Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi
Showing posts with label KANTIN SEKOLAH. Show all posts
Showing posts with label KANTIN SEKOLAH. Show all posts

10 May 2015

Kantin #6; Kantin sebagai Pemandu Pola Makan

Saya sedang ancang-ancang untuk menceritakan bagaimana sebuah kantin sekolah yang seharusnya. Yang berfungsi sebagai penyedia makanan dan sekaligus men'drive' pola makan anak-anak. Termasuk juga minum. Dengan kemampuan seperti itu diharapkan sekali anak-anak hanya akan makan makanan berat disaat istirahat makan siang. Dan juga hanya minum minuman tidak ada rasa alias minum minuman air mineral.

Dan khusus untuk minum, anak-anak hanya membutuhkan botol minum dari rumah. Karena di sekolah akan kami sediakan air minum yang kami olah dari air yang ada di sekolah. Sehingga ketercukupan air untuk minum tidak akan menjadi kendala.

Dengan demikian, maka kantin sekolah hanya akan melayani anak-anak satu waktu saja. Tidak seperti selama ini. Kapan saja anak mau, kantin siap melayani. Tidak hanya makanan kecil tetapi juga makanan berat. Juga minum. Berbagai jenis.minum disediakan kantin. Sehingga anak-anak tidak dapat mengatur pola jenis makan makanan mereka. Implikasi dari model kantin sebagaimana yang banyak terdapat di sekolah Indonesia sekarang ini adalah anak-anak yang tidak memiliki visi hidup sehat mulai sejak mereka mengkonsumsi makanan dan minuman.

Lalu bagaimana merealisasikan model kantin yang selama ini sudah berlangsung di sekolah-sekolah internasional tersebut? Tentunya saya harus memberikan testimonial terhadap bentuk kantin seperti yang akan saya sampaikan itu. 

Dan bila perlu, saya harus janjian dengan teman-teman yang sekarang masih berada di sekolah dengan model kantin 'sehat' itu, untuk meminta waktunya agar kami dapat mengunjungi mereka, khususnya kepada bentuk kantin yang diinginkan serta model pengelolaannya.

Lalu apa implikasi jika.saya mengajak teman untuk mengadopsi model kantin seperti itu?  Tidak lain adalah mengalokasikan area sekolah yang lumayan luas guna digunakan sebagai area kantin. Karena kantin dengan model seperti itu harus mampu menampung siswa yang jam makan siangnya bersamaan. Memang masih dimungkinkan anak-anak menuliskan pesanan makanan saat istirahat pagi. Dan pesanan tersebut dapat dikirim oleh petugas kantin sebelum istirahat siang. Model pesanan ini akan mengurangi kunjungan siswa ke kantin, yang berarti mengurangi beban kepadatan kantin disaat istirahat makan siang.

Mungkinkah? Semoga.

Jakarta, 10 Mei 2015.

22 February 2015

Kantin Sekolah #6; Kontrak Baru

Satu pekan lalu, saya minta bantuan sekretaris sekolah untuk melihat dokumen kontrak kantin sekolah. Baik posisi durasi waktu yang ada di dalam kontrak, jenis makanan yang disajikan, penggunaan listrik selama operasional kantin, dan juga kelancaran pembayaran kontraknya. Dari dokumentasi yang ada, saya juga minta agar diteliti beberapa hal yang saya kemukakan itu. Ini tidak lain sebagai usaha kami dalam terus menerus melakukan pengawasan dan koordinasi dengan para pengelolanya.

Dengan informasi yang ada pada kami, itu sebagai modal dalam pertemuan dengan para pengelola itu di pekan berikutnya. Tentunya sebagai usaha agar kualitas dan kontrol kepada operasional mereka dapat terus kami lakukan. 

Selain informasi dari para pengelola kantin, kami juga menghimpun data dari internal sekolah. Baik dari para guru atau siswa, juga kepada para kepala sekolah.

Hasil pertemuan kami nanti dapat berupa perpanjangan kontrak dengan beberapa tambahan atau perbaikan lampiran yang dibutuhkan. Juga dapat menjadi bagian bagi kami untuk memberikan edukasi tentang kualitas makanan dan juga peningkatan kebersihan.

Memang harus kami akui bahwa sedikit sekali para pengelola kantin itu kami stop kelanjutan kontraknya. Kecuali kalau mereka  benar-benar telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kontrak yang ada. Dan meski kami telah komunikasi dengan mereka tetapi tetap tidak ada perbaikan, maka hal itu menjadi poin bagi kami dalam mengambil kesimpulan. 

Namun, kontinyuitas kontrak bagi para pengelola kantin sekolah harus selalu menjadi konsen kami. Semoga.

Jakarta, 22.02.2015.

21 February 2015

Kantin #5; Uang Jajannya Besar

Masalah kantin yang berkaitan dengan anak-anak adalah uang jajan yang berlebih. Terlalu banyak untuk dihabiskan dalam kurun waktu satu hari. Dan ini memang bukan menjadi masalah disemua anak, tetapi akan ada dua atau tiga anak dalam setiap tahun pelajaran. Ini masalah kompleks yang juga selalu kurang menjadi pelajaran bagi, utamanya, orangtua siswa.

Kompleks, kerena tidak hanya menjadikan anak tersebut akan memiliki keinginan untuk menghabiskan uangnya di kantin dengan cara memakan apa yang hanya diinginkan tanpa mempertimbangkan kebutuhan asupan gizi bagi kebutuhan tubuhnya. Sehingga akan menimbulkan efek samping karena kelebihan gizi bagi pertumbuhan fisiknya. Tetapi juga akan menjadi masalah psikologis yang tidak kalah berbahayanya bila tidak ada dialog dan kontrol dari orangtua terhadap penggunaan uang jajannya tersebut. 

Belum lagi masalah sosial yang berupa rasa bangga diri bagi anak karena ia akan menjadi anak yang berbeda dibandingkan dengan anak lain di lingkungannya yang berawal dari uang jajannya yang berlebih dibanding yang lain. Dan ini juga akan melahirkan rasa iri di mata teman yang lemah psikisnya arena melihat ada temannya yang selalu kelebihan uang jajan.

Apa yang Terjadi?

Seperti apa yang saya alami sendiri suatu hari di kantin ketika bertugas menemani anak-anak di istirahat makan. 

"Pak Agus saya jajanin Pak. Bapak mau makan apa?" Kata seorang anak dengan memegang dompet. Didalamnya saya melihat sekilas lembaran uang seratusan ribu. "Iya Pak Agus. Mau saja Pak. Dia kan uang jajannya banyak. Dia juga sering kok bayarin kami makan di kantin." Celetuk teman anak tersebut kepada saya.

Saya menolak. Meski untuk minum sekalipun. Ini karena kebiasaan saya ketika sudah menyantap sesuatu, maka saya mencoba untuk berhenti. 

"Terimakasih. Maaf Pak Agus sudah makan sebelum kesini. Pak Agus ke kantin hanya ingin melihat bagaimana kalian berada di kantin." Jelas saya.

"Kalau begitu minum saja Pak." Katanya kepada saya. Anak itupun sudah bersiap dengan dompetnya yang ada di tangan kiri.

Dan diantara dialog saya dengan anak itu, saya berfikir tentang betapa mudahnya hidup yang anak itu sedang jalani. Dan justru pada titik inilah saya kawatir. Dialah anak yang baru ada di sekolah kami di semester dua. Semester pertamanya dijalani di sekolah lain. Dan karena alasan tidak betah, ia memilih sekolah kami.

Yang kedua, ternyata hasil akademis anak itu juga pas-pasan. Kelebihan dan kemudahan hidupnya jelas tidak berbanding lurus dengan daya juangnya untuk berprestasi disemua bidang di bangku sekolahnya. Justru, kelebihan dan kemudahannya menjadikan daya juang psikologisnya lemah dan rapuh serta sederhana.

"Saya kan sudah sukses Pak. Jadi tidak perlu berjuang keras." Ujarnya suatu kali ketika saya mengajaknya berdiskusi.

Saya tentunya takut dengan model anak muda seperti ini. Takut kalau insyafnya baru dia akan dapatkan ketika sumber utama kesuksesan keluarganya diambil Allah.

Jakarta, 21.02.2015.

15 February 2015

Kantin Sekolah #4; Piket di Kantin

Beberapa waktu lalu, kebetulan saat saya sedang tidak berada di lokasi sekolah, saya sempat mengirimkan pesan untuk teman-teman yang bertugas di SMP. Pesan yang saya kirim tersebut berkenaan dengan piket kantin yang dilakukan oleh guru. Tentunya pada saat kantin itu ramai dengan anak-anak. Yaitu pada saat waktu istirahat pagi atau istirahat makan siang.

Pesan singkat saya itu sebagai penguatan agar teman-teman tidak sampai melupakan kewajiban yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya itu. Ini tidak lain karena kantin adalah tempat berkumpulnya semua siswa saat mereka sarapan dan makan siang. Dan seperti juga pada saat anak-anak berkumpul, maka kantin dapat menjadi lokasi terjadinya bully atau perundungan.

Sebuah budaya yang benar-benar menjadi musuh kami, para guru di lembaga sekolah. Dan memang, kegiatan piket guru diwaktu istirahat sekolah itulah yang menjadi usaha preventif kami akan terjadinya periatiwa tersebut.

Maka untuk alasan itulah saya selalu akan mengingatkan teman-teman agar tidak lupa menemani anak-anak di kantin diwaktu istirahat.

Dan untuk memastikan keberadaan teman-teman yang menjalankan piketnya, saya sering menuju ke kantin di waktu istirahat tersebut. Tidak banyak yang saya lakukan disana. Hanya berkeliling menyapa anak-anak yang sedang antri beli makanan atau yang sedang duduk bergerombol dengan makanan favoritnya masing-masing, atau bahkan sekedar berdiri di pintu masuk kantin sembari menyapa anak-anak satu persatu.

Seperti itu saja yang kami lakukan dengan waktu piket itu. Namun hal sepele itu, harus benar-benar kami jalani dengan sepenuh hati. Karena kami meyakini bahwa perundungan hanya akan terjadi ketika anak-anak tersebut berkumpul tanpa adanya pengawasan dari kami. Semoga.

Jakarta, 15.02.2015.

20 January 2015

Kantin Sekolah #3; Hanya Makanan 'Sehat'

Nampaknya, saya harus terus menerus melakukan koordinasi dengan para petugas kantin, atau kepada para pemilik konter kantin di sekolah secara reguler. Selain untuk ikhtiar sekolah agar sesama pengelola dan kami relatif berhubungan dengan baik tanpa sekat, kami dari sekolah juga memiliki misi dalam rangka terus menerus untuk melakukan edukasi dan mengingatkan komitmen dari para pengelola untuk hanya menyediakan makanan yang sehat bagi kebutuhan anak-anak.

Selain itu juga untuk membahas beberapa isu yang saya dengar dari berbagai pihak, termasuk diantaranya dari anak-anak sendiri yang langsung menyampaikan kepada saya makanan atau minuman apa yang dilihat dan dianggapnya tidak 'sehat'. Oleh karena itu, pertemuan reguler tersebut menjadi ajang yang strategis bagi saya sendiri untuk bertemu dan melihat langsung visi dari para pedagang tersebut. Dan itu, menyenangkan.

Dan hal-hal yang kami anggap sehat dari masukan berbagai pihak tersebut, kami akomodasi dalam bentuk surat kesepahaman atau MOU sebagai bagian dari kesepakatan untuk saling menjaga komitmen. Yang di dalamnya antara lain berisi tentang hal yang memang seyogyanya para pedagang penuhi dan juga beberapa hal yag seharusnya mereka hindari. Misalnya tidak menyediakan makanan ber-SMG atau minuman bersoda dan lain sejenisnya.

Namun pada pertengahan jalan, para pedagang tersebut selalu memiliki kreatifitas yang selalu tumbuh. Dan kreatifitas tersebut tidak jarang menjadi materi laporan kepada kami dari berbagai pihak bahwa kantin telah menjajakan makanan yang tidak sehat. Untuk itulah maka kami sering juga memberikan masukan agar teman-teman di kantin menjajakan makanan sehat dan relatif digemari. Utamanya makanan ringan yang banyak menjadi makanan selingan bagi anak-anak ketika jam istirahat pendek. 

Seperti beberapa waktu lalu saya mengusulkan agar ada pengelola kantin yang menjual kue pancong. Namun karena mereka merasa sulit untuk mengolah dan menyediakan kue tersebut, saya kembali mengusulkan agar mereka mengambil kue jadi itu dari padagang dan meminta untung darinya. Alhamdulillah hal itu, meski tidak sering, bisa kami lakukan. Dan penyediaan kue atau makanan ringan tersebut tidak terus menerus. Mengingat hasrat anak-anak terhadap makanan tidak selalu stabil.

Juga misalnya, saya usulkan agar ada diantara mereka yang menyediakan makanan kecil berupa roti kering ringan yang setiap bungkusnya hanya berisi lima keping roti, atau juga kacang bawang. Alhamdulillah, usulan itupun terjadi dan menjadi variasi yang bagus buat anak-anak.

Termasuk ketika saya usulkan agar mereka ada yang menyediakan makanan ala nusantara. Alhamdulillah pula bahwa nasi rawon dan rica-rica dapat menjadi makanan selingan utama yang digemari anak-anak.

Jakarta, 20 Januari 2015.

19 January 2015

Kantin Sekolah #2; Tentang Pola Makan

Bagaimana saya harus mengatakan berulang kali berkenaan dengan pola makan kepada anak-anak peserta didik kami di sekolah. Tetapi nampak sekali bahwa ini belum berimplikasi baik. Bahkan tidak hanya saya sendirian yang memprovokasi cara menentukan apa yang harus kita santap ketika berada di luar rumah, termasuk ketika berada di sekolah. Seperti beberapa guru yang dengan penuh konsen mengulang-ulang. Namun tidak mengapa, karena memang pada usia yang masih remaja, diusia masih duduk di bangku kelas empat hingga kelas sembilan, nafsu untuk melahap hidangan makanan, sebagian besar dari mereka, sedang tumbuh di atas rata-rata.

Seperti misalnya juga saya sampaikan kepada petugas kantin untuk membuat tambahan makanan yang merupakan diluar paket yang telah mereka tawarkan, berupa sayuran, tetap tidak ada yang ingin menyentuhnya. Alhasil, saya mendapat bagian yang super ketika berada di kantin. Justru nasi yang benar-benar minimalis.

Tanpa Sayur dan Porsi Karbohidrat

Apa yang saya catat dalam catatan ini tidak lain adalah prosentasi anak-anak didik kami yang selalu ada lebih kurang empat atau lima anak di setiap kelas yang dapat kami kategorikan sebagai 'kelebihan berat badan'. Hal ini menjadi kekawatiran mengingat kelebihan unsur-unsur dari asupan makanan yang mereka konsumsi tersebut menjadi tugas salah satu dari bagian tubuhnya untuk ditimbun dalam bentuk lemak. Dan jika tugas ini telah menjadi beban bagi bagian tubuh tersebut sejak anak duduk di bangku kelas empat SD?

Kenyataan ini akan diperparah bila kedua orangtua dari anak tersebut tidak teredukasi dengan baik sehingga berkomitmen menjaga asupan yang sesuai dengan kebutuhan dari tubuh dan aktivitas hidupnya. Itulah yang menjadi perhatian utama kami di sekolah. 

Lalu apa usaha kami yang lain? Tidak akan berhenti untuk menyampaikan kepada mereka agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi kandungan makanan yang pada akhirnya menjadi timbunan di dalam badannya. Termasuk di dalamnya kandungan zat yang tidak terlalu tubuh butuhkan di dalam minuman yang sekarang ini menjamur dan mudah didapat di lngkungan anak.

Itulah mengapa agar anak-anak di sekolah tidak melahap makanan berat seperti makanan yang banyak mengandung karbohidrat pada istirahat pertama dan juga di istirahat kedua di kantin sekolah. Juga agar ayam bakar atau goreng dengan sambal yang mereka konsumsi sedikit ditambah sayur. Memang tidak suka karena tidak biasa sejak mereka kecil, tetapi edukasi tentang ini kami tidak akan merasa lelah dan bosan. Semoga.

Jakarta, 19 Januari 2015.

17 January 2015

Kantin Sekolah #1; Mengaku tidak Makan

Ketika bertemu dengan salah seorang pemilik konter makanan di plasa SD, ada cerita menarik darinya yang layak untuk menjadi pelajaran bagi saya. Yaitu tentang orang yang telah makan dan mengaku tidak memesan makanan ketika ditagih saat yang bersangkutan akan beranjak meninggalkan kantin. Dan anehnya ini tidak dilakukan oleh anak-anak, guru atau karyawan sekolah, tetapi oleh salah seorang calon orang tua siswa.

Kira-kira beginilah ceritanya; 

Sepanjang hari itu, sekolah sedang mengadakan seleksi siswa baru. Ada sekitar 150 calon siswa baru yang akan mengikuti seleksi di hari itu. Untuk memberikan pelayanan kepada para orangtua siswa yang mengantar dan menunggu giliran untuk melakukan interviu, kami, pihak sekolah berinisiatif membuka kantin yang seharusnya libur di hari itu. Karena memang pelaksanaan kegiatan seleksi siswa baru ersebut berlangsung di hari Sabtu, yaitu hari libur sekolah.

Alhamdulillah, inisiatif membuka kantin di kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari semua pengunjung. Buktinya, sebagian besar makanan yang disajikan habis terjual. Dan saya sebagai bagian dari sekolah itu ikut merasa bangga atas fakta yang kami alami itu.

Namun ada yang akan menjadi sejarah kami, yaitu berkenaan dengan salah seorang dari calon orangtua tersebut yang berlaku bohong kepada dirinya sendiri. Ini terjadi karena ia telah memesan salah satu makanan, dan ketika sebelum meningalkan tempat makannya didekati penjaga kantin dan diminta pembayaran, ia justru berujuar: "Maaf Pak. saya tidak merasa makan dim sum."

"Dari mana Anda yakin bahwa Ibu itu benar-benar telah mekan dim sum mu?" Tanya saya kepada pedagang kantin itu.

"Bagaimana saya tidak yakin Pak. Saya kan saya yang melani pesanan beliau. Saya juga yang mengantar pesanannya itu ke meja beliau." Jelasnya dengan senyum yang keheranan.

Dari cerita singkat itu, saya benar-benar shok. Bagaimana tidak, dia datang ke sekolah kami adalah dalam rangka memasukkan anak-anaknya dengan tujuan agar diterima masuk sekolah. Namun apa yang ditampilkan dalam peristiwa tersebut adalah suri teladan tentang karakter berbohong. Ngemplang satu porsi dim sum!

Jakarta, 17 Januari 2015.