernama guru.
Pencerahan dari pengalaman empiris yang sangat serta selalu menggelisahkan. Menjadi guru di sekolah swasta dengan siswa yang jumlahnya gemuk di setiap kelasnya. Membelajarkan siswa tidak lebih adalah memberikan penjelasan tentang materi pelajaran yang harus dikuasainya. Lalu memberikannya pekerjaan rumah kepada mereka. Dan di ujung penghabisan materi pelajaran, saya akan memberikannya kertas ulangan harian.
Kegiatan itu terus berulang hingga pada akhirnya kegelisahan menyeruak. Pikir saya: Kalau menjadi guru berkutat pada kegiatan berulang seperti ini, dan ini sudah menjadi sistem yang hidup di sebuah lembaga yang bernama sekolah, maka sulit bagi saya untuk mempu memberdayakan diri sebagai guru yang menjadi seorang manusia dengan bernilai lebih. Maka hijrah bagi diri saya menjadi pilihan yang baik.
Hijrah?
Ya. Saya memutasikan diri. Mencari sekolah yang memiliki sistem yang lebih baik bagi pengembangan siswa dan gurunya. Sekolah yang tidak hanya menjadikan kegiatan belajar hanya membuka dan membaca serta mengerjakan soal yang ada di buku teks. Belajar yang tidak sebatas menguasai meteri pelajaran. Sekolah yang memberikan tuntutan kepada gurunya untuk berbuat lebih banyak dan lebih luas lagi dalam menunaikan kewajibannya sebagai guru.
Dan ketika saya diminta untuk mengemukakan pertanyaan sebagai penutup dari acara wawancara, saya mengajukan dua pertanyaan yang menurut saya standar saja. Dan salah satu pertanyaan saya adalah: Apakah menjadi guru di sekolah ini nantinya hanya diminta untuk ceramah, memberi pekerjaan rumah kepada siswanya, membuat soal, memeriksa pekerjaan siswa, dan memberikan penilaian kepada hasil kerja siswa?
Pertanyaan ini tidak membuat pewawancara menertawakan saya pada waktu itu. Justru mereka memberikan jawaban yang semakin membuat saya bersemangat untuk bisa menjadi bagian dari guru di lembaga yang menjadikan kegiatan edukasi tidak sekedar mengejar ketuntasan kognisi.
Dan hingga hari ini, berjuang untuk menjadi guru yang tidak sekedar sebagai pengajar, masih menjadi perjuangan. Karena pada realitanya, masih ada sebagian dari masyarakat yang melihat bahwa hasil belajar adalah nilai angka yang ada di buku rapor siswa. Dan kalau di kelas akhir pada jenjang SD, SMP dan SMA, hasil itu dalam wujudnya yang bernama nilai Ujian Nasional Murni. Maka masih subur lahan bagi guru yang hanya merasa cukup sebagai pengajar.
Itulah lahan bagi saya, dan pastinya Anda, untuk mengajak semua guru yang ada di lembaga masing-masing untuk menjadi guru yang tidak hanya sebagai pengajar! Semoga.
Jakarta, 21 Maret 2010.

15 March 2010

Cita Rasa: Tidak Ada Ekskul


Inilah kisah saya yang lain tentang guru. Kisah ini sangat erat dengan apa yang pernah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya yang berjudul Cita Rasa. Dalam Cita Rasa, saya menyampaikan bahwa kadang ada perbedaan standar (baca:cita rasa) antara kita dengan orang lain terhadap suatu hal yang sama. Halaman sekolah bagi kita bersih. Tetapi ketika pemilik sekolah atau pengawas sekolah datang, ia meminta para pramubakti untuk melakukan pembersihan. Peristiwa seperti ini sangat mungkin terjadi karena kita memiliki latar dan pengalaman yang berbeda dalam melihat sesuatu. Dan perbedaan ini jika masuk dalam ranah kualitas (bukan kuantitas), maka itulah yang saya maksud dengan cita rasa.

Sama halnya jika sesuatu yang saya maksud adalah tentang bagaimana mengawasi siswa. Dalam hal ini siswa di luar kelas intra kurikuler kita. Katakanlah saat ekskul. Karena inilah pengalaman yang akan saya sampaikan. Mengajar ekstra kurikuler Sepak Bola.

Ekskul ini menjadi pilihan saya karena dengan demikian saya dapat berolah raga (baca: lari) sambil mengajar dan menemani siswa bermain sepak bola. Meski sepekan sekali, cukuplah bagi saya untuk membuat mata berkunang-kunang saat membawa lari bola dan dikejar siswa kelas 5-6 SD yang menjadi tim lawan saat latih tanding.

Tapi bukan saat bermain bola yang saya ingin sampaikan. Namun justru saat ekskul tidak dapat dilaksanakan karena sore itu hujan begitu lebat. Hujan turun begitu klami selesai melakukan pemanasan di lapangan rumput yang ada di sisi bangunan kantin sekolah. Tak sempat saya dan teman membuat dan mempersiapkan program pengganti untuk menghabiskan waktu 45 menit berikutnya. Menonton vedio di AV Room? Sudah keduluan orang lain dengan serombongan siswa yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam kebingungan itu, saya meminta siswa untuk duduk menunggu hujan di pendopo TK yang terletak di arah sebelah timur kantin. Setelah diskusi dengan teman, saya berupaya mengambil alat bermain yang ada di store room bawah tangga sekolah. Sebelum alat yang kami inginkan ketemu, saya tergoda untuk melaksakan Shalat Ashar. Suatu niat baik. Tapi tidak dengan skala prioritas yang benar. Dan ketika saya kembali ke pendopo, waktu ekskul telah usai. Alat permainan gagal kami gunakan. Kami memulangkan siswa.

Esok harimya, kawan saya mengajak saya berdiskusi di salah satu ruang kelas. Dia menyampaikan protes kepada saya dengan apa yang saya perbuat kemarin sore. Dia protes mengapa begitu lama mengambil alat mainan. Dan ketika saya sampaikan bahwa kemarin saya melaksanakan Shalat lebih dulu, dia mengutarakan kekecewaannya dengan kelimat yang lebih kurang begini: Agus, kemarin saat kelas Sepak Bola adalah tanggung jawab kita bersama. Tetapi dengan alasan untuk mengambil alat bermain kamu tinggalkan saya sendirian mengawasi siswa ekskul Sepak Bola yang berjumlah 30. Kalau terjadi apa-apa dengan salah satu dari siswa itu karena saya hanya sendirian mengawasi mereka, maka kita berdua akan kehilangan pekerjaan sebagai guru...

Kalimatnya itu, telah memberikan pengajaran kepada saya tentang makna pengawasan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawab kita. Sejak itu, saya memahami sekali bahwa menjadi guru, tidak hanya berhenti ketika kami menunaikan kewajiban mengajar sesuai jadwal pelajaran yang dibuat oleh Kepala Sekolah. Tetapi juga tuntas dalam memberikan pengawasan kepada siswa selama berada di sekolah. (Terima kasih Mick!).

Menurut saya, cita rasa mengawasi siswa agar selalu aman dan dalam lingkungan edukasi pada perkembangan pendidikan sekarang ini, harus menjadi bagian integral dan sistemik, dari ikhtiar seorang pendidik. Karena selain keamanan fisiknya, siswa juga akan lebih terawasi dan pada akhirnya terhindar, dari praktek hubungan senioritas yang sekarang ini lebih dikenal dengan istilah bullying. Semoga!
Jakarta (Slipi Palmerah), 1996/1997-15 Maret 2010.

09 March 2010

Belajar Teori Berlalu Lintas

Etika berlalu lintas akan disiapkan dalam program pendidikan di sekolah. Demikian kalimat yang tertulis dalam berita di Koran Tempo, Selasa tanggal 9 Maret 2010. Program ini akan dimulai pada tahun pelajaran 2010/2011.


Jika yang dipelajari tentang rambu-rambu lalu lintas, maka sesungguhnya ini pernah dan ada dalam pelajaran yang saya sampaikan sewaktu saya mengajar di kelas 1 sekolah dasar pada tahun 1985-1990-an. Bahkan, hingga kini, siswa di tingkat Pra Sekolah atau taman kanak-kanak sudah mengenal rambu-rambu itu. Sebagian sekolah memiliki alat peraganya.

Pertanyannya; apakah hanya seperti itu yang dimaksudkan dengan belajar etika berlalu lintas sebagaimana isi nota kesepahaman antara Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh dengan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri? Saya belum tahu.

Namun berikut saya akan mengutarakan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan etika itu. Kita semua menyadari bahwa para pengendara di jalan raya adalah anak bangsa yang sebelumnya mengenyam sedikit banyak pendidikan di Indonesia. Maka ketika mereka sedang mengerjakan soal ulangan: Jika lampu lalu lintas menyala merah maka kendaraan harus?

Soal ulangan tersebut memang tergolong soal ulangan ranah kognitif pada aspek ingatan. Dengan tingkat kesulitan soal yang tergolong rendah. Oleh karenanya soal itu akan dijawab dengan sangat baik oleh seluruh anak didik. Dan soal ini hanya mengukur pengetahuan peserta didik. Soal ini belum mengukur sejauhmana peserta didik dapat beretika di jalan raya.

Dan ketika si peserta didik tersebut sekarang ini menginjak dewasa dan telah mengendarai kendaraan, maka jika di perempatan jalan lampu lalu lintas menyala merah, sangat boleh jadi pengendara akan melakukan beberapa alternatif.

Alternatif satu; Ia akan berhenti. Karena ia tahu sebelum lampu itu menyala merah akan terlebih dahulu didahului lampu kuning yang menyala. Alternatif dua; Dengan alas an terburu-buru untuk lekas sampai tujuan, dan dilihatnya tidak ada petugas, maka begitu lampu kuning berganti dengan lampu merah, ia segera memcu kendaraannya.

Alternatif satu atau dua, adalah sebuah kenyataan yang ada di setiap rambu lalu lintas. Dan semakin ‘pelosok’ keberadaan lampu lalu lintas tersebut, makin banyak pula yang memilih alternatif kedua dari pada alternatif pertama. Juga jangan hanya dilihat dari jenis kendaraannya. Jenis kendaraan yang bagus dan super mahal sekalipun, masih sering kita temui yang memilih alternatif dua.

Dari sekelumit cerita itu, saya mengajak kita semua berpikir: bahwa beretika dalam berlalu lintas tersebut sangat berimplikasi kepada keselamatan kita di jalan. Jadi bukan hanya karena petugas dan tilang. Jangan sampai karena keyakinan kita yang kedua ini menginspirasi pihak berkompeten untuk membuat patung petugas disetiap perempatan jalan seperti yang sudah ada di wilayah Jawa Tengah.

Jakarta, 9 Maret 2010.

08 March 2010

Belajar Menerima Kritik dan Masukan

Sebagai pegawai yang memiliki tugas selayaknya penjaga gawang di sebuah lembaga swasta bidang pendidikan, maka menerima kritik dan masukan dari manapun pernah saya terima. Apakah kritik dan masukan dari pihak orangtua siswa atau rekan guru atau juga teman sejawat yang kebetulan menjadi sesama penjaga gawang di lembaga swasta lain.

Orang menyampaikan kritik atau saran atau memberikan masukan biasanya karena yang bersangkutan memilki kaitan emosi atau kaitan interaksi dengan kita. Dan keterkaitan emosi dan interaksi tersebutlah yang mendorongnya untuk menyampaikan pandangan mereka tersebut.
Tidak semua kritik dan masukan bertujuan negatif pada diri atau lembaga kita. Kadang justru sebaliknya. Dengan kritik dan masukan itu disampaikan demi kesempurnaan kita dalam menjalani pertumbuhan. Namun ada juga kritik atau masukan yang menjebak, menghina atau bahkan bermaksud menjatuhkan. Ranah terakhir ini, saya tidak akan membicarakannya.

Ada beberapa kritik dan masukan yang disampaikan dengan data informasi yang amat gamblangnya sehingga membuat saya sendiri terhenyak atas fakta yang ada. Tetapi ada pula kritik dan masukan yang setelah kita eksplor ternyata mengambil data dan fakta yang kurang valid atau pernah juga data atau fakta yang telah kedaluwarsa.

Ada pula kritik dan masukan yang memang berharga untuk kita ambil sebagai bahan bagi memperkaya atau memantapkan pada masa tumbuh. Baik kritikan atau masukan untuk diri saya pribadi maupun bagi lembaga dimana saya adalah penjaga gawangnya.

Pernah dalam sebuah pertemuan dengan orangtua siswa di awal saya bertugas di sekolah ini; Agar jika Bapak atau Ibu yang memiliki masukan atau kritik kepada kami, kata saya, agar tidak sungkan-sungkan untuk menyampaikannya kepada kami. Karena kami meyakini itu akan membantu pertumbuhan kami secara sehat dan kuat serta kokoh. Dan himbauan ini nampaknya mujarab. Karena beberapa saat kemudian kritik dan masukan dari pihak orangtua deras mengalir kepada kami. Ada yang langsung disampaikan kepada saya. Ada yang melalui kepala sekolah. Atau juga ada yang menyampaikan kepada bagian admission.
Dan situasi seperti ini menimbulkan rasa khawatir dari sebagian teman. Khawatir keterbukaan yang ada menjadi ternganga tanpa dapat dijaga. Tapi saya selalu meyakinkan bahwa dalam ranah tertentu kita harus terbuka selebar-kebarnya. Namun pada ranah yang lain akan tetap menjadi otoritas kita.

Dan disinilah saya melihat bahwa untuk menerima kritik dan masukan tampaknya kami masih memerlukan banyak belajar. Yaitu belajar untuk tetap berwajah yang menyiratkan kecerahan. Karena kadang atau sering ketika kritik dan masukan datang pada kita, maka tampang defensif yang selalu akan lahir dan meloncat dari raut wajah.

Belajar menerima kritik dan masukan memang butuh latihan. Untuk kali pertama menerima kritik dan masukan, mungkin emosi kita langsung meloncat keluar. Maka kritikan dan masukan ketiga, kelima atau mungkin hingga kesepuluh sikap dan perilaku kita sudah dapat dengan baik kita kontrol.

Dan memang, dalam pelatihan, praktek secara riil, yang saya coba lakukan sendiri beberapa tahun belakangan ini akhirnya membersitkan kesimpulan sementara saya bahwa untuk tidak pernah memberikan alasan apapun terhadap kritik dan masukan yang disampaikan. Semua dsaya terima dengan sepenuh dan setulus hati. Jika pun ada argumentasi yang akan saya kemukakan, msaka itupun atas persetujuan orang yang sedang menyampaikan kritik dan masukan kepada saya.

Allahua'alam.

Jakarta, 8 Maret 2010

Pemilik Angkot

Hal yang biasa jika saya bisa ngobrol dengan tetangga dimana saya tinggal. Tetapi yang menjadi tidak biasa adalah ketika tetangga tersebut memberikan beberapa informasi berkenaan dengan per-angkotan-nya yang dia miliki dan kebetulan saat saya mengajaknya mengobrol, angkot tersebut sedang direparasi total. Reparasi secara mandiri. Dan saat saya menemani tetangga itu bekerja, ia sedang memberikan sentuhan terakhirnya kepada angkotnya itu.

Dia menceritakan betapa beratnya 'memelihara' angkot di Ibu Kota. Angkot jurusan Kebon Jeruk-Tanah Abang, yang awalnya dia miliki pada lima tahun lalu dengan harga pembelian seratus juta rupiah. Angkot itu telah memberikan kontribusinya kepada dia dan keluarga dalam mengarungi hidup di Jakarta.

Namun dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kontribusi yang diawalnya dulu lumayan besar semakin hari semakin tipis. Bahkan untuk menghidupi dirinya sendiri, angkot itu harus megap-megap. Industri angkutan umum di Jakarta pada umumnya, dan khususnya untuk jurusan Kebun Jeruk-Tanah Abang, terpuruk tidak terkirakan.

Pengguna angkutannya semakin hari semakin menurun. Sementara ongkos perawatan justru kebalikannya. Demikian pula dengan uang setoran dari para supirnya. Jarang ia menerima uang setoran secara tetap dan ajeg untuk setiap harinya. Ia sebagai pemilik angkot, tidak mungkin memprotes para penumpangnya yang sekarang sudah banyak yang beralih ke sepeda motor. Maka hari-harinya bersama angkotnya itu adalah sebentuk kesedihan dan kekuatan untuk bertahan.

Uang setoran tidak lagi dapat menjadi agunan bagi kehidupannya sehari-hari. Apalagi untuk membayar uang sekolah putranya di sebuah SMK Swasta. Melepas angkot untuk dilego? Juga tidak mungkin ia rela melakukannya. Perasaan untuk tidak mau rugi lebih besar lagi, memberinya kekuatan untuk terus bertahan dan mempertahankannya. Karena begitu angkot itu dia lepas, maka tidak akan ada lagi pegangan yang menemaninya dalam melakukan ikhtiar hidup selain menjadi montir panggilan.

Maka angkotnya, tak ubahnya adalah harga dirinya sebagai laki-laki. Sebagai kepala rumah tangga. Bahwa ia masih eksis dengan pekerjaannya sebagai pemilik dan pengelola angkot.

Jakarta, Senin, 8 Maret 2010.

07 March 2010

Kepel

Inilah buah kepel yang kebetulan tumbuh dan menjadi besar di halaman rumah orangtua saya di Wojo, Dadirejo, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah.


Foto ini saya ambil pada hari Sabtu tanggal 30 Januari 2010. Bersamaan saya menjenguk anak di Yogyakarta.

Musim buah kali ini merupakan yang paling lebat sejak pohon itu mulai berbuah. Dan saya pesan sekali dengan keluarga yang ada di Wojo untuk memberitahukan bila buah tersebut masak. Saya ingin anak dan istri mencoba buah yang sangat jarang ditemukan ini.


Mengapa saya sangat berkeinginan agar anak dan istri dapat merasakan kenikmatan buah ini? Karena terlalu sulit memberikan gambaran tentang buah ini. Sering saya memperbandingkannya dengan buah kecapai. Tetapi perbandingan ini hanya pas pada model buahnya. Yaitu kulit dan cara makannya. Dimana daging buah yang harus dimakan ada pada diantara biji yang ada di dalamnya. Tetapi soal rasa sangat berbeda.

Nah, Sabtu tanggal 6 Maret 2010, saat saya ada pertemuan di Al Ikhlas Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan, ada kabar bahwa buah ini telah matang. Tandanya? Ketika kuku tangan kita goreskan pada kulit buah yang berwarna cokelat, maka kulit ari tersebut akan tergores dengan meninggalkan warna kuning.

Benar saja. Pada Ahad, 7 Maret 2010, buah itu telah sampai di rumah. Dan ketika istri saya mencoba buah ini. Ada sensasi yang baru pertama kali dirasakannya!

Inilah bagian dalam dari buah itu. Bagaimana seperti yang saya gambarkan sebelumnya. Dari bijinya, tumbuhan baru tumbuh. Dan itu telah saya coba untuk sebarkan kepada teman-teman. Di sekolah pun, saya telah menanamnya. Mungkin tahun 2020, pohon itu sedah mulai berbuah. Tahun dimana saya pensiun sebagai karyawan tetap menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Jakarta, 7 Maret 2010.


02 March 2010

Teladan atau Telatan?


Ini adalah ungkapan yang saya dengar dari Bapak Drs. Kamsul Abraha, Ph.D. dari UGM, yang bertemu saat mengisi sebuah seminar pendidikan di Sekolah Islam Terpadu Al Furqon, Palembang, pada Sabtu, 27 Februari 2010 lalu. Dua kata yang bermakna saling bertolak belakang.

Hal ini berkaitan dengan apa yang saya sampaikan sebelumnya bahwa seorang guru hanya mampu berperan sebagai pembina moral atau perilaku baik di kelas bilamana guru tersebut mampu dan tuntas melakukan tiga (3) peran utamanya sebagaimana yang Thomas Lickona sebutkan (Lickona.1992.Educating for Charakter). Ketiga peran itu adalah: (1). Guru sebagai pengajar atau ethical mentor; (2). Guru sebagai pendidik atau caregiver; dan (3). Guru sebagai teladan atau model.

Nah, pas menyebutkan fungsi guru yang selain mengajar adalah juga teladan, Pak Kamsul memperbandingkan kata teladan dengan telatan. Telatan berasal dari kata telat (kata serapan dari Bahasa Jawa) yang berarti terlambat (termasuk terlambat sampai di kantor).

Teladan VS Telatan

Untuk pemaknaan dari fungsi guru sebagai teladan dan bukan telatan, tampaknya kita yang berlatar belakang sebagai guru di sekolah memiliki cita rasa yang sama. Terutama kata teladan. Dimana semua hal yang berkait dengan apa yang guru lakukan, maka akan menjadi acuan perilaku bagi siswa. Dan semakin muda usia siswa, maka semakin giat pula pemodelan yang dilakukan siswa.

Berat? Inilah salah satu resiko atau konsekuensi sebagai guru. Tetapi saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Betapa tidak? Jika guru melakukan sesuatu yang tidak sesuai norma, maka bukankah siswa akan menjadi korektor. Yang tidak sungkan-sungkan akan memberikan sinyal kepada kita tentang apa yang semestinya terjadi? Siswa menjadi semacam cermin yang jujur. Dan bukankah hal ini menjadikan diri kita semakin hari menjadi semakin lebih baik? Dan jika demikian maka bukankah ini persis sama dengan apa yang Rasulullah kabarkan bahwa hidup harus berarti pula untuk memperbaiki akhlak?

Bagaimana dengan telatan? Guru yang telatan ini juga adalah guru yang sedang memberikan teladan tidak baik. Apakah itu telat datang di pagi hari atau telat datang saat jam belajarnya di kelas.

Biasanya, guru yang telatan akan memiliki satu bab agumentasi yang berisi kalimat permohonan maaf kepada atasan atau juga kepada teman yang menganntikannya di kelas. Misalnya saja telat karena alasan macet. Telat karena busnya mogok. Telat karena adanya kecelakaan di jalan raya yang dilaluinya. Telat karena ban sepeda motornya terkena ranjau paku atau kempes. Telat karena anaknya sakit. Karena banyak alasannya, maka saya katakan guru telatan itu punya satu bab!

Sama esensinya dengan tulisan saya sebelumnya tentang; Rasa Khawatirnya Telah Sirna, bahwa seseorang akan datang dan sampai di kantor akan telat-pun sebagian besarnya sangat dapat diprediksi. Karena begitu mudahnya diprediksi maka saya sendiri juga sudah tahu apakah saya akan telat datang di sekolah atau di kantor begitu saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah saya.

Bagaimana dengan Anda?

Palembang, 27 Februari-Jakarta, 2 Maret 2010.