Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

25 February 2010

Rasa Khawatirannya Telah Sirna

Begitulah bunyi SMS teman saya saat mengomentari pesan saya agar kita, guru dan manajemen di sekolah lebih meningkatkan pengawasan kepada siswa di sekolah. Tidak saja saat siswa berada di dalam kelas ketika belajar bersama guru, tetapi juga saat istirahat dan setelah jam pulang sekolah dan sembari menunggu jemputan.

SMS ini bermula saat saya me-reply berita dari teman berkenaan dengan musibah yang menimpa siswa di sebuah sekolah setelah jam sekolah usai (http://www.detik.com/.24Februari2010). Diberitakan bahwa siswa bermain bola saat menunggu dijemput. Sangat dimungkinkan bahwa ketika siswa bermain tanpa pengawasan guru. Meski itu memang telah usai jam sekolah.

Dalam konteks yang berbeda, teman saya yang mengirim SMS tersebut juga pernah melihat siswa yang ada di sekolahnya bermain sepak bola pada tempat yang tidak semestinya. Dan karena dia pikir hal itu dapat mengundang bahaya kepada si siswa, maka ia menghentikan permainan tersebut. Anehnya, di lokasi yang sama ia menemukan temannya yang juga guru hanya terdiam ketika melihat para siswanya bermain bola. Maka ungkapan bahwa guru tersebut telah sirna rasa kekhawatirannya, adalah ungkapan kata yang pas menurut saya.

SMS teman dengan kalimat yang saya buat judul pada artikel ini adalah sebuah sindiran yang satiris. Mengejek. Menghina. Karena kita yang dalam posisi seperti itu tidak memiliki prediksi akan adanya potensi bahaya yang sangat mungkin timbul terhadap apa yang siswa lakukan. Dan ejekan serta hinaan ini dalam perspektif saya, tidak lain adalah untuk mengingatkan akal kita agar supaya ia (baca: akal) ikut terlibat untuk lahirnya sebuah rasa kasih sayang dan rasa khawatir.

Atas kejadian tersebut, saya juga akan mengaitkan dengan pengalaman yang lain lagi. Yaitu yang berkenaan dengan komplain dari anggota komunitas sekolah terhadap unsur lain yang ada dalam komunitas yang sama. Kejadian seperti ini hampir pasti ada di setiap lembaga.

Yaitu guru komplain terhadap anggota Satpam yang kurang betul saat melaksanakan suatu tugas. Sayangnya, temuan ketidakbenaran tersebut tidak disampaikan dalam kerangka problem solving. Tetapi lebih kepada ejekan. Karena Satpam di lembaganya adalah Satpam dari lembaga lain yang kebetulan bekerjasama dengan sekolahnya.

Maka saya berkomentar melalui e-mail seperti ini: Saya juga ingin sekali menggugah ingatan kita semua, berkenaan dengan per-Satpam-an, bahwa peran user (baca: komunitas sekolah) sangat penting sekali dalam memberikan masukan untuk perbaikan terhadap Satpam. Tetapi harap juga dilihat bahwa masukan tersebut harus dalam dalam bentuk atau kerangka problem solving, dimana ketika ada sekecil apapun masukan, tolong disampaikan kepada yang berkompeten, berarti penanggungjawab Satpam, dan sebisa mungkin saat itu juga. Jangan ditunda dan akan menumpuk. Demikian tulis saya dalam e-mail untuk seorang teman yang sedang dirundung malasah per-Satpam-an.

Dan saya melanjutkan tulisan saya tersebut:
Saya mengibaratkan hal tersebut dalam kerangka interaksi antara guru dan siswanya di kelas. Ketika sesuatu yg tidak diinginkan terjadi, tetapi kebetulan itu adalah siswa dari unit lain, misalnya, guru TK melihat kejadian di siswa SD. Maka bentuk CARE kita terhadap sesuatu yang terjadi tersebut bisa diimplementasikan dengan cara:

1. Menegur langsung siswa yang bersangkutan. Untuk kemudian memberitahukan kepada kepala unit dimana siswa itu berada, untuk menjadi laporan dan untuk penindakan selanjutnya. Atau,
2. Kita mencari tahu nama anak yang bersangkutan, mengingat detil kejadiannya, lalu melaporkan kepada kepala unit dimana siswa itu berada untuk menjadi laporan dan penindakan selanjutnya.

Dan tulisan itu saya akhiri dengan kesimpulan:
Jika pilihan 1 yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang memilki rasa sebaik-baik CARE. Jika pilihan 2 yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang memilki rasa lumayan CARE. Dan jika tidak ada pilihan yang Anda lakukan, maka Anda telah menjadi guru yang belum CARE.
Saya hanya ingin mengingatkan kita semua bahwa menjaga siswa selama yang bersangkutan berada di sekolah, adalah tugas utama kita sebagai pendidik. Yaitu guru yang tidak sekedar mengajar di dalam kelas!

Jakarta, 25 Februari 2010

16 February 2010

UN, Mununtut Kejujuran

Rabu, 10 Februari 2010, salah seorang Kepala Sekolah di tempat saya bekerja melaporkan beberapa hasil rapat dinasnya dengan pihak Dinas Pendidikan pada Senin, 8 Februari 2010 tentang pengarahan Ujian Nasional/Ujian Akhir Sekolah.

Seperti ada setiap rapat dinas sebelumnya yang digelar oleh dinas, isinya ya pidato tuntutan para pejabat yang dalam bentuk pengarahan. Dan ketika temanya tentang UN, maka tidak ada bentuk pengarahan lain yang keluar dari para pejabat tersebut selain; harus sukses UN. Ranking UN wilayah harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun pelajaran lalu sudah berada di ranking 2 se-Provinsi, misalnya, maka bagaimana menjadi peringkat satu di tahun pelajaran sekarang.

Laporan Kepala Sekolah itu membangkitkan ingatan saya tentang apa yang pernah saya tulis bahwa, pejabat hanya peduli hasil dan tanpa berempati kepada proses. (Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses?, KOMPAS, Senin, 17 Mei 2004 dan juga UN, Belajar, dan Kualitas Pendidikan. Kompas, Senin, 7 Februari 2006).

Artinya, sebagai pejabat, ia akan memberikan tuntutan tentang hasil UN, jika perlu dengan ancaman pemutasian, tanpa ikut terlibat diskusi pada bagaimana memperoleh hasil UN terbaik dan optimal dengan selalu berprinsip kepada kejujuran.

Mengacu pada Permen
Dalam Peraturan Meteri Pendidikan Nasional No 74 tahun 2009 tentang UN SMP/MTs dan sederajat, pasal 3; Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk; ( butir d disebutkan) : Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Apa yang yang tercantum dalam Peraturan Mendiknas tersebut adalah panduan bagi para Pengawas Pendidikan atau institusinya yang berada di atas institusi satuan pendidikan, untuk terus menerus memantau (baca: melakukan pembinaan dan pemberian bantuan) kepada satuan pendidikan yang memerlukan di daerahnya masing-masing. Tentu berdasarkan hasil UN/UASBN tahun sebelumnya. Artinya? Tuntutan untuk hasil UN 100 % dan peningkatan ranking daerah, harus diimbangi dengan pemberian pembinaan dan pemberian bantuan pada satuan pendidikan yang membutuhkan.

Hal ini sangat perlu diingatkan supaya masing-masing kita mengambil bagian tugasnya masing-masing sejak dari hulu, baik pada tataran tuntutan maupun pada tataran proses pencapaiannya. Atau sejak UN masih dalam persiapan. Menuntut hasil dengan tanpa memberikan pembinaan dan pemberian bantuan, hanya akan menjerumuskan praktek UN yang tidak menjamin kejujuran.

Untuk itulah, ketika UN masih berada beberapa pekan di depan, saatnya kita semua melipat gandakan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan yang menjadi wilayah kerja kita masing-masing.

Dan saya sebagai bagian yang berkepentingan di satuan pendidikan, harus juga melibatkan diri dalam proses persiapan tersebut.

Jakarta, 11-16/2/2010.

12 February 2010

Pekerja VS Pemilik Lembaga

Saya memiliki beberapa teman kenalan. Karena saya sendiri dari awal berkarir hingga kini tetap di dunia pendidikan, maka tentunya banyak teman-teman dan kenalan yang berasal dari dunia pendidikan pula. Ya, kami semua guru. Walau ada diantara kami yang tetap guru di kelas, adajuga yang kepala sekolah, atau pengelola sekolah. Namun saat bertemu dan berkumpul, kami tetaplah bangga pada keguruan kami. Sebuah profesi yang tidak akan selalu flat saat menjalaninya.


Ada satu tambahan keterangan lagi tentang komunitas kami ini. Kami adalah para pendidik yang mengejawantahkan pikiran dan tenaga kami di lembaga pendidikan swasta. Dan oleh karenanya, kami adalah pekerja yang menunaikan visi serta misi mulianya para pemilik lembaga dimana kami berada sebagai pekerja.


Pekerja dan Pemilik


Dalam hal ini, bukan maksud kami mendekotomikan dua kelompok tersebut. Tetapi keberadaan dari dua kelompok itulah yang sering menjadi batu sandungan kami di lapangan. Terutama ketika kami adalah orang yang diamanahkan untuk menjadi kepala sekolah atau pengelola lembaga itu. Meski posisi kami adalah kepala sekolah atau pengelola sekolah sekalipun, kami adalah tetap sebagai pekerja yang wajib menjunjung tinggi adab sopan santun kepada pemilik selain , tentu saja, kepada seluruh komunitas lainnya di sekolah.


Adab sopan-santun yang saya maksudkan adalah menjaga diri agar, meski kamilah yang menguasai lapangan, tetap menghargai apa yang menjadi pemikiran pemilik. Kami harus mengukur diri untuk tidak merasa sombong bahwa kamilah yang lebih beerjasa atas eksistensi lembaga kami dibandingkan pemilik atau pendiri lembaga. Sebagai contoh konkritnya misalnya, ada salah satu keluarga pemilik lembaga yang berkeinginan untuk menyekolahkan putera atau puterinya di sekolah kami. Maka prosedur pertamanya adalah ikut serta dalam penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah. Tetapi saat akan diputuskan untuk diterima atau tidak, kepada yang bersangkutan harus diberikan bantuan untuk menjadi diterima karena ada kekurangan saat bersaing dengan calon siswa lain..


Diantara teman-teman ada yang mengusulkan agar kita tetap teguh memegang pendirian untuk memilih calon siswa yang benar-benar tersaring secara normal dengan tanpa memberikan bantuan sedikitpun. Itu artinya kita menisbikan titipan. Ini mengusik nurani saya kepada pemilik yang telah menyampaikan titipan. Lalu saya sampaikan pendapat saya kepada teman agar perlunya kita menjaga adab kesopanan tersebut dengan cara menerimanya sepanjang calon siswa tersebut adalah siswa standar, meski kita memberikan bantuan.


Namun ketika teman mamaksa saya untuk hanya menggunakan argumentasinya, maka saya, dalam rangka menunjukkan adab sopan santun tersebut, mengajak teman untuk berpikir rasional dan riil. Bagaimana keputusan kita bila calon siswa itu adalah putera atau puteri dari
kita sendiri? Akankah kita tetap menggunakan kriteria pada umumnya tanpa memberikan bantuan sedikitpun jika ternyata putera-puteri kita itu memerlukan bantuan dari kita?


Dari sisi inilah kadang kita, sebagai karyawan, sering bersikap kurang menjunjung adab sopan santun. Dan ini muncul mungkin, karena anggapan bahwa para pendiri lembaga itu tidak cukup berjasa dalam membesarkan lembaganya. Inilah yang kadang memunculkan perebutan konsesi antara pihak operasional dengan pihak pemilik lembaga.

Dan inilah yang saya maksudkan dengan adab sopan santun. Dan pada sisi lain kadang juga melahirkan sikap yang kurang hormat dari kita. Ini memang murni dari sikap saya. Karena bagiu saya, jika saya sudah tidak cocok dalam pengembanan dari visi dan misi pemilik, lembaga maka resign akan menjadi pilihan saya. Bagaimana dengan Anda?


Allahu a'lam bi Shawab.


Selesai di Jakarta, 13 Februari 2010.

04 February 2010

Berhasil di Ujian Nasional, Siapa Takut?

Ada beberapa tanggapan terhadap apa yang ditulis oleh anak saya berkenaan dengan UN yang pernah dijalaninya pada tahun 2009 lalu. Dimana dalam tulisannya tersebut, anak saya bernada mempertanyakan kebermanfaatan UN dengan keberhasilan seseorang. Dia menilai bahwa jika ukurannya adalah mendapat pekerjaan, maka UN sepertinya belum memberikan jaminan. Kalau demikian mengapa siswa dikejar-kejar hanya untuk berhasil UN? Begitulah ringkasan yang dapat saya sampaikan disini.

Tentang Ujian Nasional, UN atau apapun namanya yang ada di Indonesia ini saya sendiri selalu menyuarakannya dalam bentuk tulisan. Yaitu:
1. Pak Mendiknas, Siapa yang Peduli Proses? KOMPAS, Senin, 17 Mei 2004
2. UAN dan Otonomi, Harian PELITA, Selasa, 23 November 2004.
3. UN, Belajar, dan Kualitas Pendidikan (Mendiknas Tak Perlu Baca Artikel Ini), KOMPAS, Senin, 7 Februari 2005
4. Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 8 Februari 2005.
5. Lulus Ujian Nasional, Harian PELITA, Selasa, 12 Juli 2005.
6. Peningkaan Mutu (Pendidikan) Berbasis UN, Harian PELITA, Selasa, 24 Januari 2006.
7. Harap Tenang, Ada Ujian. Harian PELITA, Selasa, 23 Mei 2006.
8. UN 2006 dan Implikasinya, Harian PELITA, Selasa, 4 Juli 2006.

Pada prinsipnya ada 4 (empat) hal pokok yang selalu saya sampaikan berkenaan dengan Ujian Nasional yang ada di Negara kita tercinta ini. Empat hal tersebut adalah sebagai berikut: Pertama; Bagi kita sebagai sekolah atau masyarakat yang ada di NKRI, maka ujian akhir (nasional) adalah penting. Dan ini menjadi kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. Dengan apapun yang menjadi argumentasinya. 

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 75 tahun 2009 tentang UN SMP/Mts dan sederajat untuk tahun pelajaran 2009/2010, diuraikan dalam pasal 3 bahwa; Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: (a). Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan; (b). seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (c). Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (d). Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Dua hal dari empat makna UN bagi siswa sebagaimana yang dimaksud dalam Permendiknas di atas adalah menjadi bagian dari syarat kelulusan dan sebagai syarat masuk ke jenjang SMP dan SMA. 

Dengan itulah, maka UN adalah hal yang utama. Tapi saya ingin sekali mengajak kita semua untuk melihat dengan lebih holistik. Yaitu bahwa hasil UN bukan merupakan satu-satunya dari hasil pendidikan. Karena soal UN tidak mengujikan bagaimana siswa mandiri, percaya diri, berani, menghormati sesama, toleransi, atau karakter positif lainnya dalam bentuk operasional. Dengan demikian maka, sekolah jangan terjebak dalam arus utama hanya mengejar sukses UN titik. Sekolah harus mengembangkan seluruh potensi siswa baik dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Kedua; Ketika UN dilaksanakan hanya menggunakan bentuk soal PG, dan dengan kualifikasi soal yang hanya mengujikan aspek mengingat, memahami, mengaplikasi serta sedikit aspek menganalisa dalam Taksonomi Bloom, maka itu masih masuk dalam kognitif dangkal. Kita tidak sedang menguji kemampuan siswa untuk memiliki kemampuan analisa, evaluasi dan mencipta sesuatu yang baru dari pembelajaran yang selama ini di dalam kelas mereka. Generasi model apa yang sesungguhnya kita harapkan jika siswa hanya dituntut untuk mengingat, memahami, dan mengaplikasi saja?

Padahal harus kita sadari bersama bahwa cara kita mengevaluasi akan memandu siswa kita untuk bagaimana belajar. Dan cara evaluasi kita dengan model UN selama ini telah menyuburkan model belajar Bimbel (bimbingan belajar).
Ketiga; Komitmen kita untuk sukses UN hanya pada hasil akhirnya saja yang berupa nilai (baca:angka). Hanya pada hasilnya. Ini kultur pejabat kita. Baik yang memegang otoritas wilayah, dinas, pengawas sekolah hingga satuan pendidikan paling primer. Proses pencapaiannya? Nyaris dilupakan. Apa yang terjadi? Akibatnya, tidak ada kontrol pejabat terhadap proses belajar di kelas. Guru dan sekolah tidak ‘ditemani’ dalam melaksanakan strategi proses belajar di lapangan. Pengawas sekolah datang ke sekolah cukup sampai di ruang KS?

Akibat berikutnya? Keberhasilan UN digenjot justru selain diproses persiapannya juga di pelaksanaannya. Di sini kejujuran kadang menjadi sangat mahal. Akibat berikutnya lagi? Sistem kebut semalam! Padahal 6 bulan sebelum UN berangsung, pemerintah sudah mengeluarkan ada standar kelulusan, SKL. 

Apa urgensinya SKL dengan UN? SKL adalah peta perjalanan untuk menempuh atau menuju UN yang berhasil. Karena dari SKL inilah kita dipandu untuk menguasai apa yang menjadi ekspektasi BSNP tentang kompetensi yang harus kita punya dan sekaligus kita bisa memprediksi dan tahu soal macam apa yang akan keluar di UN nantinya. Jadi? SKL bukanlah peta buta untuk keberhasilan siswa kita menempuh UN. (Berikut saya lampirkan lembar self assessment SKL SMP).

Keempat; Dengan model berpikir dan berperilaku: Yang penting hasil tanpa berkeringat dalam prosesnya sebagaimana uraian saya tersebut, kesimpulan saya tentang UN adalah; bahwa UN bentuk konkrit dari model atau prototipe dari budaya kerja kita. Yaitu budaya instan. Budaya pragmatisme! Budaya untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan ikhtiar yang secukupnya?

Untuk itulah saya ingin meneriakkan tekad saya bahwa: untuk melaksanakan dan berhasil di Ujian Nasional, siapa takut?

Jakarta, 4 Februari 2010.

01 February 2010

Saya Sadar, Kalau Sudah di Zona Mapan

Benar, saya sedang belajar untuk menangkap sinyal dari alam semesta yang bijaksana, apakah saya sedang pada posisi mapan? Atau orang sering mengatakannya sebagai zona aman. Tentu saja kemapanan yang berkait dengan posisi saya sebagai pekerja di sebuah lembaga milik orang. Dan dalam proses pembelajaran itu, saya mencobanya untuk merenung dan merefleksikan di depan cermin perubahan, dan merabanya untuk menemukan indikator kemapanan itu.

Pernah saya deklarasikan pada diri sendiri untuk selalu merubah posisi atau tepatnya untuk me-mutasikan diri sendiri setiap 3 sampai dengan 5 tahun ketika sedang berada dalam satu posisi yang sama. Itu adalah waktu yang paling ideal, menurut saya, untuk menjaga stamina kecemerlangan dalam berpikir sehat yang saya miliki, untuk tetap terus bersinar. 

Karena mengaca pada teman-teman yang mayoritas menandatangani kontrak kerja hanya satu kali putaran, dan itu 3 tahun durasinya, saya melihat mereka tidak pernah lelah merajut mimpi masa depan yang akan penuh warna. Karena setelah kontrak itu selesai, mereka akan mencari tantangan baru di tempat lain, bahkan di Benua yang berbeda. 

Tapi hampir selalu durasi 3 hingga 5 tahun itu, yang menjadi pegangan saya, selalu saya ingkari sendiri. Ada yang hingga 11 tahun, 8 tahun, dan sekarang nyaris 7 tahun. Ketika saya menilik ke dalam diri sendiri, petualangan saya itu terhenti karena faktor internal dan eksternal.

Sekali lagi, bahwa tekad untuk memutaikan diri tersebut bukan karena saya menjadi pekerja yang mumpuni bahkan hingga mendekati perasaan angkuh untuk itu? Sama sekali tidak. Itu semua karena saya sendiri merasakan enaknya hidup dalam situasi yang tertantang. Dalam situasi yang baru, hampir selalu menyajikan tantangan-tantangan yang penuh gairah untuk diarungi. Dan pada saat tantangan demi tantangan dapat kita taklukkan sebagai peluang dan keberhasilan, maka ia akan melahirkan semangat dan energi dahsyat untuk terus menggali pengetahuan dan strategi dalam mencapai tujuan. 

Eksternal dan Internal


Untuk kultur eksternalnya, saya harus mengakui kultur kerja yang ada di masyarakat teman-teman dari luar itu lebih kondusif. Saya melihat bahwa mereka hanya mengenal bekerja atau menganggur. Sedang kita selalu berpikir bekerja di tempat yang senyaman dan semapan mungkin. Faktor eksternal ini juga dibarengi dengan kualitas mereka sendiri sebagai pekerja.
Sedang faktor internal yag ada dari dalam diri saya sendiri adalah keharusan untuk adanya sesuatu keterjaminan pemasukan bagi keluarga. Untuk itulah, perlu atau butuh waktu bagi saya mengeksplorasi lahan 'persawahan' yang cocok dalam semua sisinya. 

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana keberadaan zona mapan itu bisa kita tepis sehingga energi pembaharuan tetap terus mengalir deras? Hal yang saya lakukan adalah sebagai berikut: Asah gergaji. Ini adalah stetmen dari Stephen R Covey dalam bukunya yang terkenal itu, 7 Kebiasaan Orang Sukses. 

Dengan cara apa saya mengasah gergaji? Dengan bertemu teman seperjuangan. Siapapun mereka. Komunikasi dengan mereka akan memacu degup jantung kreatifitas untuk selalu berlari kencang. Cerita teman selalu menjadi lahan baru bagi pengembaraan pembaruan. Tentu saja teman-teman yang tulus membagi dan sekaligus jujur pada bayangan dirinya ketika menyampaikan testimoninya. Selain bertemu teman, saya juga akan sekaligus mengunjungi dimana dan apa yang mereka lakukan selama ini. Ini adalah pelesiran rohani kreatifitas. Dan juga menyantap bagaimana yang orang lain paparkan melalui lontaran ide di ruang seminar atau pelatihan atau uraian narasi dalam bentuk buku.

Itulah cara saya menjaga diri dari wilayah gelap yang bernama kemapanan. Mungkin berbeda dengan Anda?

Tulisan selesai di Jakarta, 12 Februari 2010.

24 January 2010

Guru Inspiratif, Catatan Saya tentang: UN, Catatan Anak SMA

Apa yang ditulis dalam catatan saya sebelumnya yang berjudul; UN, Catatan Anak SMA, adalah tulisan anak saya sendiri saat yang bersangkutan duduk di bangku kelas XII SMA, yang saya ambil dari blog saya dan juga blog anak saya. Ditulis olehnya pada akhir Maret 2009.
Apa yang dia tulis itu adalah kekecewaan dia atas ketidakbisaberlanjutnya kepesertaannya dalam kompetisi-uji untuk menjadi bagian dari pemain Persija Junior. Mengapa gagal? Karena dalam waktu 3 bulan, Januari hingga akhir Maret dia harus berada di lapangan untuk siap berlatih pada pukul 14.00 hampir setiap hari. Dan menginjak bulan kedua ia tidak lagi dapat hadir di lapangan untuk berlatih.
Karena untuk latihan ia harus meninggalkan kelas satu jam lebih awal. Tentu dengan menggunakan permohonan izin dari saya sebagai orangtuanya, baik secara lisan dan tulis dalam bentuk surat. Namun menginjak bulan kedua, penolakan guru dan lembaganya sudah tidak mungkin dia hindari. Kata: pilih main bola atau lulus ujian? Nyaris dikumandangkan oleh guru. Dan bagi saya, yang kebetulan juga guru, apa yang guru sampaikan adalah wajar. Tapi solusi tegas untuk memilih satu dari dua pilihan yang disampaikan tersebut adalah ungkapan tidak bijak.
Saya membayangkan kalau ini yang dihadapi oleh siswa saya di sekolah, maka saya akan meminta anak dan kedua orangtuanya bertemu dengan kami. Berdiskusi tentang solusi apa? Dan menemukan solusi yang berkait dengan masa depan anak, maka harus melibatkan anak yang bersangkutan sekaligus menyampaikan pandangan kita sebagai pendidik? Bukankah saat itu kalau anak gagal di UN masih ada paket C? Dan jikapun anak memilih untuk menjadi pemain bola tetapi masih juga mungkin untuk tetap bersekolah dan lulus UN? Bukankah jika anak dan orangtua ketika dalam diskusi tersebut, tetap memilih dua pilihan yang ada dan kemudian kita sebagai pihak sekolah khawatir anak tersebut akan gagal UN sehingga muka kita sebagai guru atau sekolah akan tercoreng maka kita bisa meminta anak dan orangtua membuat komitmen tertulis?
Ini adalah cara pandang saya. Saya akan memilih pilihan itu sebagai bagian dari mengukir sejarah positif pada masa depan anak atau siswa saya. Bukan sebaliknya.
Dan akhir cerita anak saya memilih untuk konsentrasi bersekolah. Lalu ia tumpahkan kesumpekan hatinya itu dalam bentuk artikel yang dibeberapa bagiannya diluar EYD.
Dari pengalaman seperti inilah saya mengajak semua teman pendidik untuk tidak memaksakan cara pandangnya kepada siswanya. Buatlah sejarah yang baik bagi masa depan mereka. Jadilah guru yang inspiratif bagi mereka!
Jakarta, 24 Januari 2010.

21 January 2010

Ketika Anak Memilih Tempat Kuliah


Alhamdulillah. Dua anakku yang sama-sama duduk di kelas XII telah menyelesaikan SMA-nya tahun pelajaran 2008/2009 lalu. Mereka senang sekali. Mereka senang karena sudah tidak lagi mengenakan pakaian seragam. Juga sudah tidak akan sering-sering mengikuti upacara di sekolah lagi. Juga sudah tidak akan selalu masuk sekolah pada jam yang rutin sama. Senang karena, kata mereka sendiri, tidak anak kecil lagi. Kami sebagai orangtuanya juga gembira.
Lulus SMA, berarti juga adalah memilih tempat belajar yang baru. Banyak prediksi dan argumentasi yang kita gunakan sebagai penentu bagi pembuatan keputusan Ya atau Tidak. Saya jadi ingat ketika Si Sulung masuk SMA beberapa tahun lalu. Orang bilang SMA-nya dulu adalah sekolah untuk para pemakai. dan lain-lain. Maka kami ajak dia bicara.
Saya tanya padanya:

· Mantap kamu memilih sekolah ini?
. Mantap Yah. Jawabnya tanpa ragu.
. OK. Kata saya. Sehari-hari kamu di sekolah itu, adalah menjadi tanggung jawabmu. Ayah dan Ibu selalu akan mendoakan akan kesuksesanmu. Tetapi Ayah tidak bisa memberikan proteksi pada dirimu akan sesuatu yang tidak menjadi kehendak kita. Oleh karenanya, semua ada pada otonomimu untuk melakukan proteksi. Dan Ayah percaya bahwa kamu adalah anak baik. Amin. Kata saya disaksikan oleh Ibunya yang ada di sebelah saya. Dalam hati saya bermohon kepada Allah atas perlindungan-Nya kepada putra saya ini.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.

Kebingungan si sulung itu berlarut hingga awal Juli 2009. Dan ketika didesak lagi untuk segera menentukan pilihan kuliah dimana, dia menjawab: Kita sedang liburan. Jawaban ini dia sampaikan ketika kami sedang berada di Yogyakarta. Kalau ditanyanya sekarang, saya malah pusing. Lanjutnya.

Saya maklum. Dan saya selalu memiliki keyakinan bahwa anak-anak akan sukses dengan jalan yang dipilih dan dilaluinya. Dan sebagai orangtua mereka, keyakinan ini selalu saya visualisasikan. Tanpa ragu sekalipun. Ia sedang menggeluti bisnis bersama teman-temannya (Sukses Mas!).

Kami desak, akan menjadi apa kelak setelah lulus kuliah nanti? Pertanyaan ini kami maksudkan agar memudahkannya dalam menentukan pilihan. Tetapi tetap saja mereka berdua menjawab belum tahu. Si Sulung, setelah bingung mau meneruskan kuliah dimana, akhirnya memutuskan untuk belajar komputer di STIMK Jakarta.

Berbeda dengan si sulung, nomor dua saya, meski belum tahu ingin menjadi apa kelak setelah lulus kuliah, tetapi mantap untuk mengambil Bahasa Jepang. Saya mencoba untuk membujuk memilih jurusan sebagai guru. Ya seperti profesi ayahnya. Tetapi dia tegas memilih jalan yang diyakininya akan mengantarkan mimpinya belajar ke negeri Sakura.

Oleh karenanya, ketika mengajak diskusi dengan kedua anak saya dalam memilih jurusan dan tempat kuliah serta di kota mana mereka akan melanjutkan, adalah prosesi dalam mengajak anak kami untuk beranjak dewasa. Ada sedikit rasa agar anak kami menuruti kami, tetapi kami bersabar untuk meyakinkan diri bahwa pilihan mereka adalah yang paling tepat.
Alhamdulillah, hari ini, mereka telah memasuki gerbang perguruan tinggi. Jenjang bagi merealisasikan mimpinya untuk menjadi manusia sukses dalam Ridho Allah Swt. Amin.

Jakarta, 21 Januari 2010.

20 January 2010

UN, Sebuah Catatan dari Anak Saya

Setiap orang pasti punya keinginan atau impian. Tidak peduli siapa orang itu, dari strata mana orang itu berasal, apa latar belakang pendidikannya dan dimana pun mereka berada, yang pasti dia pasti memiliki angan-angan dan keinginan atau impian yang ingin diraihnya.
Tapi pernahkah anda merasakan impian anda putus di tengah jalan padahal impian tersebut sudah ada di depan mata anda. Menyesal, pasti itu yang anda rasakan. Atau menyesakkan dada, itu lebih parah lagi. Ini terjadi pada seseorang yang tengah mengejar impiannya, sudah berada di tengah perjalanan dan tiba-tiba di paksa untuk berhenti dengan alasan dia harus fokus pada ujian nasional atau UN yang harus dijalaninya. Fokus, mengingat UN membutuhkan daya dan upaya yang begitu besar dan total. Sehingga untuk membagi waktu bagi pengejaran mimpi untuk sementara harus dihentikan.
Mengapa UN menjadi begitu sangat pentingnya di negara ini? Seberapa pentingnyakah UN bagi kehdiupan seseorang yang sedang mengejar mimpi? Apakah dengan ada UN negara ini bisa maju?
Apapun jawabanya yang jelas UN telah meneggelamkan impian anak tersebut. Belum lagi perilaku gurunya yang enggan memberinya izin untuk mengejar impianya tersebut. Guru di sekolah masih sering tidak melihat potensi siswanya secara jujur dan sabar. Guru di sekolah masih sering melihat rendah atau meremehkan siswanya. Terlebih dengan siswa yang memang memiliki kondisi akademis yang kurang baik. Padahal keberhasilan hidup tidak saka dan tidak hanya bergantung kepada cacatan nilai akademik semata. Ok, anak itu fokus pada UN tapi apabila anak itu tidak lulus apakah pihak sekolah akan bertanggung jawab karena telah merebut impian anak itu?. Saya pikir sekolah akan semakin meremehkan anak itu. Padahal pihak sekolahlah yang seharusnya bertanggung jawab dan bukan malah meremehkan anak itu.
Pihak sekolah terkadang menyuruh anak anaknya belajar dan belajar. Ingat jaman sekarang yang paling di butuhkan adalah skill. Lulusan S1 pun belum tentu dapat kerja. Tapi ad lulusan SMA langsung dapat kerja, bahkan belum lulus saja sudah di buking orang untuk bekerja di tempatnya. Kenapa bisa gitu ya? Padahal lebih pitar lulusan S1 dari pada lulusan SMA apalagi yang belum lulus SMA. Tapi yang SMA bisa langsung kerja gajinya pun sama dengan orang yang lulusan S1. Dia bisa main bulu tangkis langsung di buking buat kerja. Kalau kita berprestasi kerja akan mencari kita bukan kita nyari kerja. Yang penting Skill bukan pintar atau enggaknya. Artinya anak itu tidak lulus UN tapi bisa saja anak itu lebih sukses dari pada guru guru yang ada di sekolah itu.
Anak yang rangking satu pun itu bukan jaminan untuk menjadi orang yang sukses nantinya. Murid murid sekarang saja pergi ke sekolah bukan mencari ilmu melainkan hanyalah sebuah nilai. Sangat menyedihkanya bangsa ini. Pantas saja orang bule datang ke sini menjadi majikan tapi kalau dari sini ke sana hanya menjadi pembantu. Apa itu impian kita ?. Harusnya sekolah mencari apa sebenarnya bakat murid muridnya dan memberinya motivasi agar murid muridnya itu terus fokus pada impianya tesebut. Bukan malah mengubur impian murid muridnya apalagi meremehkan murid muridnya. Apa sebenarnya yang di harapkan guru guru tersebut kalau murid muridnya saja tidak mempunyai impian hanya mengikuti air mengalir biarpun keruh tidak apa apa gak masalah. Kalo tuh air ngalirnya ke laut sih masih mending, tapi kalo ngalirnya ke sapitank gimana?. Andalah sebagai gurunya yang akan malu nantinya. Tapi kalau murid muridnya sukses anda juga ikut bahagia nantinya.
Mari bapak ibu sekalian kita ubahlah paradigma kita yang hanya memandang orang pintar itu adalah orang yang sukses nantinya. Orang yang sukses adalah orang yang mempengaruhi lingkungan sekitar dan punya impian yang kuat itulah orang yang sukses nantinya. Kalau anda memang punya murid yang seperti itu selamat terus memberi beri anak itu motivasi di saat ia sedang down. Asalkan anda tidak mengubur impianya saja dia akan sukses nantinya.
Ikhwan A. Rahman: Siswa SMA Kelas XII, di Jakarta

Sumber: http://ikhwanarahman.blogspot.com

15 January 2010

TUGASKU Talent Show 2010!


Jumat, 8 Januari 2010 lalu, kami, guru dan karyawan dari Sekolah Islam TUGASKU secara berkelompok maupun sendiri-sendiri tampil di panggung pertunjukkan lebih kurang 7 menit. Tidak ada yang tidak tampil menunjukkan kebolehannya. Kami menyebut acara itu sebagai Teachers Talent Show.

Ini adalah acara untuk kedua kali sejak kami tinggal di Pulomas. Kegiatan pertama kami laksanakan pada tahun 2007. Yang formatnya seperti Gong Show. Kita meminta kesediaan Ketua POMG TK, SD dan SMP sebagai komentator atas penampilan kami. Dan siswa yang masih tinggal di sekolah sebagai penonton. Acara saat itu berlangsung pada hari Jumat pukul 14.00-17.00.

Namun pada pada Jumat, 8 Januari 2010 itu tanpa komentator dan hanya sedikit penonton. Penonton hanya diantara kami sendiri serta Pengurus OSIS SMP Islam TUGASKU. Namun demikian, kami mengagumi apa yang telah kami dan teman-teman kami perlihatkan di panggung. kami menakar bahwa pebnampilan kami yang kedua itu memiliki kualitas yang luar biasa melesat dibanding dengan penampilan kami pada dua tahun yang lewat.

Membuang-Buang Waktu?

Kegiatan yang kami lakukan pada saat hari kerja itu tidak kami hitung sebagai membuang-buang waktu. Kami melakukan itu sebagai rangkaian professional development. Kami memaknai seluruh aktivitas di hari itu sebagai bagian dari proses belajar kami. Karena dengan kegiatan ini, kami berdiskusi dan merancang skenario untuk menjadi pemain di panggung, belajar menghargai bagaimana teman atau kelompok lain menampilkan sesuatu yang masih rahasia bagi kami.

Ya kegiatan itu memang rangkaian PD, karena dua hari sebelumnya kami telah menjalani rangkaian awalnya. Rabu, 6 Januari, kami merefleksi apa yang telah kami capai pada semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Sekaligus memperkuat komitmen kami semua untuk menempuh semester 2 ini. Sedang hari keduanya kami belajar tentang mind map. Dan secara khusus saya menyampaikan kepada semua guru yang hadir, agar keterampilan ini kita pakai dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan seperti ini, keterampilan itu akan menjadi melekat. Dan ketika melekat, saya berasumsi mereka akan menginspirasi kepada orang disekelilingnya. Termasuk kepada siswa di kelasnya. Alhamdulillah setelah satu pekan semester 2 ini berjalan, saya melihat semangat itu dalam interaksi guru dengan siswanya di kelas.

Dan pelajaran lain dari kegiatan ini selain kami senang dan terhibur oleh teman, kami belajar terbuka dan juga belajar dalam memperkokoh kebersamaan. Kebersamaan dalam menuju menjadi lebih baik. Itulah argumentasi nyata bagi sesuatu kegiatan yang tampaknya membuang-buang waktu.


Jakarta, 16 Januari 2010.

14 January 2010

Melihat Tata Tertib sebagai Investasi

Pada hampir semua pertemuan yang membahas tata tertib bekerja di sebuah lembaga, maka selalu muncul dua sumbu. Yaitu sumbu yang berdiri dibarisan pekerja dan sumbu lainnya yang berdiri sebagai wakil pemberi kerja. 
Dalam pasal tertentu, mereka akan berjalan saling beriringan dan pada pasal lainnya akan berdiri saling berlawanan. Dalam posisi berseberangan inilah yang sering berujung pada cara pandang buruk sangka.


Dari sisi pekerja, pada pasal-pasal tentang tuntutan atau kewajiban bekerja pada tata tertib dilihat sebagai penghambat dan tekanan. Meski hal ini telah mengacu kepada peraturan lebih tinggi yang ada dan masih berlaku. Namun pada sisi pemberi kerja, pasal-pasal seperti itu justru dibuat untuk memberikan pagar dan sekaligus kepastian bagi keterlaksanaan pola kerja optimal yang diinginkan.

Para pemberi kerja beralasan bahwa tuntutan kerja yang terdapat itu dibuat sebagai penjamin bagi tumbuhnya etos kerja. Mereka berargumentasi bahwa dengan lehirnya etos kerja maka akan lahir budaya kerja. Dan budaya kerja dapat pula menjadi simpul bagi daya saing. Dan daya saing akan melahirkan kesejahteraan. Dan seterusnya-seterusnya.
Dengan pola dan cara pandang seperti itu, memang akan melahirkan perasaan nyaman yang berkeadilan. Adil bagi yang memberikan pekerjaan maupun bagi yang melaksanakan pekerjaan. Tata tertib menempati pakem yang semestinya. Yaitu garis komitmen dalam hubungan pemberi kerja dan pelaksana kerja.

Cara Lihat yang Berbeda

Dari pengalaman ikut dalam sebuah pertemuan tersebut saya merefleksikan diri pada posisi sebagai pekerja. Yang melihat semua tuntutan kewajiban dan pemberian hak yang terdapat dalam pasal-pasal tata terti pekerjaan tersebut tidak saja sebagai rambu bagi rasa aman, nyaman dan adil, tetapi lebih dari itu, sebagai investasi. Investasi bagi saya untuk kehidupan saya yang lebih baik pada lima, delapan atau sepuluh tahun ke depan.

Bahwa tuntutan pekerjaan dalam tata tertib tersebut akan memola saya untuk bekerja memenuhi tuntutan atau target standar yang digariskan, adalah sesuatu yang normatif. Namun dengan cara melihat tata tertib sebagai investasi, maka pemolaan tersebut sangat saya sadari. Dan dengan demikian maka akan lahirlah saya dengan etos dan budaya kerja yang diharapkan. Dan dari kaca mata ini saya melihat bahwa semakin berkualitas tata tertib lembaga dimana saya ikut didalamnya, maka akan memungkinkan saya untuk menjadi bertambah berkualitasnya saya. Inilah yang saya sebut pengembangan diri dengan menjadikan tata tertib lembaga sebagai investasi.

Bahwa usaha keras dan usaha tekun saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, telah berkontruibudsi bagi peningkatan kualitas diri saya. Sebaliknya, jika lemahnya saya dalam memenuhi standar kerja yang dituntut, maka sosok yang lemah pula yang akan saya dapati meski bertambah tahun saya melakukan dan menjalani pekerjaan. Sahabat saya mengistilahkan hal ini sebagai year of experiance. Sedang untuk istilah bagi fenomena yang pertama sebagai year of learning.

Tapi, apakah mudah melihat tata tertib kerja sebagai investasi masa depan kita bila kita berposisi sebagai pekerja? Sulit memang. Tetapi dengan melihatnya sebagai investasi, saya dapat meningkatkan etos dan budaya kerja saya untuk lebih memiliki daya saing. Dan ketika komptensi daya saing saya tinggi, saya akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk memilih posisi kerja atau tempat kerja yang lebih baik dari sebelumnya.

Bagaimana dengan Anda sendiri?

Jakarta, 13 Januari 2010.

11 January 2010

UN Jujur, Jauh Lebih Penting

Tulisan ini bukan tulisan baru saya. Yaitu revisi dari tulisan yang pernah dimuat di Harian Pelita pada Selasa, 14 November 2006 dengan judul UN yang Jujur. Namun karena isu Ujian Nasional jujur tetap menjadi pokok dari pelaksanaan Ujian Nasional yang diselenggarakan di SMP dan SMA serta UASBN untuk SD, maka tulisan di Harian Pelita ini saya menerbitkan dalam blog saya dengan membuat beberapa bagiannya menjadi aktual.

UN yang Jujur
Pelaksanaan UN/UASBN yang jujur di semua sektor dan tingkatan institusi pendidikan adalah yang paling utama. Ini adalah jalan paling terhormat dan bermartabat bagi peningkatan kualitas pendidikan yang sesungguhnya.

Pelaksanaan UN/UASBN dapat dikatakan jujur bilamana tidak terdengar lagi bau tidak sedap tehadap pelaksanaan UN/UASBN itu sendiri. Mengingat dalam setiap pelaksanaan UN/UASBN yang lalu, yang melibatkan banyak unsur, masih juga muncul berita ketidakpatutan di surat kabar. Ini bukan tendensius, tetapi merupakan rahasia umum.

Sebagaimana pernah terjadi pengungkapan terjadinya ‘ketidakberesan UN’ pada tahun 2006 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Misalnya saja apa yang diungkap oleh Mumul –salah seorang guru di Bogor Jawa Barat- dalam kesaksiannya di pengadilan mengungkapkan tentang briefing Kepala Sekolah agar guru menyiasati soal-soal UN antara lain dengan dengan memberitahukan jawaban disekolah tempat guru mengawas (Kompas, 8 Desember 2006). Dalam berita tersebut, diceritakan pula bahwa Mumul, sempat bertanya kepada siswanya apakah mereka sudah belajar. Namun siswanya justru menjawab; ”ngapain belajar, nanti juga jawabannya dikasih tahu. Mendingan main remi”. Meski hal ini sedang terjadi di pengadilan dalam tataran proses, karena baru memasuki pemeriksaan saksi, namun kita sebagai guru di sekolah, mengerti sekali apa maknanya.

Juga apa yang saya pernah ceritakan pengalaman yang menimpa seorang guru yang kebetuan juga teman sejawat, bahwa keponakannya memintanya untuk dibelikan telephone seluler sebagai bagian dari persiapan UN tahun 2006 yang lalu (Pelita, 23 Mei 2006). Dalam logika orang normal, apakah ada hubungan antara telephone seluler dengan UN? Tetapi dalam realita yang dihadapi keponakan teman itu, itulah letak normalnya. Jadi Abnormal sebagai kenormalan! Atau jika kita masih butuh bukti empiris, simak saja misalnya kasus oknum guru di provinsi Banten yang harus memberikan ”pembinaan” kepada siswanya karena tak tahu diuntung harus meminta kunci jawaban UN tahun 2006 lalu melalui SMS?

Pertanyaannya adalah, mengapa strategi busuk tersebut masih menjadi pilihan bagi sebagian kita untuk mencapai keberhasilan? Apakah karena siswa yang ada di sekolah kita adalah mereka yang memiliki kekurangan sehingga begitu sulitnya untuk mencapai target keberhasilan yang dicanangkan? Pendapat saya tidak. Coba kita renungkan jawaban siswa rekan kita Mumul sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini. Dimana siswa tersebut menyampaikan argumentasi mengapa harus belajar kalau saat UN berlangsung siswa diberikan kunci jawaban? Apakah ini kalimat siswa yang memiliki hambatan pemahaman dalam menguasai materi pelajaran? Kalimat itu adalah kalimat analisa. Sehingga setidaknya ia adalah siswa yang masuk dalam taraf rata-rata siswa yang ada di sekolah kita.

Jadi mengapa strategi kotor masih terjadi disetiap tahunnya di sebagian sekolah, sebagai bagian dari pencapaian target UN? Salah satu penyebabnya, menurut saya, adalah karena betapa saktinya nilai hasil UN ini bagi martabat sebuah instutisi.

Bagi masyarakat pada umumnya, hasil UN menjadi dasar satu-satunya untuk melihat kualitas sebuah sekolah. Masyarakat sering tidak peduli bahwa setidaknya hingga tahun 2010 ini, untuk masuk perguruan tinggi negeri, putra-putrinya harus berjuang kembali mengerjakan tes masuk. Sehingga hasil UN SMA yang bagus sekalipun tidak dapat menjadi kunci pembuka gerbang memasuki perguruan tinggi yang diinginkannya secara otomatis. Artinya, sesama institusi pendidikan di dalam negeri pun PTN masih belum menjadikan hasil ujian nasional bagi siswa SMA sebagai prasyarat utama untuk menjadi seorang mahasiswa di lembaganya.

Tetapi karena cara pandang tersebut terlanjur mengakar. Akhirnya sekolah berjuang sekuat tenaga dalam membangun citra sebagai sekolah berkualitas dengan target memperoleh nilai rata-rata UN yang tinggi.

Dengan melihat itu semua, maka seyogyanya hanya melalui strategi kerja keras dan sungguh-sungguh sajalah kita dapat mencapai keberhasilan. Mengapa kita optimis? Karena soal ujian nasional yang berjumlah 30-40 soal, dengan persiapan selama tiga tahun pelajaran dan SKL yang telah disampaikan lebih kurang 6 bulan sebelum pelaksanaan UN/UASBN, adalah senjata sekaligus peta perjalan keberhasilan.

Inilah jalan satu-satunya menjadikan UN/UASBN berlangsung jujur. Sekaligus ’menjaga’ martabat kita sebagai guru.


Sumber: Harian Pelita, 14 Nopember 2006, dengan revisi.

05 January 2010

Membangun Komunitas atau Etos

Sekolah sebagai komunitas sosial, menuntut untuk berhubungan satu sama lainnya. Saling hubung, saling melihat, saling bertemu, saling betukar pikiran. Pendek kata sulit bagi sekolah untuk menyembunyikan kekhasannya hanya menjadi milik sendiri. Walau harus saya akui, ada beberapa sekolah yang tampaknya begitu pelit dengan apa yang mereka miliki atau mereka capai untuk kemudian dibagi kepada kita yang menjadi pengagumnya, sahabatnya atau mungkin tetangganya.

Tapi saya mencobanya untuk memahami argumentasi mereka. Karena mungkin sekali apa yang mereka capai dan miliki sekarang ini adalah akibat dari perjuangan sebelumnya. Baik perjuangan material dan atau perjuangan immaterial. Semua menjadi logis untuk tertutup dan pelit.

Namun saya melihat dengan cara yang berbeda. Saya berpikir bahwa sebuah pencapaian atau hasil memang benar sebuah akhir proses perjuangan. Tetapi jika ruh perjuangan dan pergerakan proses yang menjadi inti dari sebuah pencapaian, bukankah hasil akhir itu adalah relatif? Dan ini yang menjadi keyakinan saya.

Karena hasil akhir dari sebuah perjalan tersebut adalah relatif dan karena ruh perjuangan adalah inti dari sebuah proses yang kemudian saya sebut sebagai etos, maka hasil kami pada tahun pelajaran ini tentu akan bergeser koordinatnya pada hasil dan kualitas kami pada tahun pelajaran berikutnya. Dan tentunya titik koordinat tersebut bukan memburuk atau degradasi tetapi membaik ke arah positif.

Dan kalau demikian, maka teman, sahabat, tetangga atau tamu yang tiba-tiba datang di sekolah kami selalu kami sambut dengan tangan terbuka. Mereka bahkan hingga tahu dimana kami memesan barang yang kami perlukan.

Dan dari hal ini juga saya menerima masukan dari tamu tentang apa yang dapat kami rengkuh untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Inilah yang saya maksudkan dengan ETOS.

Untuk itulah semua hal ihwal yang berkenaan dengan kebaikan yang ingin kami capai, saya mengajak seluruh teman untuk seing. Dan dari seing saya minta mereka untuk bergerak menuju dan menjadi believing. Dan ketika tahapan ini selesai, kami akan bersama-sama merekonstruksi perjalanan. Nyaris tidak ada pola copy dan paste dalam melahirkan etos. Karena copy dan paste merupakan budaya instan. Dan budaya instan hanya melahirkan kebohongan serta ketidakjujuran.

Etos yang lahir dari sebuah proses perjuangan inilah yang menjadi impian saya dalam membentuk komunitas. Saya yakin, dengan kelahiran etos melalui proses ini, ia menjadi kekuatan yang tidak akan menimbulkan ketakutan bagi perilaku mencontek. Tidak pelit ketika tamu datang dan meminta keterangan tentang bagaimana cara membuat ini atau itu. Terbuka dalam bersahabat.

Setidaknya, inilah yang saya yakini pada hari ini tentang membangun sebuah komunitas.

Jakarta, 5 Januari 2010.

04 January 2010

Mengapa Berubah?


Sebagai praktisi di sekolah swasta, berubah adalah spirit untuk menjadi berusia panjang. Dan inilah jawaban jitu bagi pertanyaan di atas. Sementara argumentasi lainnya adalah karena kondisi sosial yang terus bergerak maju dan naik tanpa dapat diprediksi secara tepat. Hanya dapat diduga.


Seperti lahirnya sekolah swasta bertaraf internasional (sekolah nasional plus) pada pertengahan tahun 95’an yang dilihat sebagai sekolah ‘aneh’ oleh masyarakat sekolah pada waktu itu. Dan pada tahun 2009 beberapa sekolah itu telah 'merubah diri' menjadi benar-benar Sekolah Internasional. Sementara sekolah tersebut diadopsi menjadi konsep SBI.


Dan perubahan ini memiliki implikasi. Yaitu implikasi pada seluruh sendi kehidupan sekolah. Mulai dari siswa, kurikulum, guru, kesejahteraan dan lain-lain.


Jikapun kita (sekolah, manajemen, guru) tidak siap untuk menikmati perubahan (contoh di atas tentang sekolah) maka orang lainlah yang pasti menikmatinya. Mengapa? Karena lembaga itu memerlukan mereka yang siap untuk memenuhi keperluannya. Dan kita mungkin akan menjadi penonton atau mungkin sebagai komentatornya.


Siapa yang Harus Berubah?


Dalam konstelasi yang bernama sekolah, maka pranata yang harus berubah adalah stakeholder yang terdiri dari: Pertama: Lembaga, perubahan dalam tataran sistem (visi, misi, struktural). Kedua: Manajemen, perubahan dalam bentuk mengaktualisasikan komitmen dalam menjalankan visi dan misi lembaga. Ketiga: Guru, mengoperasionalkan komitmen manajemen dalam proses pembelajaran dalam kelas. Keempat: Masyarakatnya. Kelima: Perangkatnya.


Hambatannya?


Dalam pandangan saya ada beberapa hambatan yang berasal dari luar atau dari dalam diri kita. Yaitu Pertama: Sikap dasar kita: malu dan sombong. Malu untuk merubah atau berubah (bandingkan sikap ini dengan sikap seorang anak saat melakukan kesalahan dalam permainan bersama temannya, mereka tidak sungkan untuk segera berkata MAAF). Sombong untuk mengikuti atau mengakui keberadaan supremasi orang diluar dirinya.


Kedua: Sikap establishment. Rhenald Khasali menuliskan tentang ini (2005: xxxv-xxxvi): …ini adalah sebutan untuk kelompok mapan …setiap perubahan akan dianggap sebagai ancaman, dan change maker’s akan diberi ruang yang sangat sempit untuk bergerak. Langkah-langkah change maker’s di gugat dan selalu dikembalikan kepada bayang-bayang kesuksesan di masa lalu.


Ketiga: Cepat lahirnya rasa puas diri. Mereka pikir apa yang telah mereka peroleh hari ini adalah prestasi paling tinggi baginya. Padahal sangat boleh jadi jika mereka terus menerus mereformasi diri, kemungkinan untuk mendapatkan prestasi yang lebih dahsyat yang akan mereka temui. Mereka inilah yang oleh Paul G. Stolz disebut sebagai orang-orang yang berkemah (camper’s). Orang yang meresa sepat puas.


Keempat: Belum lahirnya sikap pembelajar sepanjang hayat. Hal ini juga berkait dengan sikap orang cepat merasa puas dengan apa yang didapatnya sekarang. Manusia pembelajar sepanjang hayat tidak mengenal sama sekali kamus ‘pandai’ atau ‘pintar’. Mereka tidak ada kata berhenti untuk belajar, belajar dan belajar!


Paradigma yang dikumandangkan Aa’ Gym berkenaan dengan perubahan, mengubah diri dengan 3 M (Mulai). Yaitu: Perubahan harus dilakukan mulai dari diri sendiri. Perubahan dari mulai hal-hal kecil. Dan perubahan mulai sekarang juga.

Jakarta, 4 Januari 2010.

03 January 2010

Esensi UASBN 2010?

Ini adalah komentar dan pernyataan salah seorang dari orangtua siswa kelas 6, saat kami selesai memaparkan UASBN, kisi-kisi soal dan batas minimal kelulusan di sekolah kami kepada seluruh orangtua siswa kelas 6 pada akhir Desember 2009 yang lalu.

Dimana dalam forum tersebut Kepala Sekolah memaparkan nilai minimal kelulusan tahun sebelumnya dan dengan melihat lebih dan kurangnya potensi akademik dari para siswa kelas 6 tahun ini, maka Kepala Sekolah mengusulkan untuk nilai minmal sebagai syarat lulus di tahun ini.

Beberapa orangtua yang mengetahui potensi akademik putra-putrinya di atas rata-rata kelas mengusulkan agar supaya nilai minimal kelulusan itu dibuat dan diputuskan untuk lebih tinggi lagi. Agar dengan nilai tersebut harga diri sekolah dapat lebih baik lagi dibanding sekolah lain atau dibanding tahun pelajaran sebelumnya.

Disini ada sedikit diskusi mengingat dengan nilai minimal yang dia sampaikan pada akhirnya nanti akan menyulitkan beberapa siswa yang memang memiliki kesulitan akademis atau mereka yang nilai akademisnya berada di bawah nilai rata-rata kelas. Ini harus dipahami karena sekolah kami adalah sekolah yang tidak keseluruhan siswanya adalah cerdas akademik. Sekolah kami adalah sekolah untuk semua siswa dengan keberagaman potensi akademik, sikap dan perilaku.

Dan dari diskusi tersebut akhirnya disepakati sebuah angka minimal untuk syarat lulus. Nilai inilah yang nantinya oleh Kepala Sekolah akan sampaikan kepada Dinas Pendidikan Nasional yang ada di Kecamatan. Tentu setelah mendapat persetujuan dari orangtua siswa kelas 6.

Namun meski keputusan berkenaan nilai minimal telah disepakati, masih ada beberapa orangtua yang belum utuh pemahamannya tentang nilai minimal yang masih dibawah angka 5 itu. Bahkan masih ada yang bertanya mengapa nilai kelulusan ditentukan oleh sekolah?

Saya mencoba memberikan tambahan keterangan. Bahwa inilah salah satu yang membedakan antara UN di SMA dan SMP dengan UASBN di SD. UN di SMA dan SMP, nilai minimal sebagai syarat kelulusan menjadi keputusan BNSP, Badan Nasional Standar Pendidikan. Sedang UASBN di SD nilai minimal itu masih menjadi tanggungjawab sekolah, tentunya dengan melihat potensi akademik siswa yang ada.

Maka setelah selasai pertemuan itu, datang seorang Bapak kepada saya dan menyatakan kesimpulannya bahwa; Kalau demikian uraiannya, menurut saya UASBN merupakan keputusan politis. Dan lulus atau tidak lulus juga politis semata. Mengapa? Bukankah semua sekolah akan membuat nilai minimal sebagai syarat untuk lulus dengan memprediksi agar semua siswanya lulus? Lalu dimana esensi dari UASBN itu?

Saya diam. Lalu mengangguk. Benar!

Jakarta, 3 Januarui 2010.

02 January 2010

Perubahan Itu = Melakukan Sesuatu yang Berbeda


Apakah perubahan itu? Tanpa mengacu kepada Kamus, saya mencoba untuk membuat rumusan sederhananya; perubahan adalah melakukan sesuatu yang berbeda. Berbeda mengingat ia dilakukan bukan merupakan sebuah rutinitas.


Untuk memberikan gambaran berkenaan dengan perubahan ini, saya akan menguaraikan dua kisah pribadi.


Kisah pertama adalah kisah pada sebuah masa ketika hidup bersama keluarga di Sritejokencono, Punggur, Lampung, tahun 1972. Almarhum ayah saya yang bertugas sebagai seorang pengairan di DPU mengajari para tetangga bagaimana bertani di lahan basah. Sawah. Ini dia lakukan ketika desa dimana kami ditempatkan di rumah dinas, yang sebelumnya merupakan lahan perladangan harus berubah manakala daerah kami dialiri irigasi. Maka lahan kering yang berupa ladang tersebut menjadi lahan sawah yang penuh air.


Para tetangga tidak saja belajar bagaimana menanam padi, tetapi bahkan sejak dari membuat pematang, mencangkul di tanah yang berair, menanam padi dengan gerak mundur, menyirami tanaman dengan pupuk, menyiangi, menyemprot obat anti hama, memanen padi, dan seterusnya.


Meski setelah padi selesai dijemur, para tetangga tersebut menjual seluruh padinya dan membelanjakan sebagaian hasilnya itu untuk membeli gaplek sebagai makanan pokok mereka pada waktu itu. Gaplek mereka olah menjadi tiwul yang ketika masak berwarna hitam.


Dalam periode berikut, Mamak saya mengajarkan bagaimana nasi tiwul yang berwarna hitam di oplos dengan nasi dari beras yang kemudian disebut sebagai nasi putih. Dan setelah sekian tahun berlalu di desa kami ini tidak ada lagi nasi hitam atau nasi putih. Sekarang semua nasi dari beras. Nasi gaplek hanya diolah menjadi gatot dan atau tiwul telah menjadi jajanan pasar dan bukan makanan pokok.


Dan selama dua hingga tiga kali musim tanam para tetangga masih mengalami semacam gegar budaya sebagai petani berladang menjadi bersawah. Sehingga aliran irigasi yang menyediakan berkilo-kilo ikan tawar berbagai jenis tidak sempat mereka petik kecuali oleh saya sendiri yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD dengan jala. Dan para anak petani menjadikan itu sebagai tontonan.


Ini adalah bentuk perubahan yang sangat mendasar dan dahsyat menurut apa yang pernah saya lihat dan alami sendiri.


Kisah saya yang kedua adalah kisah tentang perjalanan pulang kampung. Sebagaimana yang sering saya tulis sebelumnya bahwa, pulang kampung adalah rutinitas keluarga kami. Namun bagaimana menarik perhatian anak dan istri saya untuk senang menengok Kakek dan Nenek mereka di kampung karena mereka hidup dan besar di kota yang siangnya sibuk dan malamnya terang benderang, adalah bentuk perjuangan saya.


Maka saya membuat peta perjalanan pulang kampung sebagai perjalanan petualangan. Saya membuat difinisi pulang kampung sebagai perjalanan wisata, menikmati jalan yang menganugerahkan pesona alam di kiri dan kanannya, kuliner, ini khususnya untuk istri saya, mengunjungi tempat unik untuk belanja, hiking ketika sampai di kampung. dengan mengajak mereka untuk mengitari pekarangan, desa, hingga ke gunung, berendam di sungai untuk anak lelaki saya dan melepas rutinitas.


Untuk semua itulah saya menyiapkan stamina bagi terwujudnya kegembiraan pulang kampung. Dan perubahan yang saya lakukan adalah selalu menggunakan jalan atau mengunjungi tempat yang tidak sama dari waktu ke waktu. Dan perubahan bentuk ini sesungguhnya membuat saya kawatir. Kawatir untuk kesasar. kawatir kalau terjadi sesuatu.


Tapi satu keyakinan yang selalu saya tanamkan pada diri saya bahwa jalan atau tempat yang baru, selalu akan menghadirkan pengalaman luar biasa mengesankannya. Di sana akan saya temukan situasi dan pengalaman baru. Dan di sinilah lahir keyakinan saya untuk selalu bersiap menikmati bumi Allah yang tidak terduga menakjubkannya. Maka hampir setiap ruas keindahan dan tempat ,menyenagkan nyaris kami singgahi di jalur pulang kampung kami.


Dan saya meyakini ini adalah implikasi dari keberanian kami dalam menempuh sesuatu yang selalu berbeda dalam setiap perjalanan pulang kampung kami. Dan pulang kampung menjadi sesuatu yang menggairahkan bagi kami. Dan tidak saja bagi saya yang memang dari sananya adalah anak kampung. Tapi juga bagi istri dan anak-anak saya yang lahir dan besar di situasi Jakarta!


Jakarta, 2 Januari 2010.

01 January 2010

Mendadak Konser Musik RAN


Menggeser apalagi merubah jadwal konser, merupakan pilihan kontraproduktif untuk sebuah proses pendidikan bagi pengurus OSIS SMP kami. Dan oleh karenanya, itu bukan merupakan bagian solusi yang apik dan strategis bagi masalah kami saat itu. Inilah pikiran saya saat harus menemukan kenyataan bahwa OSIS SMP kami membuat kejutan untuk mengundang kelompok musik RAN di acara Panggung Ekspresi yang bertajuk Friendship Festival pada Kamis, 24 Desember 2009.

Saya katakan kejutan karena kegiatan tersebut semula dirancang dengan semangat dari mereka untuk mereka. Dan dalam benak saya jika ini yang menjadi temanya, maka tidak perlu adanya antisipasi penonton yang lebih serius mengingat kegiatan ini telah berlangsung secara rutin hamoir selama dua periode kepengurusan OSIS SMP kami.
Namun ketika ditengah persiapan kegiatan dan muncul ide untuk menghadirkan RAN yang memiliki fans tersendiri tetapi pada saat bersamaan sedikitnya 4 mata acara di lokasi yang sama yang akan menyedot perhatian publik, yaitu terima rapot semester, bazar, pertemuan orangtua SMP, pemilihan POMG SMP dan panggung ekspresi tersebut, tak pelak lagi menjadi pemikiran kami untuk benar-benar merealisasi kegiatan ini secara terencana dalam segi keamanan.
Terlebih lagi jika hal ini dikaitkan dengan sekolah kami yang hanya memiliki lapangan yang telah habis untuk panggung serta lapangan parkir yang hanya cukup untuk 50-an kendaraan roda empat. Sementara rencara kejutan itu baru resmi saya terima 4 hari kerja sebelum hari H.

Maka yang seketika hadir di kepala saya adalah (1). Tidak menggagalkan rencana kejutan remaja kami yang tengah bersemangat. Karena jika ini solusi yang kami pilih, kami akan memetik hasil yang kontraproduktif. Namun demikian saya berpikir agar mereka juga bekajar tentang RENCANA. Oleh karenanya kami ajak mereka berpikir bagaimana rekayasa keamanan di saat pelaksanaan konser?

(2). Saya mengundang penanggungjawab keamanan disertai Kepala Sekolah, Pembina OSIS dan Penanggungjawab keamanan. Kami berdiskusi dari segi atau cara pandang kami masing-masing dan mencoba membuat prediksi tentang teknis pelaksanaan di hari H. Semua dapat mengutarakan pendapat dan diakhiri dengan konsepsi kesimpulan tentang kegiatan hari H-nya.

Saya segera menyebarkan informsi hasil pertemuan itu kepada seluruh komunitas sekolah. Demikian juga kepada penanggungjawab keamanan serta crew-nya, masing-masing melakukan persiapan sesuai hasil rapat.
Alhamdulillah, atas pertolongan dan petunjuk dari Allah, semua skenario kami coba jalani dengan sepenuh komitmen yang kami miliki. Tidak ada satu unsurpun dari kami yang tidak berkontribusi. semua menyatu membentuk puzzle yang utuh. Semua penampil naik panggung dengan penuh percaya diri. Mereka adalah para siswa dari TK, SD, SMP dan bahkan alumni.

Dan sebagai puncak dari kegiatan itu adalah enam (6) lagu dari RAN yang disimak oleh lebih kurang 150-an penonton dengan tertib tidak kurang sedikitpun. 

Dan peristiwa ini mengguratkan pengalaman berharga bagi saya sendiri: Jangan pernah mematahkan semangat yang tengah tumbuh penuh keyakinan meski hal itu tidak disertai prediksi di tingkat operasionalnya. Tugas kita sebagai pembimbing adalah menyertainya dengan peta perjalanan yang jelas koordinatnya!

Jakarta, 1 Januari 2010

23 December 2009

UN, Pengalaman sebagai Pengelola Sekolah

Pelaksanaan Ujian Nasional atau UN bagi sebuah sekolah swasta nasional, dengan bagaimanapun bentuk dan afiliasinya tetap dipandang penting. Paling tidak bagi sekolah saya, dimana saya sendiri mendapatkan amanah dari Yayasan sebagai pengelolanya. Namun demikian, kami sebagai komunitas dari sekolah ini bersepakat dalam melihat hasil belajar siswa, bahwa UN bukanlah satu-satu hasil pendidikan. Ini adalah pengejawantahan dari prinsip pendidikan yang menjadi anutan kita bahwa terdapat tiga (3) ranah hasil belajar yang antara lain adalah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dan dari sinilah kami bangun bersama kesepakatan untuk menjadikan proses pencapaian UN berbasis kepada moto yang dikembangkan oleh para pendiri, yaitu: Ya Allah bimbing kami menjadi orang yang jujur dan terhormat.
Dua kata, Jujur dan Terhormat, menjadi dasar kami mengejar mimpi. Dengannya, kami mencoba merumuskan strategi pencapaian UN yang baik namun tetap menegakkan holistisitas dari seluruh pembelajaran. Oleh karenanya konsep ini harus mengalir deras pada seluruh komponen UN yang ada di sekolah kami. Dan konsep ini melahirkan semangat untuk bersama-sama bekerja dengan cerdas, keras dan penuh komitmen.

Ikhtiar itu kami lakukan hingga sampai pada pintu gerbang pelaksanaan UN. Dimana saya yang mendapatkan amanah ini harus benar-benar yakin akan proses yang Jujur dan Terhormat. Di depan, kita sudah kibarkan semangat bekerja yang keras, cerdas dan penuh komitmen. Maka diakhir kalinya saya memastikan bahwa semua dilandasi kesadaran untuk bekerja secara jujur dan terhormat.

Pagi setelah subuh, saya sudah sampai di ruang Kepala Sekolah. Bertemu guru dan Kepala Sekolah yang pulang mengambil soal UN. Menemani mereka bekerja. Menyambut dan berbasa-basi dengan para tamu yang akan menjadi pengawas UN. Melepas kepergian guru yang bertugas mengantar nahkas jawaban UN di siang harinya.

Kepastian untuk bekerja secara jujur dan terhormat tersebut harus saya lakukan sebagai jaminan bahwa sekolah kami adalah sekolah yang tidak menjadikan komitmen dan mimpi sekedar menjadi slogan. Ini sebagai bukti pula bahwa tim sukses UN berhenti dan berakhir masa dinasnya persis saat pintu gerbang UN dimulai.

22 December 2009

UN, Sebuah Pengalaman sebagai Orangtua


Benar. Ini adalah tulisan tentang UN dilihat dari pengalaman yang anak-anak saya sendiri alami tahun pelajaran 2008/2009. Sangat kebetulan dua anak saya, yang pertama dan yang kedua, sama-sama duduk di kelas XII SMA tahun pelajaran yang lalu. Jadi UN tahun 2009, di SMA yang berbeda. Anak pertama di SMA swasta di Jakarta Barat dan anak yang kedua di SMA swasta di Jakarta Selatan.

Persiapan

Untuk lulus ujian, hasil diskusi kami memutuskan agar mereka melakukan persiapan sebaik mungkin. Anak yang pertama memilih memanggil teman saya yang, alhamdulillah dapat membantu memberikan materi pengayaan di mata pelajaran Matematika, pelajaran Kimia, Fisika dan Biologi, dengan durasi dua kali sepekan. Sedang anak ke-dua memilih ikut pengayaan di bimbingan belajar yang berlangsung satu hari di hari Sabtu dan separuh hari di hari Minggu. Mereka menjalani itu semua dengan penuh konsekuensi. Tekun.

Juga buku soal-soal UN yang telah lalu dan prediksi soal yang akan datang. Dan buku-buku itu bahkan ada yang memprediksi soal UN yang akan keluar berdasarkan SKL yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional. Canggih!

Membahas soal, sepertinya menjadi bagian yang amat sangat penting bagi mereka. Dari manapun soal itu berasal. Dan saya sendiri melihat apa yang sedang mereka pelajari dengan SKL itu. Kompetensi apa saja yang harus dikuasai mereka. Dan dari kompetensi tersebut, saya coba melihat indikatornya. Dan dari indikator itu saya bertanya kepada anak saya sejauh mana materi pelajaran tersebut mereka kuasai.

Di bulan Februari, Maret, April, anak-anak saya itu disibukkan dengan persiapan masuk perguruan tinggi negeri, yang setiap perguruan tinggi itu menyelenggarakan ujian masuk secara mandiri. Anak saya yang pertama memilih untuk mendaftar di dua perguruan tinggi negeri yang lokasinya dekat dengan domisili kami. Sedang anak yang kedua mendaftarkan diri untuk masuk di tiga perguruan tinggi negeri.

Karena tes masuk perguruan tinggi negeri ini lebih awal dibanding dengan pelaksanaan Ujian Nasional, maka ketika anak kedua saya telah mendapatkan kursi di salah satu PTN yang didaftarnya di bulan April, ia lalu menurunkan standar dan ekspektasinya terhadap UN. Yang penting aku lulus UN ya Ayah? Demikian katanya pada saya.

Pelaksanaan UN

Setelah semua ikhtiar ditunaikan, datang pula hari pelaksanaan UN yang mereka tunggu-tunggu itu. Kami hantar anak kami untuk berangkat ke sekolah dengan segunung doa sukses dari kami.

Sebagai orangtua yang bekerja di institusi pendidikan yang bernama sekolah, beberapa hal berkenaan dengan fenomena negatif bagi pelaksanaan UN di tahun sebelumnya serta sepak terjang 'tim sukses' yang dibentuk oleh beberapa sekolah sudah bukan rahasia umum. Namun bagaimana bentuk dan strategi serta tata cara 'tim sukses' tersebut bekerja terhadap anak saya, suatu hal yang sama sekali saya tidak pikirkan sebelumnya.

Sore hari setelah hari pertama UN, menjelang hari kedua UN, di rumah terjadi dialog antara saya dengan anak pertama dan kedua saya.

  • Terima SMS Mas? Kata saya pendek dan singkat pada anak pertama saya.
  • Terima dong. Jawabnya ringan.
  • Bagaimana dengan Adik, terima juga?
  • Terima. Jawab anak kedua saya.
  • Lalu bagaimana kesan kalian ketika terima sms jawaban UN di pagi hari sebelum UN berlangsung? Tanya saya memancing pendapat anak-anak.
  • Sebagai pembanding Yah. Jawab sulung saya. Saya tidak paham apa yang dia maksud dengan pembanding. Oleh karenanya saya coba bertanya memutar.
  • Sekarang kalian belajar. Sementara besok pagi pasti akan terima jawaban UN lewat sms. Menurut logika ayah, kalau kalian pintar, ngapain harus belajar malam ini. Main games atau baca novel saja.
  • Justru karena Aku pintar Yah, sms itu sebagai alternatif terakhirku. Jelas anak sulung saya.
  • Maksudmu? Desak saya, yang belum juga mudeng.
  • Biasanya, ada beberapa soal UN yang Aku bisa jawab dengan benar. Nah berikutnya Aku akan bisa cek apakah kunci dari sms itu adalah kunci jawaban UN untuk soal yang sama? Jelas si sulung.
  • Sama. Aku juga hanya jadikan kunci dari sms itu sebagai cadangan jika aku kepentok ngak bisa jawab. Jelas sang adik.
Nah, inilah realita UN yang anak-anak alami di tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah, kedua anak saya itu lolos lubang jarum dari syarat kelulusan dan lulus. Pertanyaan selanjutnya? Mengapa ada sebagaian dari kita yang menjadikan UN menjadi momok yang menakutkan dan sakral?

Pengalaman teman anak saya yang tidak lulus saat ujian di tahun pelajaran lalu, ia tetap dapat ikut ujian persamaan paket C di tahun yang sama. Dan sah.

Lalu? Untuk apa berpayah-payah menahan stres dan takut jikapun tidak lulus ujian di tahap pertama tetap saja lolos dengan uper paket C?

Jakarta, 22 Desember 2009.


11 December 2009

UN dan Belajar Holistik


Tulisan ini akan saya awali dengan pertanyaan salah satu orangtua siswa kepada guru kami berkenaan dengan kegiatan spesial yang menjadi agenda rutin sekolah, yang pelaksanaannya dilakukan pada setiap pertengahan semester. Dimana pada bulan Oktober 2009 lalu kami mengadakan even spesial dengan tema Pekan Legenda. Pada Pekan Legenda tersebut setiap kelas akan memiliki topik bahasan yang lebih spesifik. Misalnya Lutung Kasarung. Maka kelas akan mengeksplorasi legenda ini sebagai topik bahasan dalam satu pekan bersamaan dengan kelas-kelas yang lain. 

Pertanyaan orangtua tersebut adalah: Ada berapa soal yang keluar di Ujian Nasional (UN) nanti dari kegiatan selama satu pekan ini Bu? Kalau yang keluar hanya 1 atau 2 soal saja, menurut saya kegiatan ini hanya buang-buang waktu?

Dari pertanyaan ini berikut adalah hikmah yang dapat kita ambil: Pertama, Paradigma belajar. Sebagian kita memahami bahwa belajar hanyalah ketika siswa membuka buku pelajaran sekolah yang berupa buku paket atau buku sumber. Maka ketika siswa sedang membaca buku cerita, membaca fiksi, membaca ensiklopedia, membaca kamus, mambaca majalah remaja atau bahkan mengisi TTS di surat kabar, maka siswa tidak sedang belajar?

Bahwa belajar dimaknai ketika siswa mendapat tugas dari guru berupa pekerjaan rumah. Maka ketika siswa sedang tidak diberikan pekerjaan rumah maka berarti siswa tidak belajar? Maka sekolah yang gurunya selalu memberikan banyak pekerjaan rumah kepada siswanya adalah sekolah yang baik karena menuntut siswanya untuk belajar terus menerus? Dan sebaliknya sekolah yang tidak pernah ada pekerjaan rumah adalah bentuk sekolah jelek?

Bahwa belajar berarti siswa duduk manis di bangku kelasnya dan memperhatikan gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran saja. Maka ketika siswa sedang bermain drama di plasa sekolah karena setelah mempelajari Lutung Kasarung siswa diminta menuliskan kembali cerita tersebut dalam bentuk teks drama yang kemudian harus didramatisasikan dalam kelompok bukan sebagai kegiatan belajar?

Begitu sempitkah arti belajar? Bagi saya, belajar adalah seluruh aktivitas yang siswa lakukan kapan saja dan dimana saja dan dengan siapa saja yang kemudian ada proses pengambilan hikmah setelah kegiatan tersebut dilakukannya.

Kedua, Paradigma hasil belajar dan UN. Bagi saya, Ujian Nasional atau UN yang terdiri dari 3 mata pelajaran di SD (UASBN) atau 4 mata pelajaran di SMP atau 6 mata pelajaran di tingkat SMA adalah salah satu hasil belajar. Dan bukan satu-satunya hasil belajar. Karena menurut Bloom, terdapat 3 ranah hasil belajar. Yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Dan UASBN atau UN hanya mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Itupun tidak mengukur 6 aspek yang terdapat dalam ranah tersebut. Yang ketiga asopek itu adalah aspek mengingat, aspek memahami dan aspek aplikasi. Sedang tiga aspek yang tidak diukur adalah aspek aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Dimana ketiga aspek terakhir masuk dalam tataran berpikir tingkat dalam.

Untuk itulah maka ketika menjadikan UASBN atau UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa atau sekolah, berarti kita teah terjerembab pada fatamorgana.

Ketiga, Belajar yang holistik. Dengan melihat bahwa terdapat tiga ranah belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Bloom tersebut, maka seharusnyalah kita memaknai bahwa mendidik adalah membuat siswa menjadi cerdas kognitif atau cerdas akademik, cerdas afektif atau cerdas afeksi dan cerdas psikomotorik. Inilah hasil belajar holistik.

Belajar yang holistik tidak melihat bahwa UASBN/UN tidak penting. Ia sebagai salah satu uinstrumen keberhasilan dalam belajar tetap dipandang sebagai proses yang penting. Tetapi pengembangan afektif dan psikomotorik tetap tidak dilupakan. Bentuknya pengembangan pada ranah tersebut salah satuinya adalah melalui kegiatan drama, pertujukan kelas, kegiatan luar ruang kelas, dan lain-lain.

Jakarta, 11 Desember 2009.