Masjid Raya Samarinda

Masjid Raya Samarinda

Sianok

Sianok
Karunia yang berwujud keindahan sebuah ngarai.

Drini, Gunung Kidul

Drini, Gunung Kidul

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Dari Bukit Gundaling, Berastagi.

Senggigi

Senggigi

31 May 2013

Siklus itu Bernama; Akhir Tahun Pelajaran

Di sekolah, akhir bulan Mei dan hinga awal Juni, menjadi waktu-waktu yang tidak begitu padat ketika jam telah menunjukkan pukul 14.00. Maksudnya situasi sekolah dengan keramaian dan keriangan para peserta didik. Mengingat pada waktu-waktu tersebut, tentunya setelah Ujian Nasional usai di gelar oleh siswa yang berada di kelas akhir, dan disusul dengan kegiatan akhir semester para adik kelasnya, maka ketika pukul 11.00 hingga pukul 13.30, menjadi waktu yang paling sibuk bagi kepulangan siswa.

Seperti yang kami rasakan pada siang itu di akhir bulan Mei. pada pukul 15.00 menjadi waktu yang lengang di sekolah. anak-anak telah langsung kembali ke rumah begitu mereka selesai mengerjakan soal ulangannya sejak pukul 11.00 tadi. Ada memang satu atau dua siswa yang memang terlambat dijemput oleh orangtua atau drivernya karena alasan tertentu. Dan itu tidak lebih dari pukul 14.00 tadi. 

Bagi saya dan teman-teman yang harus masih menyelesaikan pekerjaan berupa pengolahan nilai hasil ulangan dan observasi, maka saat-saat lengang sebagaimana yang kami alami itu, adalah saat yang kami sangat dambakan. kami dapat begitu leluasa dan tenang dalam menyelesaikan kelengkapan administrasi kami tanpa dengan ditingkahi suara anak-anak peserta didik yang membutuhkan bantuan kita.

Namun demikian, saat-saat seperti ini justru menjadi pertanda saat-saat bagi kami dan sekolah akan 'ditinggalkan' riuh rendah keriangan para peserta didik itu untuk sementara waktu hingga nanti awal tahun pelajaran baru tiba dan hari kembali normal.

Meski ketenangan yang kami dapatkan dalam menyelesaikan tugas-tugas akhir anak-anak sekolah,  namun disitulah letak dari semua prosesi yag harus kami tuntaskan. Juga anak-anak peserta didik. Karena kami harus berkejaran degan waktu hingga kerja kai menjadi tuntas dalam pelaporan hasil pendidikan untuk semua peserta didik kami, juga anak-anak yang harus  menampilkan kepintaran mereka di atas panggung dalam acara pentas akhir tahun, dimana kami juga harus mempersiapkannya.

Menumpuk, tetapi setiap akhir tahun pelajaran itu akan berlalu, selalu menyisakan kebahagiaan dan kenangan yang berbeda-beda. Semua memiliki puncak-puncak yang berbeda juga. Namun karena kami memaknai setiap tahun pelajaran bersama komunitas sebagai tahun pembelajaran, maka puncak-puncak itu tetap menjadi bahan galian bagi kami smua untuk menggalinya secara lebih luas dan lebih dalam.

Itulah yang saya dan teman-teman selalu maknai dlam perjalanan kami yang selalu sama durasi dan siklusnya. Tantangan dan semua yang berada dalam masa-masa itulah yag menjadikan kami terus tumbuh.

Keberkahan semoga menjadi anugerah Allah buat kami semua. Amin.

Jakarta, 30-31 Mei 2013.

30 May 2013

K-13 #7; Perubahan Kurikulum, Merubah Budaya atau Merubah Dokumen?

Di Salatiga, Jawa Tengah, Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa Pelatihan Guru sebagai persiapan perubahan Kurikulum 2013 akan segera dimulai pada pertengahan Juni 2013. Ini dikemukakan ketika DPR telah menyetujui. Sebagaimana yang saya temukan berita tersebut di koran pagi ini, Kompas, 30 Mei 2013.

Merubah Budaya?

Sebagaimana yang terdapat dalam presentasi sosialisasi yang disebar teman-teman di milis guru, salagh satunya yang saya dapatkan, bahwa perubahan kurikulum ini menghendaki perubahan pendekatan dalam belajar guru. Dimana yang terjadi sekarag ini berpusat kepada guru, maka di kurikulum baru siswalah yang menjadi titik tolak pembelajaran dan tentunya yang harus menjadi sentralnya.

Dan menjadikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran adalah sebuah budaya yang merupakan implementasi keseharian, implikasi praktis dari sebuah paradigma, yang bernama berpusat pada siswa.

Dengan konsepsi seperti itu, maka sesungguhnya yang dimaksudkan dengan menjadikan siswa sebagi pusat belajar, ketika guru benar-benar dengan penuh sabar dan penuh kerendahan hati, menemani para peserta didiknya untuk mencapai apa yang menjadi impian dan cita-cita dalam belajarnya. Guru tidak mendominasi dalam sebuah proses belajar tersebut. Guru memberikan fasilitas kepada siswanya agar siswanya dapat memenuhi rasa ingin tahu yang ditemukannya. Guru memberikan pemahaman, jalan, arahan, dorongan, dan juga tantangan untuk siswanya.

Bagaimana ketika guru sedang belajar tentang kelapa ketika akan masuk ke sebuah kelas? Bisa jadi guru membawa 2 butir kelapa muda yang berbeda warnanya ke dalam kelas. Dimana kelasnya bukan di sebuah ruangan belajar yang ada di dalam gedung sekolah. Karena saat itu guru mengajak anak-anak meninggalkan kelasnya yang ber-ac menuju sebuah pendopo. Dimana anak-anak dimintainya mengangkat buah kelapa tersebut secara bergantian. Meraba kulit buah kepala yang halus.

Di pendopa, yang kebetulan tumbuh dengan buah yang lumayan lebat sebuah batang pohon kelapa,  guru mengajak anak-anak untuk mengeksplorasi buak kelapa tersebut. Sebagaimana yang telah diungkapkan, maka anak-anak itu juga memegang pohon, mencoba mendorong-dorong, lalu yang terakhirnya adalam mencicipi air buah kelapa yang telah dibuka dengan bantuan guru tamu, yaitu seorang pramubakti sekolah. Kepada siswa, juga diminta mencicipi rasa buah kelapa muda yang masing-masing anaknya mendapat jatah seiris! Apa penutup pelajarannya, anak-anak harus melantunkan lagu Rayuan Pulau Kelapa dan menggambar tunas kelapa sebagai simbol gerakan Pramuka.

Bagaimana pada pembelajaran tentang pisang? Cincau? Kunang-Kunang? Dan seterusnya? Maka inilah lahan dimana kompetensi guru yang telah tersertifikasi tersebut ditantang. Mengekplorasi diri dalam memberikan 'jalan' kepada para peserta didiknya. Karena siswalah yang menjadi pusat dalam pembelajaran. Sebagaimana kehendak Kurikulum 2013.

Merubah Dokumen?

Lalu bagaimana dengan guru yang diduga masih berpandangan bahwa dialah yang menjadi satu-satunya sumber ilmu di dalam pembelajaran? Dimana buku paket menjadi sumber satu-satunya belajar. Siswa selalu mereferensi buku paket tersebut untuk semua kegiatan belajaranya. Baik ketika guru memberikan penjelasan kepada materi baru, ketika siswa harus mengerjakan soal-soal untuk dikerjakan sebagai pekerjaan rumah, atau ketika siswa harus mengulang pelajaran ketika guru akan memberikan ulangan?

Maka ketika itulah praktek yang terjadi di dalam pembelajaran manakala Kurikulum 2013 nanti telah digulirkan, tidaklah salah bahwa yang terjadi kita istuilahkan sebagai perubahan dokumen. Yaitu dokumen kurikulum.

Kenyataan ini tentu tidak kita inginkan. Semoga!

Jakarta, 30 Mei 2013.

25 May 2013

Ada Musholah di Atas Bukit Terjal

Ini merupakan niatan lama yang baru saya dapat laksanakan. Berawal dari rasa penasaran atas apa yang saya dapatkan dari cerita tetangga tentang dibangunnya sebuah mushola di puncak Gunung Singsong, yang ada di desa kami, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Sebuah bangunan yang dibangun jauh dari lokasi hunian penduduk oleh seseorang yang si penceritanyapun bingung ketika diminta identitasnya. 

Ketika perntanyaan kami kepada mereka yang mengetahui keberadaan mushola itu; "Siapa yang membangun?". Dan jawabannya hampir seragam: "Orang jauh. Yang pasti orang sukses dari Jakarta, yang justru bukan orang asal desa kita." Begitu selalu yang saya dengar dari tetangga.

Oleh karenanya, ketika ada tawaran teman untuk mengantar dan sekaligus memandu saya ke mushola tersebut, tidak ada kata selain "Siap!". Maka jadilah hari itu, pukul 12.15, dengan bersepeda, kami menyusuri jalan desa yang masih tanah.

45 menit setelah kami harus menitipkan sepeda kami di halaman rumah seorang penduduk,  yaitu dengan menyusuri jalan tanah berbatu kerikil kali, menyeberang sungai kecil, dan jalan setapak yang berada di sepanjang lereng gunung, tibalah pada sebuah gerbang permanen menuju ke arah puncak gunung yang berundak terjal. Inilah awal lokasi mushola itu.

Gerbang menuju mushola yang berada di puncak Gunung Sengsong, Kecamatan Bagelen, Purworejo.
 
Bangunan permanen Mushola Samiaji.


"Hanya pada malam tertentu mushola ini akan dikunjungi oleh lebih dari dua orang. Mereka, para pengunjung akan melaksanakan shalat berjamaah dan doa bersama. Selebihnya, mushola ini akan sepi seperti sekarang ini." Begitu pemandu saya, yang juga adalah sahabat kecil saya di desa. Dan bagi saya yang baru melihat secara langsung tentang keberadaan bangunan itu, tidak henti untuk membatin; "Mengapa orang membuat bangunan ini berdiri disini?"

Jakarta, 22 Mei-Jakarta, 25 Mei 2013.

23 May 2013

Ada Sampah di Tengah Alun-Alun

Tumpukan sampah di sebuah lokasi wisata di Yogyakarta.
Ada sepenggal catatan perjalanan tentang sampah, di sebuah lokasi wisata yang seharusnya menyuguhkan keluhuran perilaku, termasuk di dalamnya bagaimana bersikap kepada sampah.
Inilah sebuah cerita tentangnya, ketika menemani teman untuk 'berkeliling' di seputar area Malioboro pada akhir pekan pertengan Mei ini. Maka setelah berputar-putar tak tentu arah disekitaran Jalan Malioboro, maka saya mengajak teman untuk berdiri sejenak menonton Wayang yang ada di sebuah gedung seni yang bersebelahan dengan Kantor Bank Nasional seberang Kantor Pos besar Yogyakarta. Dan di lokasi lapangan utara itulah kami berhenti sembari menikmati minuman hangat bandrek.

Di lokasi itulah saya dan teman-teman perhatiannya terantuk kepada tumpukan sampah sisa makanan jualan yang memang berderet memanjang di sebuah jalanan konblok yang berada di tengahsebuah lapangan yang tidak jauh dari arah Jalan Malioboro. 

Memprihatinkan karena lapangan ini kemudian seperti beralih fungsi; sebagai tempat jajanan yang tampaknya selalu berkembang pesat selain di sepanjang trotoar yang ada di sepanjang Malioboro, setelah sebelumnya hanyalah lapangan rumput hijau. Walau sesekali saya melihatnya sebagai lokasi cadangan bagi parkir kendaraan besar wisatawan.

Dan dari alih fungsi sebagai lokasi jajanan itulah yang menjadi pemicu utama bagi bertambahnya lokasi penumpukan sementara sampah sisa pembungkus makanan dan makanan yang mayoritaskan berbahan dari plastik.

Tapi barangkali saya sebagai pengunjung dadakan yang salah. Karena sangat mungkin sebelum pagi menjelang bisa jadi para pegawai kebersihan selalu mengangkut sampah-sampah yang ada di tengah alun-alun itu pada setiap harinya. Mungkin. Dan kalau demikian, lalu apa kontribusi para pedagang yang menjajakan dagangan di sepanjang pedestrian yang dibangun persis di tengah alun-alun dari ujung utara ke ujung selatan tersebut?

Atau bisa jadi saya salah...

Jakarta, 22 Mei 2013.

Gula Jawa Mas Paino

Saya sungguh menyempatkan diri untuk mendatangi kerabat saya yang memang bertetangga di kampung halaman. Beliaulah yang selama ini menjadi supplier tetap dari gula jawa, yang kami jadikan sebagai oleh-oleh keluarga besar, ketika kami kembali ke Jakarta. Dialah Mas Paino. Menderes beberapa bunga kelapa miliknya setiap pagi dan sore hari. Dari hasil deresan itulah, sebagai bahan dasar bagi Mas Paino dalam membuat butiran gula merah dengan tanpa pengawet setetes pun. Sebuah brand yang nampaknya banyak ditingalkan oleh kebanyakan tetangga saya di kampung yang juga memproduksi gula merah. 

Sebuah paradog hanya karena tuntutan efisiensi. Namun jauh dari itu, pragmatisme itulah yang menjauhkan hasil kerajinan tersebut dari karakter dan cita rasa aslinya. Karena untuk alasan itulah barangkali yang membuat keluarga besar kami di Jakarta, merindukan selalu dengan oleh-oleh yang kami bawa dari kampung halaman. Meski itu hanya bernama; Gula Jawa Mas Paino!

Sehingga bukan saja pada rasa manisnya, tetapi juga ternyata pada komitmennya untuk tidak mengikuti arus budaya instan yang sedang menerjang seluruh sendi kehidupan; pikiran dan gaya hidup, berupa pragmatisme.
 
Legen, cairan hasil sadapan kelapa setengah matang di atas tungku.
Ketika pertemuan itulah, saya juga ingin sekali merasakan legen setengah matang yang sedang dimasak di atas tungku di dapurnya. Sebuah citarasa manis yang tidak lagi serupa dengan legen, atau juga belum persis sama dengan rasa Gula Jawa. Rasa yang khas. 
Segelas minuman dengan sirup legen.
Jakarta, 22 Mei 2013.

Ada Promo Wisata di Bungkus Jajanan

Sore lalu, saya menerima titipan oleh-oleh dari para orngtua siswa kelas VI yang baru saja selesai menemani program putra-putrinya di akhir tahun pelajaran dan sekaligus akhir dari tuntasnya pendidikan putra-putrinya di jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Kegiatan berupa over night di sebuah tempat out bond yang apik di daerah Ciawi, Bogor, Jawa Barat.  Sebenarnya bukan titipan, karena saya menerimanya langsung dari para anggota panitia kegiatan yang hebat.

Oleh-oleh tersebut, menjadi perhatian kami di rumah setelah pagi harinya kami ingin menjadikannya bagian dari sarapan sebelum kami berangkat beraktivitas. Dan selain kuenya yang sangat khas enaknya, mata saya terantuk sebuah pemandangan yang diluar biasanya, pada gambar-gambar dan informasi wisaya yang tertera di bungkus penganan lapis warna ungu itu. Persisnya tiga gambar lokasi wisata berserta informasinya.
3 Lokasi wisata di Bogor pada bungkus kue Lapis Bogor Sangkuriang.

Bagi saya, ini sungguh menjadi pengalaman baru. Sesuatu sekali apa yang dilakukan oleh inisiator dan owner jajajan dengan brand Sangkuriang tersebut. Dari dari sinilah saya benar-benar menemukan pelajaran sebuah kreativitas berkombinasi dengan kecerdasan. Ketiga obyek wisata yang berlokasi di wilayah Bogor tersebut, plus informasi yang ada, tentu menjadi daya tarik yang berbeda. Bukan karena informasinya, tetapi untuk saya sendiri, karena idenya yang amat tidak biasa. 

Terlebih, ketika saya mencoba untuk mengambil potongan yang masih ada di dalam kotaknya tersebut, karena ingin nambah, saya kembali ternganga dengan model promosi yang juga hebat. Didalam kotak kue tersebut, masih ada kertas minyak yang menjadi pelapis atau alas kue dengan promosi Visit Bogor. Saya memang kagum!
Visit Bogor; idenya amat tidak biasa!
Jakarta, 23 Mei 2013.

22 May 2013

Cukat, Bukan Hanya Kata

Cukat, bukan hanya kata. Ini merupakan semboyan yang menjadi inti semangat teman-teman yang bergiat di koperasi kredit di sebuah daerah pedesaan yang berada di lokasi Samigaluh, Kulom Progo, DI Yogyakarta. Sebuah pertemuan saya dan teman-teman dari Jakarta yang difasilitasi oleh sebuah lembaga ProvisiEducation di Jakarta. Sebuah kesempatan bagi saya, khususnya, untuk melihat lebih terbuka dan jelas tentang bagaimana memberdayaan sebuah masyarakat dalam sebuah kelompok.

Para peserta kunjungan belajar di kantor pelayanan Cukata.
Sebagai keturunan Jawa, saya justru bertanya apa yang dimaksud dengan kata cukat tersebut, yang menjadi inti dari motto perjuangan atau semboyan para pengurus dan anggota koperasi tersebut untuk terus berlari. Dijelaskan bahwa cukat, sepadang dengan cepat, pararel dengan trengginas, lekas, bersegera, energik. Yang memang berasal dari suku bahasa Jawa.

Maka makna yang terkandung dalam semboyan tersebut adalah bersegera, bersemangat, dengan penuh motivasi dalam merealisasikan idealisme dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak sekedar berkata-kata atau berkonsep ria. Sebuah semboyan yang layak untuk semua kita dalam melangkah dan berlari menuju masa depan. Lebih kurang itulah semangat yang saya tangkap dalam pertemuan yang hampir 12 jam di desa tersebut. Terima kasih Pak Win!

Kutoarjo,19 Mei - Jakarta, 22 Mei 2013

Mengejar Idealisme, Untuk Mendapat Apa?

Untuk apa mengejar sesuatu yang seharusnya dan semestinya terjadi tanpa memikirkan apa yang di dapatkan? Apakah ini bukan merupakan perjalanan hidup yang akan menjadi lebaran sejarah tetapi tidak akan memberikan topangan kepada ketegakan kemandirian ekonomi pribadi?

Mungkin inilah lontaran pertanyaan yang terus menerus menggelayut di dalam benak dan pikiran saya ketika sutau hari saya menyaksikan bagaimana tidak mudahnya merealisasikan sebuah idealisme dengan perjuangan yang total di sebuah komunitas yang meski disana ada dukungan namun sama sekali tidak memberikan kontribusi secara langsung kepada kesejahteraan ekonomi pribadi?

Karena jika saya berpijak hanya kepada kenyataan seperti ini maka saya akan terus penasaran, mengingat dibagian lain dari sisi hidup yang menunjukkan bagaimana orang dari sebagian kita yang mengada-adakan sebuah aktivitas hanya demi sebuah brand yang mungkin saja dapat bernama anggota parlemen atau bran lan yang sejenis? 

'Ruang pertemuan' yang menjadi bagian integral dari sebuah usaha membumikan indealisme.
Belajar dari Muhammad Yunus

Apa yang menjadi kegiatan dari beberapa tokoh idialis yag terus menerus melakukan usaha dan aksi dalam rangka membumikan idialismenya itu, mengingatkan apak yang dilakukan oleh tokoh besar di Banglades, yang memperoleh Nobel beberapa tahun lalu. Ialah Muhammad Yunus, yang namanya juga menjadi baian dari ikon kebiasaan ke-8 dari kebiasaan orang-orang suksesnya Stephen R Covey.

Dari sini pula saya belajar tentang bagaimana rasa peka dan empati itu seharusnya mengalir...

Jakarta, 22 Mei 2013.

Sudah Mengajar 7 Tahun

"Saya sudah mengajar 7 tahun lho Mbak." Itulah kalimat yang keluar dari seorang guru PAUD yang berlokasi di dalam wilayah KKN anak saya. Karena memang catatan ini adalah inspirasi darinya ketika bertemu dengan saya di kota perantauannya beberapa waktu lalu. Saya tertarik menulis ini karena tertarik sekali dengan kalimat "sudah mengajar 7 tahun" itu. 

Kalimat sederhana itu diucapkan oleh seorag guru itu ketika didapati bahwa secara administrasi dan praktek operasional PAUD yang menjadi wahana anak saya sebagai bagian integral dari kegiatan KKNnya. Pengetahuan ini juga karena Ibu guru tersebut meminta bantuannya untuk memberikan ide bahwa PAUDnya akan menjalani akreditasi di waktu kemudian sepeninggalannya anak-anak KKN di desa tersebut selesai.

Dan dari saran saya, yang juga buta tentang praktek pendidikan di PAUD seara operasional, maka jasa internet menjadi andalan saya ketika saya harus mendapatkan dokumen tentang kePAUDan, termasuk didalamnya adalah penilaian diri untuk akreditasi.

Dan ketika anak saya menyampaikan apa yang didapatnya dari internet sesuatu yang menjadi barang baru, yang memang seumur-umur baru ia dapatkan dan pelajari sepanjang malam sebelum hari pertemuan tersebut, hingga dokumen tersebut menjadi hard copy, maka kalimat sederhana itulah yang justru keluar dari Ibu guru tersebut diantara kalimat-kalimat anak saya. Seru bukan.

Saya sebagai guru, dari kalimat sederhana yang disampaikan guru tersebut, yang tidak sama sekali menjadi masalah buat anak saya, justru menjadikan saya termenung ketia meninggalkan pertemuan dengan anak ketika hari menjelang malam. Tidak lain ini karena, dari pengalaman saya sebelumnya, kata-kata dengan nada seperti itu adalah khas bagi mereka untuk menyampaikan kabar tentang siapa dia. Bahwa telah mengajar selama 7 tahun itu, memiliki makna agar lawan bicaranya dapat mengetahui secara sadar tentangnya. Itulah kira-kira makna tersembunyi yang ingin disampaikannya.

Dan secara tersamar, sesungguhnya kalimat seperti itu adalah bentuk kalimat yang memberikan isyarat kepa siapapun yang mejadi lawan bicaranya untuk; tidak mengajarinya... Allahu a'lam bishawab.

Kutoarjo, 19 Mei-Jakarta, 22 Mei 2013

21 May 2013

No More Plastic, Please...

Ini adalah sebuah praktek tentang bagaimana menyikapi melimpahnya penggunaan plastik di masyarakat kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh inspirator dari Greeneration Indonesia yang berkedudukan di Bandung, M Bijaksana Junerosano, yang memprihatinkan penggunaan kantong plastik yang dimulai dari warung kecil hingga pusat perbelanjaan besar. Dan dari keprihatinan itu lahirlah produk kantong berbahan  kain nilon yang dapat dilipat hingga ukuran 5 X 5 cm. (Kompas, Senin, 20 Mei 2013, halaman 14).

Berbeda apa yang dilakukan oleh pecinta lingkungan yang ada di Bandung tersebut dengan produk tas BaGoes, maka saya melihat dalam sebuah kunjungan kami di sebuah desa yang ada di wilayah Samigaluh, Kulon Progo, DI Yogyakarta pada Jumat, 17 Mei 2013 yang lalu. Semua aksi itu berangkat dari konsepsi tentang bagaimana mengurangi penggunaan plastik yang memang sulit untuk diurai di alam. 

Para aktivis desa itu, yang karena akan bersentuhan dengan pembibitan bibit tanaman pertanian, maka plastik yang menjadi tren sebagai wahana tanam, diganti dengan sebuah karya hebat. Sebuah temuan yang menjadi bagian penting dari praktek keprihatinan untuk tidak menggunaan plastik. Itulah yang menjadi kekaguman saya dan teman-teman yang mendatangi lokasi dimana teman-teman desa itu mengejawantahkan keprihatinannya dalam praktek hidup.
Inilah bongkahan yang menggantikan plastik sebagai wahana tanam bibit.

Inilah cetakan atau presser untuk membuat bongkahan media tanam.
Inilah lahan pertanian organik di Samigaluh, DIY itu.
Kutoarjo, 19-21 Mei 2013

14 May 2013

Membaca (Novel) Berantai Bersama Siswa

Setelah mencoba dan bereksperimen dengan teman-teman guru pada kegiatan Professional Development, PD, yang selalu kami laksanakan pada setiap akhir pekan setelah jam sekolah selesai, dan saya menikainya sebagai kegiatan yang positif, maka untuk kedua kalinya saya bereksperimen bersama siswa di kelas 7.  Ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk bertemu dan sekaligus mempraktekkan manajemen kelas yang baik baik sebuah kegiatan bersama kelas remaja.

Sebuah ruang kelas yang pasti akan dinamis, karena saya meminta kepada guru untuk menyatukan dua kelas di kelas 7 mejadi satu pelajaran bersama saya. Jadilah kelas saya pada saat itu sebagai kelas besar. Karena dua kelas pararel itu ada 53 siswa! Sebuah kelas yang tidak ideal untuk sebuah interaksi.

Kesempatan mengajar di kelas 7 itu, dan esok dengan kelas 8, karena sebagian guru yang ada di unit SMP kami sedang melakukan kegiatan belajar luar kelas, outing, field trip, ke Yogyakarta bersama kelas 9 kami yang telah usai melaksanaan kegiatan besar mereka, UN. Meski hanya replacement, saya telah menyiapkan bahan untuk kegiatan membaca berantai tersebut. Juga alat permainan saya yang menjadi bagian inheren ketika saya mengadakan kegiatan bersama guru. Sebagai bahan cadangan jikalau nanti di pertengahan jalan saya berubah pikiran karena kondisi anak-anak yang kurang mendukung.

Awal belajar, saya memberikan penjelasan tentang sistematika pelajaran yang akan saya berikan kepada anak-anak. Juga langkah-langkah belajar yang harus anak-anak kerjakan. Juga, sebagai pembukaan dan pembuka wacana anak-anak tentang setting lokasi cerita, saya coba berikan sketsa peta Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, beserta kota-kota yang menjadi lokasi para tokoh cerita menjalani hidup.

Sketsa lokasi yang berupa peta tersebut saya berikan sebelum kami memulai kegiatan membaca berantai karena anak-anak sekarang lemah dalam membaca peta. Oleh karena itu, maka tujuan saya memberikan gambaran sketsa peta sebelum memulai kegiatan membaca adalah agar anak-anak memiliki gambaran spasial tentang setting cerita yang akan kami baca secara berantai dengan lebih baik. Apalagi ada beberapa anak pernah mengunjungi kota-kota dimana para tokohnya pernah berdomisili.

Bagaimana Kami Berkegiatan?

Kepada anak-anak yang berjumlah 53 siswa tersebut, masing-masing saya memberikan tugas untuk membaca 2 (dua) halaman saja. Kepada mereka, saya menekankan agar mengingat sekali tentang siapa? Dimana? Mengapa atau bagaimana?

Hal ini perlu saya kemukakan agar anak sudah menyiapkan diri apa yang harus dia presentasikan dari hasil apa yang dibacanya. Jadi kata tanya itu untuk membantu siswa dalam mengikat makna dari halaman-halaman yang dibacanya. Alhamdulillah, semua mumtaz.  Benar saja, ketika kami memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyampaikan apa yang dibacanya dengan empat kata tanya itu, membuat anak-anak menjadi semakin siap. 

Meski tidak selancar dan sesempurna dengan apa yang saya lakukan bersama teman-teman guru, maka saya menilainya dengan lumayan baik. Kontrol kelas terus terkendali. Anak-anak dapat secara konstan dapat menunaikan tugas yang saya berikan. Meski sekali lagi, tidak sesempurna dengan kegiatan yang saya lakukan bersama guru-guru dalam kegiatan professional  development!

Jakarta, 14 Mei 2013.

Pelajaran dari Pak Supir!

Sore itu, bersama istri saya mendapatkan taksi yang melintas di Cipete Raya. Hujan rintik-rintik. Hingga sebelum taksi kami dapatkan, kami berteduh di bawah pohon rindang yang tumbuh di depan restoran Sunda. Beberapa taksi berlalu tanpa mengindahkan kami. Mungkin karena itulah, maka kami diberikan kesempatan untuk belajar dengan seorang supir yang begitu tulus mencari uang, rizki, dan bukan mencari kerja. Begitu ia sendiri mengistilahkan. Istilah yang ia kemukakan ketika melintas di jalan layang non tol Antasari menuju Blok M.

Tentang Penumpang

Pertama kali Pak Supir taksi yang saya tumpangi tersebut bercerita tentang penumpang. Berbagai dan beragam penumpang. Dengan segala ulah dan tingkahnya. Bahkan tentang bagaimna penumpang yang paling seronoknya. 

"Mungkin mereka angap saya bongkotan kayu kali ya. Bukan manusia yang bisa dengar dan lihat." Begitu antara lain keluhnya ketika ada penumpang yang seronok sehingga seolah tidak melihatnya sebagai manusia selayaknya penumpangnya itu.

Dan pada saat menyusuri jalan yang lumayan lenggang itulah ia sampaikan betapa herannya terhadap model kehidupan yang benar-benar beda. 

"Saya pikir anak itu tidak punya malu lagi pada saat meminta saya mengantarnya pulang setelah selesai acara di suatu lokasi. Kenapa? Karena ia berpakaian begitu rupa. Ternyata ia masih punya malu. Karena ia harus menunggu di dalam taksi sampai pembantunya datang membawakan celana panjang!" Lanjutnya.

Ceritanya tentang penumpang itu ia sampaikan setelah saat kami masuk taksinya mencium bau ayam goreng dari restoran fast food.

Tentang Keluarganya

Tentu tidak lupa juga ia bercerita tentang anak-anak dan istrinya. Bagaimana ia harus berangkat pada pukul 02.00 dini hari ketika beberapa orang tetangganya masih nongkrong di ujung gang. Dan harus pulang ketika ia telah menempuh jarak lebih kurang 300 kilometer pada hari itu. Tentunya dengan mendapatkan uang yang menjadi bagiannya, yang akhirnya ia akan setorkan kepada istrinya.

"Saya harus tahu bagaimana uang yang saya berikan tersebut di belanjakan. Bukan untuk diminta kembali kalau ada sisanya Pak. Tetapi kalau kurang maka esok harinya saya harus bersiap untuk mendapatkan lebih. Dan kalau uang belanja itu lebih, itu juga akan saya minta untuk mereka. Tidak ada uang saya saya selipkan di dompet atau saya titipkan di warung." Begitu visinya tentang uang yang ia belanjakan kepada keperluan keluarganya.

"Begitu juga dengan anak-anak saya. Yang pertama baru saja selesai dan wisuda sarjana. Dan saya memintanya untuk melanjutkan kuliah di pasca sarjana. Saya tidak punya uang lebih Pak. Tetapi saya harus mengupayakan agar anak-anak dan keluarga terpenuhi untuk kepeluannya. Sepanjang anak-anak giat belajar, saya akan rela membanting tulang untuk kebaikan mereka!"

Dari apa yang disampaikannya sepanjang perjalanan yang kurang dari 60 menit itu, kami menikmatinya. Sebuah presentasi pembangun jiwa dari seorang pelaku kehidupan. Semoga.

Jakarta, 13-14 Mei 2013.

12 May 2013

Membaca (Novel) Berantai

Beberapa waktu lalu, saya diberikan kesempatan oleh teman-teman untuk mengisi satu sesi pertemuan Guru sebagai bagian dari Professional Development yang biasa dilakukan di sekolah. Takut akan terjadi pengulangan tentang yang akan saya sampaikan kepada teman-teman, maka saya memilih untuk sebuah kegiatan yang melibatkan semua guru. Saya pilih dengan kegiatan membaca novel berantai. Sebuah kegiatan yang sebelumnya memang belum pernah saya lakukan. Dengan novel yang sudah saya beli beberapa bulan yang lalu, novel baru, namun juga belum pernah saya baca.

Dalam pikiran saya, saya akan melakukan sesuatu yang semoga mendapat kejutan menyenangkan akan kegiatan tersebut. Mengapa? Karena saya baru akan melakukan, dengan bahan yang saya sendiri belum tahu dimana dan akan seperti apa ujunga daripada kegiatan tersebut. Maka saya bersiap membuat kejutan itu dengan harap-harap cemas.

Karena saya menganggap bahwa kegiatan eksperimental tersebut sebagai kegiatan yang mungkin akan membawa kajutan, maka saya meminta teman-teman untuk datang secara tepat waktu dan kompak. Tujuannya? Agar mereka merasakan kejutan yang akan mereka dapatkan. Meski terus terang saya pribadi tidak begitu yakin akan seperti apa kejutan tersebut. Namun dengan harapan positif, semoga teman-teman mendapatkan sesuatu yang baru dengan kegiatan pelatihan yang kami lakukan pada setiap pekan tersebut.

Saya membagikan kepada setiap teman yang hadir dalam pelatihan atau kami senang menyebutnya sebagai kegiatan professional development tersebut tiga hingga lima halaman bacaan dari sebuah novel, yang harus semua teman-teman baca. Saya memberikan waktu membaca lebih kurang tujuh menit. Dan setelah selesai membaca, kepada teman-teman saya pesankan agar mereka bersiap mempresentasikan secara singkat, lebih kurang empat kalimat yang padat, tentang apa yang sudah teman-teman baca. Panduannya, adalah tentang siapa, mengapa atu bagaimana, dimana, dengan siapa?

Jadi dengan panduan seperti itu saya berharap teman-teman nantinya terbantu dalam menyusun kalimat sebagai bahan presentasi atau bahan menceritakan kembali kepada kami. Harapannya agar dari orang yang membaca buku pada halaman pertama memiliki kesinambungan dan keruntutan cerita sebagaimana apa yang ditulis pengarangnya.

Apa yang terjadi?

Alhamdulillah, kami  terharu. Dan saya harus memutuskan untuk stop menceritakan ketika presentasi sudah mencapai kepada orang ke-30. Karena waktu yang molor dan panjang diluar prediksi saya, juga te;ah ada beberapa teman yang melelehkan air matanya pada saat-saat buku bercerita tentang bagaimana miskinnya tokoh utama dalam cerita dalam buku tersebut.

Itu terjadi ketika setelah selesai waktu yang saya berikan kepada teman-teman guru dalam membaca, saya meminta secara berantai, mulai dari orang yang membaca buku pada halaman pertama, terus berlanjut ke teman-teman yang membaca pada halaman-halaman berikutnya.

Dengan kegiatan membaca dan presentasi secara berantai sebagaimana eksperimen yang saya lakukan tersebut, ternyata mampu membuat teman-teman yang berkonsentrasi penuh menjadi begitu terharu dan tersentuh.

"Baik teman-teman, sepertinya kita harus berhenti pada bagian itu. Waktu seperti berlari begitu cepat. Dan tampaknya kita dapat memprediksi akan kemana akhir dari cerita novel tersebut?"

"Adakah diantara Anda yang mengetahui buku apa yang sedang kita baca bersama tersebut?" 

"Saya memberikan kesempatan kepada Anda untuk melanjutkan cerita tersebut. Sebuah cerita yang memberikan gambaran serta motivasi kepada kita tentang perjuangan menyongsong sukses!"

"Itu adalah sebuah buku kedua dari seorang pengarang, yang buku pertamanya sedang ditonton di gedung bioskop, yang adalah film dari sebuah novel pertama dari pengarang yang sama."

Sore itu, seingat saya, masih banyak sekali dialog yang lahir dari kegiatan yang saya sodorkan kepada teman tersebut. Dan secara singkat, saya senang dan bahagia atas eksperimen saya dalam kegiatan tersebut, yang boleh saya katakan sebagai kegiatan sukses saya dalam menyuntikkan virus membaca kepada teman-teman saya yang semua adalah guru. Ini semangat penting buat saya karena membaca adalah pintu gerbang dalam membentuk pribadi guru yang profesional. Semoga. Amin!

Jakarta, 13 Mei 2013.

Edisi Galau.com: Kemana Berubah?

Kalau kita melihat halaman-halaman sosial, maka kita kadang menemukan catatan-catatan singkat para penggunanya, yang tidak jarang mengungkapkan kegalauan. Malah, tidak hanya galau saja yang terungkap dari perasaan dan pikiran para penggunanya. Kadanga juga keta temukan hal-hal yang positif, tetapi juga  tentang situasi yang ingin dikabarkannya kepada kita, khalayak, sesuatu yang sesungguhnya tidak sepatutnya. Tapi itulah perjalanan. Ada yang menuliskannya secara vulgar. Meski begitu, tidak semua yang ada di halaman-halaman sosial itu menjadi sampah. Setidaknya kalau kita mau menjadikannya sumber inspirasi menuju hidup yang lebih baik.

Dalam catatan saya berikut ini tidak akan menjadikannya sebagai bahan refleksi bagi saya sendiri, tetapi lebih sebagai bagian dari tumbuhnya sebuah pertanyaan dalam diri saya; Mengapa orang galau untuk berubah? Dan atas pertanyaan itulah saya justru bertanya dalam benak saya sendiri. Apakah saya telah dan akan selalu berubah? Tentu berubah sesuai dengan apa yang menjadi trend zaman yang terus berlari. Tetapi bagaimana orang-orang melihat dan sekaligus menanggapi ajakan untuk berubah? Mungkin ada diantara teman-teman itu yang melihat berubah sebagai paksaan?

Sadar sebagai Bagian dari sebuah Konstelasi

Babarapa tahun lalau, di awal tahun 90an, seorang teman kami harus berpindah institusi kerja pada saat ia telah memiliki status sebagai pegawai tetap. Kepadanya, saya mengajukan pertanyaan; 
"Apa yang membuat Anda mempunyai keputusan seperti itu?"
"Ingin belajar berubah."
"Maksudnya?"
"Saya sudah melakukan hal yang sama bersama Anda selama belasan tahun. Jadi, lusa saya ingin melihat dan mengalami, serta melakukan yang berbeda. Tentu dari orang yang berbeda pula."
"Mengapa tidak lakukan sesuatu yang berbeda di sini bersama kami?"
"Mungkin bisa. Tetapi kalau tetap disini, saya tidak melihat dimana berbedanya?"

Beberapa tahun kemudian saya benar-benar melihat teman saya berbeda. Berbeda cara melihat pada sebuah fakta yang sama. Juga berbeda dalam menyikapinya. Darinya, saya tentau belajar tentang  rasa berbeda yang menjadi trend saat itu. Dan karena saya guru, maka berbeda yang saya maksudkan adalah berbeda dalam melihat, merencanakan, melakukan, dan menilai interaksi antara guru dengan siswanya.

Dengan demikian, sya melihat sisi berbeda itu dari apa yang saya dapatkan dari teman itu. Tentu karena ketidak puasan saya, maka saya pun minta diajaknya megikuti apa yang dilakukannya selama teman saya itu mengemban tugasnya dalam satu siklus lengkapnya.

Dan dari situ jugalah saya dapat  merumuskan bahwa, sebagai bagian dari konstelasi sosial, maka keberadaan saya, posisi saya, tentu satu linier dengan apa yang terjadi di luar, yang tumbuh dan menjadi patikan dalam sebuah konstelasi itu. Darinya, saya menyadari kalau selama ini saya hanya berjalan dalam mengarungi, dan sekaligus menjalani kualifikasi profesionalisme saya sebagai guru, dan sementara teman-teman yang lain melakukannya dengan berlari.

Maka ketika ada teman yang galau dan bertanya kepada saya; Kemana berubah? Saya menjawab; Mari kita mencari tahu kemana arah yang diinginkan oleh komunitas dimana kita berada di dalamnya!

Jakarta, 13 Mei 2013.

Belajar dari Angku; Merawat Ingat

Pada sebuah kegiatan yang saya ikut serta di dalamnya, ada Angku, begitulah teman kami mengajarkan kami memanggilnya, yang ikut serta dalam kegiatan sejak kegiatan itu di buka pada Kamis, 9 Mei pukul 13.00 di sebuah resort di Cisarua,  hingga ditutup pada Sabtu, 11 Mei 2013 pukul 11.00. Angku adalah bagian dari lembaga dimana kami semua, yang muda-muda berada di dalamnya. Itulah peristiwa yang bagi saya pribadi, adalah kesempatan untuk belajar bagaimana Angku dan teman-teman lainnya yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Belajar hidup dan tentunya menghadapi hidup.
Saat Angku menuliskan rumus-rumus yang dihafalnya.
 

Mungkin itulah yang lebih kurang akan menjadi catatan saya, khususnya yang berkenaan dengan bagaimana Angku dalam kemampuannya untuk menuliskan rumus-rumus, yang bagi saya rumit, di usianya yang jauh tidak muda lagi.

1934

Itulah tahun kelahiran Angku ketika saya, yang saat itu duduk di sampingnya dan melihat apa yang sedang Angku lakukan dengan kertas yang ada di mejanya, ketika saya menanyakan tahun berapa beliau lahir ke dunia di Bukittinggi. Sebuah jarak yang relatif panjang dalam sebuah hidup seorang manusia. Namun kemampuannya dalam menuangkan rumus-rumus rumit itulah yang membuat saya pribadi dibuatnya iri dan sekaligus bersemangat.
Rumus yang dibuat Angku. Rumus apa? Saya tanyakan kepada mantan mahasiswanya; tidak tahu.

Jakarta, 13 Mei 2013.

10 May 2013

UN 2013; Kisi-Kisi atau Air Putih untuk Sukses?

Berita Selasa, 7 Mei 2013 dari; http://krjogja.com/read/171803/agar-lulus-un-siswa-minum-air-putih-berkhasiat.kr
Itu adalah copi sebagain dari berita yang saya dapat di sebuah berita dari dunia maya yang berkenaan dengan pelaksanaan Ujian Nasional, UN untuk tingkat pendidikan di SD pada tahun ini. Sebuah berita yang sungguh menggugah pemikiran kita betapa beragamnya model  kreativitas para tim sukses UN. Dan dari berita yang saya dapat tersebut, saya semakin yakin bahwa usaha tersebut adalah bentuk-bentuk usaha yang sudah diluar apa yang normalnya terjadi. Sungguh juga membuat kita berpikir; apakah hanya di Indonesia untuk mencapai sukses UN harus dengan cara dan model sebagaimana yang dilaporkan dalam berita tersebut di atas?

Allahu a'lam bi shawab.

Jakarta, 10 Mei 2013.

08 May 2013

Berkomitmen Kepada "Iya"

Mengatakan Iya kepada satu pekerjaan di awal ketika pekerjaan tersebut ditawarkan kepada teman saya ini, ternyata implikasinya justru tuntutan untuk berkomitmen datang mengunjugi kantor dimana lembaga tersebut berada layaknya seorang pegawai. Sebuah implikasi yang relatif dalam dan sekaligus luas. Padahal, ketika perkerjaan yang bersifat bantuan tersebut ditawarkan pada saat teman saya itu sebagai pegawai sebuah kantor, yang berarti adalah orang yang dituntut penuh kepada tugas yang diberikan.

Padalah juga, ketika permohonan bantuan tersebut ditawarkan, salah satu sesepuh yang telah berada dalam lingkup yng menawarkan tersebut mewanti-wanti bahwa tidak akan ada tuntutan kepada teman saya untuk memberikan bantuan atau advis dengan cara harus selalu hadir secara fisikal ke lembaga dimana berada. Maka ditengah perjalanan tersebutlah ia menjadi galau karena dilanda dilema (?).

Harus diingat bahwa sahabat saya ini semua hanya diminta bantuan untuk sudi menyisakan waktu guna berpikir tentang sebuah lembaga pendidikan yang bukan miliknya, atau juga bukan milik seseorang selain dia. Dan dengan kondisi seperti itu, sahabat saya berpikir bahwa apa yang akan dia kerjakan nantinya, tidak akan menuntut kehadiran fisik dirinya di lembaga tersebut selayaknya pegawai bukan?

Bagaimana imbal balik atau kerelaan terhadap komitmen "Iya" tersebut? Karena ketika mengatakan "Iya" dalam frame bukan sebagai pegawai, maka sahabat saya tidak layak dan pantas untuk memohon atau meminta. Alhasil, kesanggupan dan "Iya" tersebut sebagai bagian dari sebuah upaya dia dalam memperoleh sesuatu bukan dari lembaga.

Itu memang komitmen yang dia berikan kepada sekelompok orang yang bioleh dikatakan sebagai komisaris, kalau di sebuah lembaga perusahaan. Dan komitmen itu menjadi berbeda makna ketikasahabat saya itu berada pada posisi duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan para pekerja  di lapangan. Para pegawai di lapangan itu tidak akan mengetahui komitmen antara para komisarisnya dengan diri sahabat saya tersebut. Inilah sumber yang menjadi selisih antara komitmen  dirinya untuk membantu di mata 'komisaris' sebuah lembaga dengan  para pegawai yang berada di akar rumput?

Inilah catatan saya, yang supaya tidak menguap begitu saja, maka secepat mungkin saya ikat delam kalimat dan paragraf. Sebuah catatan yang memberikan gambaran, bahwa pada fakta yang sama dpat memiliki tafsir yang berbeda karena penafsirnya memang berbeda dari posisi yang berbeda pula. Dan jika sahabat saya karena itu menjadi terganggu, maka sebuah peluang untuk sebuah amal baik menjadi dia sia-siakan. Semoga!

Jakarta, 8 Mei 2013.

07 May 2013

UN 2013; Membangun Optimisme

Suanan dimana anak-anak dengan dipandu oleh guru, berdoa sebelum UN berlangsung, untuk keberhasilannya.
Setiap pagi, setengah jam sebelum anak-anak masuk ke ruang UN, selalu berkumpul bersama semua guru kelasnya untuk melakukan kegiatan ikrar dan afirmasi. Sebuah kegiatan uang bertujuan agar anak-anak dapat melaksanakan UN dengan hati yang nyaman dan konsentrasi yang penuh. Ini sebagai bagian dari usaha guru-guru untuk memandu anak-anak didiknya memperoleh hasil UN yang sebaik-baiknya dan optimal.

Bagaimana Persiapan Itu?

Pagi hari sebelum jam pelaksanaan UN, dimana anak-anak untuk tingkat SD, akan masuk ke dalam kelas atau ruangan UNnya pada pukul 07.45, mereka berkumpul di ruangan bersama bersama guru kelasnya. Setelah selesai anak-anak itu melakukan ikrar pagi, maka Bapak da Ibu guru meminta anak-anak untuk khusuk memanjatkan doa. Bapak atau Ibu guru akan mengajak memandu anak-anak itu dengan kesungguhan menghayati apa yang menjadi visi mereka masing-masing dalam memperoleh nilai yang optimal. Agar anak-anak sadar bahwa hasil akhir dari keseluruhan ikhtiar mereka selama ini tidak sia-sia oleh keteledoran, dan tentunya adalah kekuatan dan izin dari Allah Swt. Itulah inti dari apa yang anak-anak itu lakuan setengah jam sebelum pelaksanaan UN dimuali.

Sebuah persiapan yang saya sendiri kagum terhadap apa yang disiapkan dan dilakukan teman-teman tersebut dalam mengoptimalkan hasil belajar para peserta didiknya. Sebuah kompetensi yang tidak hanya 'menceramahi' para peserta didiknya meski anak-anak itu tidak memperhatikan apa yang disampaikannya. Dan pada sisi inilah saya mengaguminya. Semog sukses! Amin.

Jakarta, 7 Mei 2013.

UN 2013; TIPs Anak tidak Stres Ikut UN

Ini mungkin catatan saya yang dapat menjadi cermin bagi para orangtua yang putra-putrinya akan menjalani UN di tahun-tahun depan. Karena memang hari ini adalah hari kedua pelaksanaan UN di tingkat SD dan sederajat. Maka agak terlambat apa yang akan saya sampaikan ini. Catatan ini juga merupakan pengalaman yang kebetulan saya dapatkan selama pelaksanaan UN, baik SMA, SMP, dan SD sederajat. Pengalama yang saya dapatkan dari cerita anak-anak, teman, dan tentunya apa yang saya lihat sendiri. Tentunya juga tidak hanya dalam pelaksanaan UN, karena sebelum UN berlangsung, pemerintah dan sekolah sama-sama membuat jadwal try out sebagai persiapan UN.

Catatan ini saya buat karena adanya beberapa oranttua siswa, terutama bagi mereka yang putra-putrinya sedang menghadapi UN SD. Mungkin ini adalah peristiwa kai pertama bagi mereka. Sehingga mereka begitu khawatir dengan apa yang akan dilakukan putra-putrinya. Namun dengan sikap khawatir tersebutlah sebenarnya yang sering beresonansi kepada sang anak. Sehingga sang anakpun menjadi terjangkiti sakit was-was.

Untuk itulah, saya mencoba merumuskannya dalam bentuk Tips agar selama pelaksanaan UN atau ujian, anak-anakkita dapat melakukannya dengan perasaan rileks dan percaya diri. Tips itu antara lain adalah; Satu, yakin akan persiapan yang dilakukan. Dua, Yakin pada kemampuan anak. Ketiga, berprasangka baik terhadap kemampuan anak. Keempat, cermat dalam melihat jadwal pelaksanaan ujian.

Yakin akan Persiapan

Harus benar-benar kita yakin akan persiapan yang sudah dijalani oleh anak kita. Proses peguasaan materi yang akan keluar dalam UN dengan panduan utamanya adalah kisi-kisi UN atau Standar Kelulusan atau SKL. Dengan panduan itu, maka kita dapat benar-benar memstikan tidak ada satu Kompetensipun yang anak kita belum phami secara penuh. Tentu dengan cara pemahaman yang berproses, bertahap, dan bukan dengan model sistem kebut semalam. Dengan model belajar seperti ini, dibarengi kesungguhan belajar, maka kita sedang melakukan persiapan UN dengan cerdas dan sekaligus sungguh-sungguh.

Yakin Mampu

Setelah mengikuti atau menemani anak belajar dalam rangka mempersiapkan UN sebagaimana yang saya kemukakan di atas, maka kita akan dapat menarik kesimpulan seberapa jauh tau juga seberapa dalam potensi anak yang telah kita persiapkan? Tolok ukurnya apa? Menurut saya SKL atau kisi-kisi tersebut, selain mungkin sebagai gambaran kita adalah hasil-hasil TO atau try out yang telah dijalani ananda.

Berprasangka Baik

Langkah berikutnya setelah ikhtiar dan kerja keras kita lakoni bersama, maka keyakinan kita terhadap kemampuan anak harus mebar-benar mampu memberikan dan melahirkan prasangka yang baik serta positif terhadap kemampuan ananda dalam melaksanakan UN dengan sebik-baiknya. Prasangka ini harus tetap dilihat oleh kita dari kaca mata ananda sendiri. Dan jangan tergoda untuk membandingkannya dengan siapapun.

Cermat dengan Jadwal

Tips terakhir ini adalah yang sering terjadi dari pihak orangtua. Kadang karena mungkin kesibukan, kita tidak mengetahui jadwal deyil dalam pelaksanaan UN itu sendiri. Misalnya yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Dimana seorang anak yang sensitif harus datang terlambat masuk ketika UN hari pertama dimulai. Bayangkan, anak datang pukul 07.30 dinama pada jam itulah UN dimulai!

Itulah barangkali catatan saya. Semoga menjadi catatan kita bersama.

Jakarta, 7 Mei 2013.

06 May 2013

Kreativitas yang Tumbuh

Beberapa hari lalu, di waktu sore hari, saya menemui teman-teman yang sedang sibuk dengan kegiatan pengerjaan panggung di sebuah sekolah. Panggung persiapan dari kegiatan besar, sebuah kegiatan pemecahan rekor dari MURI. Dan pada sore harinya, foto-foto dari kegiatan tersebut dapat saya lihat di media online, www.detik.com. Meski saya tidak ikut terlibat kangsung dengan kegiatan yang sedang mereka persiapkan, namun saya merasakan bagaimana teman-teman ini mengolah kreatifitasnya untuk menjadikan pelaksanaan kegiatan akhirnya menjadi lebih menarik dan lebih baik.

Demikian pula dengan apa yang saya saksikan, atau bahkan saya dilibatkan dalam sebuah pembukaan kegiatan di sekolah yang lain. Juga menjadikan saya berkaca kepada apa yang telah mereka rencanakan, organisasikan, dan laksanakan. Sungguh sebuah pola keseharian yang membanggakan hati.
Berita dari; http://www.merdeka.com/foto/peristiwa/169387/ubah-1001-kaleng-menjadi-celengan-ratusan-siswa-pecahkan-muri-003-iqbal-s-nugroho.html

Karenanya, tidak terlalu salah bila saya menjadikan peristiwa semacam itu sebagai bagian paling inheren untuk turut serta dalam sebuah auranya. Meski tidak akan sekencang apa yang mereka lakukan, karena mereka adalah anak-anak yang muda usia, tetapi setidaknya arus yang ada tidak akan meninggalkan saya sebagai bagian yang kemudian tersangkut dalam arus yang mengalir.

Semoga!

Jakarta, 1 April-6 Mei 2013.

UN 2013; Kesiapan Hari Pertama UN SD

Hari pertama pelaksanaan UN SD di sekolah kami hingga saya menuliskan catatan ini, berjalan dengan lancar. Meski sebelum pelaksanaan dimualai ada beberapa hal yang lahir karena rasa panik yang seharusnya tidak perlu terjadi. Misalnya ketika pagi hari pada pukul 06.30, ternyata kunci sekolah terbawa oleh salah seorang dari teman kami yang kebetulan masuk pada akhir pekan lalu. Dengan itu, maka harus ada satu teman kami untuk menjemput kunci tersebut.

Selain itu, juga ada beberapa orangtua siswa, semua kaum Ibu, Yang karena ingin mendukung dan mensupport anandanya, ia datang ke sekolah dan menunggui di Mushola untuk memanjatkan doa. Juga ada seorang siswa kami, peserta UN, yang memohon kepada Ibu guru untuk boleh menggunakan pensil yang telah disiapkan oleh bundanya dari rumah. Karena sekolah telah mempersiapkan seluruh perlengkapan UN, dalam bentuk alat tulis di meja anak-anak. Kebijakan ini untuk mengantisipasi siswa yang salah pensil atau lupa kartu UNnya, atau mungkin ada yang menempelkan sesuatu di papan sebagai meja perjalannya.

Atau juga ada SMS dari salah satu orangtua siswa yang menyampaikan kabar bahwa anandanya benar-benar tidak sedang dalam kondisi tubuh yang fit. Diceritakan bahwa, malam sebelumnya, anandanya itu terserang demam dan bahkan sempat muntah-muntah. Namun karena harus menjalani UN, maka dalam kondisi tubuh tidak fit sekalipun harus dan dipaksakan hadir ke sekolah.
Berita yang dimuat; http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/13/05/06/mmcto9-nuh-un-sd-lancar

Juga ada beberapa anak, yang  meski tidak ada keterangan tidak sehat dari para orantuanya, namun pagi hari ketika bertemu dengan guru telah menunjukkan aura muka yang tidak sepenuhnya sehat. Dari pancaran wajahnya itu, justru menyiratkan rasa was-was yang semestinya tidak boleh lagi terjadi.

Mengapa? Di ruang pengawas, kami berdiskusi tentang kondisi-kondisi yang ada tersebut sebagai bagian dari refleksi kami. dan dari diskusi tersebut, kami sepakat bahwa aura kekhawatiran dari rumah, sangat mendominasi atas keceriaan anak-anak itu ketika pagi hari hadir di sekolah. 

Dari asumsi itu juga kami mencoba untuk mengantisipasi apa yang harus dilakukan pada tahapan beriktunya. Khusus untuk pelaksanaan UN di tahun berikutnya, saya menyampaikan bahwa sekolah, guru, orangtua, dan rumah, harus benar-benar menjadikan kisi-kisi UN sebagai peta dan sekaligus panduan bagi kita untuk menuju sukses. Dan dengan kisi-kisi itu pulalah semestinya kita merancang ikhtiar, menjalaninya dengan kesungguhan total, sehingga pada hari H, tidak akan lahir lagi aura khawatir dari guru, sekolah dan orangtua, atau rumah, yang  pada akhirnya akan beresonansi kepada kesiapan mental anak sebagai peserta UN. Semoga.

Jakarta, 6 Mei 2013.

05 May 2013

UN 2013; Untuk apa Bocoran?

Senin tanggal 6 Mei hingga Rabu, 8 Mei 2013, yang adalah hari pelaksanaan Ujian Nasional. UN untuk tingkat Sekolah Dasar di Indonesia, akan menjadi babak terakhir bagi pelaksanaan Ujian Nasional, UN tahun 2013. Tshun dimana pelaksanaan UNnya tercatat dalam sejarah pendidikan kita, karena adanya carut marut dalam pelaksanaan UN tingkat SMA dan sederajat. Maka menjadi istimewa pelaksanaan tahun ini.

Selain karena ketidakserentakan pelaksanaan UN, pada tahun ini juga terdapat untuk kali pertama model soal yang dikerjakan anak-anak dalam standar satu ruangan ujian berbeda satu dengan lainnya. Ini karena pemerintah membuat 20 model soal. Sedang jumlah siswa maksimal dalam satu ruang ujian adalah 20 peserta ujian. Bahkan untuk alasan keamanan, soal-soal tersebut juga diberikan barcode. Istimewa bukan? 

Mengapa lahir ide seperti itu? TIdak lain adalah untuk keamanan soal dari kebocoran. Bocor? Betul kebocoran sering menjadi masalah dalam setiap pelaksanaan UN. Untuk itulah membuat model soal sebanyak peserta dalam satu ruangan tentu akan menyulitkan para kreator intelektual busuk. Alhasil? Teman-teman yang peduli pelaksanaan Ujian Nasional yang bersih dan jujur tetap mendapatkan lembaran kunci jawaban. Dan tidak tanggung-tanggung, kunci jawaban itu bukan untuk satu atau dua model soal yang tersedia. Tetapi untuk 20 model soal sekaligus! Dahsyat bukan?
Lembaran 'kunci' UN SMA, yang ditemukan pengawas UN dan di upload di FB.

Pintar tapi Tidak PD

Fenomena bocoran soal UN dalam bentuk kunci jawaban ini, menurut saya, karena bangsa kita sedang dilanda virus tidak percaya diri dan bodoh.

Tidak percaya diri? Karena jauh hari sebelum UN dilaksanakan, pemerintah dalam hal ini Kemdikbud, sudah mengeluarkan panduan Ujian Nasional secara lengkap. Disana ada Prosedur Operasional Standar atau POS, dan juga adalah kisi-kisi UN atau SKL, Standar Kelulusan. Di dalam SKL itulah kompetensi yang akan diujikan disebutkan. Artinya, kalau saja sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat kecamatan adati kabupaten/kodya memahami makna SKL, maka untuk apa khawatir dengan hasil UN? Bukankah dengan kisi-kisi atau SKL tersebut kita dapat menentukan akan mendapat angka berapa ketika UN dilaksanakan jika memang angka yang menjadi target kita?

Bagi saya, bila kita menjadi tidak percaya diri melaksanakan UN yang rambu-rambu soal yang akan keluar telah disampaikan dalam bentuk SKL sebagaimana yang saya sampaikan itu, maka itu karena kita tidak menjadikan SKL atau kisi-kisi sebagai panduan belajar. Sehingga kita gamang. Dalam kegamangan akan proses belajar efektif yang berlangsung  itulah, lahirlah rasa khawatir. Yaitu khawatir akan angka jelek yang akan diperoleh. Dan angka jelek dari hasil UN, akan mencoreng harga diri individu peserta UN, sekolah, atau bahkan pemerintah daerah (?).

Bagaimana juga dengan bodoh? Inilah dialog saya dengan seorang anak yang melaksanakan UN pada tahun 2009 yang lalu, setelah hari pertama UN berlangsung.;

"Bagaimana Mas, tadi terima SMS kunci jawaban?" 
"Terima Yah. Pagi-pagi sebelum UN berlangsung."
"Sekarang belajar apa kamu?"
"Mata Pelajaran yang akan diUNkan besoklah."
"Loh, buat apa harus buang waktu untuk buka buka, membaca, dan belajar? Bukankah besok pagi dapat SMS juga?"
"Jangan buang-buang waktumu."
"SMS hanya buat cadangan Yah. Kalau cocok baru diikutin. Kalau tidak yang jangan." 

Kalau benar bahwa setiap pagi sebelum pelaksanaan UN, para peserta akan menjadapatkan bocoran, maka pertanyaannya, buat apa belajar di hari atau malam sebelum pelaksanaan UN? Kalau boleh saya simpulkan, itulah yang namanya bodoh!

Jakarta, 5 Mei 2013.

UN 2013; Untuk apa UN?

Pada masa-masa UN tahun ini berlangsung, dimana Kemendikbud telah menunjukkan bagaimana pelaksanaan UN SMA dan sederajat sebagai UN yang bersejarah, karena UN dilaksanakan tidak dengan waktu yang serentak, dan juga tidak dengan soal yang tercetak lengkap sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, juga UN SMP dan sederajat dimana masih terdapat soal UN yang harus difoto copi, ada tulisan pembelaan yang dilakukan oleh pengagas UN, yaitu mantan Wakil Presiden RI, Bapak JK. Tulisan Pak JK itu pulalah yang banyak dikupas dan didiskusikan oleh teman-teman yang aktif terlibat dalam milis IGI, Ikatan Guru Indonesia.

Lebih kurangnya, Pak JK dalam tulisannya tersebut menyatakan bahwa dengan UN maka para siswa menjadi semangat belajar. Sebab kalau tidak UN, apa yang dikejar? 

Bagi saya, apa yang disampaikan itu benar dan sekaligus keliru. Mengapa? Karena UN hanyalah salah satu alat untuk evaluasi. Jangan salah, selain UN, kita juga dapat mengevaluasi hasil belajar siswa. Mungkin dengan meminta anak-anak memainkan drama dengan skenario yang dibuatnya sendiri setelah guru memberikan outline berupa tema? Mungkin dengan tes yang diselenggarakan tidak serentak semacam UN itu? Atau bentuk lain yang memang harus dipelajari lagi oleh 'penggagas' UN? Juga, harus kita ketahui bahwa tidak semua negara melaksanakan evaluasi yang serentak dan secara nasional semacam UN di Indonesia untuk setiap akhir  jenjang pendidikannya yang ada? 

Pertnyaannya, apakah negara yang tidak menyelenggarakan UN tersebut prestasi akademiknya tidak lebih bagus dari negara kita tercinta ini? Bukankah kita ketahui bersama dimana posisi negara kita dalam ranking TIMSS? Mungkinkah kita harus bangga karena peringkat terbaik kita adalah pada tataran korupsi?

Apa yang ingin saya sampaikan dalam catatan saya ini adalah tidak untuk menolak UN. Karena harus saya sadari bahwa UN tidak mungkin ditolak hanya oleh seorang guru sekolah dasar!

Saya hanya ingin mengajak berpikir labih logis kepada semua agar kita benar-benar melihat secara jernih tentang manfaat pelaksanaan UN untuk tingkat SD, atau mungkin juga SMP. Dan kalaupun negara masih melihat itu sebagai manfaat, maka harus juga dipikirkan efek buruk dari pelaksanaan UN selama ini. Seperti bocoran soal, kualitas soal untuk dapat mengukur tingkat berpikir siswa pada tataran berpikir tingkat tinggi atau kritis.

Mungkin, jika memang kita jernih berpikir bagi kemajuan bangsa 15 atau 20 tahun mendatang!

Jakart, 5 Mei 2013.