Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

07 December 2011

Untuk Sukses Melakukan Perubahan, Selain Kesabaran, juga Penting untuk Memonitor

Dalam menempuh sebuah kesuksesan dalam melakukan sebuah perubahan, sistem, perbaikan program, atau sebuah budaya positif, diperlukan peran pemimpin dalam melakukan monitoring secara berkala dan terus menerus. Kegiatan memonitor sebuah perubahan yang sudah dicanangkan adalah hal yang sangat penting selain kesabaran. Memonitor lapangan, diperlukan untuk memastikan apakah kegiatan, program, atau budaya telah teraplikasi secara operasional atau belum. Juga untuk melihat kebutuhan yang masih diperlukan dalam memberikan dukungan ke arah pencapaian yang lebih optimal.

Memonitor lapangan merupakan bahasa lain dari pada kontrol dalam pola manajerial. Dalam pandangan saya, sisi monitoring merupakan kunci bagi suksesnya sebuah perubahan. Karena dalam aplikasi di lapangan, sering terjadi deviasi antara apa yang telah disosialisasikan dengan apa yang dilaksanakan. Deviasi ini boleh jadi terjadi karena terdapat perbedaan persepsi dan pemahaman antara manajer atau pemimpin sebuah lembaga dengan karyawannya atau antara kepala sekolah dengan gurunya tentang sesuatu yang akan menjadi fokus pencapaiannya. Perbedaan inilah yang biasanya juga dapat menjadi sumber konflik diantara dua belah fihak tersebut. Juga dapat menjadi simpul saling curiga dan saling tidak percaya.

Lahirnya rasa curiga satu dengan lainnya misalnya terjadi manakala pihak pimpinan menduga bahwa ketidak berjalannya perubahan yang telah dicanangkan karena pihak bawahan tidak mau berubah atau dugaan bahwa bawahannya adalah kelompok yang mapan dan sudah terlalu lama dalam posisi yang nyaman. Sehingga fokus perubahan yang dicanangkan pimpinan dapat diartikan sebagai penolakan.

Sementara di pihak bawahan, perubahan yang telah disepakati tersebut dapat pula diartikan sebagai penghalang bagi mereka untuk tetap bertahan pada posisi, atau status yang dimilikinya selama ini. Dan ini bisa menjadi bahan bakar bagi lahirnya sebuah kebersamaan destruktif.

Dengan melihat itu semua, maka monitoring adalah bagian paling vital bagi pemimpin untuk mengetahui bagaimana aplikasi perubahan berjalan di lapangan. Hal-hal yang dirasakan kurang pas dalam sebuah perubahan tersebut nantinya menjadi sumber informasi primer dan berharga bagi evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya. Dan dengan melihatkan atau mengikutsertakan seluruh komponen dalam melihat hasil monitoring dalam sebuah panel diskusi, akan membuat seluruh anggota tim tersebut untuk menumbuhkan rasa saling percaya. Dengan demikian maka keduabelah pihak secara alami akan mengikis habis rasa curiga yang merusak.

Namun jikalau monitoring dan evaluasi terus menerus dilakukan dengan tanpa lelah dan ternyata dalam sebuah perjalanan perubahan tersebut masih juga terdapat ketidakcocokan antara harapan yang telah dicanangkan dengan hasil yang dicapai, maka sudah sepantasnyalah seorang pemimpin, apakah itu kepala sekolah, harus memiliki samudera kesabaran.

Karena seperti juga guru yang mengajar di kelas dengan para peserta didiknya, maka guru-guru pun, atau karyawan pun, atau bahkan bawahan pun tidak semua memiliki potensi yang merata dan seragam. Diantara mereka tetap ada yang memiliki persepsi dan pengetahuan yang berbeda terhadap apa yang menjadi fokus bersamanya. Dan justru dengan perbedaan itulah saya melihatnya sebagai bagian yang paling membuat seorang pemimpin menjadi jauh lebih berharga di mata bawahan yang dipimpinnya. Semoga.

Jakarta, 7 Desember 2011.

06 December 2011

Kritisnya Berpikir Siswa


Sebagai ilustrasi, berikut adalah cerita siswa di sekolah dasar yang mempertanyakan keputusan pak guru yang telah menyalahkan jawaban soalnya. Siswa berpendapat bahwa jawaban di kertas ulangannya benar. Tetapi pak guru menyalahkannya.
  • Mengapa kamu tidak menjawab dengan jawaban menjenguk seperti jawaban teman-temanmu untuk soal pertanyaan Pak Guru?
  • Iya Pak. Saya juga tahu jawaban yang diinginkan Pak Guru. Tetapi jawaban saya berdoa kan juga benar Pak.
  • Mengapa kamu berpendapat jawabanmu benar? Kata pak guru.
  • Begini Pak, saudara saya waktu itu sakitnya sakit cacar. Jadi ayah dan ibuku
    melarang menjenguk takut nanti saya tertular penyakit cacarnya
    .
Pak Guru akhirnya menyadari bahwa jawaban berdoa untuk soal ulangan hariannya yang berbunyi: Apa yang kamu lakukan jika ada teman atau saudaramu sakit? Tentu setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dari siswanya. Cerdas! Pikir pak guru sambil memberikan koreksi dan membenarkan jawaban soal siswanya di kertas ulangan itu.
Ilustrasi itu, diluar kualitas soal Pak Guru, memberikan gambaran kepada kita bahwa siswa berpikir dari tingkat yang paling dekat dengan dirinya. Meski saat latihan di buku cetak dijelaskan bahwa sikap baik jika ada teman atau saudara kita menderita sakit adalah menjenguk, tetapi karena ia memiliki pengalaman langsung terhadap penyakit cacar air yang pernah dialami oleh saudaranya, maka jawaban yang terpikir olehnya adalah berdoa dan bukan menjenguk.
Selain itu, siswa tersebut juga telah memiliki kompetensi mengingat, bahwa penyakit cacar adalah menular. Dan salah satu cara penularannya adalah melalui kontak langsung atau bertemu. Maka ketika tidak menjenguknya, itu adalah bagaian dari upaya untuk tidak tertular. Oleh karenanya siswa tersebut sesungguhnya menjawab soal latihan ulangan dalam aspek analisa. Artinya, setidaknya dari ilustrasi diatas, sejak usia dinipun siswa telah memungkinkan untuk berpikir pada tataran aspek menganalisa. Aspek berpikir tingkat tinggi dalam ranah Taksonomi Bloom.
Taksonomi Bloom terdiri tiga domain atau ranah: kognitif, afektif dan psiomotorik. Pada domain atau ranah kognitif terdapat enam aspek yaitu aspek ingatan, aspek pemahaman, aspek aplikasi, aspek sintesa, aspek analisa dan aspek evaluasi. Sedang dalam ranah afektif terdiri dari: receiving; responding; valuing; organising; characterising. Dan domain yang ketiga dari Talsonomi Bloom adalah psikomotorik.
Benjamin Bloom mengemukakannya taksonomi ini tahun 1950an. Dalam perjalanannya, ranah kognitif dalam taksonomi ini direvisi oleh Lorin Anderson tahun 1990. Secara singkat dapat kita jelaskan bahwa ranah kognitif Bloom-Anderson dibagi dalam enam aspek. Yaitu:

1. Remembering. Pengetahuan berdasar ingatan tentang fakta dan data;
2. Understanding. Memahami fakta dan data dalam bahasa sendiri;
3. Applying. Mengalikasikan pengetahuannya pada situasi yang berbeda;
4. Analyzing. Membuat analisa terhadap bagian/partikel, menemukan hubungan dan prinsip organisasinya dalam sebuah situasi;
5. Evaluating. Membuat penilaian, ferifikasi, dan rekmendasi berdasarkan kriteria yang ada;
6. Creating. Menciptakan sesuatu yang baru dari yang sudah ada.

Jakarta, 6 Desember 2011.

Belajar?


Ada pertanyaan dari salah satu orangtua siswa kepada guru di sekolah, berkenaan dengan kegiatan pembelajaran tematik. Yaitu pembelajaran dengan belajar berbasis proyek, yang akan mengeksplorasi satu tema dari berbagai mata pelajaran yag ada di kelas tersebut dalam durasi waktu tertentu.
Penentuan tema dilakukan oleh guru dalam diskusi bersama, berdasarkan kepada KD dan SK dari beberapa mata pelajaran yang ada, dalam level kelas. Dari tema itulah nanti setiap mata pelajaran akan memperoleh porsi masing-masing sebagai bahan yang harus dieksplorasi. Misalnya saja, pada sebuah kelas memilih tema Legenda.
Maka jika ada pertanyaan, dari siapapun juga, bisa pertanyaan dari orangtua, dari masyarakat lain, atau bahkan dari guru, setelah anaknya belajar, adalah:
  • Ada berapa soal yang keluar dalam ulangan atau dalam Ujian Nasional (UN) nanti dari kegiatan belajar seperti ini? Mengapa siswa tidak belajar meguasai materi pelajaran yang akan masuk dalam soal ulangan atau UN saja agar mereka menjadi siap?
  • Kalau yang keluar hanya 1 atau 2 soal saja, menurut saya kegiatan ini hanya buang-buang waktu?
Menurut saya, dari pertanyaan-pertanyaan itu. Atau mungkin sekali pertanyaan yang lain yang bernada argumentasi sejinis itu, maka berikut ini adalah hikmah yang dapat kita ambil sebagai kesimpulan awal. Hikmah itu adalah sebagai berikut:

Pertama; Tentang paradigma belajar. Sebagian kita memahami bahwa belajar hanyalah ketika siswa membuka buku pelajaran sekolah yang berupa buku paket atau buku sumber atau buku pegangan siswa. Maka ketika siswa sedang membaca buku cerita, membaca fiksi, membaca ensiklopedia, membaca kamus, mambaca majalah remaja atau bahkan mengisi TTS di surat kabar, searching tentang sesuatu sebagai langkah untuk mampu memberikan jawaban kepadanya, maka siswa tidak sedang belajar?
Bahwa belajar dimaknai ketika siswa mendapat tugas dari guru berupa pekerjaan rumah. Maka ketika siswa sedang tidak diberikan pekerjaan rumah maka berarti siswa tidak belajar. Maka sekolah yang gurunya selalu memberikan banyak pekerjaan rumah kepada siswanya adalah sekolah yang baik karena menuntut siswanya untuk belajar terus menerus. Dan sebaliknya sekolah yang tidak pernah ada pekerjaan rumah adalah bentuk sekolah jelek?
Bahwa belajar berarti siswa duduk manis di bangku kelasnya dan memperhatikan gurunya sedang menjelaskan materi pelajaran saja. Maka ketika siswa sedang bermain drama setelah mempelajari legenda Lutung Kasarung siswa diminta menuliskan kembali cerita tersebut dalam bentuk teks drama yang kemudian harus didramatisasikan dalam kelompok bukan sebagai kegiatan belajar? Jika ini yang menjadi paradigm kita tentang belajar, maka terlalu sempit makna itu. Hal ini pula yang menjadi argumentasi mengapa proses belajar tidak atau kurang bermakna.
Bagi saya, belajar adalah seluruh aktivitas yang siswa lakukan kapan saja dan dimana saja dan dengan siapa saja yang kemudian ada proses pengambilan hikmah setelah kegiatan tersebut dilakukannya.
Proses belajar di sekolah adalah seluruh aktivitas siswa dengan lingkungannya yang ada di sekolah, dari kehadiran siswa di pagi hari hingga kembali ke rumah. Bahkan hingga di rumahpun proses tuntutan belajar tersebut tetap dan terus berjalan.
Kedua, tentang paradigma hasil belajar. Bahwa nilai ulangan siswa atau Ujian Nasional atau UN yang terdiri dari 3 mata pelajaran di SD atau 4 mata pelajaran di SMP atau 6 mata pelajaran di tingkat SMA, semestinya dilihat sebagai salah satu hasil belajar. Dan bukan satu-satunya hasil belajar.
Sebagaimana apa yang dikemukakan oleh Benjamin s Bloom, terdapat 3 ranah hasil belajar. Yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif adalah ranah yang menuntut kepandaian akademik. Ranah afektif adalah ranah sikap. Dan ranah psikomotorik adalah ranah pisik.
Dan UAS atau UN hanya mengukur hasil belajar pada ranah kognitif. Itupun tidak mengukur 6 aspek yang terdapat dalam ranah tersebut. Yang diukur barulah pada tiga aspek kognitif, yaitu aspek mengingat, aspek memahami dan aspek aplikasi. Sedang tiga aspek yang tidak diukur adalah aspek aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Dimana ketiga aspek terakhir masuk dalam tataran berpikir tingkat dalam.
Untuk itulah maka ketika menjadikan UAS atau UN sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa atau sekolah, berarti kita teah terjerembab pada fatamorgana.
Ketiga, Tentang belajar yang holistik. Dengan melihat bahwa terdapat tiga ranah belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh pendidikan Bloom tersebut, maka seharusnyalah kita memaknai bahwa mendidik adalah membuat siswa menjadi cerdas kognitif atau cerdas akademik, cerdas afektif atau cerdas afeksi dan cerdas psikomotorik. Inilah hasil belajar holistik.
Belajar yang holistik tidak melihat bahwa UAS/UN tidak penting. Ia sebagai salah satu instrumen keberhasilan dalam belajar tetap dipandang sebagai proses yang penting. Tetapi pengembangan afektif dan psikomotorik tetap tidak dilupakan. Bentuknya pengembangan pada ranah tersebut salah satunya adalah melalui kegiatan drama, pertujukan kelas, kegiatan luar ruang kelas, eksplorasi lingkungan hidup siswa, membuat laporan membaca, menyusun proposal kegiatan, dan lain-lain.
Itulah makna belajar menurut saya sebagai guru.
Jakarta, 6 Desember 2011.