Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

29 April 2015

Lagi, Terlambat Kerja #2

"Pak Agus apakah pernah menjadi pegawai yang juga punya masalah dengan datang terlambat ke kantor? Kok kalau bicara terlambat selalu dengan sudut yang berbeda?" Tanya teman saya suatu kali ketika kami berjumpa dalam rehat diskusi. Nah, kebetulan dalam diskusi tersebut perbincangan melebar hingga ke keterlambatan teman ke kantor.

"Kalau pertanyaannya seperti itu, pasti pernah sekali." Jawaban saya ringan dan lepas. Karena memang seperti itu kenyataan yang pernah saya hadapi. Dan kalau bicara datang ke sekolah terlambat, terakhir kali saya alami karena saya baru saja sampai Lebak Bulus sekitar pukul 05.45 sekembali dari Jawa Tengah. Maka jam itu telah membuat saya terjebak oleh kondisi jalan yang luar biasa ramai. 

"Artinya pernah ya Pak? Alasan apa yang Bapak berikan ketika Bapak harus terlambat sampai di kantor?" Desak teman saya. Ia sepertinya sedang ingin mengetahui sejarah kehadiran saya di kantor. Mungkin untuk mencari pembenaran.

"Kebetulan belum pernah sekalipun atasan saya bertanya tentang keterlambatan yang pernah saya alami. Saya tidak faham mengapa hingga sampai disitu? Mungkin karena keterlambatan saya tidak berpola?" jelas saya kepadanya. Meski begitu sesungguhnya ketika saya datang terlambat, selalu ada rasa tidak nyaman. Ini ketika saya mulai masuk gerbang sekolah dan disambut oleh Satpam sekolah, di lokasi parkir pun saya akan bertemu dengan orang atau karyawan lain yang kebetulan ruang istirahatnya berlokasi dekat tempat parkir, juga ketika saya harus masuk ke ruang guru yang jarang sekali kosong.

Jadi, meski tidak ada yang bertanya kepada saya mengapa saya datang terlambat, selalu ada rasa bersalah. Atau setidaknya tidak mungkin saya tidak merasakan apa-apa. Sebagaimana kalau saya datang lebih awal dari jam kantor?

"Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan Bapak pernah terlambat kantor?" Kejar teman saya. Saya merasa bahwa dia sedang mencari bench marking untuk keterlambatan masuk kerja. 

"Berbagai rupa Pak. Tapi lebih sering karena saya terlambat mengawali hari kerja. Sejak bangun tidur, subuh, beres-beres, keluar rumah, hingga menempuh perjalanan." Jawab saya lugas. Karena memang seperti itulah yang saya alami. 

"Karena hampir selalu saya tahu kalau saya akan datang terlambat kantor ketika saya keluar rumah Pak." Jelas saya lagi lebih detil.

Jakarta, 29 April 2015.

Ada Bangkai di Loteng Kantor

Beberapa hari belakangan ini, kesibukan saya di kantor bertambah satu hal. Yaitu dengan masalah tikus yang ternyata berkeliaran di batang-batang besi yang ada di kantin sekolah kami yang ada di lantai dua. Dan memang hanya di lantai dua sekolah saja tikus-tikus mungil itu berkeliaran. Kadang keberadaan mereka saya dengar dari pergerakan mereka di loteng ruangan kerja saya. 

Dan masalah ini segera saya selesaikan dengan berbagai cara bersama teman-teman pramubakti sekolah. Yaitu memangkas seluruh ranting pohon flamboyan dan pohon johar yang menjuntai hingga ke atap ruang kantin, menutup serapat mungkin saluran out door AC, dan yang paling terakhir adalah memberikan umpan yang telah diberikan bubuk racun. Namun permasalahan berikutnya adalah aroma bau yang menyengat ketika pagi hari kami baru saja membuka ruang kantor atau kelas. 

Lalu apa Masalahnya?

Inilah yang menjadi konsen saya atas masalah yang saya hadapi. Yaitu pramubakti yang terlalu pintar beralasan untuk ikut terlibat dalam pemangkasan ranting pohon yang sudah terlanjur menjadi jembatan hewan yang kehadirannya tidak diundang tersebut. "Kita harus mengirim surat izin ke kantor kelurahan dulu Pak sebelum menebang pohon itu. Karena pohon-pohon itu tumbuh di areal umum?" Saya tidak mengiyakan apa yang menjadi usulan dan pendapatnya itu. Juga tidak mengatakan tidak. Saya hanya diam.

Beberapa menit setelah usulan dari pramubakti itu, saya langsung meminta bantuan orang lain untuk langsung mengekskusi pekerjaan. Dan saat itu juga saya ditemani dua orang pramubakti dari bagian sipil memangkas semua ranting yang telah menjuntai di atap super deck kantin sekolah.

Kelakuan saya ini sekaligus ingin menepis bahwa untuk melakukan perkerjaan tidak perlu banyak berbantah. Bukankah ranting-ranting itu jelas tampak dengan mata telanjang kita? Mengapa untuk mengerjakan harus banyak analisa?

Jakarta, 29 April 2015.

Lagi, Terlambat Kerja

Catatan saya hari ini masih tentang terlambat kerja. Ini sepertinya banyak yang mengalami. Sebagai bagian dari komunitas lembaga pendidikan formal, terlambat kerja sama artinya dengan terlambat absen, dan bisa juga meski tidak terlambat absen di kala masuk kantor tetapi terlambat mengajar di dalam kelas. Jadi inilah yang menjadi runyam jika Bapak atau Ibu guru terlambat. Karena bisa jadi terlambat absen sesuai jam kantornya tetapi juga bisa terlambat mengajar di kelasnya.

Tentunya ada seribu satu argumentasi mengapa bisa sampai terlambat. Mulai dari kondisi fisik yang memang kurang sehat ketika bangun sehingga mengakibatkan terlambat masuk kamar mandi sebagaimana hari-hari sebelumnya, kondisi jalanan yang lumayan sekali macet, mengantar anggota keluarga ke dokter di pagi hari yang sakit, atau ban kendaraan yang terperangkap ranjau paku. Dan siapa saja di kantor, pasti tahu apakah argumentasi yang sahih atau yang bukan alias karena malas. Salah satu indikator dari kesahihan dari argumentasi tersebut adalah intensitas keterlambatan si teman tersebut.

Terlambat sebagai Kepribadian

Mohon maaf, saya sendiri, dari pergaulan dan interaksi dengan beberapa teman di sekolahan selama ini, menemukan indikasi yang super aneh mengenai fenomena perilaku teman yang terlambat. Maksudnya yang sering terlambat. Indikasi ini saya dapatkan ketika teman-teman tersebut selalu memberikan stetmen atas pernyataan atau pendapat orang atau bahkan peringatan atasannya atas keterlambatan. 

Seperti apa stetmen teman-teman itu? Misalnya; "Orang kerja yang dilihat datangnya saja. Pulangnya tidak pernah menjadi pertimbangan." Pernyataan ini mungkin sekali benar. Yang kemudian menjadi masalah kalau Kepala Sekolah melihat jam pulangnya yang hampir selalu pukul 20.00, ternyata teman-teman itu mulai bermain tenis meja di koridor sekolah sejak pukul 17.00. Menjadi rancu bukan? Atau pernyataan lain, yang kalau pernyataan itu dirunut  dan dikejar maka sesungguhnya rapuh juga. 

Ketika saya bertemu dengan teman yang bekerja di sekolah lain, yang kebetulan juga memiliki masalah sama dengan guru yang suka terlambat, saya justru menyarankan agar tahun berikutnya memarkirkan saja guru tersebut. Tidak tahu sebagai apa nantinya si guru itu akan dialih tugaskan. Mungkin sebagai guru mata pelajaran atau posisi lain. Karena jika masalah terlambat saja masih menjadi masalah, maka sebagai Kepala Sekolah akan selalu mendapat limpahan masalah dari guru yeng bersangkutan. Mengapa? Karena peserta didik di kelas dimana gurunya yang sering terlambat akan mengadukan masalahnya kepada orangtua di rumah. Dan boleh jadi kepada Kepala Sekolahlah orangtua mengadu.

Dari isi inilah saya menyarankan akar kita jangan mau terus menerus 'membantu' guru dengan kepintaran yang masih sulit untuk datang tepat waktu baik di sekolah atau di kelas ketika jam mengajarnya berlangsung. Setidaknya itulah pendapat saya.

Jakarta, 29 April 2015.

28 April 2015

Angkatan Touwtrekken

"Pak Agus mau tanya, kalian ini kelas IX untuk angkatan berapa ya? Apa nama anggakatan kamu?" Begitu pertanyaan saya kepada dua orang siswa kelas IX siang itu ketika kami bertemu di koridor sekolah. Pertanyaan saya ini untuk memastikan angkatan yang setelah saya hitung dengan melihat tahun pelajaran adalah angkatan ke-10. Namun karena ragu, saya menanyakannya kepada yang bersangkutan.

"Kami angkatan kesepuluh Pak. Nama angkatan kami adalah touwtrekken. Touwtrekken itu Bahasa Belanda Pak. Artinya adalah tarik tabang." Demikian jelas seorang anak didik kami yang termasuk anak dengan keseriuasan akademik tinggi di sekolah. Bukti dari keseriusannya itu adalah masuk sekolah pilhan tanpa harus memperebutkan kursinya melalui tes masuk  siswa baru.

"Lalu apa makna tarik tambang yang kalian sandang sebagai nama angkatan kalian? Apakah itu tidak sederhana untuk kalian?"  Tanya saya lebih lanjut ingin tahu. Saya tentunya penasaran sekali bahwa tarik tambang dapat menjadi nama angkatan. Sementara nama-nama angkatan yang lain akan lebih filosofis? Padahal bukankah masing-masing angkatan itu ingin merasa angkatannya paling menarik dan kreatif?

"Ini karena saat guru mengadakan lomba tarik tambang di sebuah acara di sekolah, kelas sembilan mengambil peran sebagai kandidat yang justru bergurau. Kami berpura-pura menarik dengan kekuatan tangan yang luar biasa. Dan kepura-puraan kami itu mejadi bumerang untuk kami semua. Guru memberikan konsekuensi kepada kami untuk tidak menjadi bagian dari permainan. Dari peristiwa itulah kami menjadikan tarik tambang sebagai ikon angkatan. Kami abadikan untuk mengingatkan kami semua agar tidak pernah berpura-pura tetapi sebaliknya, harus mengambil peran yang serius. Itulah mengapa kami sebagai angkatan touwtrekken." Jelas anak itu kepada saya. 

Apa yang dia ceritakan kepada saya, pernah pula saya dengar dari laporan guru di SMP akan peristiwa itu. Peristiwa yang sungguh membuat teman-teman guru kecewa berat akan ulah peserta didiknya yang duduk di kelas terakhir. 

Dan sekarang, sepertinya teman-teman guru telah berubah sikap atas apa yang dilakukan anak-anak tersebut. Ini tidak lain karena perilaku mereka yang telah melahirkan  kekecewaan para gurunya, mereka abadikan sebagai simbol kelas untuk mengambil peran yang positif. Saya juga termasuk bagian dari guru yang berbalik menjadi bahagia.

Jakarta, 28 April 2015.

Melaksakan Kegiatan yang Memberi Makna

"Apakah rencana yang disusun untuk sepanjang tahun pelajaran ini dilaksanakan Pak Agus?" Tanya teman kepada saya ketika diskusi sedang berlangsung. Pertanyaan yang normal saja sebenarnya. Tetapi berat sekali untuk saya ketika harus menjawabnya.

"Dilaksanakan semuanya Pak. Tidak ada kegiatan yang telah direncanakan kemudian tidak terjadi di lapangan." Jawab saya penuh percaya diri. Karena memang demikianlah kenyataannya. Bukankah saya hadir untuk memberikan sedikit kata pengantar di beberapa acara yang dilaksanakan tersebut?

"Tetapi bagaimana bisa bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan dan tidak memberikan implikasi kepada daya saing diri atau sekolah? Mungkin ada yang punya pandangan berbeda dari saya?" Teman saya menyampaikan keheranannya atas fakta yang ada. Mengapa kerja sudah dilakukan tetapi seperti tidak memberikan bekas? Memang tidak mudah juga untuk dapat memberikan kesimpulan. Tetapi memang seperti itulah setidaknya yang terjadi.

Saya coba untuk melihat dengan kacamata yang berbeda. Ini saya lakukan mengingat apa yang sudah dilakukan, beberapakalinya saya bersinggungan dengan situasinya. Dan dari sisi ini kita baru mendapat gambaran nyata bahwa dialektika pelaksanaan kerja sudah berlangsung namun tidak berimplikasi kepada daya saing diri atau sekolah.

Pertama; Bahwa kegiatan yang telah direncanakan hanya menjadi perhatian dari bagian yang telah diberikan tanggungjawab. Tidak ada kesempatan semua warga sekolah untuk mengetahui sejauh mana kegiatan sedang dipersiapkan dan bagaimana pelaksanaannya nanti. Tidak ada forum untuk semua teman berkontribusi ide terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan. Ketiadaan kesempatan ini berimplikasi kepada kualitas kegiatan itu sendiri, dan juga rasa memiliki akan kegiatan yang dimaksud. Padahal, menurut saya, kesempatan untuk membuka kesempatan kepada semua teman dalam memberikan kontribusi atas kegiatan yang akan dilaksanakan adalah universitas kehidupan. Masing-masing teman dapat memberikan masukan dan pendapat, berdialog, hingga berdebat guna menemukan formulasi kegiatan yang pas.

Kenyataan ini akan mengasingkan semua warga sekolah kepada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolahnya kecuali kepada mereka yang telah diberikan tanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan.

Kedua; Kenyataan tersebut di atas akan melahirkan sikap tidak terlibat dari orang-orang atau teman-teman yang ada di dalam sekolah, yang nota bene adalah warga sekolah. Rasa ketidakterlibatan ini berlanjut akan lahirnya sikap tidak terbuka untuk sama-sama memberi dan menerima masukan sebagai bagian inheren dari mendewasakan diri atau meningkatkan daya saing diri. 

Setidaknya dua hal itulah yang menjadi kendala bagi diskusi kami guna menemukan langkah untuk bergerak maju dari apa yang telah kami capai selama ini. Bahwa tidak ada keinginan yang kuat dalam mencari solusi agar semua kegiatan yang dilaksanakan memberikan makna bagi setia[p individu yang terlibat di dalamnya. Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 28 April 2015.

Impian Setiap Orangtua

Ada yang menari di tahun pelajaran ini dari salah satu peserta didik saya di sekolah. Tidak lain adalah anak yang begitu berbeda dengan yang lain. Dan perbedaannya tidak sekedar lain, tetapi menonjol. Setidaknya inilah yang saya dapatkan dari pertemuan saya setiap hari dengan anak-anak yang masih duduk di bangku SMP. Sebut saja namanya, Andi. Masih duduk di bangku kelas VIII. Dari keluarga mapan.

Setiap pagi, ketika saya bertemu dia di halaman sekolah saat menyambut kedatangannya, sering sekali ear phone  nempel di salah satu telinganya. Sedang yang sebelah dia biarkan terjuntai di bajunya. Entah musik apa yang dia dengarkan. Namun yang jelas, kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan rata-rata anak-anak zaman sekarang. Seperti juga yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain.

Namun dia akan menjadi sangat berbeda ketika berada di musholah. Yaitu ketika waktu Dhuha dan Dzuhur. 

Itu karena ia akan menambah rokaat dengan tidak merasa ketergantungan dengan teman sebelahnya. Ia menambah rokaat sunnahnya ketika teman-teman yang lain sebelum melaksanaan sholat Dzuhur dan sesudahnya, atau juga sesudah pelaksanaan sholat Dhuha.

"Menyejukkan melihat ia menambah rokaat." Kata saya suatu hari kepada Kepala Sekolah yang setia memandu dan menemani anak-anak melaksanakan ibadah.

"Alhamdulillah Pak. Dia sejak kelas VII berbeda." Jelas Kepala Sekolah.

"Pasti menjadi impian bagi semua kita Pak. Semoga istiqomah." Lanjut saya.

Jakarta, 28.04.2015

Sisi Lain Pertunjukkan Sekolah

Saya harus detil dan cermat dalam melaksanakan pembagian tugas dengan kolega dalam mengawasi siswa kami di kelas 1 SD. Ini karena pada hari tersebut akan ada kegiatan yang sedikit akan menguras tenaga siswa dan juga kami. Sesungguhnya sejak latihan dua pekan lalu, sebelum kegiatan ini berlangsung hari ini. Kegiatan yang harus menuntut kemampuan anak di panggung sekolah. Ya. Kegiatan yang saya maksudkan adalah School Show.

Lalu apa yang membuat kegiatan tersebut menjadi catatan saya? Tidak lain adalah bagaimana kami harus super sibuk dengan siswa-siswa kami untuk menjaga dan mengarahkan mereka semua sehingga kegiatan dapat berjalan bagus, dan siswa juga dapat terkontrol dengan baik. Itulah yang menjadi bagian penting dari tugas kami sebagai guru selain membelajarkan anak-anak.

Kesibukan tersebut juga harus memperhitungkan jadwal yang anak-anak harus lakukan seperti break. Juga bagi kami adalah keberadaan mereka untuk tetap dalam pengawasan sehingga seluruh kegiatan telah kami buat alur waktunya. Tentu ini setelah kami diskusi dengan kolega kami yang berada dalam pararel kelas yang sama.

Lalu bagaimaa dengan waktu untuk kami break?  Karena ini adalah kegiatan yang tidak berlangsung setiap hari, setidaknya dalam satu tahun satu kali kegiatan Pertunjukkan Sekolah tersebut, maka jadwal kami menjadi nomor dua. 

Misalnya, ketika anak-anak dapat didalam pengawasan satu guru, maka pada saat itu pula kami akan bergantian untuk menyelesaikan tugas-tugas kami, seperti makan dan menjalankan ibadah sholat. 

Setidaknya itulah yang saya dapat dari kegiatan sekolah yang melibatkan tidak hanya anak-anak yang sudah mencapai tahapan rileks ketika berada di atas panggung pertunjukkan saja, tetapi juga bagi semua siswa yang ada di dalam kelas  tidak terkecuali.

Dan sisi lain inilah yang membuat saya belajar sesuatu untuk mempraktekkan bagaimana kami berkomitmen dalam pembagian waktu dan kegiatan yang harus dijalani. Ini sisi lain yang tidak akan pernah saya dapatkan ketika masih duduk di bangku kuliah sekalipun.

Jakarta, 17-28 April 2015.

16 April 2015

"Saya Pernah Diposisi Seperti Ibu"

"Jangan pernah memandang saya rendah Bu. Saya pernah berada di posisi Ibu sebagai Kepala Sekolah." Begitu kata-kata seorang guru kepada saya ketika saya harus berhadapan dengannya setelah berburu keberadaan mereka di sekolah yang sulit dilacak. Dengan bantuan wakil saya untuk terus memantau melalui SMS dan telepon, tidak terkecuali telepon rumahnya, terlacak keberadaannya hingga akhirnya dia dapat hadir di ruangan saya dengan seorang wakil yang menemani saya sekaligus sebagai saksi.

"Saya paham sekali siapa Bapak. Pendidikan Bapak bagus. Sudah magister. Pengalaman Bapak juga bagus. Menjadi inspirator di pelatihan-pelatihan, bahkan level Nasional. Indonesia. Bapak juga pernah menduduki jabatan yang sekarang ini sedang saya duduki. Maka dengan begitu hebatnya Bapak, saya merasa sangat tidak terhormat untuk memanggil Bapak di ruangan ini guna menyampaikan Surat Teguran karena ketidakhadiran dengan tanpa berita apapun kepada kami, keterlambatan masuk sekolah dan juga keterlambatan masuk kelas untuk mengajar? Maafkan saya Pak. Terlalu sulit buat saya dan teman-teman Bapak di sekolah ini untuk menemuan figur baik dari Bapak." Kata-kata saya meluncur begitu deras. Satu hal yang saya sendiri hampir tidak sadar. Ini karena dorongan amarah dan tersinggung saya yang teranjur mengatasnamakan lembaga yang sekarang sedang diamanahkan kepada saya.

Sungguh sebuah paradogsal yang mengguncangkan jiwa saya sebagai guru, yang sejak awal hingga sekarang berada di sebuah lembaga pendidikan formal swasta. Sebuah paradigma yang sungguh tidak masuk di akal sehat saya. Yang sulit saya dapat terima bahwa pernyataan seperti itu lahir dari seorang yang pernah menisbatkan diri sebagai inspirator di kancah pelatihan. 

Sebuah status yang justru bertolak belakang dengan realitas hidup di sekolah dan di mata peserta didik, juga teman-teman kolega yang menyaksikannya dalam menapaki hari-hari sebagai guru? Lalu apalagi yang dapat saya lakukan untuk membela teman yang satu ini dari masa depan yang diinginkannya jika memang faktanya berkata seperti itu? Itulah yang membuat saya begitu lancar dan mudahnya saat menemukan kata dan kalimat untuk segera saya sampaikan kepadanya.

"Bagaimana menurut Pak Agus apa yang sudah saya lakukan tersebut? Apakah merupakan sebuah ketidakhormatan saya kepada senior saya?" Kata Ibu Kepala Sekolah tersebut kepada saya seusai menuturkan apa yang telah dilakukannya pagi harinya.

"Bagus. Sebagai pemegang amanah Kepala sebuah lembaga, maka apa yang telah ibu lakukan adalah bagian dari menegakkan norma. Ibu telah melakukan sesuatu yang baik bagi masa depan lembaga." Kata saya yang masih syok mendengar kisahnya. 

"Saya memohon, semoga Ibu selalu diberikan Allah Swt kekuatan untuk memegang amanah yang sedang Ibu pegang." Kata saya menutup perbincangan di telepon.

Jakarta, 16 April 2015.

14 April 2015

"Kami dari Pagi Pak"

Sedikit tidak enak ketika ada permohonan di dalam forum rapat sebuah sekolah agar pelaksanaan rapat tidak perlu memakan waktu lama  sehingga rapat-rapat yang diselenggarakan hingga kumandang azan magrib. Dan permohonan itu mengisyaratkan agar rapat dapat berlangsung hingga jam kantor usai.

Mengapa? Karena rapat yang harus mengundang nara sumber dari luar sekolah itu hanya bisa berlangsung mulai pukul 15.00, dengan menyesuaikan waktu yang ada pada nara sumber. "Usahakan dapat dimulai seusai jam makan siang Pak. Karena kami sudah ada di kantor sejak pagi." Begitu permohonan yang terlontar sebelum rapat benar-benar ditutup oleh moderator yang berasal dari sekolah.

Sebagai nara sumber dalam diskusi tersebut, saya hanya senyum. Tidak ada komentar. Justru moderator mencoba memberikan konfirmasi dengan kata-kata bijaknya; "Baik Bu. Untuk pertemuan berikutnya kami coba diskusikan dengan Pak Agus kapan kira-kira waktu yang pas. Sehingga dapat berlangsung sejak pukul 12.00." Dengan komentar terakhirnya itu, rapat dibubarkan. dan semua peserta rapat meninggalkan ruang rapat.

Saya dan teman-teman yang masih berkemas-kemas dengan komputer presentasi serta peralatan lainnya, mencoba mendiskusikan pertemuan berikutnya sebagai bagian dari usaha yang digagas Yayasan pengelola sekolah tersebut untuk mentransformasikan diri. "Bagaimana kesan pertama Pak Agus? Apakah satu sesi cukup untuk memberikan gambaran kepada Bapak kemana dan bagaimana perjalanan yang harus kami tempuh? Karena sesi pertama ini berisi manajemen sekolah Pak." Kata salah seorang pengurus Yayasan yang menggagas atas semangat transformasi ketika melihat fenomena penurunan minat masyarakat terhadap sekolahnya. 

Saya sebagai orang luar dan diminta membantu menuju jalan yang diinginkan bersama, banyak belajar dengan pertemuan kami di sesi pertama tersebut. Sesi yang juga memberikan kepada saya tentang nuansa atau aroma mana saja yang dapat menjadi domain transformasi lembaga tersebut. Namun demikian saya menahan diri untuk menyampaikan penilaian karena ini memang masih dan baru pertemuan tatap muka pertama. Saya membutuhkan pembuktian yang berupa fakta di sesi dan pertemuan diskusi selanjutnya.

Jakarta, 14.04.14

Sertifikasi Guru #9; Guru 'Andalan' Sekolah

Jika ada klasifikasi guru di sekolah, mungkin akan ada klasifikasi guru yang dapat menjadi 'andalan' sekolahnya. Ini tidak lain adalah guru yang sedikitnya memiliki kompetensi akademik bagus , memiliki  pengalaman sebagai guru yang lumayan panjang, mendapatkan pelatihan profesional yang baik setidaknya melalui porto folio atau PLPG,  dan paling utama, sudah memperoleh sertifikat sebagai guru profesional!

Teman-teman guru yang telah tersertifikasi ini memang layak menjadi andalan sekolahnya seperti tidak pernah memberikan limpahan masalah kepada kolega dan kepala sekolahnya dalam mengejawantahkan kerja profesionalismenya dalam mengemban tugasnya. Inilah salah satu klasifikasi guru yang ada di sekolah kita. Kepada merekalah seharusnya guru-guru kita yang masih junior dapat melihat, mengobservasi, berkaca, serta menimba ilmu. 

Impian?

Terlebih bagi sekolah swasta yang memang harus berdaya saing above average, sebagai upaya kerasnya dalam mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, sehingga masyarakat tetap akan memilih sekolah tersebut bagi anak-anak dan hadaitolannya. Dan inilah yang menjadi impian untuk kita semua atas hasil dari sertifikasi guru yang setiap triwulannya mendapat tunjangan dari APBN.

Sebagai andalan bagi sekolah, tentunya kelompok ini benar-benar dapat menjadi cermin profesi guru yang dapat digugu dan ditiru. Sungguh menjadi bantuan sekaligus solusi bagi sekolah. Dan impian ini semoga benar dalam ranah operasionalnya di sekolah dan kelas-kelas kita. Semoga. Amin.

Jakarta, 10-14.04.2015.

10 April 2015

Sertifikasi Guru #8; Peran Pengawas

Berkenaan dengan kejujuran akan data yang berasal dari sekolah dalam hal sertifikasi guru, saya menganggap peran Pengawas Pendidikan adalah pilar utamanya. Ini tidak lain karena Pengawas Pendidikan juga adalah bagian dari Guru Sertifikasi dalam Jabatan yang juga harus memiliki data profesionalisme yang lengkap. Maka keberadaan Pengawas Pendidikan untuk melakukan pengecekan, atau verifikasi atas kebenaran data di lapangan (baca: sekolah), adalah vital adanya.

Struktur Kurikulum dan Jadwal Pelajaran

Saya sedang membayangkan apa yang dapat saya lakukan untuk keperluan verifikasi data yang utuh dan jujur di suatu sekolah ketika saya hadir di dalamnya sebagai Pengawas Pendidikan. Konsepnya adalah; tidak ada ketidakjujuran yang sempurna. Atau kalau dalam pernyataan terakhir Kepala Sekolah sebelum mereka benar-benar mengirimkan data on line  (memencet tombol YA) ke Dapodik Depdikbud, adalah rekayasa. Lalu apa modal saya?

Pertama, adalah data sekolah yang terkirim di Dapodik. Saya harus mempunyai data atau dokumen yang akan saya verifikasi ketika saya datang ke sekolah yang menjadi obyek verifikasi tersebut. Tentu setelah ini saya datang dan berada di sekolah obyek tersebut. 

Kedatangan saya ini tentunya menjadi bagian dari pelaksanaan tugas saya untuk melakukan pengawasan, pengayoman, dan tentunya pendampingan ke arah kebaikan. Untuk itu apa yang sedang saya jalankan tersebut sebagai bagian penting bagi pelunasan kewajiban saya untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi bukan?

Kedua, adalah meminta struktur kurikulum dan jadwal pelajaran di sekolah. Ini juga dilengkapi dengan tinjauan lokasi sekolah sekaligus menemui guru-guru yang ada di kelasnya ketika melaksanakan pembelajaran. Dengan ini saya juga dapat memastikan berada jumlah rombongan belajar di sekolah tersebut dan sekaligus menemukan kecocokan data yang telah dikirim kepala sekolah ke Dapodik dengan realitas di lapangan. 

Kegiatan ini pasti menjadi sumber informasi bagi saya untuk memastikan siapa saja guru yang berhak memperoleh tujangan sertifikasi di sekolah tersebut. Sehingga tidak akan ada guru yang kurang jam tatap mukanya di kelas memperoleh tunjangan sertifikasi karena kekurangannya mendapat sumbangan dari guru muda yang belum tersertifikasi atau dari guru honor di sekolah tersebut. Atau praktek lain yang menjadi trik umum di sekolah, yang pada intinya adalah rekayasa data.

Ketiga, mungkin setelah saya selesai melakukan verifikasi dan memastikan bahwa data yang saya verifikasi sudah valid, maka saat berpamitan dengan kepala sekolah ada baiknya jika saya menyampaikan bahwa, kejujuran data yang dibuat oleh guru, kepala sekolah, dan semua perangkatnya, adalah pintu gerbang bagi keberkahan ketika APBN mngucurkan tunjangan sertifikasi tersebut. Semoga.

Jakarta, 7-10.04.2015.

07 April 2015

Sertifikasi Guru #7; Data yang Jujur

Catatan kali ini saya akan mulai dari kiriman foto WA teman tentang pernyataan kejujurannya pada saat menandatangani verifikasi data sekolahnya. Tidak lain berkas yang harus ia tandatangani adalah berkas sertifikasi guru untuk syarat turunnya tunjangan guru profesional triwulan pertama tahun 2015. 

Beginilah bunyi WA yang saya kutip:

Saya kepala sekolah ............    menetakan bahwa data yang dikirimkan ke server Dapodikdas Kemendikbud adalah benar sesuai dengan fakta di sekolah yang saya pimpin. Apabila terjadi rekayasa data maka saya bersedia dikenakan sanksi moral, sanksi administrasi serta tuntutan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Data ini sudah diperiksa kebenarannya oleh pihak sekolah untuk diperbantukan dikirimkan oleh operator sekolah.

Tertanda Kepala Sekolah,
........... (Nama Sekolah)
........... (Nama Kepala Sekolah)

Ya            Tidak

"Bagaimana menurut Bapak dengan komitmen yang harus saya penuhi sebelum semua saya kirimkan sebagai data guru untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi?" Tanya teman saya kepada saya via telepon. Dia bertanya dengan kalimat seperti itu sesungguhnya sedang meminta penegasan kepada saya untuk menjawab bahwa kita harus jujur. Dan itu nampak menjadi tuntutan dia kepada saya, setidaknya nanti saya dapat memberikan dukungan argumentasi ketika dia harus berhadapan dengan teman-teman guru profesional di sekolahnya, yang masuk dalam golongan senior.

"Apa yang Ibu sedang butuhkan dari saya? Apakah sekedar pendapat untuk mengatakan jujur? Atau mungkin seharusnya ada hal lain yang Ibu tuntut dari saya?" Tanya saya sedikit menantang. Tujuannya tidak lain agar teman saya ini berani mengatakan apa yang semestinya menjadi haknya untuk mendapat dukungan dari saya sebagai seniornya.

Akhir cerita, kami sepakat untuk benar-benar memberikan data yang memang apa adanya. Dan sebagaimana yang sudah ia dan saya duga, kami harus memberikan penjelasan dengan berbagai gaya bahasa dan dari semua ranah pemikiran yang baik-baik. Termasuk juga harus mengatakan satu kata; tidak, ketika ada senior lain yang ternyata tidak masuk di akalnya apa yang telah kami jelaskan.

Itu semua karena kami yakin sekali bahwa jujur adalah pintu gerbang keberkahan. Semoga. Amin.

Jakarta, 7 April 2015.

Sertifikasi Guru #6; Dapodik dalam Sertifikasi Guru

Lagi-lagi catatan saya tentang sisi sertifikasi guru sebagai pelaku pendidikan di lembaga swasta. Yaitu berkenaan dengan data pokok pendidikan yang menjadi dasar perhitungan beban mengajar, tatap muka, guru di sekolah. Dengan data yang menjadi standar pendidikan di NKRI, maka data itulah yang menjadi acuan bagi perhitungan perhitungan jumlah guru. Tentunya dengan rata-rata jumlah mengajar tatap muka paling sedikit 24 jam pelajaran per pekan.

Bahwa data itu berbasis kepada struktur kurikulum yang berlaku di Indonesia, yang adalah standar nasional. Dan berbasis ini pulalah maka pemerintah dapat dengan mudah, terstandar, dan akurat  dalam memverifikasi guru sebagai penerima tunjangan sertifikasi. Tentunya setelah diperhitungkan juga jumlah rombongan belajar serta jumlah siswa dalam setiap rombel yang ada.

Diversikasi Sekolah Swasta

Mengapa ini menjadi bahan catatan saya disini? Karena inilah yang justru menjadikan perbedaan bagi kami yang berada di sekolah swasta dengan sekolah pemerintah. Ini karena kami yang sekolah swasta, untuk jenjang sekolah dasar atau SD, terdapat jumlah jam belajar lebih dibanding yang distandarkan di struktur kurikulum. Jumlah jam belajar tersebut kami alokasikan kepada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Bahasa. 

Tambahan jam pelajaran di mata pelajaran tertentu tersebut adalah bagian dari ikhtiar kami sebagai sekolah swasta untuk mendiversifikasi program sekolah. Ikhtiar ini tidak lain adalah usaha kami dalam mendongkrak daya saing sekolah sehingga membuat kami berbeda. Harapan kami, keberbedaan ini menjadi bagian dari daya tarik masyarakat kepada sekolah sehingga income sekolah, sebagai unsur utama dalam operasionalisasi dan kesejahteraan guru dan karyawan terjamin dan berkelanjutan. 

Walau harus diakui bahwa tidak hanya berbentuk jumlah waktu belajar saja yang membedakan kami dengan sekolah lain. Tetapi jika berbicara tentang sertifikasi guru dan Dapodik, maka jumlah waktu dan jam belajar siswa menjadi hal yang penting. Karena makna dari dasar pergitungan jumlah guru sertifikasi yang akan terverifikasi sebagai penerima tunjangan guru profesional berdasarkan dapodik pemerintah, berbeda dengan apa yang terjadi di sekolah kami. 

Implikasi dari ini adalah, jika berdasar pada Dapodik yang ada sekolah kami membutuhkan jumlah guru bahasa 1,5 guru, maka realitas di sekolah kami adalah 2 guru. Demikian pula dengan guru Pendidikan Agama.

Jakarta, 4-7.04.2015.

02 April 2015

Sertifikasi Guru #5; Setifikasi Guru = Mutu Guru

Lagi-lagi saya mencatat betapa memiliki guru yang sudah sertifikasi bukan jaminan sebagai kualitas atau mutu. Dan, antara lainnya, atas dasar fakta inilah maka memasukkan data jumlah guru yang telah tersertifikasi sebagai benefit atau nilai tambah di hadapan para orangtua siswa ketika pertemuan bersama mereka, bagi saya yang berada di lembaga pendidikan swasta, sungguh membuat kawatir. Mengapa? Karena  data guru yang tersertifikasi tidak, atau tepatnya belum,  memberikan jaminan mutu. Dan ini pulalah yang saya baca dari sebuah laman pemerintah yang mengurus tentang sertifikasi guru di Indonesia. 

Dibandingkan tahun anggaran 2014, tunjangan Sertifikasi Guru tahun 2015 mengalami kenaikan sekitar 32 Persen. Padahal pada tahun 2013, anggaran tunjangan profesi mencapai Rp. 43,1 triliun. Pada 2014 menjadi Rp. 60,5 triliun dan pada 2015 naik lagi menjadi Rp. 80 triliun. 

Menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMP dan PMP) Kemdikbud Prof. Syawal Gultom, bahwa Kenaikan tersebut memang sangat beralasan mengingat anggaran tunjangan profesi guru setiap tahunnya selalu bertambah. 

Pembayaran tunjangan profesi guru tahun 2015 yang mencapai Rp80 triliun rinciannya adalah Rp. 72 triliun untuk tunjangan untuk tahun berjalan dan Rp. 8 triliun untuk tunjangan tahun 2014 yang belum ditransfer ke daerah.

Menurut Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud Hamid Muhammad di Jakarta, bahwa pembayaran tunjangan profesi guru untuk tahun 2015 yang mencapai Rp80 triliun sama dengan anggaran Kemdikbud per tahunnya. Jumlahnya terus meningkat dan menyedot APBN. Namun sayangnya, peningkatan budget pembayaran tunjangan guru itu tidak diimbangi dengan peningkatan mutu guru, demikian menurutnya.

(Sumber: http://www.sertifikasi-guru.com/2015/01/tunjangan-sertifikasi-guru-tahun-2015.html).

Jakarta, 2 April 2015.