Siapa yang tidak kenal dengan kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, yang
marak dengan pemberdayaan insaninya, khususnya dalam pembelajaran Bahasa
Inggris? Kalaupun tidak semua orang tahu, tetapi hampir sebagian yang
tinggal di provinsi tersebut mengenalnya. Atau setidaknya apa yang saya lihat diujung Desember tahun 2011, sebuah desa yang ada di
kecamatan tersebut telah menjadi sebuah lembaga besar yang mampu
memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan keterampilan
berbahasa kepada para tamu-tamunya yang rela menjadi pelajarnya. Sebuah
desa yang pada waktu tertentu harus menampung belasan ribu tamu yang
menjadi peserta didiknya, dalam waktu bersamaan. Utamanya pada saat liburan sekolah.
Desa yang telah menjadi penyedia seratus lebih lembaga kursus berbahasa Inggris. Yang juga menjadi wahana bagi para pendatangnya untuk menyebarkan riskynya dalam rangka pemenuhan akomodasi selama bermukim di lokasi tersebut. Sedikit ataupun banyak, mereka adalah penggerak ekonomi rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, dalam realitas hidup yang senyata-nyatanya.
Bahkan bukan saja akomodasi yang perlu mereka penuhi, tetapi juga alat dan keperluan belajar, alat transportasi yang memudahkan para tamu tersebut saat melihat suasana desa dalam bentuk sepeda, termasuk juga adalah jajanan dan oleh-oleh atau cindera mata, serta makanan khas mereka pecel. Termasuk didalamnya adalah rumah-rumah khos yang layak disebut juga losmen.
Dan semua itu adalah sebuah bentuk nyata dari keberkahan. Bahwa yang menikmati keberadaan desa tersebut sebagai kampung Inggris adalah hampir semua orang yang menjadi penduduk yang ada di sekitar kecamatan Pare.
Keberkahan atas Keberadaannya
Saya perlu sampaikan disini bahwa kebersdaannya wilayah tersebut dengan sekian pendatangnya dengan tujuan untuk belajar, adalah sebuah bentuk perjuangan yang panjang. Perjuangan yang antara lain dialami oleh Pak Farid, salah satu dari pemilik kursus yang ada di desa Tulungrejo. Sebagai pendatang, yang semula adalah salah satu pengajar di tempat kursus tertua di daerah itu, yang kali pertama mendirikan lembaga kursus pada tahun 2000, mengalami berbagai bentuk hambatan sebelum akhirnya lembaganya mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi penduduk di sekitarnya. Sebuah bentuk perjuangan degan hambatan yang tidak sedikit. Namun semua bentuk perjuangan itu, sekarang yang tampak hanyalah keberkahan bagi kampungnya dari cipratan rizky yang ditebarkan oleh para tamunya, yang tidak lain adalah pelajar-pelajar di lembaga kursusnya.
Dari kacamata saya yang menjadi salah satu dari tamunya, hanya berharap semoga orang-orang yang berada di luar dapat melihat realitas tersebut dengan kacamata yang utuh. Semoga.
Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.
Desa yang telah menjadi penyedia seratus lebih lembaga kursus berbahasa Inggris. Yang juga menjadi wahana bagi para pendatangnya untuk menyebarkan riskynya dalam rangka pemenuhan akomodasi selama bermukim di lokasi tersebut. Sedikit ataupun banyak, mereka adalah penggerak ekonomi rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, dalam realitas hidup yang senyata-nyatanya.
Bahkan bukan saja akomodasi yang perlu mereka penuhi, tetapi juga alat dan keperluan belajar, alat transportasi yang memudahkan para tamu tersebut saat melihat suasana desa dalam bentuk sepeda, termasuk juga adalah jajanan dan oleh-oleh atau cindera mata, serta makanan khas mereka pecel. Termasuk didalamnya adalah rumah-rumah khos yang layak disebut juga losmen.
Dan semua itu adalah sebuah bentuk nyata dari keberkahan. Bahwa yang menikmati keberadaan desa tersebut sebagai kampung Inggris adalah hampir semua orang yang menjadi penduduk yang ada di sekitar kecamatan Pare.
Keberkahan atas Keberadaannya
Saya perlu sampaikan disini bahwa kebersdaannya wilayah tersebut dengan sekian pendatangnya dengan tujuan untuk belajar, adalah sebuah bentuk perjuangan yang panjang. Perjuangan yang antara lain dialami oleh Pak Farid, salah satu dari pemilik kursus yang ada di desa Tulungrejo. Sebagai pendatang, yang semula adalah salah satu pengajar di tempat kursus tertua di daerah itu, yang kali pertama mendirikan lembaga kursus pada tahun 2000, mengalami berbagai bentuk hambatan sebelum akhirnya lembaganya mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi penduduk di sekitarnya. Sebuah bentuk perjuangan degan hambatan yang tidak sedikit. Namun semua bentuk perjuangan itu, sekarang yang tampak hanyalah keberkahan bagi kampungnya dari cipratan rizky yang ditebarkan oleh para tamunya, yang tidak lain adalah pelajar-pelajar di lembaga kursusnya.
Dari kacamata saya yang menjadi salah satu dari tamunya, hanya berharap semoga orang-orang yang berada di luar dapat melihat realitas tersebut dengan kacamata yang utuh. Semoga.
Pare, Kediri-Jakarta, 28-30 Desember 2011.
No comments:
Post a Comment